
Selesai menggelar pameran di Kanada, mereka kembali disibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang telah menunggu.
Jika Jean pergi ke kantor, serta Jenan yang langsung pergi lagi menuju Surabaya karena ada undangan dari komunitas pelukis anak muda yang dibentuk awal tahun lalu, berbeda dengan si bungsu yang hanya duduk melamun, memikirkan begitu banyak hal semenjak kepulangannya dari Kanada kemarin.
"Zenda juga mau seperti Kakak ..."
"Punya karya yang memiliki nilai jual tinggi ..."
"Menjadi terkenal dan disukai banyak penggemar. Apalagi penggemar Kakak didominasi para gadis cantik berhidung mancung."
Saat di sana, Jenan dibanjiri dengan banyak pujian dan melakukan sesi foto bersama para pengunjung yang tak sekedar memuji karya lukisannya.
Melainkan visual pemuda itu menjadi perbincangan tersendiri bagi banyak gadis Eropa yang tidak hanya datang dari negara Kanada saja.
Mata bulan sabit serta seyum manis Jenan mampu menyihir mata para gadis yang ingin mengenal Jenan lebih dekat.
Bahkan meminta nomor pemuda itu secara pribadi.
Belum lagi, reputasi kerajaan bisnis sang Ayah memudahkan Jenan dikenal bukan hanya pada kalangan umum saja, melainkan kolega bisnis Ayahnya juga ingin menawarkan kerjasama agar Jenan membuatkan mereka sebuah lukisan dengan nilai estetika yang tinggi.
Tak herani jika saat ini Zenda kepikiran ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat kedua orangtuanya serta sang Kakak merasa bangga pada dirinya juga.
"Tapi aku masih dua belas tahun. Genre musik apa yang cocok dengan usiaku?"
Semenjak tadi Zenda tidak berhenti bergumam seorang diri.
Taman kecil di belakang rumah hasil buatan tenaga ahli yang disewa oleh Ayahnya membuat Zenda merasa jika tempat ini satu-satunya tempat ternyaman yang bisa memunculkan banyak inspirasi saat banyak beban yang mengganggu pikirannya.
"Pantas Kak Je suka berlama-lama di sini."
...••••...
Di sisi lain ...
Rosa menunggu dengan perasaan cemas. Satu hari telah berlalu, Joanna dan Jean tak kunjung datang setelah mereka sampai di Indonesia kemarin.
Bukan apa-apa, Rosa hanya takut tiba-tiba ia dijemput oleh petugas kepolisian tanpa diduga.
"Kenapa, Ros? Mama perhatikan, kamu terlihat gelisah sekali."
Wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu tampak semakin menua dengan uban putih yang menghiasi sebagian rambutnya.
Terlihat beberapa keriput yang menghiasi wajah Nyonya Anne.
"Aku menunggu mereka datang, Ma." lirih Rosa.
Yang duduk di sebelah Nyonya Anne yang terus memperhatikan wajah gelisah Putrinya.
Banyak mendengar cerita Rosa selama di Kanada.
Awalnya Nyonya Anne melarang Rosa pergi namun setelah mendengar alasan Rosa menghadiri pameran Jenan hanya untuk meminta maaf— Nyonya Anne akhirnya mengizinkan Rosa pergi.
Tapi semua diluar ekspektasi.
Rosa justru ditangkap oleh kepolisian setempat dengan tuduhan penculikan terhadap Putri bungsu Joanna.
"Yang sabar. Mungkin mereka sedang sibuk dan tidak sempat mampir ..."
__ADS_1
Nyonya Anne menuangkan teh ke dalam cangkir Rosa agar sedikit membantunya lebih tenang.
"Ma, kalau aku di penjara lagi, Mama ambil semua uang yang aku depositokan di Bank ya!"
Deg!
Hati Nyonya Anne mencelos mendengar ucapan Rosa yang terdengar menyedihkan itu.
"Jumlahnya cukup untuk menghidupi Mama di hari tua. Tidak usah mengunjungiku, biarkan saja aku menjalani kehidupanku di penjara meskipun itu akan sulit." Rosa tersenyum, dibalik senyum itu, Rosa menyimpan banyak kekhawatiran dan ketakutan yang tak bisa ia sampaikan pada Ibunya.
Membayangkan dirinya harus pergi meninggalkan Nyonya Anne sendirian melewati hari tuanya tanpa ada yang menemani.
"Bicara apa kamu ini, Rosa! Kamu tidak akan pergi kemana pun, ingat itu baik-baik!"
Nyonya Anne mulai menangis. Memalingkan wajah ketika Rosa mengambil kedua tangannya untuk digenggam.
"Anggap saja hukuman itu untuk menebus kesalahanku pada Joanna. Aku malu dengan perbuatan burukku terhadap mereka di masalalu." Rosa ikut berkaca-kaca.
Suaranya mulai terdengar bergetar.
"Mama yakin, Joanna bukan wanita pendendam yang tega memisahkan kamu dari Mama, Ros. Joanna tidak mungkin sejahat itu."
"Memang! Kenapa kalian baru menyadarinya sekarang?"
Tiba-tiba Joanna datang bersama keluarganya.
Iya, kali ini Tuan Dery ikut bersama mereka.
Setelah perceraian itu, Tuan Dery memutuskan untuk menduda di hari tuanya. Melihat keluarga kecil Joanna yang tampak selalu bahagia bersama anak-anaknya dengan Jean, itu sudah lebih dari cukup.
Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Tuan Dery dan Nyonya Anne kembali bertatap muka lagi.
"Joanna? Sejak kapan kalian–"
"Sejak kamu bilang, ingin menebus kesalahanmu di masalalu. Benar 'kan, Papa?"
Joanna tersenyum kecil melihat tatapan Tuan Dery pada mantan Ibu Tirinya tersebut.
Ada kerinduan yang tersimpan pada sepasang mata Tuan Dery untuk Nyonya Anne, begitu juga sebaliknya.
"Aku tidak suka akhir menyedihkan jadi langsung saja ..."
Kini Jean memberikan sebuah kotak kecil berbahan bludru. Yang isinya sempat dibeli sebelum datang ke rumah Rosa.
"Joanna, maksudmu?"
"Kamu sudah janji menyetujui syarat itu bukan?"
Rosa mengangguk.
"Joanna ingin Tante Anne dan Papa Dery menikah lagi." kata Jean, memberikan kotak berisi sepasang cincin itu pada Ayah Mertuanya.
Sekedar informasi, Tuan David telah meninggal akibat kecelakaan tunggal yang dialaminya saat berada di Conneticut, sekitar tujuh tahun yang lalu.
Menurut penyelidikan, insiden tersebut murni karena kecelakaan tanpa adanya kesengajaan dari pihak lain.
Jean sempat terpukul mendengar kabar itu namun ia berusaha bangkit lagi dan selalu mendoakan mendiang Ayahnya agar tenang, bersama sang Ibu yang lebih dulu dipanggil oleh Tuhan di Surga sana.
__ADS_1
Kembali pada momen acara lamaran sederhana yang dilakukan di teras rumah Rosa.
"Der, maafkan aku ... Hks! A-aku, dulu, sudah jahat pada kalian."
Pelukan hangat Tuan Dery begitu ia rindukan.
Nyonya Anne menumpahkan seluruh perasaan yang ada di hatinya dan terus bergumam kata maaf berulang kali.
"Iya— Papa. Rosa juga minta maaf."
Panggilan itu agak canggung setelah sekian lama mereka berpisah dan kembali lagi menjadi keluarga bahagia yang sebenarnya.
"Berhenti meminta maaf. Sebelum kalian melakukan itu, Papa sudah memaafkan kesalahan kalian." ujar Tuan Dery yang masih memeluk calon Istrinya tersebut.
"Asal jangan diulangi lagi." sindir Joanna dengan nada bercanda.
"Akhirnya, kalian bisa kembali bersama. Aku senang melihatnya." Jean menimpali.
Rosa terdiam sejenak, menatap Jean dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dan Jean menyadari hal itu, menyikut lengan Istrinya.
"Ada apa, Rosa?" tanya Joanna.
Di tengah suasana haru itu, Rosa tersenyum kecil.
"Boleh aku memeluk Jean sebentar, Joanna?"
Joanna terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk, memberi lampu hijau pada Rosa yang kini memeluk tubuh Jean yang tampak mematung, antara terkejut dan menatap tak percaya pada Istrinya yang mengizinkan Jean dipeluk oleh wanita lain.
Terlebih wanita itu adalah mantan tunangan Jean.
Apa Joanna tidak cemburu?
"Mungkin kalian baru mendengar kabar lain tapi ..."
Brum! Brum!
Suara deru mesin mobil menghentikan ucapan Joanna.
"Sepertinya aku tidak berhak mengatakan ini. Sean! Kamu terlambat! Bulan ini gajimu dipotong 20%!" kata Joanna.
"Maaf, Bu. Tolong jangan dipotong, kasihani saya yang sedang butuh banyak biaya untuk persiapan." ucap Sean dengan raut memelas.
Mengundang tatapan penuh tanya oleh semua orang yang terkejut melihat kehadiran Sean di sini.
"Jo? Kamu bilang ini acara keluarga? Dan Sean, kenapa kamu di sini? Urusan kantor–"
"Sudah ada Dirla yang mengurus. Kamu lupa?" sahut Joanna.
"Bukan begitu, Sayang."
"Kenapa kamu hanya berdiri seperti patung? Cepat, Sean! Aku tidak punya banyak waktu. Jenan sudah menungguku di Bandara."
Mereka semakin terkejut saat tiba-tiba Sean berlutut di hadapan Rosa sembari mengeluarkan sebuah kotak kecil, yang bisa ditebak isinya itu apa.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!