Our Baby!

Our Baby!
JET LAG!


__ADS_3

Huek, huek, huek!


Entah sudah berapa kali Joanna memuntahkan seluruh isi perutnya setelah mereka tiba di Bali.


Bahkan ketika menuruni pesawat, Joanna tergesa mencari tempat sepi lalu berjongkok untuk mengeluarkan apapun yang membuat perutnya terasa mual, tidak nyaman.


"Sayang, kita mampir ke Rumah Sakit terdekat ya?"


Jean tampak khawatir melihat wajah pucat Joanna yang dipenuhi dengan buliran keringat sebesar biji jagung.


Kepalanya bersandar di bahu Jean yang sigap merengkuh tubuhnya.


"Aku butuh air gula hangat, Je." lirihnya sembari memegangi perut dan kepalanya yang terasa pusing.


Jean tak mengatakan apapun.


Menggendong Joanna ala bridal menuju Cafetaria. Mengabaikan protes Joanna dan tatapan bingung orang-orang di sekitar mereka.


"Jean, malu. Mereka melihat kita."


"Aku hanya menggendongmu, bukan telanjang di tempat umum. Kenapa harus malu, hm?"


Percuma mendebat Jean. Itu tidak akan mempan apalagi Joanna juga tidak memiliki cukup tenaga untuk beradu mulut sekarang.


Tubuhnya benar-benar terasa lemas.


Joanna butuh segelas air hangat dan berbaring di kasur.


"Maaf, Istriku tidak suka teh. Cukup air gula hangat saja. Terimakasih."


Setelah membayar roti dan minuman hangat itu, Jean menghampiri Joanna yang terduduk lemas di salah satu kursi.


"Terimakasih, Darling." ucap Joanna yang langsung menggenggam gelas berisi air hangat itu menggunakan kedua tangannya.


Rasa mual kembali datang.


Joanna benar-benar tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.


"Pelan-pelan, Sayang. Nanti kamu tersedak."


Beberapa orang yang melihat mereka, merasa iri sekaligus terbawa suasana. Jean begitu sigap membantu Joanna dalam segala hal.


Bahkan membuka bungkus rotinya lalu menyuapkan sedikit demi sedikit roti itu ke mulut Istrinya.


"Enek. Aku tidak suka."


Jean menggeleng, "Kamu baru saja muntah-muntah. Perutmu harus diisi lagi, Sayang. Aaa ... buka mulutmu, ayo!"


Terpaksa.


Joanna membuka sedikit bibirnya.


Satu kali gigit, roti itu langsung didorong dengan beberapa teguk air hangat supaya tidak terasa mual saat menelannya.


"Sudah. Aku tidak mau, Jean."


Melihat wajah Joanna yang semakin pucat, Jean memutuskan mengajak si wanita pergi ke Rumah Sakit.


"Tidak ada penolakan. Nurut ya apa kata Suami."


Seperti ucapan Jean barusan.


Joanna menggangguk lemah.


Rengkuhan tangan Jean di masing-masing bahunya menguatkan tubuh Joanna yang terasa lemas.


Tak ada pembicaraan apapun selama perjalanan


Joanna memejamkan mata seraya menyandarkan kepala di dada bidang Suaminya.


Seolah takut jika ia membuka mata, maka rasa mual itu kembali datang.


"Sudah sampai, Pak."


"Ah, iya. Ambil saja kembaliannya."


"Terimakasih, orang baik."


Jean hanya merespon ucapan sopir taksi itu dengan senyum ramah.


Menuntun Joanna memasuki ruang pemeriksaan karena kebetulan, Dokter yang di sana sudah standby. Tidak ada visit ke pasien lain.

__ADS_1


"Silahkan berbaring dulu, Bu."


Lagi.


Joanna dan mulut cerewetnya menghilang bak ditelan bumi.


Yang ada hanya wajah cantik itu terlihat pucat.


Beberapa menit menunggu, Dokter kembali ke meja kerja.


Mencoret bagian kertas hasil pemeriksaan Joanna.


"Jadi Istri saya sakit apa, Dokter? Tidak biasanya dia mengalami jet lag atau semacamnya. Dia sudah sering naik pesawat kok."


Dokter itu tersenyum tipis mendengar nada khawatir pria tampan yang ada di hadapannya.


Sesekali Jean menatap Joanna yang tertidur di brankar.


Ya Tuhan. Aku tidak tega melihat Joanna kesakitan.


"Anda tidak perlu khawatir, Pak Soenser ..."


Dokter bername tag; Sofiana itu menuliskan sebuah resep untuk ditebus Jean.


"Dokter?"


Jean jadi tidak sabaran melihat Dokter Sofia tak kunjung bicara lagi.


"Selamat ya, Pak. Istri anda sedang hamil."


Ucapan Dokter Sofia didengar oleh Joanna juga, ia menoleh ke arah mereka.


"H-hamil?"


Dokter Sofia kembali tersenyum, "Ya. Usia kandungannya baru tiga minggu, sekali lagi selamat, Pak Soenser."


"Haha, Dokter jangan bercanda."


"Menurut hasil pemeriksaan yang saya lakukan barusan menyatakan bahwa Bu Joanna memang sedang hamil ..."


Kemudian menunjukkan beberapa tulisan dengan istilah kedokteran yang tidak Jean mengerti, "Pasti anda dan Istri belum menyadarinya. Itu hal wajar. Banyak pasangan muda seperti kalian yang terlambat menyadari kehamilan pasangannya."


Jean menatap ke arah Joanna yang sedang menatapnya juga.


"Sayang, kamu hamil."


Senyum keduanya mengembang seiring kaki Jean melangkah menghampiri Joanna yang terbaring di brankar.


"Tapi saya sarankan agar Bu Joanna tetap di sini sampai air infusnya habis karena sepertinya Bu Joanna banyak kehilangan cairan ..."


Dokter Sofia memberikan lembaran kertas berisi resep yang harus ditebus, "Kurang lebih tunggu sampai tiga jam lagi ya, Pak! Selagi menunggu, anda bisa menyelesaikan adiministrasi dan menebus obat dulu di Apotek."


"Iya, Dokter. Terimakasih atas penjelasannya."


"Baik. Kalau ada apa-apa silahkan panggil Suster penjaga. Saya ada visit ke ruangan pasien lain, permisi."


Mereka larut dalam kebahagiaan itu. Hingga melupakan sejenak tujuan awal mereka datang ke Bali bukan sekedar berlibur.


Haha, poor Bapak Jean tidak jadi honeymoon.


...••••...


"Aunty, kapan Mami dan Papi pulang?"


"Aunty, kenapa mereka belum menelepon Je?"


"Aunty Kala, Je rindu Papi dan Mami."


"Aunty ..."


"Aunty, aku ingin–"


Cklek!


Pintu rumah itu terbuka.


Sosok jangkung yang tersenyum lebar disambut hangat oleh suara teriakan Jenan.


"UNCLE JORDAN!"


Jenan berlari menabrakkan diri ke dalam pelukan Jordan.

__ADS_1


"Hey, Baby Boy! Maaf, Uncle hanya bisa datang saat malam."


"Tidak apa-apa. Je tetap senang Uncle di sini, ayo masuk! Aunty Kala masak spageti, hihi."


"Masak?"


"Ya! Kenapa memang?" sahut Kalandra tiba-tiba.


Aroma spageti yang baru matang begitu menggugah selera hingga Jordan menahan salivanya dan membuat jakun yang menonjol di lehernya naik turun.


"Kebetulan aku juga belum makan malam." ucapnya sambil nyengir kuda.


"Lalu?"


"Tsk! Dasar wanita tidak peka!"


"Mau?"


Jordan menggangguk semangat ketika Kalandra sengaja menyodorkan piring itu di depan wajahnya.


Tatapan lapar Jordan membuat wanita itu merasa kasihan.


"Kali ini aku sedang berbaik hati. Makanlah!"


Ia mengambil piring lain setelah memastikan si kecil Jenan mendapat bagian pertama.


"Tapi ini tidak gratis." Kalandra menyeringai.


Sudah Jordan duga.


Ada udang dibalik bakwan— eh, batu maksudnya!


"Ya, ya, terserah! Sebutkan syaratnya setelah aku selesai makan saja, okay?" Tangan besar Jordan yang sedang memegang sendok pun langsung dipukul oleh Kalandra.


Plak!


"Ahk! Apa, Kal? Katanya sedang baik hati? Aku lapar dan malas berdebat denganmu."


"Bilang dulu ... Iya apa syaratnya Kalandra yang cantik, baru setelah itu kamu boleh makan." ujar Kalandra yang mengambil alih piring Jordan lagi.


Merepotkan.


"Hm, apa syaratnya?"


"Bilang dulu, ish!"


"Iya Kalandra yang cantik, apa syaratnya? Puas?!"


Kalandra menjawil bahu Jenan yang tampak asyik menikmati spageti buatannya.


"Jenan sayang, ayo dengarkan dulu ucapan Uncle Jordan, karena tanpa saksi, takutnya ada yang ingkar janji." sindirnya dengan nada yang terdengar begitu menyebalkan ditelinga Jordan.


"Saksi apa, Aunty?"


"Sst. Je cukup diam dan mendengarnya saja."


Jenan yang tak mengerti hanya mengangguk patuh karena mulutnya sudah penuh terisi makanan.


"Mau makan saja repot! Aku juga bisa delivery order kalau tahu begini."


"Eits! Mau protes?"


"Tidak! Cepat katakan, Kalandra! Aku benar-benar sudah lapar!"


Kalandra tertawa kecil namun sedetik kemudian sudut bibirnya berubah membentuk sebuah seringaian.


"Cuci semua piring dan gelas bekas makan malam kita dan ..."


Mulut Jordan ternganga mendengar syarat konyol yang diajukan wanita itu.


"Dan aku belum sempat mencuci peralatan masak yang kupakai tadi, haha. Tolong sekalian ya, Kakak Jordan! Biar westafelnya tidak penuh." lanjutnya, tanpa dosa.


Terakhir, Kalandra memberikan satu kedipan mata hingga rasanya Jordan ingin sekali membanting tubuh wanita itu di atas ranjang.


Ingat! Di atas ranjang, catat.


Kenapa wanita selalu merepotkan!


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2