
Joanna tidak akan menyalahkan Zenda atas apa yang telah terjadi pada gadis itu.
Justru Joanna menatap sendu pada sosok Putrinya yang terlelap dengan wajah terlihat pucat dan sesekali, Zenda mengerutkan dahinya.
Pertanda ia sedang mengalami mimpi buruk.
"Mami."
Perlahan, kelopak mata Zenda mulai terbuka.
Menatap sang Ibu dengan tatapan sendu. Merasa bersalah karena selama ini telah berbohong dan melanggar aturan yang diberikan kedua orangtuanya.
"Mi .."
"Tidak apa-apa. Kamu tidur lagi saja."
"Papi dan Kak Jenan dimana, Mi?"
Tangan Joanna terulur menyelipkan rambut Zenda ke belakang telinga. Mengusap-usap pipi Zenda dengan lembut.
"Ada di ruang tamu. Sedang mengobrol dengan seseorang."
Kedua alis Zenda menukik, mulai menatap cemas sebab tatapan Joanna tidak seperti biasanya.
Ada kekecewaan yang tidak Joanna ungkapkan.
Sebab Joanna pun dulunya pernah melakukan hal yang sama, mengecewakan Tuan Dery dengan kehamilannya kala itu.
Meski saat ini, Joanna tidak tahu apa Zenda sedang hamil atau tidak.
"Mau kemana? Kamu masih harus istirahat, Sayang."
Zenda menggeleng, "Aku mau turun. Mau ketemu Kak Jenan."
Perasaan Zenda menjadi tak karuan setelah ia mendengar samar-sama suara yang ia kenali.
"Sejak awal saya ingin Zenda jujur soal hubungan kami, Om."
"Tidak usah membela diri setelah apa yang kamu lakukan pada Zenda, brengsek!"
Jenanda belum bisa mengontrol emosinya mendengar ucapan Rajendra yang terlampau santai itu.
"Jenan, tahan emosimu. Papi tidak suka ya kamu bersikap seperti ini. Segala sesuatu bisa dibicarakan secara baik-baik tanpa harus saling melukai."
Jenanda tetap tidak terima, melihat wajah Rajendra tidak menunjukkan raut bersalah.
Meskipun hampir seluruh wajah tampan itu tertutupi oleh luka bekas pukulan kemarin, namun dari sorot matanya, sebenarnya Rajendra menyesal dengan perbuatan yang telah ia lakukakan pada Zenda, hanya saja Jenanda yang terlanjur marah tidak menyadari akan hal itu.
"Saya minta maaf tapi semua juga bukan sepenuhnya kesalahan saya, Om Jean." ujar Rajendra lagi.
Yang membuat kedua tangan Jenanda mengepal di atas paha.
"Enteng sekali Kakak mengatakan itu."
Zenda.
Berjalan menuju sofa, dibantu oleh sang Ibu yang memegangi kedua bahunya.
Tubuh Zenda masih lemas saat Zenda memaksa turun. Tadi jika Zenda tidak berpegangan pada pegangan besi tangga, mungkin tubuh Zenda bisa jatuh, berguling-guling dari atas.
"Kak Rajen memaksaku, Pi. Dia ... Dia melecehkanku, hks!"
Semua orang terdiam.
Mendengar isak tangis Zenda yang mulai terdengar hingga Joanna diminta menenangkan Zenda dan membawa gadis itu kembali ke kamarnya tapi Zenda menolak.
Beralasan ingin masalah ini cepat selesai.
"Aku sudah bilang ke Kakak, beri aku waktu untuk mengatakan soal hubungan kita ke Papi dan Mami ..."
__ADS_1
"Tapi justru Kak Rajen memaksaku melakukan itu dan Kakak juga mengancamku!"
Tatapan Joanna menajam setelah mendengar kata ancaman itu.
"Mengancam apa?"
Mengingatkan Joanna pada mantan kekasihnya dulu, Ethan. Yang entah bagaimana kabarnya sekarang.
"Zenda?"
"I-itu, Kak Rajen ... Dia akan memukulku kalau sampai aku menolak, Mi." lirihnya.
Kejadian kemarin membuat Zenda ketakutan apalagi saat melakukannya, Rajendra tidak mau repot-repot bersikap lembut dan menulikan kedua telinganya saat Zenda terus mengadu kesakitan padanya.
Padahal percintaan itu adalah yang pertama bagi Zenda.
"Bajingan!"
Jenanda bangkit dari duduknya lalu meraih kerah kemeja Rajendra yang hanya pasrah saat Jenanda akan memukulnya lagi.
Tapi Jean segera menengahi perkelahian itu. Menarik tubuh Jenanda agar menjauh.
"Papi bilang cukup, Jenanda! Kamu tidak lihat Rajendra sudah babak belur karena ulahmu kemarin?"
"Kenapa Papi membela dia terus? Papi tidak kasihan dengan Zenda, Pi?"
Joanna hanya terdiam dengan perasaan sesak di dada.
Antara kecewa dan sedih bercampur menjadi satu.
"Mami juga. Kenapa diam saja?" bentak Jenanda.
Mulai merasa kesal pada sikap kedua orangtuanya yang tidak bisa tegas atas tindakan asusila yang dilakukan oleh Rajendra pada Adiknya, bahkan ada ancaman secara verbal yang dilakukan oleh lelaki itu.
"Kakak tidak usah bentak-bentak Mami!" sahut Zenda.
Sejujurnya ia juga tidak tahan dengan situasi tersebut.
"Kamu juga salah, Ze! Kami banyak melarangmu ini dan itu di luar sana demi kebaikanmu juga!"
"Ya sudah! Kakak bilang saja, apa yang harus aku lakukan supaya Kakak berhenti menyalahkanku seperti ini?"
Nada suara Zenda bergetar.
Memalingkan wajah ketika tak sengaja bersitatap dengan Rajendra.
"Menikah ... Kamu dan Rajendra harus menikah."
Rajendra mengangguk setuju dengan keputusan itu.
Sejak awal, memang itu menjadi tujuan utama Rajendra namun Zenda selalu menolak dengan banyak alasan, salah satunya takut tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya.
Soal Zeze?
Rajendra memang menyukai wanita itu sebelum Rajendra mengenal Zenda tapi sejak kemarin, Rajendra tidak berhenti memikirkan kondisi Kekasihnya.
Ia menyesal tapi sekaligus lega karena akhirnya keluarga Zenda mengetahui hubungan mereka.
Nafsu sesaat membuat Rajendra kehilangan akal sehatnya hingga yang tersisa hanya bayangan wajah kesakitan Zenda saat Rajendra memaksanya untuk bercinta.
Itu mengganggu pikiran Rajendra semalaman.
Jean dan Joanna saling menatap.
"Kami juga setuju. Setidaknya jika Zenda sampai hamil, status hubungan kalian sudah resmi."
"Aku tidak mau."
Jawaban Zenda mengejutkan semua orang. Apalagi Jenanda yang berusaha mengontrol dirinya agar tidak kembali tersulut emosi.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Ze?"
"Kak Rajen lupa? Soal ucapan Kakak yang ingin melamar Kak Zeze?"
"Maaf, tapi aku sempat membaca pesan yang Kak Rajen kirim ke Kak Zeze tempo hari."
Tubuh Rajendra menegang saat ia mendengar bahwa Zenda diam-diam memeriksa ponselnya.
"Tidak usah terkejut. Aku juga tahu kalau kemarin kalian bertemu di Cafe."
"Ze, aku bisa jelaskan soal itu."
Zenda tersenyum miris, menyadari jika Kekasihnya mulai bermain api di belakangnya, "Tapi bodohnya lagi, aku masih memohon ke Kakak supaya Kak Rajen tidak meninggalkan aku."
"Yang penting Rajendra mau bertanggung jawab padamu, Zenda. Soal Zeze, biar Kakak yang mengurus." sela Jenanda, karena inti permasalahan itu terletak pada si bungsu yang kini meninggalkan ruang tamu dengan perasaan berkecamuk.
"Biar Mami yang membujuknya. Kalian lanjutkan saja obrolan ini ..."
Joanna menatap dalam pada Suaminya, "Tidak ada kekerasan, ingat?"
"Iya, Sayang. Temani Zenda sampai dia merasa tenang."
Joanna mengangguk.
"Saya harap kamu tidak ingkar janji, Rajendra. Karena pria sejati yang dipegang adalah janji dan bukti ... Jangan buat saya berubah pikiran dan mengambil tindakan jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini." ancam Joanna, sebelum menyusul Zenda ke kamar.
Jenanda mengerutkan keningnya saat Celia menelepon.
"Ya, Cel?"
Memutuskan menerima panggilan itu tanpa beranjak dari sofa.
"Kamu dimana? Ada sedikit masalah dengan pembeli lukisan realisme Elliptical Art dari Jepang, Bos."
"Aku masih ada urusan. Bisa kamu tangani itu dulu?"
"Tsk! Kalau bisa kutangani sendiri, aku tidak mungkin meneleponmu, Jenan."
Jenanda mengangguk, seolah Celia melihat itu.
"Lima belas menit lagi aku sampai di kantor."
"Oke, oke! Tolong bawakan pizza sekalian. Aku lapar, hehehe."
"Ya sudah. Kututup."
Selesai dengan panggilan itu, Jenanda tidak lekas beranjak dari duduknya.
Ia justru menyesap kopi di atas meja yang hampir dingin.
Urusan kantor memang cukup krusial jika tidak ditangani dengan cepat karena akan berdampak juga pada popularitas karya Jenanda di negara Sakura itu.
Mengingat calon pembeli yang dimaksud oleh Celia merupakan salah satu anggota Kekaisaran yang begitu menyukai karya Jenanda sejak tiga tahun terakhir.
"Kamu bisa pergi jika ada urusan yang harus diselesaikan."
"Tidak, Pi. Sebelum dia berhasil membujuk Zenda untuk setuju menikah secepatnya, aku tidak akan pergi."
Rajendra mengagumi perhatian besar Jenanda pada Zenda.
Pantas saja jika nama Jenanda sering dielu-elukan oleh semua orang, selain berbakat, Jenanda juga memiliki kepribadian yang hangat. Sisi lain yang tidak ditunjukkan pada semua orang kecuali pada keluarganya.
"Kak Jenan tidak usah khawatir. Aku pastikan Zenda akan setuju dengan rencana pernikahan ini, aku janji."
"Itu harus! Sebelum aku menyeretmu ke kantor polisi."
"Iya, Kak."
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!