Our Baby!

Our Baby!
HALO!


__ADS_3

Karna work ini uda masuk karya entri lomba nulis #Anak Genius, sya putusin buat lanjt sampe sesi lomba itu slsai ya, Guys!


Tolong supportnya dgn VOTE, LIKE dan SPAM COMMENT jg boleh, karna support kalian bkin sya smngat nulis ...


Maaf kalo performa nulis sya ga kyk di awal yg bs double/triple UP, kdg ksibukan di RL bkin sya ngerjain ini pas malem, paginya sibuk ngerjain urusan lain, skli lagi maaf dan makasih buat kalian yg msh STAY di story OUR BABY! ini ya ...


Selamat membaca ..


...••••...


"I-iya, apa s-syaratnya, Joanna?"


Mereka menunggu Joanna kembali bersuara. Berharap syarat yang diajukan oleh Joanna tidak membuat Rosa kembali mendekam di penjara.


Jean dan Sean ingat saat kemarin Rosa berlutut, sembari memohon agar dibebaskan.


Bukan hanya itu saja, Rosa juga berjanji akan menebus segala kesalahannya setelah mereka sampai di Indonesia.


Meskipun insiden kemarin tidak ada unsur kejahatan namun demi meyakinkan mereka, Rosa akan melakukan apa saja.


Diperkuat dengan keberadaan CCTV cafe yang memperlihatkan interaksi Zenda dan Rosa yang tampak biasa saja, seperti orang pada umumnya.


Tidak ada kekerasan atau hal aneh yang dilakukan Rosa pada Zenda selama mereka duduk di Cafe itu.


Yang ada hanya Zenda memakan banyak es krim yang dibelikan Rosa, sesekali mereka terlibat percakapan lucu yang membuat Zenda tertawa kecil.


"Gampang. Kita bahas setelah pameran Jenan selesai. Lalu kamu harus ikut kami pulang ke Indonesia."


Ada sedikit perasaan lega mendengar kalimat Joanna barusan.


Setidaknya Rosa bisa bertemu kembali dengan Ibunya.


"Sean, bawa Rosa bersamamu. Pastikan dia dijaga dengan ketat! Aku tidak mau ada drama kabur-kaburan lagi."


Sean mengangguk patuh, "Baik, Bu. Sesuai perintah anda. Mari, Nona Rosa."


"Sayang, itu terlalu berlebihan. Rosa bukan—" protes Jean saat empat pengawal berdiri di belakang Rosa, dua diantara mereka bahkan memegangi lengan wanita itu.


Mata Joanna menatap tajam ke arah Jean hingga bibir pria itu kembali terkatup rapat.


Rosa?


Tentu tidak ada perlawanan. Rosa benar-benar pasrah, menuruti keinginan Joanna.


Dia pantas mendapatkan itu, benar kan?


"Masih mending aku menyuruh anak buahmu yang mengawal Rosa. Apa perlu aku meminta polisi setempat untuk menyeretnya masuk ke penjara lagi?"


Jean hanya menggeleng pelan dan berhenti mendebat Joanna sebab takut Istrinya kembali nekat minta pulang seperti sebelumnya.


Dan meninggalkan Putra mereka mengurus pamerannya sendirian.


Tentunya Jean tidak tega.

__ADS_1


Antara Joanna dan Jenan bukan hal yang bisa dipilih salah satu. Keduanya penting dalam hidup Jean. Sampai Jean berhasil membujuk Joanna dan Zenda agar kembali ke penginapan dengan susah payah.


"Ya sudah! Kita siap-siap ke gedung pameran! Gara-gara masalah ini, acara Putraku jadi korbannya."


"Iya, iya. Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua." sela Jean seraya berjalan menuju ke kamar Zenda dan Jenan guna memberitahu jika mereka harus segera bersiap-siap.


...••••...


Tak terasa pameran yang digelar secara perdana oleh Jenan berhasil memikat hati seniman luar negeri bernama Charles Tom.


Seniman berkebangsaan dari negara mendiang Ratu Elizabeth itu terpukau dengan salah satu karya Jenan tentang seorang gadis cilik yang duduk di tepi danau, dikelilingi banyak bunga serta kupu-kupu yang hinggap di atas nektar bunga tersebut.


Meskipun lukisan itu sedikit tidak rapi, tetap bisa membuat Charles terpukau akan nilai keindahan dan kecerian yang terkandung di dalamnya serta berniat menawarkan Jenan untuk mengunjungi salah satu Museum Louvre yang berada di Paris, Prancis.


"Saya merasa tersanjung atas pujian anda, Mr. Charles."


"Kamu anak muda yang berbakat. Seni itu bentuk ekspresi diri seseorang yang dituangkan ke dalam sebuah coretan tangan, entah dalam bentuk gambar atau tulisan tangan."


"Anda benar. Ketertarikan saya pada seni rupa membuat saya bertekad ingin menjadi seniman dunia yang luar biasa seperti anda, Mr. Charles."


Keduanya terkekeh, mengobrol santai dengan Jenan membuat Charles ingat dengan mendiang Anaknya yang telah meninggal dua tahun yang lalu.


"Kamu sudah buktikan itu, Je! Boleh aku memiliki salah satu karya yang kamu punya? Untuk dipajang di Galeri pribadiku."


Mendengar hal tersebut, sontak membuat Jenan tersenyum senang.


Sebab setahunya, Gallery milik Charles tak pernah sepi peminat dan jumlah pengunjung yang datang semakin banyak jika akhir pekan tiba.


Hal ini memudahkan bagi Jenan agar karyanya bisa semakin dikenal di daratan Eropa.


"Papi lihat, kamu mengobrol dengan siapa tadi ... Cha ... Siapa ya? Papi lupa, Je."


Alis Joanna mengkerut ketika sang Anak tak kunjung menjawab ucapan Ayahnya.


Justru Jenan cengar-cengir tanpa sadar.


Tuk!


Zenda yang gemas melihat itu, melempar buah anggur yang mengenai kening Jenan.


"Zenda, apa yang Mami bilang soal membuang-buang makanan?"


Zenda berhenti meledek Jenan kala mendapat teguran dari Ibunya.


"Rasain! Makanya jadi Adik yang baik. Jangan nakal!"


Giliran Jenan yang meledek. Menjulurkan lidahnya pada Zenda yang mendengus kesal, mendelik pada Jenan yang terkikih, sembari mengusak gemas pucuk rambutnya.


"Mr. Charles Tom, Pi. Dia mau mengajak Jenan mngunjungi salah satu Museum di Perancis."


"Benarkah? Itu bagus, Sayang. Kamu bisa memperluas koneksimu di sana. Mami dukung."


"Iya, Jenan. Papi juga mendukungmu. Tidak menyangka, Papi punya anak yang berbakat sepertimu."

__ADS_1


"Heleh! Zenda juga punya bakat. Iya 'kan, Mi?"


Seolah tidak ingin kalah dari Kakaknya, Zenda kemudian bernyanyi dengan suara cemprengnya hingga berhasil mengundang gelak tawa Kakak dan Kedua orangtuanya.


"Haha! Suaramu fals sekali, Zenda, haha."


Jean tersenyum kecil, mencubit pipi Zenda yang merengut kesal melihat reaksi mereka seperti itu.


"Jahat."


Joanna yang tidak ingin melihat si bungsu berkecil hati, langsung menyuruh Jenan agar berhenti tertawa.


"Jangan tertawa! Kalian semua jahat!" pekiknya.


Sambil memeluk Joanna yang duduk di sampingnya.


"Sst! Tidak apa-apa. Suara Zenda bagus kok." hibur Joanna.


Membuat Jenan seketika terdiam dengan raut bersalah.


Sebelah tangannya terulur mengusap lembut rambut Zenda.


"Kakak hanya bercanda, Ze. Suaramu bagus. Kemari! Kakak juga mau peluk kamu."


Pipi yang basah karena airmata itu diusap lembut dengan Jenan.


Ia merasa bersalah karena sudah membuat Adiknya menangis sesenggukan.


"Setelah pameran Kakak selesai, ayo berlatih vokal bersama. Begini-begini juga Kakak dulu pernah mencoba dunia tarik suara tapi bakat Kakak ada di melukis ..."


Kedua tangan Jenan menangkup wajah mungil si cantik Zenda, "Siapa tahu, kamu bisa berbakat menjadi seorang penyanyi terkenal. Seperti Zendaya? Tahu tidak?"


"Ish! Kakak! Jangan meledekku terus."


Jenan mengeratkan pelukannya, "Kakak serius, Ze. Kalau dilihat-lihat, wajah dan kulitmu sekilas mirip Zendaya, tapi versi kecil dan lokalan, hehe."


Zenda mencubit perut kotak-kotak milik Kakaknya hingga si empunya meringis.


"Papi tidak keberatan jika kedua anak-anak Papi terjun ke dunia seni."


Joanna memperhatikan mereka dengan perasaan haru sebab kebahagiaan keluarganya baru akan dimulai, sekarang.


Setelah melewati banyak hal sulit, Joanna yakin, suatu hari nanti Jenanda dan Zenda akan menjadi orang-orang yang sukses di masa depan, berkat dukungan dari kedua orangtuanya dan orang-orang yang ada di sekitar mereka.


"Mami juga akan selalu mendukung kalian. Jangan takut bermimpi, karena sebuah mimpi akan menjadi kenyataan jika kalian memiliki tekad yang kuat untuk merealisasikan mimpi itu."


Keempatnya saling berpelukan. Menyalurkan perasaan kasih sayang sebagai keluarga kecil yang penuh kebahagiaan dan cinta di hati masing-masing.


Membuat seseorang yang semenjak tadi berdiri di balik pintu ruangan tersebut mengusap airmata yang mengendap di pelupuk mata.


Padahal aku ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya mereka sedang sibuk.


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2