
Semenjak tadi Jean tidak berhenti menatap ke arah langit-langit kamar.
Berbaring di atas ranjang sembari mengayunkan jari telunjuknya ke udara, membuat pola random sementara tangan satu lagi dijadikan bantalan kepala.
Jangan lupa, alunan lagu dari Shane Filan - Beautiful In White, yang diputar dengan volume sedang sangat mendukung suasana hati Jean yang bercampur aduk. Antara sedih, kecewa dan merasa bersalah pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
I got so nervous I couldn't speak ..
Sudut matanya berusaha menahan airmata yang siap menetes dengan kelopak mata yang terpejam.
In that very moment ...
Dilema akan dua hal yang harus dipilih salah satu. Meskipun antara Tuan David dan Joanna bukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai opsi namun Jean tetap harus memilih diantara mereka yang sama-sama berperan penting dalam hidupnya.
I found the one and ...
Seumur hidup, Jean tidak pernah jatuh cinta. Hanya sekali ini, Jean benar-benar mencintai seorang wanita yaitu Joanna.
Begitu dalam setelah mendiang sang Ibu.
My life had found its missing piece ...
Namun karena kesalahan yang tidak sengaja mereka lakukan di masalalu hingga membuatnya harus dihadapkan pada dua pilihan yang sulit; cinta dan keluarga.
So as long as I live I love you ...
"Papa tidak tahu rasanya kehilangan seorang wanita yang kucintai untuk kedua kalinya." gumamnya lirih.
Membuat airmata yang mengendap di pelupuk mata perlahan mulai menetes.
Jika diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengulang masalalunya lagi maka Jean berharap bisa bertemu Joanna di tempat yang lebih baik.
Lama merenung sendirian, tiba-tiba Jean dikagetkan dengan bantingan pintu kamar yang lupa tidak dikunci.
SREK!
Gorden yang tertutup rapat itu dibuka kasar hingga kondisi kamar yang gelap kembali terang karena cahaya matahari menerobos melalui celah-celah kecil jendela kaca di kamar tersebut.
"ANJING! Seperti bocah SMP saja kamu! Ayo bangun!"
Jordan.
Berjalan santai menuju lemari pakaian lalu melempar jaket dan sepatu ke arah Jean yang masih nyaman dengan posisinya.
"Bajingan ini! Sopan sekali masuk kamar orang tanpa mengetuk pintu dulu!" sindir Jean.
Sebab me time-nya harus diganggu oleh kehadiran si kurang ajar Jordan.
Seperti saat ini!
Pria itu bahkan menyemprotkan banyak parfum mahal milik Jean yang ada di atas meja tanpa meminta izin dulu.
Membuat Jean mendelik horor pada Jordan yang hanya nyengir kuda.
"Jordan!"
"Apa? Bicara nanti saja ..."
Jordan melirik jam di tangannya.
"Ayo! Jangan lambat, Je! Kita harus pergi sekarang."
"Cerewet sekali! Kamu se— YAK! Jangan menarik tanganku, bodoh! Aku bisa jalan sendiri. Jordan!"
__ADS_1
...••••...
"OH MY! KALANDRA!"
Sebuah kejutan tak terduga dari Kalandra yang tiba-tiba datang ke Apartemen Joanna tanpa memberitahunya lebih dulu.
Sebenarnya Kalandra sudah memberi clue bahwa ia akan berkunjung ke Indonesia tapi untuk waktunya, Kalandra tidak menjelaskan secara detail.
Hingga Joanna yang begitu merindukan Sahabatnya, merasa senang dan menyambut kedatangan Kalandra dengan perasaan bahagia.
"Jahat! Kenapa tidak memberitahuku jika kamu datang hari ini, huh? Dasar nakal!"
Joanna merajuk seperti bocah lima tahun. Memukul gemas lengan Kalandra yang terkekeh geli melihat tingkah kekanakan Joanna.
Padahal Joanna sudah memiliki anak namun sifatnya tidak berubah. Tetap sama seperti dulu.
"Maaf, maaf. Aku sengaja memberimu kejutan ini ..."
Atensi Kalandra beralih pada si kecil Jenan yang digendong oleh Perawat Yo di belakang sana, "Hai, Baby Boy! Long time no cee!"
Kalandra dan Jenan beradu kepalan tangan. Mereka terlihat begitu akrab meski jarang bertemu.
Itu karena setiap akhir pekan Kalandra dan Jenan melakukan video call sekalian melaporkan perkembangan Jo's Bakery pada Joanna yang kini bisa membuka dua cabang baru di kota sebelah.
"Hai, Aunty Kala! Oleh-oleh buat Je tidak lupa 'kan?" tanya Jenan dengan suara khas anak-anak.
Kalandra terdiam. Mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
"Satu set alat lukis ya?"
Jenan mengangguk sambil tersenyum manis. Membuat ketiga orang dewasa di sana tidak tahan untuk tidak mencubit pipi gembilnya.
"Yahh! Sepertinya tertinggal di pesawat, Sayang! Sorry!" goda Kalandra.
"Dont cry, Baby. Aunty Kala hanya bercanda. Itu oleh-oleh untukmu."
Joanna menunjuk satu bag besar yang diletakkan di atas sofa.
Ada tiga. Masing-masing sudah ada namanya.
"Maaf, Jagoan! Aunty hanya bercanda!" cubitnya gemas ketika menatap mata Jenan kembali berbinar.
"Jo, kita harus pergi."
Kebetulan sekali.
Joanna berencana mengajak Jenan jalan-jalan ke Mall.
"Ikut denganku saja. Ayo!"
"Wait! Kemana? Aku dan Jenan–"
"Tsk! Tanya-tanyanya nanti saja, Joanna! Keburu telat."
Mereka harus mengejar waktu dan menghindari jalanan macet di jam pulang kerja.
Karena tempat tujuan mereka membutuhkan waktu sekitar dua jam dari Apartemen Joanna.
...••••...
PRANG!
PRANG!
__ADS_1
Kondisi kamar itu terlihat seperti kapal pecah dengan botol skincare serta barang-barang lain yang berserakan di atas lantai.
Genangan air serum serta face toner dan parfum berceceran hingga aroma wangi yang bercampur itu menyengat tajam.
"ROSA! HENTIKAN!"
BRAK!
Sebuah hairdryer dilempar ke arah Nyonya Anne yang berdiri di ambang pintu.
Untungnya lemparan benda itu meleset mengenai daun pintu hingga kepala Nyonya Anne tidak terluka.
PLAK!
Tak hanya sekali namun dua kali tamparan tidak cukup menyadarkan Rosa dari kegilaannya yang menghancurkan semua barang untuk melampiaskan emosi.
Semenjak Jean memutuskan pertunangan itu, Rosa berubah semakin gila.
"SETELAH TIDAK MEMBELAKU DI DEPAN JEAN DAN PAPANYA— SEKARANG MAMA MENAMPARKU? HAHA, GILA!"
"KALIAN BENAR-BENAR GILA DAN JAHAT! ARGH!"
PRANG!
Nyonya Anne mundur beberapa langkah ketika seorang pria berjas putih dibantu dua rekannya memegangi lengan Rosa.
"Lakukan sekarang!" perintah Nyonya Anne.
Dan langsung direspon anggukan kepala oleh pria itu.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU TIDUR LAGI! MAMA JAHAT! MAMA TIDAK SAYANG PADAKU LAGI— ahk!"
Kemudian perlahan kesadaran Rosa semakin menipis. Kelopak matanya mulai terpejam sempurna ketika obat yang disuntikkan telah bereaksi.
Mereka membaringkan tubuh Rosa seraya memasang borgol di pergelangan tangan kirinya supaya wanita itu tidak mengamuk lagi saat pengaruh obat penenangnya hilang.
"Maaf Nyonya, apa ini tidak keterlaluan?"
Dokter bername tag; William Grey itu terdiam saat mendapati Nyonya Anne menatap tajam ke arahnya.
"Kamu ini Dokter 'kan? Tanpa perlu kujelaskan lagi, kamu pasti mengerti kondisi mental Rosa setelah gagal menikah dengan Tunangannya."
Dokter Grey meminta maaf. Tidak bermaksud menyinggung Nyonya Anne dengan pertanyaan itu.
"Tolong jaga Rosa selama aku pergi. Pastikan dia tidak melakukan tindakan apapun yang bisa melukai dirinya sendiri!"
"Baik, Nyonya."
...••••...
Sementara di kamar lain.
Tuan Dery sudah bersiap-siap dengan setelan suit hitam serta rambut klimis model hair up yang memperlihatkan beberapa uban putih yang mulai bermunculan namun tidak mengurangi ketampanannya meski sudah berumur hampir setengah abad.
"PUAS KAMU, DER? PUAS MELIHAT ANAKMU MENJADI SETENGAH GILA SEPERTI ITU, HAH!"
Tuan Dery menghela napas jengah, "Hilangkan tabiatmu yang suka berteriak itu, Anne! Aku belum tuli dan sebaiknya, kamu segera bersiap-siap juga kalau mau ikut!"
Tanpa melanjutkan perdebatan itu, Tuan Dery berjalan keluar kamar dan memilih menunggu Istrinya di ruang utama sebab tidak ingin merusak suasana hatinya yang sedang bahagia hari ini.
"Kamu tidak adil pada Putri kita, Dery!"
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!