
Pertama kalinya, Zenda berlibur ke Paralayang. Suasana di sekitar tidak terlalu ramai, mengingat ini bukan hari libur maupun akhir pekan.
"Siapa, Kak?" tanya Zenda ketika mendengar dering ponsel Suaminya yang terdengar sangat mengganggu.
"Fella, Ze."
"Angkat dan loudspeaker. Aku mau mendengarnya juga."
Rajendra menurut.
Menekan mode loudspeaker supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman lagi antara dirinya dan Zenda.
Wajah Zenda sudah masam saat Rajendra menyebut nama Fella.
"Jendra, dimana? Aku rindu."
Rajendra melirik Zenda hanya untuk melihat perubahan ekspresi Zenda yang semakin merengut kesal.
"Jen–"
"Apa di sana ada Kak Shelin?"
"Hm. Dia ada di sampingku. Kenapa?"
"Tolong berikan ponselmu sebentar padanya, Fell. Aku mau ngomong sama Kak Shelin."
"Tapi–"
Zenda sudah membuka mulut untuk menyahut tapi Rajendra dengan cepat membekap bibir Istrinya dengan sebelah tangannya, "Ya sudah! Kalau tidak mau, aku matikan saja."
"Eh, jangan-jangan. Iya, ini Kak Shelin, Jendra mau ngomong."
"Ya, Jen?"
"Kak, dengarkan ini baik-baik. Semua keperluan Fella sudah diurus dan besok kita antar kalian ke bandara. Maaf, tapi aku dan Zenda tidak bisa ikut ke sana. Ada orang kita yang akan menemani Fella selama pengobatan ke Inggris kalau Kak Shelin sibuk."
"Kamu gila ya? Bagaimana aku bisa membiarkan Fe— ekhem! Kita tidak bisa membahas ini di telepon. Kamu tahu 'kan?"
Bisa ditebak, jika saat ini, Fella sedang mendengarkan percakapan mereka. Terdengar dari bisikan samar yang meminta Shelin agar mengubah panggilan itu menjadi mode loudspeaker.
"Cafe Rainbow, besok jam 10 pagi." kata Rajendra.
Panggilan dimatikan secara sepihak oleh Zenda.
Ia mendesah lelah sebab masalahnya dengan si Mantan Tunangan belum juga menemui titik terang meski solusi yang mereka tawarkan sudah ada namun pihak Shelin seolah mempersulit jalan tersebut.
Rajendra memeluk Zenda, sangat erat.
Padahal seharusnya momen ini menjadi momen yang paling mereka tunggu.
"Tidak apa-apa. Kalau kita pulang sekarang. Toh, membuat anak juga tidak butuh tempat yang jauh ..."
Zenda semakin berani untuk mengatakan hal-hal intim pada Suaminya, "Tidak usah terkejut begitu! Kak Rajen yang mengajariku menjadi dewasa bukan?"
"Aku sudah minta maaf padamu, Sayang."
"Hm, makanya kita pulang sekarang! Semakin cepat diurus, akan lebih baik lagi karena kita bisa segera pulang ke Jakarta, Kak."
"Kamu benar, Sayang. Tapi karena sudah terlanjur di sini, bagaimana kalau kita bermain sebentar? 10 menit cukup 'kan?" tanya Rajendra dengan tatapan penuh arti.
Zenda hanya mengangguk. Membiarkan Rajendra begitu semangat mengajak dirinya kembali ke Hotel yang mereka sewa untuk bermalam dua hari namun tidak jadi sebab mereka harus pulang hari itu juga.
Mereka hanya memanfaatkan waktu yang tersisa sebelum pulang ke Surabaya.
__ADS_1
Poor Rajendra!
...••••...
Konsep pernikahan yang sederhana menjadi pilihan mereka.
Sebab Jenanda dan Zeze tidak memiliki banyak waktu untuk menggelar pesta pernikahan mewah seperti sang Adik, Zenda.
"Cukup resepsi satu hari saja, besoknya kita persiapkan pameran Kak Jenan."
"Terimakasih, Babe. Kamu sangat pengertian. Sebagai gantinya, kita akan honey moon ke Amerika."
Zeze menggeleng, "Aku mau negara romantis tempat asal Romeo dan Juliet berada." jemari lentik itu memainkan kancing teratas milik Jenanda.
Membuat gerakan memutar dan nyaris membuat kancing itu terlepas.
Mereka sedang di rumah, tepatnya Zeze menginap di kediaman Soenser karena Jean dan Joanna sedang berada di rumah Kakeknya Jenanda.
Tak jarang, ulah Zeze itu membuat Jenanda menggeram rendah.
"Ze ..."
Wajah Zeze mendongak, "Hm?"
"Jangan dimainkan terus. Nanti aku bisa—"
Chup!
"Kalau Kak Je mau, kita bisa melakukan itu. Aku tidak keberatan. Bukankah sebentar lagi kita juga akan menikah?"
Jenanda tidak seperti pria brengsek yang saat mendapat lampu hijau, maka ia akan melakukannya dengan senang hati.
Pelukan itu semakin erat, bahkan Jenanda sengaja menyandarkan kepala Zeze pada dada bidangnya.
"Kak."
"Tapi kalau aku bilang, aku sedang ingin, apa Kak Je tetap tidak mau melakukannya?" cicit Zeze.
"Kak, kata temanku, bercinta atas dasar saling suka, itu tidak akan jadi masalah."
Polos sekali.
"Kalau Kak Je menolak, itu berarti ... Kak Je tidak sungguhan menyukaiku?" lirihnya lagi.
"Kamu tahu bukan itu maksudku, Sayang."
"Lalu?"
"Ze, aku pria normal. Saat kita melakukan dirty talk seperti ini, jangan kamu anggap aku tidak bereaksi apa-apa ..."
Jenanda menunjuk sesuatu yang menggembung dibalik celananya, "Lebih baik kita turun ke bawah. Kamu mau dimasakkan apa untuk makan malam?" Jenanda berusaha mengubah topic pembicaraan.
"Aku mau makan Kak Jenan saja." ujar Zeze.
"Zeze, please!"
"Haha, iya, iya. Aku bercanda! Eum, spageti untuk makan malam sepertinya enak juga, Kak." serunya.
"Oke, ada lagi?"
Zeze menggeleng, mencium kilat pipi Jenanda, "Enough! Ayo aku bantu potong-potong. Nanti kalau Tante Joanna tahu, dikira aku tidak bisa masak."
Sifat Jenanda yang seperti ini benar-benar menuruni sifat Ayahnya, Jean.
__ADS_1
Mereka bukan tipikal pria penganut paham **** bebas yang gampang tergiur dengan godaan seperti itu.
Sebab iman Jean dan Jenanda cukup kuat untuk menahan godaan dari makhluk yang bernama wanita.
...••••...
"Kak, capek!"
"Mau makan tapi malas turun."
"Ssh! Sakit!"
"Kak Rajen!
Rengekan Zenda terdengar jelas oleh Rajendra yang masih berada di kamar mandi.
Mereka baru selesai bercinta setelah menghabiskan waktu selama dua jam.
Tidak sesuai ucapan Rajendra tadi.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Rajendra keluar dalam balutan handuk putih yang melilit pingganggnya.
"Ada apa, hm?"
"Sakit, Kak." adu Zeze, seraya menunjuk area privasinya.
"Siapa yang minta terus padahal aku sudah ingin berhenti?"
"Ish! Bukannya dibantu malah meledek, minggir! Aku mau mandi sendiri."
Zenda mendorong pelan bahu Rajendra ke samping tapi belum sampai Zenda berjalan, Zenda sudah kembali terduduk di kasur.
"Ahk! Rasanya ngilu."
"Ayo sini! Kakak gendong ..."
"Tenang! Kakak janji hanya membantumu mandi lalu selesai itu, kita pesan makan."
Zenda pun tak banyak memprotes saat Rajendra menyelipkan kedua tangannya diantara leher dan lutut.
Reflek.
Ia mengalungkan lengannya di leher Rajendra.
Wajahnya tersipu malu saat menghirup aroma mint yang menguar dari dada telanjang pria itu. Mengingat kembali percintaan mereka yang terasa membekas dalam ingatan.
Setiap sentuhan Rajendra berhasil membuat Zenda mengerang penuh kenikmatan.
"Kamu cukup duduk di closet saja. Biar Kakak yang bantu usap-usap pakai sabun."
"I-iya."
Padahal mereka sudah saling melihat tubuh masing-masing tapi Zenda tetap malu dan berusaha menutupi dada serta area bawahnya.
Rajendra yang peka, hanya fokus menggosok tubuh Istrinya saja. Ia tidak ingin membuat Zenda tidak nyaman dengan kondisi mereka sama-sama naked.
"Aku berharap anak kita kembar." ujar Rajendra memecah keheningan.
"Kembar?
"Hm, ada sepupu dari Solo yang punya anak kembar. Biasanya kalau ingin punya anak kembar, harus punya gen itu. Meskipun sekarang jaman sudah canggih tapi akan mudah jika salah satu dari kita punya turunan anak kembar untuk diwarisi." jelas Rajendra.
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!