Our Baby!

Our Baby!
RINDU


__ADS_3

Sejak pertengkaran semalam, Jenanda mendiami Zenda, begitu juga sebaliknya.


Bahkan suasana di meja makan terasa sepi tanpa celotehan Zenda yang selalu membuat suasana makan mereka menjadi lebih menyenangkan.


Decitan kursi Jenanda menghentikan kegiatan mereka.


"Kakak tunggu di mobil."


Kemudian pergi berlalu begitu saja. Meninggalkan Zenda yang menatap sengit punggung tegap Kakaknya yang mulai menjauh.


Zenda kesal, bukan hanya karena pertengkaran mereka semalam tapi juga kesal karena pesannya tak kunjung dibalas oleh Rajendra sejak semalam.


"Pastikan kalian berbaikan hari ini. Papi tidak mau punya anak-anak yang tidak akur." ucap Jean.


Sesekali melirik Joanna yang tak berkomentar apapun meskipun Zenda telah berpamitan padanya.


"Jangan kekanakan!" tegur Jean.


"Pasti ada sesuatu yang disembunyikan anak-anak kita. Jean, apa kamu tidak merasa kalau Zenda berbohong pada kita?"


"Putriku tidak pernah kuajari berbohong, Sayang. Jaga ucapanmu."


Joanna tersenyum mengejek, "Apalagi Putra kebanggaanku! Hasil didikanku tidak pernah mengajarkan Jenan menjadi pria pemarah tanpa ada alasan yang kuat dibalik kemarahannya itu!"


Jean tidak suka mendengar nada bicara Joanna yang terlalu memojokkan Zenda dan apa katanya? Putra kebanggaan Joanna?


Hey! Jenanda juga putranya Arjean Soenser.


"Sayang, Zenda juga Putrimu kalau kamu lupa."


"Apa bedanya denganmu, Jean? Sudah ya! Malas ribut! Ini masih terlalu pagi."


Padahal jelas-jelas, Jean tidak bermaksud bersikap tidak adil pada kedua anaknya, hanya saja menurut Jean, anak perempuan harus lebih dijaga dan disayangi.


Namun bukan berarti Jean tidak menyayangi Jenanda sama besarnya seperti ia menyayangi Zenda.


Terlalu sulit dijelaskan melalui sebuah kata-kata.


...••••...


"Kak Jenan sudah janji tidak akan memberitahu Papi dan Mami soal Kak Rajen."


Baru setengah perjalanan, namun pembahasan semalam kembali berlanjut.


"Memang." jawab Jenan enteng.


"Tapi sikap Kak Jenan membuatku malu apalagi sampai pagi ini, Kak Rajen tidak membalas pesanku!"


Jenanda berusaha tidak menggubris ucapan Adiknya yang terdengar begitu menyulut emosi.


"Kalau sampai Kak Rajen memutuskan hubungannya denganku, Kakak harus bertanggung jawab."


"Sebenarnya kamu marah karena apa, Zenda?"


"Semuanya! Kakak terlalu ikut campur urusan pribadiku! Aku sudah besar, butuh privasi juga, Kak!"


Lalu gadis itu berjalan memasuki gerbang sesaat setelah mobil berhenti di depan kampusnya.


Jenanda baru ingat jika Rajendra adalah pemilik Cafe yang ada di seberang jalan itu.


Tanpa banyak berpikir, Jenanda memutar arah, berniat mampir sebentar sebelum pergi ke Kantor.


Suasana di Cafe itu lumayan ramai namun Jenanda tidak melihat ada tanda-tanda Rajendra di sana.


Hingga telinga Jenanda mendengar suara tertawa seorang wanita disusul tawa pria yang ada di sampingnya.


"Kak Jenan?"


Reflek, lelaki itu melepaskan rangkulan tangannya yang berada di pundak wanita tersebut dan menyuruh wanita itu menunggu di ruangannya.


"Saya anggap hal barusan bukan sesuatu yang serius untuk dibahas juga ..."

__ADS_1


Jenanda bukan tipikal pria bersumbu pendek. Sekali emosi langsung memukul orang, tentu saja tidak.


Dibanding menggunakan otot, Jenanda lebih suka berpikir dulu sebelum mengambil tindakan agar tidak menyesal setelahnya.


"Kakak mau bicara apa denganku? Mau minum dulu?"


"Tidak perlu. Saya hanya ingin tanya, seberapa serius kamu menjalani hubungan itu dengan Zenda?"


Rajendra terdiam.


"Kalau kamu hanya ingin bermain-main saja, tinggalkan Zenda! Biarkan dia fokus dengan kuliahnya dulu."


"Kenapa Kakak posesif sekali? Zenda itu adik Kak Jenan, bukan kekasih Kakak!"


Kedua mata Jenanda berotasi malas mendengar omong kosong itu, "Kamu pikir, yang boleh bersikap posesif itu hanya hubungan percintaan antara pria dan wanita saja? Saya melakukan ini demi melindungi Zenda."


Kini giliran Rajendra yang tersenyum mengejek.


"Oh ya? Lalu kenapa Kak Jenan dan orangtua kalian mengekang Zenda? Ingat ya, Kak! Zenda bukan anak kecil lagi yang bisa dilarang ini dan itu .."


Lelaki itu semakin berani mengajak Jenanda beradu mulut, "Dia sering mengeluh padaku. Karena kalian terlalu posesif, sampai berteman dengan lawan jenis saja tidak boleh."


"Bedakan antara tidak boleh dan dibatasi. Kamu tidak tahu apapun soal keluarga saya. Konteksnya berbeda! Kalian sudah menjalin hubungan, Rajendra!"


Pembicaraan mereka tidak berjalan dengan baik setelah mata Jenanda tidak sengaja beradu pandang dengan mata wanita tadi. Membuat Jenanda menjadi gelisah.


Dengan cepat Jenanda memalingkan wajahnya, kembali menatap si lawan bicara yang tidak berhenti memperhatikan dirinya juga.


"Percuma bicara sama kamu! Hanya membuang waktu saya."


Iya.


Jenanda pergi dengan sejuta kekecewaan serta perasaan yang tidak ia mengerti.


Padahal sudah lama sekali, pikirnya.


...••••...


"Suruh dia masuk."


"Oke, Bos."


Perlu diketahui, hubungan Jenanda dan Celin merupakan teman dekat saat mereka kuliah.


Jadi tidak perlu terkejut jika Celin bisa berbicara santai pada Jenanda, kecuali saat mereka tidak hanya berdua saja, catat!


"Lama tidak bertemu— Kak Jeje!"


Tubuh Jenanda menegang di tempat. Antara marah dan rindu bercampur menjadi satu.


...••••...


...KAK RAJENDRA💙...


^^^Zenda^^^


^^^Aku tahu Kakak marah^^^


^^^Tapi balas pesanku, Kak^^^


^^^Zenda^^^


^^^Mau es krim rasa strawberry yang ada di Cafe Kak Rajen!^^^


^^^Zenda^^^


^^^Kekasih ganteng Zeze kemana ya?^^^


^^^Duh! Rindu, tidak kuat!^^^


^^^Zenda^^^

__ADS_1


^^^ Kak Rajen! Maaf🥺^^^


^^^Zenda^^^


^^^😭😭😭😭😭^^^


Semenjak tadi, Zenda berulang kali membuka room chat di ponselnya, berharap Rajendra membalas satu saja pesan yang ia kirim.


"Zenda." panggil Yolanda.


Saat ini mereka sedang berada di kantin.


Tadinya Zenda ingin mengajak Yolanda makan di Cafe milik Kekasihnya namun Yolanda mengatakan terlalu jauh dan harus menyebrang dulu, sementara perutnya sudah lapar, minta segera diisi.


"Hm, apa?"


"Kenapa cuma diaduk-aduk aja mie ayamnya? Tidak enak?"


Zenda menghela napas. Menyingkirkan mangkok mie ayam itu ke samping lalu menumpukan kedua sikunya di atas meja.


Wajahnya terlihat kusut, seperti baju yang belum disetrika.


"Yo, apa kamu dan Kak Bagas pernah bertengkar?"


Yolanda yang mendapat pertanyaan itu hanya mengerutkan dahi.


"Kamu bertengkar dengan Kak Rajendra?"


"Iya. Semalam kita berencana makan malam bersama tapi–"


Ponsel Zenda berbunyi. Bibir itu menyunggingkan seulas senyum ketika nama Rajendra yang berada di layarnya.


"Halo, Kak."


"Bisa kita bertemu sebentar? Aku mau ngomong sesuatu. Tentang Kak Jenan, Ze."


Senyum Zenda luntur seketika. Dadanya berdebar, takut Rajendra memutuskan hubungan mereka secara sepihak.


"Aku tidak mau putus, Kak." lirihnya.


Yolanda diam, memperhatikan raut sedih sahabatnya itu sembari mengusap-usap punggung tangan Zenda agar tidak menangis.


Malu.


Mereka masih di kantin soalnya.


"Haha, datang saja ke Cafeku nanti siang. Aku tunggu, Sayang."


Pip!


Belum apa-apa saja, lelaki itu mengakhiri panggilan tersebut.


"Apa katanya, Ze?"


"Kak Rajen minta bertemu, tapi Yolanda, aku harus alasan apa? Kak Jenan sudah bilang kalau dia yang akan menjemputku nanti, bukan sopirnya Papi."


Karena tidak tega, Yolanda pun memutuskan untuk membantu Zenda supaya gadis itu memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Rajendra.


"Kak Jenan tahu kalau aku sering menjadikanmu sebagai alasan keluar malam ..."


"Pasti Kak Jenan tidak akan percaya lagi, Yolanda." lanjut Zenda.


"Coba dulu, Ze. Kita ajak Sherly juga supaya Kak Jenan percaya, bagaimana?"


Keduanya setuju.


Dan kembali melakukan kebohongan kecil lagi yang bisa saja akan menjadi kebohongan besar suatu hari nanti.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2