Our Baby!

Our Baby!
BERUBAH


__ADS_3

"Selamat datang di Indonesia, Mr. Akeno ..."


Jenanda memperkenalkan kedua orangtuanya dan Zeze pada Mr. Akeno, "Ini Papi dan Mami saya, serta ... Kekasih saya, Zeze Aruna, namanya."


"Halo, Mr. Akeno. Saya Arjean Soenser dan ini Istri saya, Joanna Soenser. Suatu kehormatan bagi kami bisa bertemu dengan anda secara langsung." Mereka saling menjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing.


"Fujitama Akeno, senang bertemu dengan kalian juga. Saya sudah mempelajari tentang keluarga Soenser dan bisnis perhotelan anda yang luar biasa itu."


Tatapan Mr. Akeno tidak lepas dari sosok Zeze yang juga balas menatapnya, sengit.


Tidak sopan, pikirnya.


"Papa." Sakura memeluk sang Ayah dengan erat. Mengutarakan perasaan rindunya sebab dua hari tidak bertemu.


Sakura jarang bepergian sendiri, apalagi sampai ke luar negeri. Biasanya Sakura akan ditemani oleh orang kepercayaan Ayahnya, ngomong-ngomong.


"Selama kamu di sini, tidak ada masalah yang terjadi 'kan, Sayang?" tanya Mr. Akeno, memperhatikan wajah Sakura yang terlihat agak pucat dari sebelumnya.


"Tentu saja tidak. Kak Jenan dan keluarganya menjagaku dengan baik. Aku betah berada di sini."


"Haha, anda tidak perlu khawatir. Kami sudah menganggap Sakura seperti Putri kami sendiri." Joanna mengikuti alur yang dibuat oleh gadis Jepang itu.


Terbesit rasa tidak suka namun Joanna harus memainkan perannya dengan baik agar insiden kemarin tidak sampai diketahui oleh Mr. Akeno.


Bisa gagal rencana kerjasama yang telah terjalin antara Jenanda dan Mr. Akeno.


"Saya senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, apa kita hanya akan berdiri di sini saja?" ujar Mr. Akeno seraya tersenyum kecil.


"Ya Tuhan, maafkan kami! Mari-mari, kita pergi ke Restauran Seafood yang terkenal di kota ini ..."


Jean dan Joanna sudah menyuruh anak buah mereka ikut untuk membantu membawakan barang-barang Mr. Akeno.


"Tolong bawa ke mobil. Hati-hati."


"Baik, Pak."


...••••...


Sakura memilih berada satu mobil dengan sang Ayah dan kedua orangtua Jenanda.


Hingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam hati Mr. Akeno tentang sosok gadis yang disebut Kekasih Jenanda tadi.


"Pa, aku betah di sini. Emm, sekalian liburan ya? Jangan terbur-bur pulang dulu. Aku masih ingin berkeliling kota Jakarta." kata Sakura.


Pemandangan di belakang sana tak lepas dari pantauan Jean dan Joanna yang hanya diam, sesekali melirik satu sama lain.


Entah apa yang sedang mereka pikirkan sekarang.


"Of course! Kamu bisa bebas berada di sini selama yang kamu mau, asal tidak merepotkan Pak Soenser dan keluarganya."


Jean tersenyum kecil, "Iya, Sakura. Kamu bisa tinggal di rumah Om dan Tante dulu. Tidak usah menginap di hotel. Rumah kami cukup luas untuk kamu tempati sementara waktu."


Menoleh ke arah Joanna yang tampak tak setuju dengan usulan Jean, "Iya 'kan, Sayang?" Jean berpura-pura meminta pendapat Joanna juga, meski Jean tahu Joanna pasti sangat keberatan dengan hal tersebut.


"Haha, iya, iya. Itu bisa diatur."

__ADS_1


Joanna terpaksa menyunggingkan senyum palsu saat menoleh ke kursi belakang pada si tamu kurang ajar Sakura.


Iya. Menurut Joanna, Sakura itu diam-diam menghanyutkan.


Sopan di luar tapi menusuk dari dalam.


Jika Sakura tidak punya tujuan lain, untuk apa dia harus berlama-lama ada di Indonesia?


...••••...


"Jadi apa?" tanya Zenda tak sabaran sebab Yolanda tidak bicara langsung pada intinya.


"Ekhem! Sedang membicarakan apa, hm?"


Rajendra kembali dengan membawakan dua piring berisi sandwich serta kentang goreng untuk Zenda dan Yolanda.


"Lagi membahas tugas, Kak! Setiap hari tugas yang diberikan semakin banyak, pusing." Yolanda mengalihkan topic pembicaraan dengan cepat.


"Iya. Aku jadi ingin cepat-cepat sidang skripsi, terus lulus, terus bisa buka usaha Cafe seperti Kak Rajen." Zenda menangkap kode yang diberikan Yolanda padanya.


Sebenarnya Yolanda mau bicara apa denganku?


Zenda juga sedang memikirkan masa depannya, menjadi seorang pebisnis muda dan memiliki banyak cabang Cafe yang akan dibangun di seluruh penjuru Indonesia.


Rasanya tidak sabar membangun usaha hasil dari jerih payahnya sendiri.


Jika Jenanda bisa sukses sebagai seorang Pelukis yang hebat dan berbakat maka Zenda juga ingin meraih kesuksesan melalui jalan lain.


Yaitu mengembangkan kemampuan berbisnisnya di bidang kuliner, sekaligus mengajak join Jo's Bakery yang hingga sekarang masih beroperasi.


Yolanda ikut terdiam ketika melihat reaksi Zenda yang tampak tak minat untuk mengelola perusahaan keluarganya tersebut.


"Papi tidak pernah memaksaku untuk menjadi seperti dirinya, Kak."


"Bukan tidak Sayangku, tapi belum."


"No! Aku serius! Papi dan Mami tidak pernah menuntutku seperti itu."


Selama ini kedua orangtua Zenda membebaskan anak-anak mereka untuk mengembangkan bakat dalam diri anaknya masing-masing.


Dan Zenda telah memutuskan, ia akan mencari jalan kesuksesan itu dengan membangun banyak Cafe sebagai tempat nongkrong anak muda yang kekinian.


"Enak sekali ya hidupmu, Ze! Punya orangtua yang kaya, tidak perlu susah memikirkan setelah lulus mau kerja apa! Aku jadi iri." ucap Yolanda, mengunyah stik kentang itu sambil berhalusinasi menjadi seorang Arzenda Soenser.


Pasti menyenangkan sekali, pikirnya.


"Disyukuri apapun yang kita punya, Yolanda. Tidak usah iri, karena bisa jadi penyakit hati." nasehat Rajendra ada benarnya.


Kedua gadis itu mengangguk setuju.


"Kalau kamu mau, aku bisa merekomendasikan kamu bergabung di DS Group setelah lulus, Yo."


"Benarkah? Gaji di Kantor Papamu pasti banyak sekali, Ze." mata Yolanda langsung berbinar, mendapat sebuah tawaran yang menggiurkan dari Putri pemilik perusahaan terkenal di kota itu.


"Hm, tenang saja! Papi pasti akan langsung merekrutmu tanpa seleksi."

__ADS_1


"Oke, oke! Mulai sekarang aku tidak perlu overthinking tentang masa depanku yang masih abu-abu ini, haha."


Ketiganya tertawa keras saat melihat ekspresi Yolanda yang sengaja dibuat semenyedihkan mungkin.


Melupakan sejenak sesuatu yang belum sempat Yolanda ceritakan pada Zenda tadi.


Yolanda hidup sebatang kara dan hanya tinggal di kosan kecil yang tak jauh dari Kampus.


Soal biaya, Yolanda mengandalkan tabungan yang tersisa dari asuransi kecelakaan kedua orangtuanya lima tahun yang lalu. Kadang juga, Zenda sengaja menyuruh Yolanda melakukan sesuatu dan memberinya imbalan lebih untuk membantu Sahabatnya menyambung hidup.


Keakraban mereka tidak lepas dari sorotan mata tajam lain yang duduk di dekat jendela yang menghadap ke arah jalanan dan menguping semua obrolan mereka, dengan pakaian serba tertutup.


Tidak ada yang menyadari eksistensi pengunjung misterius yang satu ini karena Cafe sedang ramai. Dan fokus para pegawai serta Rajendra tidak hanya pada satu orang saja.


...••••...


Setelah makan siang, mereka berbincang-bincang ringan sebelum pembahasan mereka berubah ke topic bisnis yang lebih serius.


"Oh benarkah? Jenanda dan Zeze akan menikah?" tanya Mr. Akeno, kembali dibuat terkejut oleh ucapan kedua orangtua Jenanda.


Seolah ingin mempertegas hubungan mereka yang sejak awal memang sudah sedekat itu.


"Doakan saja, Mr. Akeno. Semoga kami cepat bisa menggelar acara pernikahan setelah urusan Kak Jenan selesai."


Zeze yang semenjak tadi diam, akhirnya membuka suara. Berusaha memanasi hati Sakura yang terbakar kecemburuan sebab dirinya kalah telak dengan Zeze yang mendapat dukungan penuh dari kedua orangtua Jenanda.


"Ya, saya doakan. Emm, lebih baik kita membicarakan rencana pameran yang akan digelar di Jepang."


Mr. Akeno kurang nyaman dengan topic pernikahan itu. Bagaimana pun, dirinya tahu jika Sakura menyimpan perasaan untuk Jenanda.


"Ini yang saya tunggu. Apa anda membawa semua berkas itu? Mami saya ingin melihatnya juga." tanya Jenanda.


Menyadari tatapan bingung Mr. Akeno, Joanna pun menjelaskan jika dirinya akan terlibat dalam projek tersebut.


"Saya tidak keberatan. Anda bisa ikut bergabung bersama kami. Nanti saya buatkan dua salinan berkasnya supaya anda juga bisa mempelajari apa saja yang dibutuhkan selama pameran berlangsung, Bu Joanna."


"Oh terimakasih. Saya jadi lega mendengarnya." sahut Jean.


"Iya. Saya juga. Khawatir anda tidak nyaman." imbuh Joanna.


Mr. Akeno tersenyum kecil, "Kalian keluarga pebisnis, tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Pasti Bu Joanna sudah paham betul seluk-beluk dunia bisnis."


"Iya, sa–"


"Tante, kita jalan-jalan yuk? Aku mau keliling Mall di Jakarta. Ke Trans Studio sepertinya seru." ajak Sakura, menginterupsi percakapan para orangtua.


"Sakura, dimana sopan-santunmu? Papa sedang berbicara, tidak sopan menyela ucapan orangtua." tegur Mr. Akeno, terkejut melihat perubahan sikap Putrinya.


Padahal Sakura baru dua hari berada di sini namun kenapa banyak sekali gelagat aneh yang ditunjukkan.


Tidak seperti Sakura sebelumnya. Yang terkenal sopan dan menghormati orang yang lebih tua serta tidak suka menyela pembicaraan.


Sebab didikan Mr. Akeno tidak pernah mengajarkan Putrinya untuk bersikap demikian.


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2