
"Jadi, Mami sudah tidak marah lagi 'kan? Mi, aku tidak bermaksud membuat Mami dan Papi malu."
"Hm, Mami sempat kecewa. Di sini yang bersalah itu kamu, Jenan. Kenapa tidak jujur sejak awal pada Sakura kalau kamu sudah memiliki Kekasih?"
Jenanda terdiam. Ucapan Ibunya memang benar. Jenanda tidak berpikir masalah tersebut akan seserius ini
Baginya, sebuah hubungan tidak perlu dipublish. Cukup keluarga terdekat saja yang tahu. Jenanda tidak suka mengumbar atau mengumumkan pada semua orang bahwa dirinya sudah memiliki Zeze.
Ini bukan tentang tidak mau mengakui sebuah hubungan, hanya saja— Jenanda tidak berpikir jika Sakura akan bertindak sejauh itu tentang perasaannya pada Jenanda.
Mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak akan pernah bisa menjadi kenyataan.
Jenanda sudah menyadari gelagat ketertarikan Sakura padanya sejak awal tapi Jenanda bersumpah, ia sama sekali tidak tergoda dengan pesona gadis Jepang itu.
"Kenapa diam, Je? Mami benar bukan? Kamu jangan naif menyikapi gadis agresif seperti Sakura dan membuat Zeze menangis seperti tadi."
"Kalau Papi tahu akhirnya jadi seperti ini, maka Papi susul kamu ke Jepang kemarin, Jenan."
Mereka terkejut.
"Maksudnya, Pi?" tanya Jenanda.
"Maaf, diam-diam Papi suruh anak buah Papi untuk mengawasimu selama di sana. Papi kasihan dengan Zeze. Di hari kedua kamu berada di Jepang, Zeze tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya, apalagi kamu tidak memberi Zeze kabar sama sekali." jelas Jean.
Joanna menatap tak percaya dengan yang barusan ia dengar, "Astaga, Jean! Kenapa tidak bilang padaku juga? Kamu ini benar-benar."
"Maaf. Semakin banyak yang terlibat maka situasi akan semakin buruk, Sayang. Kamu pasti tidak bisa bersikap dengan tenang nanti."
"Maksudmu aku mudah tersulut emosi, begitu?" ketus Joanna.
"Bukan. Pokoknya kamu itu, emm ... Bagaimana ya? Aku susah menjelaskannya padamu."
Ngomong-ngomong, Zeze sudah berada di kamar tamu. Joanna sengaja menyuruhnya menginap karena khawatir juga setelah melihat kondisinya tadi.
Apalagi Zenda tinggal sendirian, sementara Bruce menyusul kedua orangtuanya ke Surabaya dan tinggal bersama Nenek mereka di sana.
Ya, bisa dibilang, Zeze anak perantau. Dan keluarga Jenanda adalah satu-satunya yang dikenal oleh Zeze di kota ini.
"Pertemukan Mami dengan Sakura. Kalau perlu, sekalian sama Bapaknya itu ... Siapa namanya? Mister siapa, Jenan?" tanya Joanna, berusaha mengingat-ingat nama rekan bisnis Putranya yang dari Jepang itu.
"Mr. Akeno, Mami. Sudah ya? Aku capek, mau ke kamar dulu."
"Ya sudah, kamu–"
Kalimat Jean terhenti ketika mendengar suara bel dari pintu depan.
"Aku saja yang buka pintunya. Kalian tetap di sini." kata Jean langsung menginterupsi.
Sejenak, Joanna menghentikan perdebatan mereka setelah mendengar suara seorang wanita disertai ketukan sepatu heels saling beradu dengan lantai marmer.
"Sakura?"
Mereka semua terkejut, yang paling kaget diantara mereka adalah Jenanda.
Baru saja dibicarakan. Orangnya langsung datang.
...•••• ...
Suasana ruang makan mendadak hening.
Pagi ini formasi anggota keluarga Jean sudah lengkap.
__ADS_1
Ada 2 tamu yang saling duduk berhadapan tanpa mau menyapa atau sekedar melirik.
"Semalam kita belum sempat berbicara apa-apa, Nona Sakura."
Iya, karena semalam Sakura mengeluh capek dan pusing, akhirnya dengan berat hati, Jenanda meminta izin pada kedua orangtuanya untuk mengizinkan Sakura menginap satu malam di rumah mereka.
Meskipun akan timbul masalah baru. Zeze bisa saja salah paham melihat kehadiran Sakura yang pagi ini tiba-tiba berada di satu meja yang sama dengan keluarga Kekasihnya.
"Joanna, bicaranya nanti saja. Habiskan sarapanmu dulu." tegur Jean.
"Hm, aku hanya mengingatkan. Apa itu salah?"
Zenda dan Rajendra tak banyak bicara. Hanya mengikuti alur saja. Takutnya jika terlalu ikut campur, Joanna bisa menyinggung soal berita hubungan mereka di Kampus.
"Papi, Mami, kami berangkat dulu ya?" pamit Zenda.
Bersyukur ia ada kelas pagi dan Rajendra juga harus pergi ke Cafe.
"Ingat janjimu yang semalam, Jendra." peringat Joanna.
"Mami ..." rengek Zenda, saat Ibunya memberi tatapan sinis pada Suaminya.
"Sudah, sudah. Kalian berangkat saja. Jo, jangan ulur waktu anak-anak hanya untuk mengulang pembicaraan yang sudah dibahas kemarin." kini giliran Jean yang kembali menegur Joanna.
"Iya. Kalian boleh berangkat."
"Iya, Mi. Pi, aku dan Kak Rajen pergi dulu ya?"
Tak lupa, Zenda juga berpamitan pada Zeze dan Jenanda, "Kak, aku jalan dulu, bye!"
"Hati-hati kalian."
"Siap!"
Menyisakan suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.
"Aku sudah selesai, Tante, Om." kata Zeze.
"Aku juga. Oh ya! Masih ada setengah jam lagi untuk menjemput Papamu, Ra .."
Jenanda mengusap bibirnya perlahan, "Selagi menunggu, kita harus bicara masalah yang kemarin."
"Mami setuju. Ayo ke ruang kerja Papimu, Jenan."
Joanna tampak kurang menyukai sosok Sakura yang semenjak tadi tersenyum tanpa dosa.
Seakan dirinya sudah berhasil menjadi perusak hubungan Jenanda dan Zeze.
"Dan kamu juga harus ikut, Nona Sakura."
"Baik, Bi."
Joanna menghentikan langkahnya sejenak. Berbalik hanya untuk menoleh pada gadis di belakangnya, "Kamu panggil saya apa tadi?"
"Bibi Joanna?" kedua kelopak mata Sakura berkedip lambat.
Ia bingung sebab Joanna terlihat tidak suka dengan panggilan itu.
"Tante. Panggil saya Tante, Sakura. Seperti Zeze memanggil saya tadi."
"Memangnya beda ya Bibi dan Tante?"
__ADS_1
Jika Joanna tidak lupa, Sakura berasal dari Jepang. Tentu Sakura tidak mengetahui dengan benar setiap panggilan yang ditujukan untuk orangtua di Indonesia.
"Terserah kamu. Mau Bibi mau Tante, terserah."
Jean hanya menahan diri untuk tidak mentertawakan si wanita yang sepertinya begitu sensitif dengan Sakura.
...••••...
Mereka duduk dengan posisi masing-masing. Intinya, Sakura duduk di sofa panjang sendirian.
Saling berhadapan dengan Joanna dan Zeze, sementara di masing-masing sisi kanan dan kiri, ada Jean dan Jenanda.
"Kenapa kamu bicara seperti itu pada Zeze?" tanya Joanna to the point.
Ia tak suka berlama-lama disituasi seperti ini. Hanya akan mengingatkan masalalu, saat dirinya dan Rosa bertengkar memperebutkan Jean, dulu.
"Maksud Bi— Tante, apa ya? Aku tidak mengerti."
"Sok polos! Aku masih ingat semua ucapanmu itu, Pelakor." sela Zeze.
Joanna yang duduk di sebelahnya langsung mengusap lengan Zeze agar tidak terpancing emosi.
"Apa benar kamu mengatakan pada Zeze akan merebutku darinya?" tanya Jenan.
"Kak, aku–"
"Kenapa, Ra? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kamu salah mengartikan sikapku padamu selama kita di Jepang kemarin .."
"Semua yang kulakukan atas dasar kerjasama Elliptical Art dan Ayahmu. Hanya sebatas itu hubungan kita, Sakura." lanjut Jenanda lagi.
Ia menggelengkan kepala, merasa frustasi dengan gadis di depannya itu.
Bisa-bisanya perhatian Jenanda disalah artikan sebagai kode jika Jenanda juga tertarik padanya.
Dan membuat hubungan Jenanda dan Zeze bermasalah sejak kemarin.
"Sekarang aku tanya, apa benar kamu bilang begitu ke Zeze? Merebutku dengan cara rendahan seperti itu, huh?"
"Jawab, Sakura! Jangan diam saja!" nada suara Jenanda agak meninggi dan itu membuat Sakura langsung berkaca-kaca, menahan tangis.
"Jenan, pelankan suaramu. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin tanpa perlu emosi." tegur Jean.
Lalu atensinya beralih pada sosok Sakura yang menundukkan wajahnya dalam-dalam, tak ingin terlihat menyedihkan di depan mereka.
"Kami juga pernah seusia kalian, Nona Sakura. Pernah juga terlibat cinta segitiga yang jauh lebih rumit dari ini .."
"Saya minta maaf, mungkin ucapan saya akan menyakiti hati kamu tapi sejujurnya, Zeze dan Jenan sudah kami jodohkan sejak usia mereka masih kecil–"
"Jean."
"Diam dulu, Joanna. Jangan memotong ucapanku."
Kemudian Jean kembali melanjutkan ucapannya lagi.
"Saya dan keluarga Zeze sudah sepakat akan menjadi keluarga besar di masa depan jadi kalau kamu menyukai Jenan, sebaiknya kamu lupakan perasaanmu itu ya." ucap Jean selembut mungkin agar tidak terlalu melukai hati Sakura.
Yang rasanya sakit sekali. Seperti diremat oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Mereka sudah dijodohkan? Jadi? Aku tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Kak Jenan lagi.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!