Our Baby!

Our Baby!
TAK ADA KABAR


__ADS_3

Niat untuk kembali lebih cepat dari yang telah direncanakan tidak jadi terealisasikan sebab Celia memaksa ingin tinggal 1 hari lagi di Jepang untuk berjalan-jalan, menyisiri pemandangan malam kota Tokyo dan sekitarnya.


Didukung Mr. Akeno yang juga menawarkan mereka untuk menginap di kediamannya yang memiliki banyak kamar tamu kosong di sana.


Kebetulan. Mereka tak perlu repot menyewa kamar hotel untuk bermalam.


"Semoga kalian betah ya bermalam di rumah saya." ujar Mr. Akeno pada mereka.


Kamar tamu yang disediakan cukup luas untuk ukuran 1 orang saja— membuat Jenanda tersenyum sungkan sebab semenjak tadi, Sakura tidak berhenti mencuri pandang ke arahnya.


Sesekali gadis itu tersenyum canggung ketika ketahuan menatap Jenanda.


"Besok kalau tidak keberatan, aku bisa mengantar kalian pergi jalan-jalan. Kita mampir ke Disneyland Tokyo, bagaimana?" tawar Sakura, lagi-lagi menatap ke arah Jenanda yang sedikit risih dengan tatapan gadis itu.


Jenanda tidak bodoh untuk mengartikan bahwa Sakura tertarik pada dirinya sejak pertama bertemu.


"Aku setuju! Bos, kapan lagi kita bisa pergi liburan bersama."


"Terserah kamu."


"Yes! Tidak sia-sia aku membatalkan janjiku dengan yang lain ..."


Di sini, hanya Celia yang tampak antusias karena besok mereka akan berjalan-jalan sebelum sorenya pulang ke Indonesia, "Sakura, aku lapar, hehe."


Beruntung sekali Mr. Akeno sudah tidak di tempat. Akan sangat memalukan jika si Tuan Rumah mendengar ucapan Celia yang ceplas-ceplos itu.


"Oh, maaf. Seharusnya aku menawarkan makan malam pada kalian sejak tadi. Maaf."


Sambil sedikit membungkuk, Sakura terus berkata maaf sampai Jenanda merasa tak enak hati.


Gara-gara ucapan Celia, gadis itu jadi merasa bersalah.


"Tidak usah dengarkan dia, Nona Sakura." kata Jenanda, menyikut lengan Celia supaya Celia juga meminta maaf.


"Apa, Je? Aku lapar. Pasti Sakura juga lapar, iya 'kan?"


"Mari kita ke ruang makan sekarang." senyum gadis itu tak pernah luntur sekalipun.


Sakura adalah gadis tersopan yang pernah mereka temui. Setiap gerakannya disertai gestur-gestur kecil seperti membungkukkan setengah badannya atau mengulurkan kedua tangannya dengan sopan saat mempersilahkan Jenanda dan teman-temannya memasuki ruang makan.


Sementara Ayah Sakura sedang berada di kediaman Kaisar untuk memberikan hadiah lukisan yang telah dipesan dari Elliptical Art.


Melihat ada banyak menu hidangan yang tersaji, sontak Celia tersenyum sumringah.


Segera menarik satu kursi yang berada di depannya.


Disusul oleh yang lain, termasuk Jenanda.


Dan Sakura duduk di kursi utama sebagai Tuan Rumahnya.


"Selamat makan. Semoga kalian menikmati hidangan ini." kata Sakura.


Celia yang sudah tak sabar, segera mengapit sushimi yang telah diincar sejak awal menggunakan sumpit yang dipegang.


"Tunggu, Nona Celia. Kita baca doa dulu ya."


Celia mengatupkan bibirnya lagi sambil mengangguk, tersenyum kikuk dan buru-buru meletakkan alat makannya kembali.


"I-iya. Maaf." cicit Celia.


Jenanda yang melihat kelakuan Sekretarisnya itu hanya mendumal dalam hati.


Pikirnya, Celia perlu diajari table manner agar tidak grusak-grusuk, apalagi budaya Jepang sangat menjunjung tinggi nilai adab kesopanan dalam bersikap, termasuk soal di meja makan.


Sakura hanya tersenyum memaklumi Celia yang mungkin saja menahan lapar.


"Karena kamu membuat kesalahan kecil, jadi kamu yang harus memimpin doa malam ini." ujar Sakura.

__ADS_1


"Eh? Aku pimpinan doa?" tanya Celia, terkejut.


"Aku sangat setuju. Semakin cepat dilakukan, maka kita juga bisa segera makan, Cel."


Jenanda tersenyum puas melihat wajah Celia yang menahan malu.


Selama ini Celia jarang sekali berdoa, kebanyakan lupa dan langsung melahap makanannya, haha.


"Oke, oke. Mari berdoa menurut kepercayaan masing-masing ..."


Mereka mulai mengatupkan kedua tangan di depan dada sembari menundukkan kepala dengan mata terpejam.


"Dear, God ... Terimakasih untuk rezeki hari ini. Semoga makanan ini mendapat berkah dari-Mu, aamiin."


"Aamiin."


"Aamiin."


Selesai membaca doa, mereka menikmati makanan masing-masing dengan penuh semangat.


Karena dalam hal menjamu para tamu, Sakura tidak main-main.


Dengan mendatangkan salah satu juru masak terbaik yang ada di Istana untuk membantu mereka memasak di dapur selama Jenanda dan teman-temannya berada di sini.


Tentu mereka merasa tersanjung dengan sambutan yang mungkin terlalu berlebihan sebab mereka bukan orang penting seperti utusan diplomatik negara atau keluarga bangsawan.


Namun Sakura dan Mr. Akeno sudah terbiasa melakukan itu.


Jenanda termasuk tamu penting bagi mereka.


Salah satu seniman muda yang berbakat dari Indonesia, yang patut disambut sehangat mungkin agar betah saat berada di negeri Matahari Terbit itu.


...••••...


Kamar bernuansa merah jambu itu menjadi saksi kegelisahan si pemilik yang tak berhenti berjalan mondar-mandir, kadang duduk, lalu berbaring dan tengkurap di atas kasur.


Tak ada satu notifikasi apapun dari seseorang yang ia tunggu kabarnya sejak sore.


"Dasar pembual!"


Kakinya menendang-nendang bebas ke arah langit-langit kamar.


Melampiaskan kekesalan hatinya yang tak juga mendapat pesan atau panggilan dari Jenanda.


Inginnya menanyakan hal itu pada Zenda, tapi Zeze takut mengganggu waktu calon adik iparnya tersebut.


Hubungan mereka masih terasa canggung apalagi keduanya sempat bermasalah karena Rajendra.


"Masa bodoh dengan harga diri. Aku tidak bisa menunggu lagi."


...CALON IMAM...


^^^Zeze^^^


^^^Kak ..^^^


^^^Lupa ya sama janjinya?^^^


^^^Zeze^^^


^^^Sesibuk itu sampai Kakak tidak sempat memberiku kabar🥺^^^


^^^Zeze^^^


^^^Kak, aku rindu ...^^^


^^^Zeze^^^

__ADS_1


^^^😭😭😭😭^^^


Terakhir, Zeze mengirim PAP yang menunjukkan dirinya sedang selonjoran kaki di atas kasur.


Berharap Jenanda segera membuka pesan yang Zeze kirim dan membalasnya dengan cepat untuk menghilangkan kegelisahan hatinya.


"Awas saja besok kalau Kak Jenan chat, aku tidak mau membalasnya." Zeze merajuk seraya menunjuk-nunjuk layar ponselnya yang memasang foto Jenanda sebagai wallpaper depan.


Rasa kantuk mulai datang.


Zeze melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.


Kelopak matanya tiba-tiba memberat. Ia tertidur sembari menggenggam ponselnya, lupa meletakkan benda pipih itu di tempat semula.


Di sisi lain ..


Jenanda baru saja selesai mandi setelah berbincang-bincang hangat dengan Sakura.


Membahas tentang beberapa karya seni milik Seniman dunia dan secara kebetulan, Sakura juga memiliki ketertarikan seni yang sama dengan Jenanda.


Jadilah mereka merasa nyambung ketika mengobrol bersama.


Kedua mata Jenanda melotot, melihat empat pesan yang dikirim Zeze 1 jam lalu.


Jenanda buru-buru membalas pesan tersebut.


...ZE-Love...


Jenanda


Sayang, maaf. Bateraiku habis,


Ini baru dicas.


Jenanda


Sayang, aku telepon sebentar, boleh?


Jenanda


Ze? Sudah tidur ya?


Hingga dimenit ke sepuluh, Jenanda tak mendapat balasan apapun dan menyimpulkan jika Kekasihnya sudah tidur karena ini hampir menuju tengah malam.


Jenanda


Ya sudah kalau gadis cantik Kakak sudah tidur,


Selamat malam, Sayangku ..


Jenanda


Mimpi indah, Sweetie


ich liebe dich💙


Membaca ulang pesan yang baru saja dikirim, Jenanda terkekeh geli sebab sebelumnya, Jenanda tidak pernah bertukar pesan dengan wanita manapun dengan kalimat-kalimat manis seperti remaja labil.


Tidak apa-apa.


Jenanda akan terbiasa melakukan itu karena Ayahnya bilang, wanita itu makhluk yang senang mendapatkan perhatian dari pasangannya, sesibuk apapun kita, kalau bisa sempatkan waktu untuk memberi kabar.


Dan ucapan Ayahnya terbukti.


Kekasihnya mungkin sedang merajuk di sana karena menunggu balasan pesan darinya. Besok pagi-pagi sekali, Jenanda akan menghubungi Zeze lagi dan membelikan sesuatu untuk wanita itu sebelum pulang.


...•••• ...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2