
Saat kejadian, Lian sedang berada di Cina dan buru-buru mengambil penerbangan paling cepat agar bisa segera sampai di Indonesia setelah mendapat kabar tersebut.
Ia juga khawatir mendengar Tuan Mudanya diculik.
Dan selama menunggu keberangkatan pesawat, Lian berusaha mencari titik lokasi keberadaan mereka melalui pin yang pernah diberikan pada Perawat Yo selama ini.
Berhasil!
Lian tersenyum remeh ketika kemampuan bersembunyi para penculik itu begitu amatiran.
"Jadi para bajingan itu bersembunyi di sana? Cih! Terlalu dekat dengan kota. Bodoh sekali mereka!"
Jenan, tunggu Uncle ya!
...••••...
Mereka kembali berkumpul di kediaman Percy.
Sebenarnya Jean dan Tuan David keberatan karena perasaannya tidak enak jika harus bertemu di sana namun situasi tidak mendukung mereka mendebatkan soal itu hingga mengulur waktu pencarian.
Mereka khawatir para penculik itu melukai Jenan dan Perawat Yo.
Sampai kehadiran Nyonya Anne dan Rosa yang tiba-tiba muncul membawa dua koper besar di belakang mereka begitu mengejutkan semua orang.
"Aku dan Rosa akan ke Singapura malam ini juga."
Mereka terdiam.
Memperhatikan kedua wanita itu dengan seksama.
"Jenan dan Pengasuhnya diculik lalu tiba-tiba kalian memutuskan ke luar negeri? Kebetulan macam apa ini?" tanya Tuan Dery.
"Kamu mencurigai kami, Der?"
"Aku hanya bertanya. Kenapa kamu sensitif sekali?"
Tidak ada yang berani menyahut perdebatan pasangan itu.
Apalagi Joanna semenjak tadi menahan diri dan belum mengatakan apapun pada Suaminya soal Ethan.
"Buka matamu, Der! Lihat Rosa! Kesehatan mentalnya terganggu karena batal menikah tapi kamu justru sibuk mengurus Joanna dan Anaknya yang tidak jelas itu!"
Mata Nyonya Anne mendelik tajam ke arah Jean dan Joanna bergantian. Menyalahkan mereka atas apa yang menimpa Rosa saat ini.
Menurutnya, ini tidak adil jika Rosa harus menanggung rasa sakit hati itu sendirian sementara Jean dan Joanna berbahagia di atas penderitaan Putrinya.
"Siapa yang bisa percaya dengan pembohong seperti anda? Mungkin anda menyuruh seseorang untuk menculik Putraku? Who knows, Tante!"
Joanna hendak maju ke depan namun Jean menahan lengannya, "Dan satu hal yang membuat anda pantas dicurigai ... Kenapa anda pulang tanpa pamit? Setidaknya hormati Papaku sebagai Suami anda, Tante!"
"LANCANG!"
"Tidak usah berteriak! Kita semua tidak tuli, Tante!"
"Jaga ucapanmu, Joanna! Jangan kurang ajar." sahut Rosa.
Rosa tidak ingin berdebat lagi dengan Joanna. Memalingkan wajah ketika matanya tidak sengaja beradu pandang dengan manik hitam milik Jean.
__ADS_1
Cinta itu masih ada namun Rosa tidak mau menambah luka batinnya dan berakhir menyiksa diri sendiri.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang! Toh, Mama juga sudah bilang ke Papa 'kan?"
"Kalian tidak boleh pergi sebelum Cucuku ditemukan." sela Tuan Dery seraya menahan koper yang diseret oleh Istrinya.
Entah mengapa, Tuan Dery memiliki firasat jika Nyonya Anne ada hubungannya dengan penculikan Jenan.
Sejauh ini, Tuan David dan yang lain belum berkomentar apa-apa karena ini diluar urusan mereka meskipun topic yang dibicarakan sama namun rasanya tidak etis jika mereka ikut campur pertengkaran Tuan Dery dan Istrinya.
Joanna yang gatal ingin melempar koper itu, mulai berjalan menghampiri. Lalu menendang dua benda itu hingga terpental cukup jauh.
BRAK!
"APA YANG KAMU LAKUKAN?"
Dua koper milik Rosa dan Ibunya terpental lalu membentur dinding hingga ada bagian yang retak.
"Joanna, hentikan! Jangan melawan api dengan api, Sayang. Nanti kamu bisa ikut terbakar bersama api itu." peringat Tuan Dery.
"Kalian mau tahu, siapa yang menculik Jenan dan Perawat Yo?"
Kalandra memperlihatkan rekaman berisi percakapan Ethan dan Joanna tadi.
"Ceraikan Suamimu lalu menikah denganku. Itu penawarannya."
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Jean. Kedua tangannya saling mengepal di masing-masing sisi.
Tidak menyangka jika mantan kekasih Joanna melakukan tindakan kriminal yang bisa membahayakan Putranya.
Hanya karena sebuah obsesi semu?
Rosa mulai menangis di pelukan Nyonya Anne. Berusaha mencari perhatian orang lain melalui airmata palsunya.
"Kamu lihat, Jean? Belum apa-apa, wanita yang baru kamu nikahi beberapa jam yang lalu ini sudah berani menghubungi mantan kekasihnya! Kalau aku ja–"
"Maaf menginterupsi! Saya berhasil menemukan titik lokasi dimana Tuan Muda berada. Dia sekarang ada di Mansion X."
Semua orang terkejut melihat kedatangan Lian dan informasi yang dikatakan barusan.
"Maaf, perintah anda, Tuan?" lanjut Lian.
Saat yang lain tertegun bak manekin, Jean berjalan menghampiri Lian seraya menepuk pelan bahunya, "Kita berangkat sekarang. Tunggu apalagi!"
Mengabaikan Joanna yang berniat ingin ikut namun segera ditahan oleh Kalandra yang menyuruhnya tetap di rumah.
"Jika sampai kalian ikut terlibat dalam kasus ini, maka aku tidak segan menjebloskan kalian ke dalam penjara! Ingat itu!"
...••••...
Selusin pengawal ikut bersama mereka.
Masing-masing berpencar lalu menyelinap masuk ketika dua penjaga gerbang berhasil dilumpuhkan.
"Sisi barat aman, Bos!"
Sesuai arahan, mereka kembali berhasil menyingkirkan para pecundang itu.
__ADS_1
Dan tersisa empat orang.
Dua diantara mereka berdiri di depan sebuah kamar.
"Wah, ikan! Banyak ikan! Je suka, haha."
Suara gelak tawa anak kecil mengalihkan atensi Jean.
"Sepertinya mereka membawa Jenan di halaman belakang." kata Tuan David.
Mereka berjalan mengendap-endap. Bersembunyi diantara pilar megah yang entah mengapa ada begitu banyak di sini.
"Kamu dan Lian pergi selamatkan Jenan. Biar kami yang urus mereka dan mencari Perawat Yo." sahut Tuan Dery.
Mengisi empat pelurus sekaligus pada handgun yang sudah dipasang peredam itu.
Dan kali ini, Jean menurut.
Berjalan memutar arah menuju halaman belakang.
Sebab Joanna bilang, bocah itu sangat menyukai halaman luas dengan padang rumput hijau serta ingin memelihara banyak sapi karena suka meminum susu.
Ada-ada saja.
"Itu Jenan, Tuan."
Mereka melihat dua pria bertubuh besar sedang berdiri di belakang Jenan yang tampak senang bermain di danau buatan itu.
Tentunya membuat Jean khawatir sebab saat ini, posisi Jenan sangat dekat di tepian danau.
Entah berapa kedalaman danau tersebut hingga yang terjadi sekon selanjutnya adalah suara teriakan Jenan.
"Ahk!"
BYUR!
Kedua pria itu panik. Berusaha menggapai tubuh Jenan yang hampir tenggelam.
"Papi! Papi! Tolong– uhuk, uhuk, uhuk!"
"Ya Tuhan, Baby boy!" teriak Jean yang langsung ikut mencemburkan diri lalu mengangkat tubuh lemas Putranya ke permukaan.
Memberikan pertolongan pertama yaitu napas buatan sehingga Jenan berhasil mengeluarkan air yang sempat ditelan.
"Papi ..." lirihnya.
"Iya, Baby. Papi di sini. Maafkan Papi, Baby. Kamu aman sekarang."
Jenan mengangguk lemah dalam pelukan sang Ayah. Kemudian segera membawa Jenan ke rumah sakit terdekat.
Sementara Lian berhasil mengikat kedua pria tadi tanpa perlawanan karena sebelumnya, Lian memukul keras tengkuk mereka sampai pingsan.
Persis seperti yang dilakukan Lian ketika menolong Joanna agar terlepas dari cengkeraman Rosa.
"Katakan pada yang lain untuk menyusulku ke rumah sakit, Lian."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!