Our Baby!

Our Baby!
BURONAN!


__ADS_3

Setelah ketahuan oleh Lian sedang lovey dovey, Joanna mengabaikan Jean yang merajuk padanya karena tidak jadi melakukan itu.


Oh ya!


Ngomong-ngomong soal tadi pagi, saat Jean tidak sengaja membentak Jenan, bocah itu agak mendiami Jean sekarang.


"Aaa, buka mulutnya, Baby."


Jenan menurut.


Kata Dokter kalau ingin cepat sembuh maka Jenan harus banyak makan supaya tenaganya segera pulih dan bisa bermain lagi.


"Je disuapi Papi dulu ya? Mami mau ke toilet sebentar."


Jenan menggeleng pelan.


Joanna merasa ada yang aneh dari sikap Anaknya. Tidak biasanya Jenan menolak berdekatan dengan Ayahnya.


"Kenapa, Sayang?"


"Je mau tunggu, Mami." lirihnya sembari memainkan kedua jari telunjuknya.


"Ya sudah. Mami hanya sebentar, okay?"


Saat ini, Jean sibuk membicarakan kasus penculikan itu bersama detektif yang disewa.


Sebab Jean ingin melakukan yang terbaik. Biar urusan dipersidangan nanti pengacara keluarganya yang mengurus.


"Semua bukti telah dikumpulkan. Berkas perkara sudah dalam proses. Anda tidak perlu khawatir, Pak. Saya bisa jamin kita akan menang di persidangan nanti."


"Ya. Aku harap Ethan dihukum sesuai dengan perbuatannya."


Karena Joanna sudah menceritakan pelaku utama dibalik kasus itu adalah Ethan serta menunjukkan pesan singkat berisi ancaman yang berhasil dicapture oleh Joanna sebelum Ethan menarik pesan itu lagi untuk menghilangkan barang bukti.


Dasar licik!


Dan satu lagi bukti yang bisa memberatkan Ethan di persidangan adalah rekaman yang memperlihatkan Ethan sedang melakukan pelecehan pada Joanna.


Namun ada satu bagian yang dipotong dalam video itu ketika Rosa dan Ibunya dengan sengaja mendorong Joanna sampai terjatuh dan nyaris tertimpa guci besar.


Biar itu menjadi urusan Tuan Dery.


"Kalau begitu, tunggu kabar dari kami, Pak. Anda terima beres saja."


Mereka melakukan meeting secara virtual karena Jean tidak ingin meninggalkan Joanna dan Anaknya hanya bertiga saja dengan Lian.


Ya meskipun Lian bisa menjaga sikap dan mengerti batasan, namun Jean tidak bisa melihat Istrinya terlalu dekat dengan pria itu.


Selesai melakukan virtual meeting, Jean menutup kembali laptopnya lalu berjalan menghampiri Joanna dan Jenan yang asyik menggambar.


Iya. Jenan mengeluh bosan meski baru satu hari di rawat.


Karena tidak tega, Joanna meminta Lian untuk membawakan peralatan menggambar milik Jenan namun cat lukis harus diganti dengan crayon supaya tidak mengotori brankar.


"Wah! Sepertinya seru sekali kesayangan Papi ini!"


Raut wajah yang terlihat senang kini berubah masam ketika Jean duduk di samping Joanna.


"Besok kalau Je sudah sekolah, Papi mau mendaftarkan Je ke Sekolah Seni, bagaimana?" tanya Jean.


Belum menyadari perubahan wajah si kecil yang tampak lusuh. Seolah tidak minat dengan penawaran yang diberikan Ayahnya.


"Kenapa, Sayang?"

__ADS_1


Giliran Joanna yang bertanya.


"Je ngantuk! Mau bobo', Mi!"


Jenan menyingkirkan peralatan menggambarnya lalu menyibak selimut itu hingga beberapa crayon yang belum sempat Joanna masukkan ke dalam tempatnya, jatuh berantakan.


Membuat Jean hanya bisa mendesah pelan.


Memunguti crayon dan buku gambar yang jatuh.


"Ya sudah. Mami dan Papi ke sana dulu. Selamat tidur, Sayangku." ucap Joanna seraya mengusap rambut Jenan yang kini sudah memejamkan mata.


Melalui gestur tatapan itu, Joanna menyuruh Jean duduk di sofa, menunggunya di sana.


Sementara Joanna membenarkan letak selimut Anaknya yang menutupi selang infus.


"Aku tidak suka kebohongan sekecil apapun. Jadi kenapa?"


Jean tahu arah pembicaraan Istrinya itu.


Pasti soal sikap Jenan barusan.


"Maaf."


Joanna menoleh sebentar.


"Tadi pagi aku tidak sengaja membentak Jenan karena dia terus memanggil namamu."


Pandangan Jean melirik ke arah Jenan yang tampak terlelap padahal bocah itu baru saja bangun tidur.


Entah memang sungguhan mengantuk atau Jenan berusaha menghindarinya.


"Itu tidak sengaja, Sayang. Aku sudah mengatakan padanya kalau kamu pasti akan datang tapi Jenan terus memaksa jadi ya begitulah."


"Iya, maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.


Keduanya terdiam sejenak.


Meredam amarah supaya masalah seperti ini tidak membuat mereka kembali berselisih paham.


"Ya sudah."


Jean menatap lekat ke arah Joanna yang selalu tampak cantik dilihat dari sudut manapun.


Ia beruntung bisa memiliki seorang Istri yang sempurna seperti Joanna.


Tegas, kuat dan mandiri.


Tidak banyak menuntut apapun karena menurut Joanna, selama bisa dilakukan sendiri maka Joanna tidak akan mempersulit orang lain dengan keluhannya.


Kecuali dalam hal tertentu.


Jean tersenyum manis sampai amarah Joanna menguap begitu saja.


Digantikan segaris tipis di bibirnya terbentuk; Joanna tersenyum.


"Maafkan aku. Mulai sekarang beritahu aku semua hal tentang kalian. Apa saja! Aku ingin tahu semuanya."


"Hm, aku juga meminta maaf karena sering memarahimu."


Mereka berpelukan tanpa menyadari jika Jenan tersenyum di sela tidurnya.


Sebab bocah itu tidak sungguhan merajuk pada Jean meski tadi agak kesal, namun Ibunya selalu bilang agar kita tidak boleh menjadi manusia pendendam dan selalu memaafkan kesalahan sesama.

__ADS_1


"Je sayang Papi dan Mami."


...••••...


Pukul delapan malam.


Sebuah private room telah dipesan untuk tiga orang.


Mereka tidak sedang makan malam bersama untuk merayakan sesuatu yang menyenangkan.


Justru sebaliknya.


"Enak sekali kalian! Setelah aku menjadi buronan polisi, kalian tidak mau membantu!"


Gebrakan di meja makan itu terjadi kedua kalinya.


Ethan, Rosa dan Nyonya Anne.


Diam-diam melakukan pertemuan ini tanpa ada satu orang pun yang menyadari jika salah satu dari mereka sudah masuk DPO.


"Tutup mulutmu, Ethan! Jangan bawa-bawa nama kami!" bentak Nyonya Anne, tak terima jika pria itu sampai menyeret namanya juga.


"Lagipula siapa yang menyuruhmu menculik bocah itu? Tidak ada!" sahut Rosa.


Berusaha membela diri karena tidak terbesit dalam pikirannya untuk menculik Jenan.


Rosa akui!


Ia berencana membalas dendam pada Jean dan Joanna tapi dengan caranya sendiri tanpa melibatkan orang lain bahkan sampai bertindak kriminal dengan menculik Jenan.


Itu terlalu gila!


"Bukannya Tante menyuruhku untuk membalaskan sakit hati Rosa? Lalu kenapa baru sekarang Tante protes? Dasar plin-plan!"


"Saya memang suruh kamu balas dendam ke Joanna tapi bukan untuk menculik Anaknya, Ethan!"


Nyonya Anne mulai jengkel akhirnya memutuskan pergi. Disusul Rosa di belakang sana.


Mengabaikan panggilan Ethan yang tidak mungkin bisa keluar tanpa menggunakan masker dan topi untuk mengelabuhi para polisi yang mengejarnya.


Merepotkan!


Sekarang Ethan baru sadar jika selama ini dirinya hanya dijadikan alat oleh kedua wanita jahat itu.


Dengan ancaman masalalu beserta bukti yang masih mereka simpan dengan baik sampai sekarang.


...••••...


Setelah menjadi buronan selama berminggu-minggu, polisi berhasil menemukan Ethan di sebuah gudang tua yang jauh dari pemukiman.


Mansion yang dulu pernah ditinggali, kini disita oleh Bank untuk menutupi hutang Ethan yang menumpuk beserta bunganya.


Serta satu-satunya usaha cafe milik Ethan pun terpaksa dipindah tangan kepemilikannya.


Sebab selain suka bermain wanita, Ethan juga suka berjudi.


Hingga warisan yang ditinggali oleh mendiang orangtua habis tak bersisa hanya untuk hidup berfoya-foya.


"Nikmati masa tuamu yang menyedihkan itu di dalam penjara— Ethana Alexander."


...••••...


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2