Our Baby!

Our Baby!
HADIAH


__ADS_3

Sesuai janjinya kemarin, Jean ikut menemani Anak dan Istrinya pergi ke Bogor.


Berkumpul di Lapangan untuk menghadiri perlombaan siswa sekolah dasar tingkat kota.


Kurang lebih, ada sekitar tiga puluh peserta yang mewakili sekolah masing-masing dan salah satunya Jenan.


Bocah itu begitu antusias memeriksa peralatan melukisnya. Takut ada yang kurang.


"Jenan, gantengnya Mami! Semangat ya! Kamu pasti bisa membuat lukisan yang bagus, semangat!"


Joanna berteriak meramaikan suasana di sana. Sementara Jean mencari tempat yang lebih teduh supaya wanita hamil itu tidak kepanasan.


Meski matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan, tapi Joanna kadang mengeluh pusing jika terlalu panas.


"Minum dulu."


"Terimakasih, Darling."


Dua hari ini, sikap Joanna biasa saja. Tidak ada keluhan yang terdengar. Jean agak lega melihat Istrinya bisa kembali seperti dulu.


"Telepon dari Sean. Aku angkat dulu ya?"


Setelah mendapat persetujuan dari Joanna, pria itu sedikit menjauh karena suasana di sana sangat berisik hingga suara Sean tidak terdengar.


"Bapak yakin tidak menyusul ke Malang? Saya takut bahan yang rencananya akan dikirim hari ini tidak sesuai dan–"


"Sejak kapan kamu jadi bodoh, Sean?"


"Maaf, Pak?"


"Lakukan sesuai perintah saya tempo lalu! Kalau material yang dikirim tidak cocok, kembalikan saja! Ajukan retur."


"Ah, m-maaf Pak. Saya benar-benar minta maaf, Pak Jean."


"Tolong mengerti situasi saya. Joanna sedang hamil, tidak bisa ditinggal sendirian dan Jenan ada lomba di Bogor, jadi urus dulu soal proyek itu, mengerti?"


Tanpa Jean melihat, Sean mengangguk di seberang sana.


"Baik, saya mengerti, Pak. Kalau begitu saya tutup teleponnya. Sekali, saya minta maaf."


"Hm, lakukan apapun yang menurutmu benar."


...••••...


Dari tiga puluh peserta, hanya akan dipilih tiga karya lukis dengan tema terbaik.


Jenan berharap cemas ketika para Juri menilai hasil lukisannya.


"Bagus. Menonjolkan nuansa monokrom hitam, putih dan sedikit sentuhan warna abu-abu."


"Anda benar! Kebanyakan peserta lain tidak memikirkan ide seperti ini."


"Haha, maklum! Namanya juga masih anak-anak. Lanjut ke karya berikutnya."


Mata Jenan bergulir, mencari keberadaan orangtuanya yang bergabung dengan orangtua peserta lain.


Sekedar informasi, acara itu digelar secara outdoor, tidak ada kursi untuk orangtua yang mendampingi.


Mereka langsung duduk di tanah lapang yang berumput dan sudah dibersihkan. Jadi tidak akan merasa kotor apalagi gatal-gatal.


"Semangat!"


Joanna membentuk gestur kepalan tangan dan tersenyum lebar ketika bertemu tatap dengan Jenan di sana.


"You're the best, fighting Jenanda!"


Tak ingin kalah, Jean pun ikut memberi semangat Anaknya yang membalas dukungan mereka dengan acungan duajempol.


Hampir dua jam menunggu, pembawa acara lomba memberi waktu istirahat bagi para peserta selagi Juri sedang berdiskusi untuk menentukan siapa yang lolos masuk tiga besar menuju final.

__ADS_1


"Papi, Mami! Je lapar." keluhnya.


Joanna menyodorkan bekal sandwich dan salad yang sudah dipersiapkan dari rumah.


Sebotol air mineral tidak pernah lupa.


"Papi juga mau, Mi!" ucap Jean menirukan suara Anaknya, manja.


Joanna menyuapkan potongan kecil sandwich itu ke dalam mulut Suaminya.


"Je juga mau dong Mi disuapin seperti Papi." protes Jenan kala sang Ibu hanya fokus pada Ayahnya.


"Aaaa, open your mouth."


Mereka menikmati makan siang bersama dan sesekali bertukar senyum dengan orangtua peserta lain.


"Untuk para peserta diminta kembali berkumpul karena babak kedua akan segera dimulai."


Mendengar informasi itu, Joanna segera menyuruh Jenan kembali ke tempat semula.


"Jagoan Papi, semangat ya! Kamu pasti menang!"


"Mami doakan yang terbaik!"


"Terimakasih ya, Pi, Mi."


Nama peserta pertama sudah disebut.


"Baik, untuk peserta kedua ... Bintang Aksara, silahkan maju! Lukisan yang indah, selamat!"


Dan nama peserta terakhir, menjadi hal yang paling ditunggu.


Dalam hati, Jenan terus merapalkan doa sembari menyatukan kedua tangan di depan dada. Memohon agar Tuhan membantunya menjadi salah satu pemenang dalam lomba kali ini.


"Tuhan, biarkan Je menjadi nama terakhir ya disebut! Je ingin memberikan piala lomba ini untuk adik bayi dan membuat Papi sama Mami bangga, aamiin!"


Tak lupa, sesekali mata Jenan menatap penuh harap pada kedua orangtuanya yang tidak berhenti menyemangatinya melalui gestur bibir mereka.


"Ya Tuhan! Tolong, Je mohon!"


"Dia adalah ... Jenanda Soenser! Dengan karya lukisan galaksi Andromeda yang begitu memukau, selamat! Silahkan untuk ketiga peserta maju ke depan dan persiapkan tema lukisan kedua kalian."


Tepuk tangan dan tangis haru Joanna mulai terdengar.


Tak jarang orangtua siswa lain ikut terharu melihat wanita itu.


"Sst, Sayang, sudah. Jenan hanya ikut lomba bukannya ikut perang."


"Hks! Kenapa kamu selalu menyebalkan, Jean?"


Bukan Jean yang menyebalkan tapi Joanna-lah yang sudah membuat mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


Apalagi kalau bukan isak tangis Joanna yang seperti anak kecil.


"Anak kita masih harus melewati tahap ini sebelum babak penentuan siapa yang menjadi juara satu. Nanti saja ya menangisnya? Jangan sampai Jenan melihatmu seperti ini, dia bisa ikut sedih."


Kali ini Joanna menurut.


Ia mengusap jejak lelehan airmata yang membasahi pipi lalu Jean memberikan sebotol air supaya perasaan Joanna lebih tenang setelah minum.


"Sudah?"


Joanna mengangguk.


"Semoga Putraku menjadi pemenang utama!"


"Ralat! Our Baby, Sayangku."


"Iya, iya. Anak kita, haha."

__ADS_1


...••••...


Pukul sepuluh lewat lima belas, mereka baru tiba di rumah.


Kalandra sudah menyambut kepulangan mereka sebab tadi Joanna yang memintanya untuk datang.


"Aunty, lihat ini!"


Jenan menunjukkan piala serta sertifikat juara satu yang berhasil ia dapatkan.


"Itu baru keren!"


"Thankyou, Aunty! Ditunggu hadiahnya, hihihi."


"Kebiasaan!" Kalandra menjawil gemas hidung Jenan, "Besok kita jalan-jalan ke Trans studio, mau?"


"Okay, Aunty! Je tunggu besok ya!"


Sepeninggal Jenan, Kalandra menghampiri Joanna dan Jean yang terduduk lesu di sofa.


"Mau kubuatkan minuman, Teman-teman?"


"Hm, kopi saja!"


Joanna diam. Tak ikut menyahut.


"Jo?"


"Ish, sebentar! Aku masih berpikir mau apa."


Ternyata ucapan Jean benar.


Tentang sikap Joanna yang berubah menyebalkan semenjak wanita itu hamil.


Padahal dulu, saat Kalandra menemani Joanna hamil si sulung, tak seperti ini.


Mungkin Joanna merasa ada Jean yang selalu memanjakan dirinya sekarang, itu wajar!


"Ya sudah. Teriak saja kalau sudah tahu ingin minum apa. Aku juga haus ngomong-ngomong."


"Hm, iya!"


...••••...


Paginya, mereka berencana mengajak Jenan pergi jalan-jalan sekalian menikmati akhir pekan bersama.


"Lihat kebunku, penuh dengan bunga ..."


"Ada yang putih dan juga yang merah!" sahut Kalandra yang ikut terbawa suasana Jenan dalam bernyanyi.


"Setiap hari kusiram semua, mawar melati semuanya indah, haha."


Semenjak tadi Jenan dan Kalandra tidak berhenti bernyanyi bersama.


Joanna yang mendengar itu sesekali ikut tertawa seraya mengusap perutnya. Membayangkan Jenan bermain bersama sang adik kelak.


"Papi dan Mami jangan diam saja, ayok ikut bernyanyi!"


"Betul! Biar seru!" imbuh Kalandra.


Jean menyunggingkan senyum hingga lesung pipi favorit Joanna terlihat di masing-masing pipinya.


"Kamu adalah perempuan paling cantik, di negriku Indonesia, kamulah yang nomor satu ..."


Nyanyian Jean membuat Joanna salah tingkah. Belum lagi, deep voice pria itu yang terdengar seksi hingga Kalandra yang tadinya tertawa di belakang sana mencibir.


"Sekali bulol tetaplah bulol! Ganti, ganti! Lagu anak-anak saja ya, Bapak Arjean."


Gelak tawa mereka pun terdengar riuh seiring mobil memasuki area parkir Trans studio.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2