
Mereka bertiga akhirnya bertemu di Cafe milik Rajendra.
Suasana Cafe yang sepi begitu mendukung momen ketiganya mengobrol dengan tenang tanpa takut terganggu oleh pengunjung Lain.
Zenda menolak diajak mengobrol di ruangan Rajendra karena masih trauma dengan insiden kemarin.
Ya bayangkan saja!
Zenda dipaksa berhubungan intim oleh Kekasihnya sendiri. Mau melawan dan berteriak, tidak bisa.
Terbiasa diperlakukan bak Tuan Putri oleh Keluarganya di rumah tentu saja itu mengejutkan bagi Zenda saat Rajendra membentaknya, apalagi Rajendra juga mengancam akan memukul Zenda jika terus menolak disentuh.
Melalui sambungan telepon, Rajendra menyuruh Zeze datang guna meluruskan masalah yang terjadi diantara mereka bertiga.
"Aku tidak akan meminta maaf pada Kak Zeze karena itu bukan salahku ..."
"Aku juga korban dia." tunjuk Zenda pada Kekasihnya.
Zeze dan Rajendra hanya saling menatap. Membiarkan Zenda kembali bersuara lagi. Kali ini tidak ada nada ketus dalam ucapan gadis itu.
"Kami akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Jadi aku ingin bertanya ke Kak Zeze sekali lagi ... Apa Kakak menyukai Kak Rajen?"
"Tidak. Kalian boleh menikah."
Zeze mengambil kedua tangan Zenda di atas meja untuk digenggam, "Perasaanku pada Kak Jenan masih ada. Maaf! Aku baru menyadari itu sekarang."
Drtt! Drtt!
Kak J
Ze, kamu dimana?
Pulang sekarang. Kakak mau berangkat ke Jepang.
read.
Dengan cepat Zenda beranjak dari kursi.
"Kita lanjutkan besok saja. Aku harus pulang."
Wajah panik Zenda begitu mengundang perhatian Zeze.
"Ada apa?"
Rajendra menyambar kunci mobil yang ada di atas meja, "Biar aku antar, Sayang."
"Kak Jenan mau berangkat ke Jepang hari ini. Aku disuruh pulang sekarang."
Kenapa tiba-tiba sekali?
Harusnya Jenanda bisa memberitahu Zeze dulu. Beberapa jam yang lalu mereka sempat bertemu namun Jenanda tak mengatakan apapun soal keberangkatannya ke Jepang.
Apa bagi Jenanda, Zeze tidak penting hingga hal semacam ini tidak dibicarakan dulu dengan dirinya?
Zeze, Zeze .. Memangnya kamu siapanya Jenanda?
Wanita itu termenung dan baru sadar ketika Zenda menyentuh bahunya.
"Mau ikut ke rumah? Mungkin Kakak mau bilang sesuatu sebelum Kak Jenan pergi?" tawar Zenda.
Merasa jika Zeze sangat sedih mendengar kabar tersebut.
Zenda juga terkejut tapi masalahnya, Jenanda akan bilang jauh-jauh hari jika ingin pergi ke luar negeri. Tidak mendadak seperti ini.
"Lebih baik kita berangkat sekarang, Baby." kata Rajendra.
__ADS_1
Keduanya mengangguk setuju.
...••••...
Sudah ada kedua orangtua Zenda dan Jenanda di ruang tamu.
"Kenapa tiba-tiba harus pergi, Kak?"
"Ada urusan dengan Mr. Akeno."
Jenanda melihat Zeze di belakang Rajendra. Mengerutkan kening sebab bagaimana bisa mereka datang bersamaan.
"Eh ada Zeze juga."
"Sini, Sayang. Tante rindu kamu. Apa kabar?"
"Iya, Ze. Kamu dan keluarga sehat?"
Mendapat banyak pertanyaan dari Jean dan Joanna, wanita itu tersenyum tipis.
Tak menampik bahwa perasaannya kecewa saat Jenanda tampak biasa saja. Tidak ada raut ingin menjelaskan soal kepergiannya ke Jepang sore nanti.
"Kami semua baik, Om, Tante. Terus Kak Bruce sibuk kuliah ambil S2 dan orangtua kami tinggal di Surabaya bersama Nenek."
"Ah, begitu rupanya."
"Om dan Tante titip salam ya untuk mereka." ucap Jean.
Lalu memberi kode pada Joanna agar meninggalkan para anak muda supaya lebih nyaman mengobrol topic khas usia mereka.
"Tante dan Om permisi dulu ya ..."
Joanna mengusap kepala si bungsu, "Minta Bi Karin untuk membuat minum. Kasihan Rajendra sama Zeze pasti haus."
Seolah melupakan insiden kemarin, sikap mereka kembali biasa saja.
"Iya, Kak. Kami juga baru membahas soal itu." sahut Zenda sekenanya.
Ia masih marah dan belum menerima keputusan Rajendra tentang pernikahan mereka.
"Jangan mengalihkan topic pembicaraan. Kak Jenan tega sekali sama aku." Wajah Zeze berubah sendu.
"Maksudnya?"
"Ish! Kakak tidak peka ya? Kak Zeze bilang kalau dia masih sayang Kakak. Makanya Kak Zeze sedih pas tahu Kak Jenan mau pergi."
"Zenda." peringat Zeze.
Gadis itu malah terkikih geli. Menarik tangan Rajendra menuju halaman belakang.
Tingkah Zeze saat bertatap muka dengan Jenanda sudah cukup menyimpulkan jika hubungannya dan Rajendra aman dari gangguan pihak ketiga.
"Take your time! Aku dan Kak Rajen juga perlu ngobrol berdua. Ayo, Kak!"
"Eh? Permisi ya, Kak Jen."
"Hm. Jangan macam-macam tapi!" kata Jenanda, memperingatkan dua sejoli itu agar tidak melakukan hal sebelumnya lagi.
"Ck! Ada tukang kebun di belakang, memang apa bisa kita mesum pas ada orang?!" ketus Zenda yang menyeret Rajendra begitu saja sampai membuat pria itu tersandung kaki meja.
Jenanda terkejut mendengar ucapan Adiknya yang agak frontal semenjak kejadian itu.
Mungkin Zenda-nya sudah mulai beranjak dewasa.
Kembali pada Zeze yang hampir menangis karena Jenanda tak peka dengan perasaannya.
__ADS_1
"Hey, kenapa, Ze? Kenapa menangis?"
"Kak Jenan jahat. Harusnya bilang dulu kalau mau pergi."
Jenanda yang mendengar itu hanya tersenyum. Ingin menggoda Zeze lebih dari ini.
"Memangnya kamu siapaku, Ze? Kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi aku tidak memiliki kewajiban memberitahu soal ini."
Isak tangis Zeze membuat Jenanda panik.
Takut dikira berbuat macam-macam oleh orangtuanya.
"Ssst, aku bercanda, Sayang. Jangan menangis."
Sayang?
Panggilan itu terdengar sangat manis hingga wajah Zeze yang berlinangan airmata berubah tersipu, memerah bak kepiting rebus.
Mencubit perut berotot Jenanda agar pria itu berhenti menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Kenapa harus malu?"
"Bukannya ciuman kemarin sudah menandakan kalau aku serius dengan perasaanku padamu, Ze."
Mata keduanya saling beradu pandang.
"Maaf." cicit Zeze, suaranya teredam didada bidang Jenanda.
"Untuk apa?"
"Karena membuat Kakak menunggu kepastian dariku. Seharusnya aku menyadari perasaanku lebih cepat ..."
"Cinta pertama memang sulit dilupakan apalagi–"
"Aku baik\~ begitu syulit lupakan Jenan, karna Jenan baik\~"
Sontak tawa keduanya pecah. Sebab menirukan salah satu video viral yang menyanyikan lagu tersebut, haha.
"Oke, stop! Aku mau bicara serius sekarang, Kak."
Jenanda pun mendengarkan dengan seksama.
"Kenapa Kak Jenan tiba-tiba pergi ke Jepang? Berapa lama? Dan dengan siapa?"
Jenanda merapikan baby hair yang menutupi kening Zeze.
"Aku hanya mengantar pesanan lukisan Mr. Akeno, Sayang. Mungkin menginap semalam sekalian promosi juga bersama dua tim dari divisi pemasaran dan kami juga diberi fasilitas jet pribadi oleh pihak mereka."
"Benarkah? Baik sekali, eh tunggu—"
Zeze melepaskan diri dari dekapan pria itu, "Sebelum Kak Jenan pergi, perjelas dulu status hubungan kita, Kak."
"Kamu mau menikah detik ini juga?"
Zeze kembali memeluk Jenanda lagi, mencubit agak kencang pinggang Jenanda.
"Sakit, sakit! Kenapa suka sekali cubit perut kamu, Ze?"
"Kak Jenan bercanda terus. Aku tanya serius, Kak."
Karena tak tahan, Jenanda mengapit dagu wanita itu agar mendongak, menatap padanya.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Sayang, bertahun-tahun aku menjaga perasaan ini hanya untukmu, tapi setelah kita kembali bertemu ..."
"Kamu justru meragukan perasaanku. Ze— terus terang aku kecewa."
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!