Our Baby!

Our Baby!
PUTUS(?)


__ADS_3

Zenda, Yolanda dan Sherly berdiri di depan gerbang Kampus, menunggu Jenanda datang menjemput.


"Kamu yakin Kakakmu akan percaya?" tanya Sherly.


"Aku tidak tahu, Sher. Jangan membuatku takut."


"Bersikap seperti biasa, teman-teman." sahut Yolanda.


Melihat mobil sport merah milik Jenanda dari kejauhan.


"Itu, itu! Kak Jenan datang!"


Jantung ketiganya berdebar, bukan karena terpesona menatap wajah Aprodhite Jenanda yang berkali-kali lipat lebih tampan daripada yang ada di media.


"Ckck! Kakakmu tampan sekali, Ze." bisik Sherly yang langsung disenggol sikunya oleh Yolanda.


"Hai, Ze. Maaf Kakak baru datang ..."


Jenanda juga melempar senyum pada kedua teman Adiknya, "Hai, Yolanda! Dan ... Siapa namamu?" tanya Jenanda pada Sherly.


Gadis itu terlihat salah tingkah dan tersipu malu ketika Jenanda tak berhenti menyunggingkan seulas senyum manis hingga membuat kedua mata Jenanda membentuk bulan sabit.


"S-sherly, Kak."


Sherly pun mengulurkan sebelah tangan, merasa berdebar saat kulitnya bersentuhan langsung dengan tangan berotot Jenanda.


"Hai, Sherly. Senang bertemu denganmu."


"Kak, sebenarnya kita mau mengerjakan tugas di rumah Sherly."


Jenanda terdiam memperhatikan ketiganya secara bergantian.


"Tugas apa? Tidak biasanya."


"Soal ekonomi mikro, Kak. Semakin hari, tugas kita semakin banyak, tsk!"


Entah mendapat keberanian darimana, Zenda begitu lancar saat mengatakan kebohongan tersebut.


Dibantu ucapan Yolanda yang terdengar sangat meyakinkan.


"Iya, Kak. 1 kelompok diisi 3 orang jadi ..."


Zenda yang terbiasa berbohong pada kedua orangtuanya, lagi-lagi menyela ucapan Yolanda, "Kita jarang ada di kelompok yang sama. Makanya selagi ada kesempatan, kita mau mengerjakan tugas itu di rumah Sherly, Kak. Boleh ya?" Zenda memohon, tatapannya seperti anak anjing, minta dicubit gemas.


Seakan lupa jika pagi tadi Zenda sempat marah-marah pada Jenanda soal semalam.


"Hm, Kakak izinkan. Pulangnya Kakak jemput."


"Ish! Aku bisa–"


"Mau protes?"


Yolanda mengisyaratkan agar Zenda tidak banyak bicara lagi.


"Iya, Kak. Jemput Zenda di rumahku saja ya? Kebetulan, rumahku dan Sherly lumayan dekat."


Untuk yang satu ini, Yolanda tidak berbohong. Rumah mereka hanya beda blok saja.


Setelah memastikan Jenanda sudah pergi dan mobil pemuda itu menghilang di tikungan jalan, ketiganya berjalan menyeberangi jalan raya depan Kampus.


Melihat Cafe Rajendra yang agak sepi, Yolanda memutuskan untuk duduk di lantai satu saja.


Karena Cafe Rajendra memiliki dua lantai.


"Kak Rajennya ada, John?"


Jhon— salah satu barista yang ada di Cafe itu mengatakan jika Zenda disuruh masuk ke ruangan Rajendra.


Lelaki itu sudah menunggunya di sana semenjak tadi.


"Oke! Jangan lupa antarkan makanan dan minuman itu ke meja nomor 7 ..."


Zenda membayar makanan dan minuman yang dipesan untuk Sherly dan Yolanda, "Ambil saja kembaliannya. Terimakasih, Jhon."

__ADS_1


"Iya, sama-sama Zenda."


Zenda mulai berjalan menaiki tangga tanpa menyadari jika Jhon menatapnya penuh arti.


"Tsk! Sudahlah! Lupakan saja!"


...••••...


Jenanda kembali ke kantornya dengan cepat dan wanita tadi masih di sana, belum beranjak pergi dari ruangannya.


"Kak Je, dimana Zenda? Katanya tadi menjemput Zenda?"


Jenanda mengabaikan ucapan wanita itu.


"Kak–"


"Ada hubungan apa kamu dengan Rajendra?"


Sepasang mata itu bergerak gelisah saat Jenanda beranjak dari kursi, berjalan mendekatinya dengan tatapan dingin.


Tidak seperti Jenanda-nya yang dulu.


"Kenapa diam?"


"Jawab aku— Zeze!"


Iya. Wanita yang datang ke kantor Jenanda sebagai tamu dari luar negeri itu adalah Zeze.


Kalian ingat?


Gadis kecil dengan rambut ekor kuda itu merupakan teman masa kecil Jenanda sekaligus cinta pertamanya, hingga saat ini namun semua berubah seketika saat Zeze— tertangkap basah oleh Jenanda sedang bermesraan dengan Rajendra, kekasih Adiknya di Cafe tadi.


Benar.


Wanita yang ditemui Jenanda saat di Cafe Rajendra adalah Zeze. Sampai Jenanda menjadi gelisah karena menahan rindu dan kesal yang bercampur aduk, menjadi satu.


"I-itu ... A-aku dan Jendra, kita .."


"Bicara yang benar, Ze!" bentak Jenanda.


Kilatan emosi dan kerinduan terlihat pada sepasang mata Jenanda saat Zeze meraih tangan besar itu untuk digenggam.


"Dia teman SMA-ku saat di Belanda, Kak."


"Tidak ada seorang teman yang menatap temannya dengan penuh cinta ..."


"Dan aku tidak pernah percaya tentang pertemanan pria dan wanita tanpa ada rasa lebih diantara keduanya, Ze." lanjut Jenanda.


Berbalik arah, memunggungi Zeze yang ingin sekali memeluk Jenanda.


Melampiaskan perasaan rindunya pada pria yang juga merupakan cinta pertamanya tersebut, yang ia tinggalkan begitu saja karena saat itu, Zeze dan Bruce harus ikut orangtuanya ke Belanda.


Zeze tidak lupa saat dulu mereka sering bermain bersama di taman dekat komplek.


Menghabiskan waktu di pinggir danau sembari menemani Jenanda selesai melukis.


Bahkan diam-diam, Jenanda sering melukis Zeze ketika gadis itu sibuk berlarian mengejar kupu-kupu.


Lukisan itu juga dibeli oleh Charles Tom, seniman asal Inggris dengan harga yang sangat tinggi untuk dijadikan sebagai salah satu koleksi di Galerinya.


"Lalu Kak Jenan mau aku bilang apa?"


"Masih bertanya juga?"


Pertanyaan dibalas dengan sebuah pertanyaan juga.


"Kurasa, kalian tidak hanya sekedar berteman saja, iya 'kan, Ze?"


"Jawab aku! Kalian tidak ha–"


Ucapan Jenanda terjeda.


"IYA! KAMI MEMANG DEKAT LEBIH DARI TEMAN KARENA RAJENDRA AKAN SEGERA MELAMARKU, PUAS!"

__ADS_1


Jenanda menatap linglung ke arah lain. Tubuhnya mundur secara perlahan dengan kaki yang terasa gemetaran, lemas.


Ini bukan hanya soal perasaan Jenanda pada Zeze tapi juga perasaan Adiknya.


Yang terlihat sangat mencintai pria yang telah resmi menjadi kekasih Zenda sejak tiga bulan yang lalu.


Dan kini, Rajendra telah mematahkan hati gadis kedua yang begitu Jenanda sayangi setelah Joanna, Ibunya.


Si brengsek itu sudah mempermainkan perasaan Zenda.


...••••...


Brak!


Pintu ruangan itu dibanting dengan keras.


Zenda berjalan dengan langkah tertatih, menuruni setiap anak tangga sembari menggegat bibirnya.


Melihat Zenda telah keluar dari ruangan Rajendra, kedua temannya menghampiri Zenda.


Raut wajah mereka tampak bingung melihat Zenda hanya diam saja dengan mata sembab dan hidung memerah.


"Ze, kamu baik-baik saja?"


Sherly menggelengkan kepala, menopang tubuh Zenda di sebelah kiri sementara Yolanda ada di sisi kanan.


Ketiganya berjalan melewati meja barista tanpa berniat menyapa Jhon yang menatap penuh arti pada gadis yang dibopong oleh kedua temannya itu.


Sedikit berlari, Jhon menghampiri Zenda, Sherly dan Yolanda yang hendak memasuki taksi.


"Untukmu, Ze."


Gadis itu menatap sendu pada sebotol air mineral yang diberikan Jhon padanya.


Kemudian menepis botol tersebut seraya berucap; "Ayo pulang." lirihnya, dengan menggegat bibir bawahnya, sekali lagi.


"Berikan padaku saja. Terimakasih, Kak." sahut Yolanda.


Selama perjalanan, Zenda duduk diapit oleh kedua temannya.


Gadis itu memejamkan mata. Mengingat apa saja yang mereka bicarakan tadi.


"Hks!"


Suara isak tangis Zenda membuat kedua temannya menoleh.


Zenda menangis dengan kelopak mata terpejam.


"Ze, ada apa? Kenapa kamu menangis?"


"Iya, Zenda. Ceritakan apa yang kalian bicarakan tadi? Kak Rajen tidak memutuskan hubungan kalian 'kan?"


Berharap sebuah jawaban yang keluar dari bibir Zenda namun mereka salah.


Zenda semakin terisak sampai sopir taksi itu menatap cemas pada kaca spion di depannya.


"Ssst! Tenangkan dirimu."


"Minum ini." Yolanda memberikan botol minum yang diberikan Jhon pada Zenda.


Tapi Zenda menolaknya.


"Maaf, Nona. Minum punya saya saja. Kebetulan tadi baru beli di Minimarket ..." Sopir taksi itu memberikan botol air mineral yang ia letakkan di dashboardnya, "Masih segel kok dan ini tisunya juga, silahkan ambil kalau mau."


"Terimakasih ya, Pak."


"Sama-sama, Nona."


Kembali pada Zenda yang masih sesenggukkan saat ditanyai tentan hubungannya dengan Rajendra.


"Hks! Kak Rajen jahat, hks! S-sakit! Kak Rajen jahat!"


Mereka semakin yakin jika Rajendra meminta putus.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2