Our Baby!

Our Baby!
SHELIN


__ADS_3

Dua hari kemudian ...


Jenanda beserta anggota divisi Elliptical Art yang ikut serta dalam penggelaran pameran di Gedung Kesenian dan Budaya langsung mensurvei lokasi untuk meninjau persiapan acara tersebut.


"Ingat, Jenan! Bersikap biasa saja pada Sakura selama kamu di sini. Mami tidak mau kalian dekat di luar konteks pekerjaan."


"Iya, Mami. Kalau dihitung-hitung, Mami sudah bilang puluhan kali soal ini." protes Jenanda.


Sebab sebelum pesawat mereka berangkat, Joanna terus memberinya ultimatum seperti itu.


"Mami tidak mau calon Menantu Mami sedih, Jenan."


"Siapa juga yang mau membuat Zeze sedih, Mi? Sudah ya? Aku mau memeriksa bagian lainnya. Mami sama Celia dulu." Jenanda melambaikan tangan pada Celia yang sedang berdiskusi dengan dua staff Mr. Akeno.


Sementara Mr. Akeno sedang ada urusan lain di Kantornya.


Lalu Sakura?


Itu dia!


Masalahnya gadis itu bilang ingin ke Toilet sebentar tapi hingga kini, belum juga kembali.


Jenanda tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


Oh ya! Dalam event pameran kali ini, Jenanda sudah mempersiapkan sekitar 25 lukisan terbaiknya.


Yang telah ia kerjakan kurang lebih dua bulan yang lalu.


"Human relationship with other humans ..." gumam Jenanda ketika membaca konsep tema untuk pamerannya.


Jenanda tidak berhenti menyunggingkan senyum sebab tema itu dibuat khusus untuk seseorang yang begitu spesial dalam hidupnya.


Seseorang yang telah mendukung seluruh mimpinya selama ini.


"Aku jadi tidak sabar melihat reaksinya nanti." gumam Jenanda lagi.


"Sayang, kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Eum? Mami! Sejak kapan Mami di situ?"


Mereka sedang di ruang pertemuan yang telah disiapkan oleh staff Mr. Akeno untuk Jenanda dan anggota divisinya yang lain.


"Baru saja. Pasti memikirkan Zeze." goda Joanna.


"Bisa iya, bisa juga tidak .."


Jenanda meletakkan berkas tadi, lalu membuka pesan yang baru masuk, "Mr. Akeno memberi waktu kita untuk istirahat sebelum persiapan acara. Oh ya, Sakura dimana, Mi?"


"Ada. Bersama Celia. Lebih baik kamu fokus dengan lukisanmu saja. Mungkin ada yang perlu diperbaiki. Soal yang lain biar Mami dan staff-mu yang mengurus."


"Mi, aku tidak akan macam-macam, sungguh."


"Kamu memang tidak akan macam-macam tapi tidak dengan Sakura, Jenan."


Pintu ruangan mereka diketuk.


"Masuk."


"Halo, Tante Joanna. Boleh aku masuk?" tanya Sakura.


Di tangannya sudah ada beberapa bungkus makanan siap saji.


"Kalian pasti lapar. Kebetulan ini jam makan siang."


"Tante tidak makan karbo. Sedang diet ..."


Joanna beranjak dari kursinya, "Mami tinggal dulu. Ingat pesan Mami, Jenan!" peringat Joanna sebelum dirinya berjalan keluar.


Sebab ia memang tidak terlalu menyukai Sakura yang masih berusaha mengejar Putranya meski Sakura tahu, Jenanda sudah memiliki Kekasih.


"Maafkan Mami ya, Ra."

__ADS_1


Sakura mengangguk seraya tersenyum cantik, "Tidak apa-apa. Tante Joanna pasti sibuk mengurus lainnya, makanya dia pergi pas aku datang."


Kemudian mereka melanjutkan kegiatan makan siang itu dengan tenang tanpa ada percakapan lagi.


^^^ZE-Love^^^


^^^Kak, lagi apa? Aku rindu🥺^^^


Satu pesan dari Zeze membuat bibir Jenanda tersenyum.


Lantas ia pun segera membalas pesan Kekasihnya tersebut.


Jenanda


Baru juga ditinggal


But, i miss you too, Babe ...


Jenanda


Tunggu aku ya? Setelah urusanku di sini selesai, aku akan cepat pulang.


^^^ZE-Love^^^


^^^Pulang saja? Tidak mau melamarku juga?^^^


Jenanda terkekeh, membaca balasan pesan dari Zeze yang mendadak minta dilamar.


Mengundang rasa penasaran Sakura untuk bertanya, "Kak, chat dengan siapa?"


Padahal tanpa ditanya, Sakura sudah mengetahui jawabannya.


Pasti Zeze.


"Kak Jenan?"


Karena terlalu asyik bertukar pesan, Jenanda tidak mendengar ucapan Sakura.


"Tsk! Tidak jadi ..."


Sakura meletakkan kembali sumpitnya, "Ayo pergi jalan-jalan. Papa masih ada urusan di Kantor, jadi kita bisa mulai persiapannya besok pagi." ajak Sakura, mulai melancarkan rencananya.


"Jalan-jalan? Sepertinya tidak bisa. Ada beberapa lukisan yang harus aku perbaiki sebelum acara dimulai."


"Tapi kulihat tadi, lukisan yang akan dipajang sudah sempurna."


"Iya, memang. Tapi ada satu yang masih belum seratus persen jadi dan aku butuh waktu untuk menyelesaikan itu dengan cepat .."


Secara tidak langsung, Jenanda menolak Sakura secara halus supaya gadis itu tidak tersinggung.


Tapi Jenanda bersumpah!


Ada satu lukisan rahasia yang tidak satu pun dari staffnya mengetahui soal lukisan tersebut.


Yang rencananya akan menjadi bintang utama dalam pameran Jenanda nanti.


Kecuali Celia, yang memang bertugas sebagai Asistennya sudah diberitahu tentang lukisan itu.


"Tapi aku mau jalan-jalan sama Kakak. Sebentar saja."


"Tidak bisa, Ra. Maaf ya?"


"Kak, aku suka sama Kak Jenan."


Mendengar pernyataan cinta Sakura padanya, Jenanda hanya tersenyum tipis.


"Aku sudah tahu"


"Lalu?"


"Apanya?" Jenanda balik bertanya.

__ADS_1


Kalau begini, Jenanda harusnya mengajak Zeze supaya bisa mendampingi dirinya agar tidak diganggu oleh Sakura.


"Aku suka sama Kak Je. Menurutku, Kak Je itu sempurna. Tampan, berbakat dan penuh kasih sayang .."


"Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, jadi ... Apa Kakak mau terima cinta aku?"


Semakin lama, topic yang dibicarakan tidak jelas dan mengarah pada pembahasan yang tidak seharusnya mereka bicarakan.


Di sini, Jenanda bekerja bukan ingin bermesraan apalagi harus mendengar sebuah ungkapan cinta dari gadis yang baru dikenalnya beberapa waktu terakhir.


Kemudian Celia datang dengan raut wajah panik.


"Bos! Bu Joanna pingsan di kamarnya."


Seketika tubuh Jenanda langsung berubah pucat pasi mendengar sang Ibu yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


Ya Tuhan! Mami!


...••••...


Rajendra dan Zenda berpamitan pada Ibunya akan pergi sebentar.


Untuk mengunjungi salah seorang teman lama Rajendra, katanya.


Gerbang setinggi empat meter itu menjulang tinggi di depan mata.


Persis seperti kediaman Soenser.


Megah dan mewah.


"Tuan Rajendra?"


Pak Baron— satpam rumah Fella terkejut melihat kedatangan Mantan Tunangan Nona Mudanya tersebut.


Pria itu tergopoh membuka kunci gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.


"Tante Rere ada, Pak?"


"Nyonya Rere pergi ke luar negeri seminggu yang lalu, Tuan. Saya tidak tahu kapan beliau kembali."


Zenda menghela napas, kesal. "Lalu di rumah ini, ada siapa?"


Menurut cerita Rajendra, Fella itu memiliki seorang Kakak perempuan sementara Ayahnya sudah lama meninggal.


"Tidak ada, Nona. Kalau Nona Fella katanya ke Jakarta. Melanjutkan kuliahnya lagi begitu."


"Iya, Pak. Dia kuliah di Kampus yang sama dengan saya. Masalahnya, kami datang ingin bertemu dengan Bu Rere ..."


Mereka terkejut saat mendengar suara klakson mobil hitam yang ada di belakang sana.


"Sebentar. Itu Nona Shelin baru datang." kata Pak Seno, membuka gerbang itu lebih lebar.


Seorang wanita seumuran Jenanda keluar dari mobil tersebut.


"Jendra? Sedang apa kamu di sini?"


Wanita itu menatap ke arah Zeze, "Siapa dia?" tanyanya menyelidik.


"Apa kabar, Kak Shel? Dia Zenda, Istriku."


Zenda mengulurkan sebelah tangannya namun tidak dibalas oleh Shelin, "Fella menyusulmu ke Jakarta. Sorry! Aku sama Mama tidak bisa mencegahnya. Dia nekat!" nadanya terdengar ketus setelah mengetahui gadis yang bersama Mantan Tunangan Adiknya itu adalah Istrinya Rajendra.


Zenda sudah menahan diri untuk tidak marah, namun sikap Shelin membuatnya tersinggung.


Kedatangannya ke sini tidak disambut baik oleh Shelin. Sangat kentara dari sorot mata Shelin yang terus menatapnya sinis.


"Ada yang mau aku bicarakan sama Kak Shelin. Ini soal Fella!"


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2