
...Amnesia Retrograde(n); amnesia yg disebabkan cedera pada otak dan mmbuat seseorang kehilangan sbgian memori ingatannya...
...••••...
Seseorang itu menaikkan kembali masker yang menutupi wajahnya dan bergegas pergi sebelum ketahuan.
Prang!
Sialnya, dia tidak melihat jika Belle berjalan di sebelahnya, membawa nampan berisi minuman pesanan pelanggan.
"Maaf, maaf. Saya tidak sengaja, maaf."
Itu bukan salah Belle. Seseorang bermasker itulah yang menyenggol nampan tersebut sampai gelas yang dibawa Belle jatuh berserakan di lantai.
"Ada apa ini?" tanya Rajendra.
"Maaf, Jen. Aku tidak sengaja menjatuhkan gelasnya."
Diikuti oleh Zenda juga di belakang sana.
Keributan itu menarik perhatian beberapa pengunjung lain dan seseorang tadi berhasil menerobos keluar dari Cafe.
Mengundang kernyitan bingung pada wajah ketiganya.
"Orang aneh! Bel, kamu tidak apa-apa 'kan?"
Belle menggeleng seraya memungut pecahan gelas di bawah kakinya, "Tidak apa-apa, Ze."
"Biar kubantu. Kamu ambil sapu sama kain pel saja."
"Terimakasih, Zenda."
Zenda membalas dengan gestur; okay! Melalui telunjuk dan jempol.
"Orang tadi aneh sekali. Pakai baju tertutup padahal dia sedang di dalam Cafe." gumam Zenda.
Sementara Rajendra tampak memikirkan kepergian orang tadi dengan perasaan berkecamuk.
Tidak mendengarkan celotehan Istrinya yang sibuk mengambil serpihan gelas.
"Kakak sedang apa? Tidak mau bantu aku?"
"Maaf, Sayang."
Lalu Yolanda datang menghampiri keduanya, "Hey! Kok bisa pecah?" tanyanya dengan tatapan bingung.
"Tadi ada orang tidak jelas. Setelah menabrak Belle, langsung kabur dia."
"Laki-laki atau–"
Zenda mengendikkan bahu.
"Tidak usah dibahas lagi. Ini hanya masalah kecil." sahut Rajendra, kemudian membuang serpihan gelas itu ke tong sampah yang ada di luar.
Sekaligus ia ingin memastikan sesuatu.
"Ya sudah. Aku bantu pel ya, Ze?"
"Oke, oke!"
...••••...
Rajendra berjalan agak menjauh, menyusuri jalanan sekitar Cafe dan berharap bisa menemukan yang ia cari.
"Aku di sini!"
Tubuh Rajendra menegang di tempat.
Mendengar suara selembut beledu itu terdengar menyapa telinga.
Rajendra tidak perlu membalikkan tubuh untuk memastikan pemilik suara itu sebab dia sudah berdiri tepat di hadapan Rajendra, sambil tersenyum manis.
"Apa maumu?"
"Jangan ganggu Zenda lagi." desis Rajendra.
Ia hanya tertawa.
__ADS_1
Melepas tudung hoodie tanpa mau membuka maskernya.
Berjalan semakin mendekat pada Rajendra yang reflek memundurkan langkahnya ke belakang.
"Kamu ingkar janji!" tunjuknya kasar pada Rajendra yang mengeraskan rahang dengan kepalan tangan yang siap melayangkan pukulan.
"Kamu berjanji akan menikahiku tapi itu hanya omong kosong! Kamu p-e-m-b-o-h-o-n-g!"
"Aku tidak berbohong, Fella!"
"IYA! KAMU PEMBOHONG, RAJENDRA! KAMU MENIPUKU!" teriaknya, mulai tak terkendali.
Mereka kembali menjadi pusat perhatian para pejalan kaki yang lewat di sekitar sana.
Rajendra menarik tangan wanita itu dan mengajaknya ke tempat sepi.
Ia tak mau sampai Zenda atau siapa pun menemukan mereka hingga masalah akan semakin rumit.
"Lepas, brengsek! Lepas!"
"Kubilang, LEPAS, RAJENDRA!"
Tangan Rajendra berhasil ditepis oleh Fella, Mantan Tunangannya.
"Lihat di jariku! Lihat!"
Cincin pertunangan mereka masih tersemat di jari manis Fella.
"Urusan kita sudah selesai!"
"Bagiku belum, brengsek!"
"Terserah!" Rajendra mengeraskan rahangnya, dengan tatapan tajam menusuk.
Seolah memberi peringatan pada Fella agar berhenti mencari masalah dengan Istrinya.
"Kamu amnesia, Fella. Kamu dan Derril mengalami kecelakaan saat kalian ketahuan berselingkuh dan pria yang menjadi selingkuhanmu itu mati di tempat sementara kamu koma selama berbulan-bulan akibat cidera otak yang kamu alami ..."
"Dan dari hasil pemeriksaan saat itu, Dokter juga bilang, kamu sedang mengandung. Usianya baru satu minggu!"
"Aku belum selesai bicara, Fella!" bentak Rajendra.
Bahkan saat ini, Fella masih belum bisa mengingat tentang Derril dan perselingkuhan yang telah mereka lakukan 3 tahun yang lalu.
Hingga Rajendra memutuskan pergi ke Jakarta dan memulai hidup baru untuk melupakan kenangan buruknya bersama si mantan Tunangan.
Terlalu menyakitkan untuk Rajendra ingat.
"Kamu mengalami Amnesia Retrograde, Fella. Aku yakin, Tante Rere sudah memberitahumu soal ini tapi kamu tetap keras kepala dan menganggap kita masih bertunangan. Padahal jelas-jelas kamu sudah berselingkuh dariku. Kamu mengkhianati hubungan kita, kamu–"
"Kakak ..."
Reflek. Rajendra langsung memutar kepala dan mendapati Zenda bersama Yolanda berdiri tak jauh dari tempat mereka bertengkar.
"Ze, tidak, tidak! Aku bisa jelaskan."
Rajendra melihat Istrinya menyeka airmatanya sendiri dan terus berjalan, menarik tangan Yolanda pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pergi dengan perasaan sesak di dada sebab Rajendra tidak pernah menceritakan hal ini pada Zenda sebelumnya.
...••••...
"Tidak apa-apa. Wajar kalau Sakura ingin jalan-jalan menikmati kota ini, mumpung masih di Indonesia." sahut Joanna, saat Mr. Akeno menegur Sakura di depan mereka.
Pasti Sakura malu sekali.
Apalagi ada rivalnya, Zeze.
"Tante Joanna sibuk, bagaimana kalau pergi denganku saja?" tawar Zeze tiba-tiba.
Jenanda mengerutkan kening, tidak setuju. Takut keduanya kembali terlibat perselisihan lagi seperti kemarin.
Masalahnya, jika sampai Mr. Akeno mengetahui kejadian kemarin, Mr. Akeno pasti akan marah besar dan bisa berimbas pada kerjasama mereka.
"Sayang, biar Mami saja yang pergi bersama Sakura. Kamu bantu Papi di Kantor." kata Jenanda, berharap Zeze mengerti ucapannya.
"Tapi–"
__ADS_1
"Kita ada rapat dengan investor dari Malang, Ze. Kamu lupa?" sela Jean dengan cepat.
Ia pun tidak ingin muncul masalah baru apalagi Sakura tidak berhenti menatap sinis ke arah Zeze.
Jika keduanya dibiarkan pergi berdua maka kekacauan akan kembali terjadi.
"Kalau begitu, aku ikut ke Kantor Om Jean saja ya? Sekalian mau tahu pekerjaan di sana juga .."
Sakura mengusulkan sesuatu yang membuat Joanna hampir menganga, sebab gadis itu berusaha mendekati orang-orang terdekatnya Jenanda, "Pa, boleh ya? Papa, Tante Joanna dan Kak Jenan lanjut meeting saja. Aku mau pergi dengan Om Jean dan— Zeze."
Ada jeda sebentar sebelum Sakura menyebut nama Zeze dengan nada yang begitu malas.
"Baiklah. Kamu boleh ikut kami. Tapi selagi kami rapat, kamu bisa menunggu di Ruangan Om dulu, Ra." kata Jean.
Yang langsung disetujui oleh Sakura. Senyumnya terus mengembang dengan kelopak matanya membentuk bulan sabit, persis seperti saat Jenanda tersenyum.
Mungkin aku dan Kak Je berjodoh.
Angannya yang terlalu tinggi untuk mendapatkan hati seorang Jenanda.
...••••...
Mereka sampai di Kantor Jean.
Dirla menunjukkan ruangan Bosnya pada Sakura.
"Terimakasih, Kak."
"Nona mau minum apa?"
"Emm, teh saja, Kak."
"Baik. Mungkin Pak Jean dan Nona Zeze agak lama meetingnya tapi anda bisa menunggu di sini atau kalau mau, anda bisa ke Cafetaria dulu." tawar Dirla, supaya Sakura tidak merasa bosan.
"Tidak. Aku di sini saja."
"Ya sudah, saya tinggal sebentar."
"Oke, Kak."
Sambil menunggu, Sakura berjalan melihat-lihat beberapa foto yang dipajang di ruangan tersebut.
Ada foto keluarga Soenser dalam formasi lengkap. Serta lukisan seorang pria dengan ukuran bingkai foto yang cukup besar.
Mendominasi ruangan tersebut.
David Soenser, Presiden Direktur D.S Group.
"Oh jadi ini foto mendiang Kakeknya Kak Je."
Sakura mengangguk paham, mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk lalu kembali mengitari foto lain yang ada di sana.
"Papinya Kak Je tampan, pantas anaknya juga tampan, hehe."
Seulas senyum itu semakin mengembang saat Sakura begitu lancang membuka sebuah dokumen penting.
Lebih tepatnya arsip pribadi milik Jean yang tersimpan di rak paling atas.
Map berwarna hitam dof.
Cklek!
Dirla kembali dengan membawa nampan kecil berisi secangkir teh hangat.
"Apa yang anda lakukan, Nona?"
Dirla terlihat marah karena Sakura telah lancang menyentuh barang-barang di Ruangan Jean.
"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud."
"Lebih baik Nona Sakura menunggu di Ruangan saya, mari! Silahkan, Nona." ujar Dirla setengah kesal dengan gadis itu.
"Iya, Kak. Sekali lagi maaf."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1