
Kurang beberapa chapt lg bkal END ya!
Mampir juga ke work sya yg satu lg kalo mau; DESTINY ... kali aja suka sma karakter Joanna yg lbh bar-bar ktimbang dsni, thankyou;)
Selamat membaca!
...•••...
Besoknya, Joanna bersiap-siap pulang ke Indonesia dan terpaksa meninggalkan Jenan dan Jean yang tetap melanjutkan acara pameran tersebut.
"Sayang, tolong tetap di sini. Kamu tidak kasihan dengan anak-anak, hm?"
"Iya, Mi. Tolong jangan pulang dulu. Maafkan Zenda." wajah gadis itu tertunduk.
"Kalau Mami memaksa pulang, tidak apa-apa ... Pameran akan tutup hari ini dan sisa uang para pengunjung bisa direfund." kata Jenan.
Membuat Joanna menghentikan kegiatannya memasukkan baju ke dalam koper.
Menatap Suami dan kedua anaknya bergantian.
"Tanyakan itu pada Papi kalian! Mami mau pulang! Jo's Bakery butuh Mami, ada banyak pesanan."
"Jadi Bakery lebih penting daripada anak-anak?" Tanpa sadar suara Jean meninggi.
"Jangan membuat opini buruk di depan anak-anak .."
Joanna menyuruh anak-anaknya pergi dan mereka menurut, "Kalau aku di sini, kamu tidak akan berhenti memaksaku untuk membebaskan Rosa."
"Dia sudah berubah. Percaya padaku, Joanna."
Joanna mengabaikan tatapan frustasi Suaminya. Berusaha tak tersulut emosi dengan masalah tersebut.
Sejak pagi, Jean mendesak Joanna agar mau menemui Rosa.
Baik.
Joanna melakukan itu.
Mendatangi kantor polisi di pagi buta dan ternyata, diluar dugaan Joanna, Suaminya diam-diam berencana membebaskan Rosa sebab wanita itu menangis dan terus merengek minta dibebaskan.
Insiden kemarin bukan semata-mata Rosa sungguhan berniat menculik Zenda.
Rosa hanya ingin meminta maaf dengan tulus pada keluarga Joanna atas perbuatan Rosa di masalalu dan ingin memperbaiki hubungan persaudaraan mereka, menjadi Kakak dan Adik yang rukun.
Iya. Rosa akhirnya sadar bahwa peran antagonisnya selama ini banyak menimbulkan masalah dan tidak bisa membuat kehidupannya di masa depan merasa lebih baik karena diliputi amarah dan kebenciannya pada Joanna yang selalu mendapat kebahagiaan.
Kalau pun Rosa harus dipenjara, Rosa rela namun Rosa ingin di penjara di Indonesia agar bisa tetap dekat dengan Ibunya.
"Kamu lihat tadi? Rosa sudah berubah. Tatapannya begitu tulus, Joanna."
"Halah! Paling juga pura-pura. Sudahlah! Terserah kamu."
"Jo, please! Kalau kamu tetap tidak percaya, kita buat kesepakatan tertulis, bagaimana?"
"Jika Rosa melanggar, maka dia harus mendekam di penjara seumur hidup sebagai hukumannya." lanjut Jean.
"Tidak! Itu merepotkan!"
"Joanna."
"Tidak usah membentakku, brengsek!" umpat Joanna.
Plak!
Tiba-tiba Jean menampar Joanna.
Hingga wanita itu semakin murka dan bertekad akan pulang ke Indonesia detik itu juga.
Padahal Joanna hanya menggertak Suaminya agar mau menuruti ucapannya tapi semua hanya omong kosong.
Joanna tidak peduli lagi.
__ADS_1
Jika kedua anaknya ingin ikut bersamanya pulang dan membatalkan pagelaran pameran hari ini, silahkan!
Mereka sudah besar dan bisa memilih yang menurut mereka baik.
"S-sayang, aku—"
"Terimakasih. Tidak usah merasa bersalah! Kadang tidak cukup hanya melalui lisan untuk membuatku mengerti bahwa kamu itu brengsek, Jean."
Joanna menepis tangan Jean yang hendak menahan dirinya agar tetap tinggal.
Berjalan sampai ke ruang tamu dan menemukan anak-anak mereka menatapnya dengan wajah memelas.
"Zenda ikut Mami!"
"Hm, terserah! Sepuluh menit! Mami tunggu di mobil, cepat!"
Gadis itu berlari menuju kamar. Beruntungnya baju Zenda masih tertata rapi di dalam koper.
Jadi tak perlu banyak waktu untuk Zenda menyusul sang Ibu yang sudah duduk di kursi penumpang.
Dengan Ayah dan Kakaknya yang hanya berdiri di samping mobil. Membiarkan mobil yang ditumpangi oleh Joanna dan Zenda pergi menuju bandara.
"Papi tetap akan temani kamu sampai selesai."
"Tidak usah, Pi. Lebih baik Papi susul Mami dan Zenda. Kasihan! Tidak ada yang menjaga mereka."
"Kamu butuh Papi di sini, Je."
Pemuda itu menggeleng pelan.
"Ada Uncle Sean. Dia bisa bantu aku buat lanjutin acaranya."
Jean tampak berpikir sebelum akhirnya menyerah dan memilih bergegas menyusul Istri dan Anak perempuannya ke Bandara.
Urusan Rosa biar Sean juga yang mengurus itu.
Jean menyesal telah bersikap kasar pada wanita yang sudah menemaninya sejak lama.
Sayang, tunggu aku.
...••••...
"Sudah?"
Zenda mengangguk, masih takut saat ingat kemarahan Ibunya semalam.
"Maafkan Mami, Ze."
Pelukan hangat Joanna membuat perasaan Zenda jauh lebih baik.
Ia pun membalas dekapan sang Ibu seraya bergumam kata maaf.
Karena Zenda, orangtuanya bertengkar dan Jenan ikut menanggung akibatnya juga.
Seharusnya pameran Jenan berlangsung selama tiga hari berturut-turut namun insiden pertemuan Zenda dan Rosa mengacaukan segalanya.
"Zenda yang harus minta maaf, Mi. Maaf karena Zenda, kalian jadi bertengkar, maaf."
Suara Zenda terdengar bergetar. Joanna bisa merasakan dress floral yang dikenakan basah pada bagian dada.
"It's okay, Mami mengerti. Jangan menangis, Sayang. Mami sudah tidak marah."
Mungkin Zenda masih terlalu kecil untuk memahami cerita masalalu keluarga orangtuanya meskipun semalam, Jenan sempat menceritakan detailnya namun Zenda tak juga mengerti.
"Ayo! Sudah waktunya." ajak Joanna saat mendengar suara informasi terdengar.
Menandakan mereka harus bergegas masuk ke dalam pesawat.
"Kalau mengantuk, kamu boleh tidur dulu. Nanti Mami bangunkan."
Zenda tidak menyahut. Sibuk memandang keluar jendela.
__ADS_1
Pluk!
Penumpang di kursi belakang mengejutkan Joanna.
Sebab dengan sengaja melemparkan permen ke arahnya.
"Maaf, Pak. Apa maksudnya ya? Kenapa lempar-lempar permen ke saya?"
Pesawat belum mengudara jadi Joanna bisa kembali berdiri sejenak.
Melihat gelagat mencurigakan dari si penumpang, Joanna menarik majalah yang sengaja dibuat menutupi wajah penumpang tersebut.
"Jean!"
"Hai, Cantik. Kita bertemu lagi."
Saat itu Joanna benar-benar kesal melihat wajah Jean yang begitu menyebalkan di matanya.
...••••...
Gagal sudah kepulangan Joanna ke Indonesia hari ini.
Ia justru terjebak di ruang tamu bersama wanita yang sangat dibenci.
Melalui koneksi Soenser, Rosa berhasil dibebaskan dengan syarat tertentu yang disanggupi oleh wanita itu.
"Joanna, mungkin ini terdengar aneh dan tak masuk akal tapi ..."
Rosa tahu, kesalahannya di masalalu tak pantas mudah mendapat maaf dari Joanna, mantan Adik Tirinya itu.
"Tidak usah basa-basi, katakan saja apa yang mau kamu bicarakan!" desis Joanna.
Menatap tajam ke arah Jean dan Sean yang duduk di depannya.
Iya. Mereka bekerja sama untuk mencabut laporannya agar bisa membuat Rosa bebas.
Lalu Jenan diminta untuk menemani Adiknya di kamar agar tidak perlu mendengar obrolan orang dewasa.
"Aku minta maaf. Dengan tulus, aku benar-benar menyesal sudah bersikap jahat pada kalian. Terutama padamu, Joanna."
"Memang sempat terpikir olehku untuk balas dendam, dibantu oleh Alena, kami sepakat menghancurkan perusahaan Jean tapi semua itu gagal."
"Kejahatan tidak akan bisa menang melawan kebaikan jadi kumohon, maafkan aku, Joanna, Jean."
Joanna terdiam. Memperhatikan sepasang mata hitam itu dengan seksama.
Berusaha mencari kebohongan tapi yang ada hanya sebuah ketulusan.
Rosa sudah berubah.
"Kumaafkan tapi dengan satu syarat!" ujar Joanna.
"Jo, jangan aneh-aneh." peringat Jean yang mulai merasa tak enak perasaan.
Mendengar hal itu, Rosa segera menyanggupinya tanpa ragu dengan anggukan kepala.
"Apapun. Akan kulakukan untuk menebus dosaku dan Mama di masalalu."
"Sederhana, tapi kamu harus mau melakukan itu, Rosa."
Rosa tampak menggigit bawah.
Sejujurnya Rosa takut Joanna akan menjebloskan dirinya ke dalam penjara sepulangnya nanti.
Bukan apa-apa, tapi dua hari berada di sel tahanan membuat Rosa tidak sanggup.
Kecoa, kotor, lembab, tidak ada kasur dan pokoknya hidup di penjara itu mengerikan.
"I-iya, apa s-syaratnya, Joanna?"
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!