
Setelah melalui perdebatan yang melelahkan, Jenanda mau menuruti ucapan sang Adik dan menjemput Zeze di Apartemen Rajendra.
"Aku tidak akan lama. Suster penjaga sudah kuminta standbye di luar. Kalau ada apa-apa, kamu hanya perlu tekan tombol emergency-nya, Ra."
Jenanda pergi dengan buru-buru karena takut mendengar protes keberatan dari mulut Sakura yang sudah terbuka untuk kembali bersuara.
...••••...
"Dimana Kakakmu, Zenda?"
"Mami perlu bicara dengan Jenanda sekarang, bukan denganmu." kata Joanna. Duduk menyilangkan sebelah kaki dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tatapannya penuh intimidasi, tidak seperti Jean yang cukup tenang memahami masalah yang menimpa keluarganya.
"Mi, maaf. Kak Je sedang menjemput Zeze di Apartemenku." ujar Rajendra.
Sebenarnya agak takut juga menghadapi Ibu Mertuanya yang terlihat menyeramkan saat marah.
"Bagus! Cepat hubungi mereka dan suruh datang ke rumah kalau masih mau kuanggap sebagai anak."
"Joanna!" bentak Jean.
Kali ini, Joanna sudah sangat keterlaluan menurut Jean. Hanya karena sebuah video viral itu, Joanna tidak perlu sampai mengatakan hal demikian, apalagi di depan Anak dan Menantunya.
"Tidak usah protes! Mereka sudah dewasa! Seharusnya bisa menjaga diri untuk tidak membuat masalah yang bisa membuat malu nama keluarga ..."
"Apalagi orang-orang itu mengenal Jenanda sebagai Seniman terbaik di Indonesia. Yang jarang melakukan skandal dengan siapa pun." kesal Joanna.
"Mami, Papi, cukup! Kalian tidak perlu bertengkar. Video itu sudah dihapus dan aku yakin, orang-orang akan melupakan berita murahan itu." kata Zenda, menenangkan Ibunya yang terlihat sangat marah sekali.
"Kamu juga sama saja, Zenda! Jangan kamu pikir, Mami tidak tahu soal berita yang dibuat oleh pihak kampusmu tentang pernikahan kalian!"
Joanna mendengus kesal. Merasakan kepalanya yang terasa pening sekali, "Ah! Aku benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa! Kalian berdua membuatku kecewa."
"Joanna, cukup! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu pada Zenda. Ada Rajendra di sini. Dia bisa tersinggung mendengar ucapanmu itu, Sayang."
"Papi, tidak apa-apa. Aku minta maaf. Itu juga salahku. Harusnya aku menjaga Zenda dengan baik ..."
Rajendra berlutut di bawah. Duduk di hadapan Jean dan Joanna sembari melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku minta maaf pada kalian. Aku salah! Aku juga baru tahu soal kampus yang menyebarkan berita tidak benar soal hubungan kami. Besok aku akan ke Kampus dan menyelesaikan sisanya, aku janji."
"Lagipula aku heran, kenapa pihak kampus tidak membuat berita yang bermutu soal pendidikan Mahasiswanya? Justru yang disebarkan malah skandal yang tidak terbukti kebenarannya. Apa mereka mau kutuntut atas kasus pencemaran nama baik Putriku? Ya Tuhan! Kepalaku sakit!"
"Sayang, sudahlah. Tidak perlu membesarkan masalah itu. Yang penting kita tunggu Jenan dan Zeze datang."
Joanna tak mengatakan apa-apa lagi. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan menunggu kedua bocah itu datang menemuinya serta mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya terjadi pada mereka tadi siang.
...••••...
Zeze terus menangis sepanjang perjalanan menuju rumah Jenanda.
Ia tidak mengerti hatinya begitu sakit melihat Jenanda yang justru mempedulikan wanita lain dibanding dirinya.
"Aku minta maaf, Ze. Tapi aku tidak bisa membatalkan kerjasamaku dengan Papanya Sakura."
__ADS_1
"Kak Je tidak percaya kalau Sakura mengatakan akan merebut Kakak dariku?"
"Bukan begitu, Sayang. Cinta dan pekerjaan itu dua hal yang berbeda ..."
"Aku tahu perasaanmu. Kamu takut aku jatuh cinta pada Sakura kan? Demi Tuhan! Aku bukan pria serendah itu, Zeze. Mudah berpaling ke wanita lain meskipun kami terlibat kerjasama."
"Kak, cinta datang karena suatu kebiasaan. Kalau Kak Je dan Sakura sering bertemu dengan alasan mengadakan pameran di Jepang, itu berarti Kak Je memberikan dia peluang untuk lebih dekat dan tidak mungkin Kak Je tidak punya perasaan apa-apa setelah itu."
Iya. Jenanda sudah menjelaskan semuanya secara rinci, tentang kerjasama dengan Mr. Akeno tanpa ada yang ditutupi lagi.
Jenanda dan Zeze juga sempat bertengkar lagi namun karena Jean sudah menghubungi terus dan menyuruh cepat pulang, maka pertengkaran mereka kembali dilanjutkan saat perjalanan menuju kediaman Jean.
"Tolong jangan katakan apapun! Biar aku saja yang menjelaskan semuanya ke mereka."
"Terserah."
Mereka memasuki gerbang setinggi empat meter dengan perasaan berdebar.
Sesuatu menegangkan sepertinya telah terjadi di dalam sana.
"Itu Kak Jenan, Pi."
Tunjuk Zenda pada Kakaknya dan Zeze yang baru saja memasuki ruang utama.
"Bisa kalian tinggalkan kami? Papi dan Mami perlu bicara dengan Kakakmu, Ze."
"Iya, Pi." sahut Rajendra cepat. Menarik lengan Istrinya agar memberikan waktu pada mereka untuk membahas urusan tadi.
"Kak Rajen, ish! Aku mau ikut ngomong juga, Kak."
Zenda mengangguk lemah, kemudian menurut saat Rajendra menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Dan menunggu ke empat orang itu selesai membicarakan masalah mereka.
...•••• ...
"Mami dimana, Pi?" tanya Jenanda.
Saat tidak melihat eksistensi Joanna bersama mereka.
"Ada di kamar."
"Mau temui Mami sekarang, Je? Atau–"
Cklek!
Pintu kamar itu terbuka. Menampilkan wajah marah Joanna yang siap mengeluarkan seluruh kekesalannya pada Jenanda dan Zeze.
"Tidak perlu! Lebih baik ceritakan semuanya sampai selesai! Mami pusing dengan masalah yang kalian buat hari ini."
Zeze ketakutan namun berusaha tetap tenang.
Pertama kalinya Zeze melihat Joanna semarah ini padanya dan Jenanda.
__ADS_1
"Ze, jelaskan! Kenapa kamu menyerang gadis di video itu? Kamu tahu 'kan? Siapa Jenanda dan keluarga kami?" tanya Joanna, dengan tatapan mengintimidasi.
Zeze hanya mengangguk, takut.
"Mami, ini salahku. Tolong marahi aku saja, jangan Zeze."
"Oh jelas! Mami juga akan memarahimu, Jenan. Tapi pertama-tama, Mami ingin mendengar penjelasan Zeze dulu."
"Tante, aku tidak mungkin melakukan itu tanpa sengaja. Gadis itu ... Hks! Dia bilang padaku akan merebut Kak Jenan apapun caranya, termasuk menggunakan cara kotor sekalipun, maaf."
Entah mengapa, melihat Zeze yang seperti ini, mengingatkan Joanna akan dirinya yang dulu.
Saat terlibat cinta segitiga dengan Rosa, Kakak Tirinya.
"Lalu?"
Joanna masih berusaha menjadi pendengar yang baik. Meskipun emosinya sempat meluap-luap namun melihat Zeze yang mulai terisak, hatinya tidak tega.
"Aku sudah katakan ... Supaya dia, hks!"
"Ssst! Tidak apa-apa. Jangan dipaksa bicara, Ze." Jenanda memeluk Zeze supaya wanita itu bisa tenang.
"Joanna, hentikan! Zeze belum siap bercerita pada kita. Jangan dipaksa!" Jean menengahi. Ia juga tidak tega melihat tangis gadis itu.
"Aku tidak memaksanya, Jean. Aku hanya meminta Zeze menjelaskan masalah yang sebenarnya. Itu saja."
"Tapi nada bicaramu seolah menekan Zeze, Sayang. Sabar, biarkan dia tenang dulu."
"Oke! Ze, Tante minta maaf. Jadi intinya kalian terlibat cinta segitiga, begitu?"
Jenanda dan Zeze mengangguk bersamaan.
Sudah kubilang, Jenanda tidak boleh bermain dengan dua hati. Itu rumit. batin Jean.
"Kamu tidak salah, Ze! Kamu berhak membela diri dengan mempertahankan Jenanda tetap di sisimu ..."
"Tapi caramu itu yang salah. Lain kali, kamu bisa ceritakan masalah ini ke Tante. Kami selalu welcome dengan pasangan anak kami jika mereka memang ada masalah yang perlu dibicarakan, Sayang."
Joanna yang tak tega melihat wajah Zeze sudah berlinangan airmata, berpindah posisi duduk di sebelah Zeze dan memeluknya erat.
"Maafkan, Tante. Maaf kalau ucapan Tante membuatmu takut dan sakit hati."
Zeze mendongak, membalas pelukan hangat Joanna yang begitu menenangkan dirinya.
"Aku yang minta maaf, Tante. Aku ... Hks! Sudah membuat malu keluarga Tante. Aku tidak apa-apa kalau Tante harus marah padaku."
"Tidak, Sayang. Penjelasanmu sudah cukup. Besok Tante akan bicara pada gadis Jepang itu."
"I-iya, Tante Joanna. Terimakasih."
"Sama-sama, Sayang. Sudah! Jangan menangis lagi."
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!