Our Baby!

Our Baby!
MELAHIRKAN II


__ADS_3

Tak terasa kandungan Joanna sudah semakin membesar. Memasuki usia sembilan bulan, tentu Joanna telah mempersiapkan semuanya.


Belajar dari pengalaman saat melahirkan si sulung dulu, perut Joanna yang kini terasa mulas segera berteriak memanggil Jean.


"Ada apa, Sayang?" Jean panik ketika melihat Istrinya meringis kesakitan sembari memegangi perut buncitnya.


"Sepertinya aku mau melahirkan. Cepat, ahk! Bawa aku ... Kita ke rumah sakit sekarang, J-jean."


Napasnya tersengal dengan keringat yang membanjiri sekujur tubuh.


Dibantu Bibi Karin, Joanna berjalan perlahan menuruni anak tangga.


"Biar kugendong saja."


Jean berjalan dengan langkah hati-hati.


Menuju mobil yang siap mengantar mereka ke rumah sakit.


Di kediaman Soenser.


"Kakek, pinjam ponselnya! Je mau telepon Papi dan Mami."


Semalam Jenan merengek minta menginap di rumah Kakeknya.


Jean tidak keberatan. Malah ia senang karena bisa lebih fokus mengurus Joanna yang kemungkinan akan melahirkan dalam waktu dekat.


"Yaah, tidak diangkat, Kek."


"Mungkin Papi dan Mamimu sedang sibuk, Jenan. Sudah! Biar Kakek antar saja nanti."


Jenan duduk termenung.


Seolah ada yang mengganggu pikirannya.


"Jenan, kenapa? Kenapa terlihat murung?"


"Tiba-tiba Je kepikiran Mami, Kek."


"Emm, mau Kakek antar pulang sek–"


Drtt! Drtt!


Ponsel Tuan Dery bergetar karena sebelumnya, Jenan sempat mengotak-atik benda itu dan mengubahnya dalam mode getar.


"Halo Jean. Ada apa?"


"Pa, Joanna di rumah sakit. Dia akan melahirkan hari ini. Tolong beritahu Jenan juga ya ... Eh, maaf Suster. Saya sedang bicara dengan Papa saya."


Terdengar di seberang sana Jean sedang mengbrol dengan perawat rumah sakit.


"Halo, Papa? Maaf, tadi kutinggal mengobrol sebentar. Pokoknya datang ke rumah sakit Central Medical. Tolong ajak Jenan sekalian ya, Pa."


"Iya, Je. Kami akan ke sana. Apa kamu butuh dibawakan sesuatu?"


"Tidak usah. Aku sudah–"


Oek! Oek! Oek!


"Ya Tuhan! Pa! Bayi kami sudah lahir dan dia ... Hks! Dia sehat, cantik sekali seperti Joanna, hks!"


Suara tangis haru Jean terdengar hingga tak terasa, Tuan Dery ikut berkaca-kaca merasakan ketulusan Jean pada Joanna.


"Syukurlah. Papa dan Jenan akan segera menyusul."


"Iya, Pa. Dokter sudah memanggil. Aku tutup ya."


"Hm, jaga Joanna dan Cucu Papa, Jean."


"Pasti, Pa."


...••••...


Kabar kelahiran anak kedua Jean sudah tersebar.


Beberapa rekan bisnis Jean dan Keluarga besarnya memberi ucapan selamat.


Ada yang mengirim karangan bunga dan kado untuk si bungsu.

__ADS_1


"Mata dan bibirnya milikmu."


"Dia cantik, persis seperti Maminya."


"Oh, utututu ... Anak Papi, lihat apa, Nak? Lihat Papi yang ganteng ini ya."


Jean tidak berhenti tersenyum ketika berinteraksi dengan bayi mungil itu.


Berulang kali Joanna melihat Suaminya mengusak gemas hidung si kecil dengan hidungnya.


"Apa, apa, hm? Apa, Sayang? Iya, Mami di situ."


Si kecil tampaknya mulai merasa haus. Bibir mungil itu tidak berhenti bergerak lucu.


"Apa? Mau *****?"


Perasaan Joanna menghangat kala melihat wajah Putri kecilnya yang sedang menyusu.


Dalam kondisi seperti ini, Jean masih sempat berpikir hal kotor ketika Joanna mengeluarkan ASI-nya tadi.


"Ekhem! Sayang, a-aku mau ke l-luar dulu. Mau beli minum." Tiba-tiba Jean merasa gugup.


Joanna terkekeh mendengar alasan klasik pria itu. Hidup bertahun-tahun bersama Jean, membuatnya paham akan ekspresi yang ditunjukkan oleh Suaminya tersebut.


"Hm, jangan lama-lama, Je. Aku tidak mau sendirian."


Karena Joanna sudah menyuruh Bibi Karin pulang duluan untuk membersihkan kamar yang akan di tempati si kecil.


"Tenang saja. Hanya beli minum."


...••••...


Selama perjalanan, Jenan terus merapalkan doa.


Terlihat dari bibirnya yang komat-kamit di kursi belakang.


"Jenan ..."


"Ssst! Je sedang berdoa, Kakek."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Tidak ada yang perlu dicemaskan. Jean sempat mengirimkan foto anaknya melalui pesan singkat.


Serta mengabarkan jika Joanna sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Mereka tiba di rumah sakit dan tak sengaja berpas-pasan dengan Jean di lobby.


"Jean? Mau kemana? Siapa yang menjaga Joanna?"


"Ada suster, Pa. Aku mau ke Restauran depan, beli makan dan minum ..."


Jean beradu kepalan tangan dengan si sulung, "Jagoan Papi mau ikut Papi atau Kakek?"


"Je ikut Kakek, Pi. Mau ketemu adik bayi."


"Ya sudah, jangan nakal dan tidak boleh berisik, okay? Adik bayi sedang tidur soalnya."


"Okay, Papi. Jangan lama-lama ya. Je mau foto bersama, buat kenang-kenangan, hihihi."


"Siap! Pa, titip anak-anak dan Joanna. Aku tidak akan lama."


Setelah itu mereka berjalan berlawanan arah.


Debaran jantung Tuan Dery berdetak semakin cepat.


Sama seperti yang dirasakan oleh Jean, Tuan Dery ikut terharu melihat bayi mungil yang terbalut selimut biru sedang tertidur lelap di samping Joanna.


"Papa."


"Eh, tidak usah bangun, Sayang."


Tuan Dery melihat Joanna yang tampak kesulitan ingin duduk, menarik bantal Joanna untuk dijadikan -sandaran.


"Terimakasih, Pa."


"Kalau begitu Papa tunggu di sofa saja. Kasihan Jenan, ingin mengobrol dulu dengan Adiknya."

__ADS_1


Joanna tersenyum seraya mengangguk pelan. Memberikan ruang bagi Jenan supaya bisa melihat Adiknya terlebih dulu.


"Mami, adik bayi." lirih Jenan.


Mata bocah itu berkaca-kaca, merasakan jemari kecilnya bersentuhan langsung dengan kulit lembut Adiknya.


"Halo, Adik bayi! Ini Kakak Je! Akhirnya ... Kita bisa bertemu juga, hks!"


"Sayang, kenapa menangis?"


Jenan langsung mengusap airmatanya yang belum sempat turun ke pipi.


"Je terharu, Mami. Adik bayi lucu, pipinya bisa ditoel-toel seperti ini ..."


Jenan menusuk-nusuk pelan pipi si kecil dengan telunjuknya.


"Eum, nama Adik bayi siapa, Mi?"


"Namanya Arzendana Soenser, Sayang."


"Woah! Nama yang cantik, seperti wajahnya lucu, ih! Kakak gemas, Mi."


Joanna bisa menangkap binar bahagia pada sepasang mata hitam Jenan yang tampak hati-hati saat menyentuh Zenda yang perlahan kembali membuka kelopak matanya lagi.


Oek! Oek! Oek!


"Eh, eh. Maaf ya, Zenda. Kakak tidak sengaja, haduh! Zenda jadi terbangun, Mami."


"Tidak apa-apa. Zenda mau melihat wajah Kakaknya yang tampan ini."


Mendengar itu, wajah Jenan tersipu malu. Apalagi saat Ibunya sedang menyusui, Jenan berlari menghampiri Kakeknya yang sedang duduk di sofa.


Sebab sejak berusia lima, Jenan sudah diajari tentang bagian privasi lawan jenis yang tidak boleh dilihat dan disentuh sembarangan, termasuk area privasi Ibunya.


Maka dari itu, Jenan yang pintar langsung memberikan ruang pada Joanna untuk menyusui Zenda yang tampak lahap meminum ASI Joanna.


"Kakek, Je tiba-tiba haus. Mau es boba."


"Es boba?"


Jenan mengangguk, sesekali mencuri pandang ke arah Joanna yang sudah menutupi tubuh Zenda menggunakan apron khusus ibu menyusui.


"Iya. Je mau minum itu. Mami, boleh ya?" tawarnya pada Joanna yang semenjak tadi ikut mendengarkan percakapan mereka.


"Telepon Papi saja. Sekalian Papi di luar."


Lama Jenan menunggu hingga pada dering kelima, Jean baru mengangkat panggilan itu.


"Halo, Pa. Maaf, aku masih menunggu pesananku. Restaurannya antri."


"Papi, ini Kakak."


"Jenan? Ada apa, Sayang?"


"Kakak mau es boba satu, Pi. Tolong belikan ya?"


"Es boba? Kenapa tidak minum jus saja?"


"Ish! Kakak maunya es boba, Papi. Kata Mami, Kakak boleh minum itu."


"Okay, okay! Papi belikan sekarang. Ada lagi?"


"Kakek mau titip apa? Papi tanya, Kek."


Tuan Dery yang sudah berpindah posisi duduk di sebelah brankar Joanna pun menyahut, "Tidak. Kakek masih kenyang, Je."


"Oh, okay! Katanya, Kakek masih kenyang, Pi. Berarti pesan boba sama kentang goreng satu ya, Papi. Kakak tiba-tiba lapar soalnya, hihihi."


"Ya sudah! Sepuluh menit Papi ke sana. Jaga Mami dan Zenda ya, Je."


"Siap, Pak Bos! Jangan lama-lama dan terimakasih, Papi."


"Sama-sama, Sayangku. Papi tutup."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2