
Ternyata Celia berani membohongi Jenanda soal masalah dengan pembeli dari Jepang.
Nyatanya, Celia terlihat sedang mengobrol santai bersama Zeze di ruang tunggu.
"Itu Pak Jenan. Saya tinggal dulu. Nona tidak apa-apa 'kan menemuinya sendiri?"
"Iya, Kak Jenan tidak akan menggigitku, Celi."
Mereka tertawa cekikikan disela kemarahan Jenanda yang sebentar lagi akan menguar seiring langkah kaki Jenanda berjalan menghampiri mereka.
Brak!
Box pizza itu ditaruh kasar oleh Jenanda di atas meja.
Wajah pria itu terlihat sangat marah dengan kedua alis menukik ke depan.
"Santai, Bos." kata Celia, sambil nyengir kuda tanpa merasa bersalah sebab telah mengganggu waktu sibuk Jenanda yang sedang mengurus masalah keluarganya dan Rajendra.
"Jadi ini masalah yang kamu maksud, hah?"
"Celia, saya percayakan urusan pekerjaan ke kamu jika sewaktu-waktu saya tidak ada di kantor tapi justru kamu mempermainkan waktu saya?"
"Kamu tahu, tadi saya sedang apa, hah?" bentak Jenanda.
Membuat kedua wanita itu terdiam seketika. Ini salah Zeze, tidak seharusnya Jenanda memarahi Celia juga karena Zeze yang telah menyuruh Celia agar berbohong supaya Jenanda mau datang ke kantor.
Zeze menarik lengan Jenanda menuju ruangannya supaya amarah pria itu bisa teredam.
"Kakak tidak usah memarahi Celia. Ini salahku, Kak."
"Sebenarnya apa maumu, Ze?"
"Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kekasih Jendra itu Zenda, Adiknya Kak Jenan.
Jenanda tak bergeming. Melepaskan genggaman tangan Zeze yang bergelayut di lengannya.
"Dari awal aku sudah memperingatkan kamu buat menjauhi bajingan itu, Zeze."
"Tapi kamu tidak mau. Justru kamu masih menemuinya dan minta penjelasan–"
"Karena aku berhak untuk mendapatkan penjelasan dari Jendra, Kak. Aku juga punya perasaan bukan hanya Zenda yang terluka, tapi aku juga."
Airmata Zeze berjatuhan. Pemandangan yang membuat dada Jenanda terasa sesak melihat cinta pertamanya, teman masa kecilnya, menangisi pria lain.
Di hadapannya
Jenanda memalingkan wajah ke samping, berusaha menghalau perasaannya sendiri supaya tidak terlalu terbawa suasana mendengar isak tangis wanita itu.
"Kakak pikir aku baik-baik saja setelah mengetahui ini? Tidak. Aku sakit hati dan kecewa karena merasa dibohongi tapi aku sadar ..."
"Di sini, Zenda-lah yang paling terluka. Jika aku berada di posisi Zenda mungkin aku akan lebih sakit hati saat tahu Kekasihku berkhianat."
Kedua lengan Jenanda terulur memeluk tubuh Zeze yang bergetar sebab hatinya terasa sakit.
Ia mulai membuka hatinya untuk Rajendra dan mencoba melupakan perasaan cintanya yang tak berbalas pada sosok pria yang merengkuh tubuhnya saat ini.
Memberikan usapan lembut yang menenangkan sampai kedua mata mereka bertemu.
Memunculkan getaran lama yang begitu membingungkan perasaan masing-masing.
Jenanda memiringkan wajahnya, mendekatkan bibir plum itu ke arah belahan basah semerah cherry milik Zeze.
Chup!
Sebuah kecupan.
Tidak ada nafsu, hanya sebuah kecupan yang mampu meredam tangisan Zeze, membiarkan jutaan kalor panas menyalur diseluruh tubuh mereka.
"Kakak ..."
__ADS_1
"I love you, Ze."
Gumaman yang terdengar lirih itu masih berusaha dicerna dengan baik oleh Zeze.
"Apa–"
"Tidak usah dijawab."
Deru napas keduanya bersahutan. Kening mereka saling menyatu, bahkan hidung mereka juga nyaris bersentuhan.
Begitu dekat dan memabukkan.
Jenanda tidak tahan untuk tidak kembali mempertemukan belahan basah keduanya lagi. Menarik tengkuk si cantik dan memperdalam ciuman itu.
Suara kecipakan terdengar mengalun ditelinga.
Cklek!
"Oh, mataku ternodai!" pekik Celia.
Mendramatisir adegan romantis melebihi drama picisan yang ada di serial televisi.
Ia mengurungkan niat awalnya yang ingin memeriksa kondisi si Bos Besar yang tampaknya seperti remaja labil; sedang jatuh cinta.
Atau memang, Jenanda menemukan kembali cinta pertamanya yang telah lama menghilang.
"K-kak ..."
Pukulan di dada bidang itu menyudahi kegiatan mereka sejenak.
Keduanya sama-sama terengah. Menyadari jika adegan barusan disaksikan oleh Celia.
Jenanda terkekeh, menghapus sisa saliva yang menempel di bibir Zeze.
"Maaf."
Pelukan itu semakin erat. Jenanda menenggelamkan wajah Zeze ke dadanya. Membiarkan wanita itu mendengarkan debaran jantungnya saat mereka berada dalam jarak sedekat ini.
"Hm, kamu bisa mendengarnya? Kamu pemicunya, Ze."
"Kok bisa?"
"Mau kucium lagi?" Kedua alis Jenanda naik-turun, sengaja menggoda Zeze yang tersipu malu mendengar itu.
"Ish! Mesum!"
Cubitan kecil itu terasa seperti sebuah gelitikan yang tak terasa apa-apa.
Jenanda mengusap punggung sempit Zeze begitu lembut hingga si empunya merasa terbuai.
"Apa kamu sungguhan mencintai Rajendra?"
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?"
"Ze, tidak perlu mengulang kalimat yang sama, kamu pasti sudah mengetahui jawabannya."
"Aku tidak tahu, Kak." cicit Zeze, semakin mengeratkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh jangkung itu.
Jenanda tidak akan memaksa, jika Zeze masih bimbang dengan perasaannya, itu wajar.
Hanya saja, Jenanda juga memikirkan perasaan Adiknya.
Zenda sangat mencintai Rajendra dan rela menyerahkan sesuatu yang berharga dalam dirinya meski sebenarnya, Rajendra yang telah memaksanya melakukan itu.
Makanya, Jenanda berusaha meyakinkan Zeze tentang perasaan mereka.
Ciuman tadi adalah strategi Jenanda untuk memastikan perasaan wanita itu padanya.
"Hm, aku memberimu waktu untuk berpikir .."
__ADS_1
"Dengan siapa kamu lebih nyaman, itu artinya, kamu benar-benar mencintai pria itu."
"Soal ciuman tadi–"
"Apa hatimu berdebar saat aku menciummu?" tanya Jenanda.
Zeze mengangguk, malu.
"Oke! Apa Rajendra pernah, emm— menciummu juga?"
Kemudian ia menggeleng cepat, "Kak Jenan yang mengambil ciuman pertamaku." cicitnya lagi.
Menyembunyikan wajahnya di dada Jenanda.
"Terimakasih, Sayang. Maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu sebelum waktunya, maaf."
Jenanda menyesal.
Baginya seorang wanita itu sangat berharga dan harus dijaga.
Tidak apa-apa. Mereka melakukan itu juga bukan karena paksaan, keduanya sama-sama menginginkannya juga.
Tapi tidak untuk ditiru ya, catat!
...••••...
Ketukan pintu terdengar berulang kali tapi bukannya membuka pintu kamar, Zenda melemparkan benda apa saja untuk mengusir mereka yang mengganggu.
Brak!
"Kubilang pergi ya pergi!"
"Aku butuh waktu sendiri!"
Brak!
"Kalian tidak tahu perasaanku, pergi!"
"Ze, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya .."
"Aku ... Minta maaf, Zenda."
Brak!
Brak!
Brak!
Bantingan benda itu saling berjatuhan dan bisa ditebak, situasi di dalam sana pasti layaknya sebuah kapal pecah.
"Kamu bisa datang lagi besok. Biar Om dan Tante yang urus Zenda." kata Joanna.
Jean mencoba mengetuk pintu kamar Zenda lagi.
"Sayang, buka pintunya. Ini Papi."
"Pergi! Kalian pergi!" jerit Zenda semakin tak terkendali.
"Oke, kami pergi. Tapi saat waktunya makan, kamu tetap harus makan, Sayang." lanjut Jean.
"Iya, Papimu benar. Dua jam lagi Maid akan mengantar makan malam, tolong jangan menyulitkan pekerjaan mereka."
Mereka akhirnya menyerah.
Memutuskan untuk mencobanya besok pagi.
Tidak mungkin Zenda bisa tahan untuk tidak keluar kamar semalaman kecuali Zenda kuat menghadapi kemarahan Joanna jika kesabaran wanita Percy itu sudah menipis karena sikap keras kepala gadis itu.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!