Our Baby!

Our Baby!
CEMBURU


__ADS_3

Jean menambah kecepatan mobilnya setelah mendapat pesan singkat dari Lian berupa video rekaman cctv yang diakses dari kediaman Soenser.


Tanpa dijelaskan, Jean sudah mengerti maksud video itu. Memperlihatkan tindakan kurang ajar yang dilakukan Ethan pada Istrinya.


Di sana juga terlihat Rosa dan Nyonya Anne sedang mendorong Joanna dari arah belakang hingga tubuh Joanna terjatuh lalu menabrak guci Qianlong di depannya.


"Sial! Kenapa harus macet!?"


Bunyi klakson saling bersahutan. Jean berulang kali berteriak kencang supaya kendaraan yang ada di depannya segera bergerak maju.


Empat puluh menit kemudian, Jean sampai di rumah.


Dua penjaga yang baru sadar dari pingsannya, tergopoh membuka pintu gerbang.


"JOANNA!"


Pria itu menaiki tangga menuju kamar Joanna yang ada di lantai dua. Menemukan Istrinya sedang bersiap-siap mau pergi.


"Kenapa tidak mengangkat teleponku?"


"Kenapa ponselmu mati?"


Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan juga. Membuat Jean mendengus kesal.


Kemudian tanpa bicara lagi, Jean melepas seluruh pakaiannya lalu meletakkan itu di keranjang baju kotor.


"Tunggu aku kalau mau pergi. Biar kuantar!" ucapnya sebelum melenggang masuk ke kamar mandi.


Joanna tak menyahut.


Ia kembali membuka pesan yang dikirim oleh seseorang lima menit yang lalu.


...[L]...


L


(Send pict)


Pesan tersebut hanya berisi sebuah foto namun mampu membuat hati Joanna tercubit sakit.


Sebab sesuatu yang Joanna takutkan selama ini akhirnya terjadi. Dunia luar terlalu jahat untuk dirinya dan Jenan.


CEKLEK!


Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Jean yang keluar dengan balutan handuk putih sebatas pinggang.


"Sayang, dimana bajuku? Belum kamu siapkan?"


Joanna tidak lupa.


Tapi sengaja tidak mau menyiapkan pakaian Suaminya karena Joanna sedang marah. Sejak pulang, Jean tidak mengatakan apapun tentang kondisi Jenan padanya.


"Joanna?"


"Cepat pakai bajumu! Aku mau ke rumah sakit."


Satu setelan kaos berwarna putih serta celana jeans navy Joanna letakkan di atas ranjang.


Jean terdiam.


Ia segera memakai pakaiannya tanpa mengalihkan pandangan dari Joanna yang kini sibuk melihat ponselnya.


"Kirim pesan dengan siapa?"


Jean berjalan mendekat lalu berusaha mengintip siapa orang yang sedang bertukar pesan dengan Istrinya.


"Not your business!" desis Joanna tak suka.


"Kamu Istriku. Sekecil apapun itu, aku berhak tahu, Joanna!"


Joanna tersenyum remeh mendengar ucapan Jean barusan.


"Lalu ini?"


Ia menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan Jenan terbaring di brankar rumah sakit.


"Kenapa diam, Je? Perlu menjelaskan sesuatu padaku?"


Joanna melirik jam di tangannya, "Kurasa waktu lima menit cukup untuk bicara sebelum kita pergi."


"Baterai ponselku habis, Sayang. Saat itu aku panik dan tidak sempat mengabarimu."


"Alasan! Kamu 'kan bisa pinjam ponsel milik petugas di sana, Jean." Mata Joanna mulai berkaca-kaca. Ia paling tidak bisa melihat Jenan terluka, "Aku menunggu kabar darimu semalaman seperti orang gila tapi kamu sama sekali tidak berusaha menghubungiku. Begitu juga dengan Papa Dery dan Papa David."


Joanna beranjak dari kursi.


"Kenapa selalu Lian yang bergerak cepat mengetahui semuanya dan memberitahuku soal ini? Termasuk tentang keberadaan Jenan dan Perawat Yo."


"Jadi menurutmu, sebagai Suami, aku tidak berguna?"

__ADS_1


"Tidak ada yang bilang seperti itu, Arjean!"


"Tapi secara tidak langsung kamu menganggapku begitu."


Kecewa?


Entahlah!


Jean tidak mengerti dan berusaha tetap sabar menghadapi emosi Istrinya yang naik-turun. Tidak ingin tersulut juga karena ada hal lain yang jauh lebih penting dari topic ini untuk dibahas.


"Kenapa tidak langsung meneleponku ketika Ethan datang ke rumah?"


"Kamu lupa? Ponselmu mati Jean, astaga!"


Ah, benar juga!


Jean memeluk Joanna yang berdiri di depan cermin dari belakang.


Menggumamkan kata maaf agar perdebatan mereka segera berakhir. Sebagai pasangan suami dan istri, memang seharusnya ada yang mengalah jika sedang menghadapi masalah.


Untuk itu, Jean berusaha mengerti kecemasan Joanna sebagai seorang Ibu dan mengesampingkan egonya supaya hubungan mereka tetap baik-baik saja.


"Jenan segalanya untukku. Jika dia terluka, aku juga ikut terluka ..."


Joanna berbalik menghadap Suaminya. Pandangan mereka bertemu. Ada kekhawatiran dan ketakutan pada sorot mata Joanna.


"Aku juga mengkhawatirkan kamu, Papa dan yang lain. Tapi bagiku, Jenan seperti separuh nyawaku. Saat tahu dia diculik, aku panik! Berbagai pemikiran buruk terus berputar di kepalaku sejak semalam ..."


"Sampai akhirnya aku bisa bernapas lega setelah Jenan berhasil ditemukan meskipun dia harus terluka." lanjut Joanna seraya menangis di dada bidang Suaminya.


"Maafkan aku, Joanna. Maaf! Seharusnya aku datang lebih cepat menjemput Putra kita."


Entah mengapa, sejak mencintai wanita yang satu ini, Jean menjadi lebih sensitif. Mungkin karena sebelumnya Jean tidak pernah terlibat hubungan secara emosional dengan seorang wanita maka hal sekecil apapun itu jika menyangkut tentang Joanna, membuat perasaannya mudah tersentuh.


"Maaf sudah membuatmu menangis. Aku janji, para pelaku itu akan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka."


Iya, Jean! Kamu harus menjebloskan Ethan ke penjara.


...••••...


"Uncle! Uncle!"


Lian menoleh ketika Jenan menusuk-nusuk lengannya dengan jari telunjuk.


Hingga Lian merasa gemas ingin mencubit pipi gembil bocah itu.


"Ish! Panggil Je-Nan saja, Uncle!"


Lian terkekeh melihat ekspresi lucu itu, "Maaf! Tidak bisa, Tuan Muda."


"Ya, ya terserah! Kenapa Papi lama sekali? Je bosan!"


"Mungkin sebentar lagi— oh! Itu mereka, Tuan Muda."


Benar saja.


Jean dan Joanna baru sampai setelah tadi sempat bertengkar kecil lalu berakhir saling bertukar keringat sebentar— kalian pasti tahu maksudnya.


Hingga Joanna harus terpaksa mandi untuk kedua kalinya.


"MAMI!" pekik Jenan.


Merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Joanna yang kini mencium wajahnya bertubi-tubi.


"I miss you, Mami."


"Mami miss you too, Baby."


Joanna melepaskan pelukan mereka. Memeriksa setiap bagian tubuh Jenan karena ingin memastikan tidak ada luka serius yang menggores tubuh Anaknya, "Apa yang sakit, hm? Penja— ekhem! Maksud Mami, Om yang kemarin membawamu pergi, apa mereka jahat?"


Jenan tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk namun sedetik kemudian menggeleng.


"Bicara yang benar, Baby."


"Ada satu yang galak tapi yang lain baik, Mi."


"Je dikasih banyak coklat dan permen! Bermain di kolam yang banyak ikannya! Je suka lihat ikan, Mami!"


"Ikan kecil yang berenang seperti ini ... Tuing, tuing, begitu Mi." jelas Jean sambil menggerakkan tangannya meniru gerakan ikan yang sedang berenang.


Joanna merespon dengan gelengan kepala. Tak habis pikir saat mendengar cerita Jenan yang tampak senang padahal jika anak itu tahu mereka adalah penjahat yang sedang menculiknya maka sudah pasti, senyum yang mengembang di wajah Jenan akan hilang seketika.


Karena pernah suatu kali, Joanna mendapati Anaknya tidak sengaja melihat berita tentang kasus penculikan anak-anak yang organ dalamnya diambil hingga membuat Jenan menangis ketakutan.


Padahal berita itu hanya menayangkan foto si korban dan penculik yang menggunakan topeng wajah berwarna hitam. Itu pun tidak ada adegan kekerasan namun tetap saja, membuat Jenan menangis semalaman karena takut diculik juga, katanya.


"Lain kali, kalau ada orang asing yang tiba-tiba mengajak Je pergi, Je harus berteriak sekeras mungkin ..."


Jenan memperhatikan ucapan Ibunya dengan seksama. Tatapan polosnya tidak berhenti berkedip lambat, "Dan meminta tolong siapapun yang ada di sekitar Jenan. Bila perlu, Je boleh menggigit atau menendang orang asing itu lalu Je harus berlari secepatnya ke tempat yang lebih aman."

__ADS_1


"Kenapa begitu, Mi?"


Joanna tidak bermaksud mengajari Anaknya agar bersikap kasar pada orang lain.


Itu hanya mekanisme melindungi diri sendiri jika ada bahaya.


"Karena mereka jahat! Kalau mereka baik, tidak mungkin mengajak Jenan dan Perawat Yo pergi tanpa izin Papi dan Mami." sahut Jean.


Merasa gemas melihat Joanna yang berusaha keras memberi pengertian pada si kecil Jenan.


Jadi seperti ini rasanya jadi Ayah.


Lalu tak lama, pintu ruangan kembali terbuka.


Tuan David dan Tuan Dery baru selesai makan siang bersama Perawat Yo dan yang lain di Kafetaria.


"Papa."


Tuan David dan Tuan Dery menghampiri mereka.


Berdiri di dekat brankar Jenan yang tersenyum manis melihat seluruh anggota keluarganya berkumpul.


Joanna memeluk Ayahnya setelah menyapa Tuan David.


"Aku senang kalian kembali dengan selamat ..."


Kemudian menatap Perawat Yo yang tampak menunduk takut, "Terimakasih sudah menjaga Jenan, Perawat Yo."


Mendengar hal itu, Perawat Yo segera meminta maaf sebab tidak bisa menolak saat mereka membawa paksa dirinya dan Jenan pergi.


"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sudah berusaha menghindar. Yang penting kalian baik-baik saja sekarang."


...••••...


Jean dan Joanna menyuruh para orangtua pulang untuk beristirahat setelah tadi sempat berbincang sebentar soal kasus penculikan ini.


Mereka akan melanjutkan penyelidikan besok pagi.


"Sayang."


Tubuh Joanna meremang saat Jean mengubah posisinya menjadi duduk di samping Joanna.


"Tadi 'kan sud– Jean!" protes Joanna.


Sementara Jenan sudah terlelap di brankarnya.


Tidak ada siapapun selain mereka. Jadi kesempatan, pikir Jean.


"Stop! Ini rumah sakit, Jean!"


Satu tangan Joanna menahan dada Jean yang semakin gencar mendekat ke arahnya.


Pria itu terkekeh lalu dengan cepat meraih tengkuk Joanna dan mempertemukan belahan basah mereka hingga menimbulkan suara-suara yang terdengar aneh.


Jenan membuka matanya sedikit namun tidak berani melihat ke arah orangtuanya.


Sampai pintu dibuka dari luar.


Menampilkan sosok Lian yang salah tingkah saat mengetahui kegiatan pasangan pengantin baru itu.


"Oh, maaf! Saya hanya ingin mengambil ponsel saya yang ketinggalan."


Mata mereka tertuju pada benda persegi yang ada di atas nakas.


Jika wajah Joanna memerah padam karena malu, berbeda dengan Jean yang menahan kesal sebab pria itu selalu berada diantara mereka dan berhasil membuat Jean cemburu.


Apalagi Joanna sempat memuji kemampuan Lian saat mereka bertengkar tadi.


"Kamu pasti seng–"


Ucapan Jean menggantung ketika Joanna menutup bibirnya seraya menatap tajam padanya.


"Jenan pasti senang karena sebentar lagi dia akan punya adik baru ..."


"Lian!" peringat Joanna.


Wanita itu benar-benar malu sekarang. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.


"Maaf, tapi sebaiknya kalian pesan kamar yang ada di hotel depan rumah sakit ini. Takut Jenan meli— baik! Saya permisi dulu."


Lian menahan senyum ketika mendapat death glare dari Jean. Seolah pria itu ingin Lian segera pergi.


"Potong gaji dia! Aku tidak suka dengan si Albino menyebalkan itu!"


Ucap Jean dengan nada merajuk hingga Joanna terkekeh kecil. Sebab baru melihat sisi lain dari Suaminya tersebut saat merasa cemburu.


...••••...


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2