Our Baby!

Our Baby!
LICIK


__ADS_3

Sakura terus menundukkan wajah dengan kedua tangan meremat ujung dress floral yang dikenakan.


Tidak berani bertatap muka dengan Dirla yang duduk di kursi kerjanya. Mendiami Sakura atas kelancangan gadis itu di Ruangan Bosnya.


"Kak, maafkan aku. Tolong jangan laporkan masalah ini ke Om Jean, Kak."


Sakura memohon, namun Dirla sama sekali tidak menggubris ucapan Sakura yang sudah menunjukkan wajah memelas supaya Dirla melunak padanya.


"Kak–"


"Nona, tolong anda diam! Jangan mengganggu konsentrasi saya." tegur Dirla dengan nada ketus.


Dirla tak habis pikir dengan Bosnya yang begitu mudah percaya pada orang asing untuk berada di Ruangan itu sendirian. Meski sudah ada CCTV di dalamnya.


"Maaf, Kak. Aku hanya ingin menjelaskan supaya Kak Dirla tidak salah paham."


Padahal banyak dokumen penting yang tersimpan di sana. Selain Dirla dan Zeze, tak ada yang boleh memasuki ruangan Presiden Direktur mereka dengan sembarangan.


Takutnya, ada seseorang yang mempunyai niat jahat untuk menghancurkan Jean dan perusahaannya.


Sakura, misalnya.


"Maaf. Aku bersumpah! Aku benar-benar belum membaca isinya. Aku tadi hanya–"


Cklek!


Pintu ruangan Dirla terbuka.


Sosok Zeze muncul dibalik pintu tersebut.


Bibirnya menyunggingkan senyum saat bersitatap dengan Dirla lalu sedetik kemudian, senyum Zeze luntur ketika matanya beradu pandang dengan Sakura.


"Kamu di sini? Bukannya Om Jean menyuruhmu menunggu di Ruangannya ya?" tanya Zeze.


Rapat berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.


Zeze diminta keluar lebih dulu untuk menemui Sakura.


Takut gadis itu merasa bosan sebab ditinggal sendirian di tempat asing. Namun ketika sampai di sana, Zeze tak menemukan Sakura yang ternyata sedang bersama Dirla.


"I-iya, Kak."


Sakura gugup.


Suaranya bahkan sampai terdengar memelan saking takutnya.


"Ze, dimana Pak Jean?"


"Bapak ada di Ruang Rapat bersama Pak Seno. Sebentar lagi jam makan siang, aku mau ajak Sakura keluar dulu ya, Dir."


Dirla melirik Sakura sekilas, "Hm, take your time! Aku masih banyak pekerjaan yang belum selesai."


"Mau kupesankan sesuatu?" tawar Zeze.


Mereka tidak memperhatikan betapa pucatnya wajah Sakura saat ini dengan keringat dingin yang mengucur.


Sebab ia benar-benar takut Jean akan murka dan menganggap dirinya sebagai penyusup yang hendak menyabotase DS Group.


Belum lagi Ayahnya— akan semarah apa nanti melihat Sakura membuat masalah dengan salah satu orangtua koleganya.


"Tunggu apa lagi? Ayo, Ra!" ajak Zeze.


Melihat sikap Zeze yang seperti ini, mereka tampak akrab dan dekat satu sama lain.


"K-kak Dirla, aku duluan ya."

__ADS_1


"Hm." Dirla hanya berdehem.


Sikap tak ramah yang ditunjukkan oleh Dirla mengundang Zeze untuk bertanya, "Kenapa, Dir?"


"Apanya, Ze?"


"Kalian— eum! Tidak jadi! Ayo, Sakura!"


"Iya, Kak."


Sepanjang mereka berjalan menuju Cafetaria, Zeze tidak mengajak Sakura berbicara seperti tadi.


"Kak, setelah ini antar aku ke Papa saja."


Zeze mengerutkan kening, "Mau kegenitan dengan Kekasihku lagi?"


"Kalau iya, kamu mau apa? Selama status kalian hanya sebatas kekasih, selama itu juga aku memiliki kesempatan untuk mendekati Kak Jenan." tegas Sakura.


Mulai menyulut api pertengkaran diantara mereka.


Makan siang tidak akan berjalan dengan baik jika Zeze ikut terpancing emosi karena bualan Sakura yang tidak penting itu.


"Terserah. Habiskan makananmu. Setelah ini sopir kantor akan menjemput kita."


"Kita?"


"Katanya mau kuantar?"


"Sudah ada sopir. Lebih baik kamu melanjutkan pekerjaanmu, Kak."


Zeze mengacungkan garpu miliknya tepat di depan wajah Sakura.


"Aku sudah tahu. Semuanya!"


Zeze menyeringai. Memperlihatkan video yang menampilkan Sakura saat berada di Ruangannya Jean.


Lalu menekan tombol pause tepat di menit Sakura ingin mengambil sebuah dokumen penting mengenai keluarga Soenser, "Kalau Om Jean sampai tahu, kira-kira apa yang akan dia lakukan? Eum, pasti kamu di blacklist dari daftar calon menantunya, haha." Zeze tertawa mengejek.


Membuat Sakura mengepalkan kedua tangannya di atas meja.


Terdiam.


Tak bisa menyanggah lagi, segala tuduhan Zeze padanya sebab Zeze telah memiliki bukti untuk menjatuhkan namanya di depan keluarga Jenanda.


"Ada 2 opsi yang kutawarkan ..."


Zeze tidak tahan melihat wajah memerah Sakura yang tampak menahan emosi.


"Tetap bekerjasama secara profesional dan lupakan tujuan busukmu untuk mendekati Kekasihku atau kuadukan soal ini ke Om Jean dan Tante Joanna. Lebih parahnya lagi, Kak Jenan juga akan marah padamu. Oh satu lagi ... Ayahmu sendiri, Sakura Akeno."


"Kamu benar-benar licik!"


"Deal or no?"


...••••...


Zenda menangis sekencang-kencangnya ketika sudah memasuki pintu Apartemennya.


Dadanya terasa sesak seperti ada ribuan duri yang menusuk, tepat mengenai ulu hatinya.


"Ze, sudah. Kita tunggu Kak Rajen menjelaskan semuanya padamu."


Yolanda memeluk Sahabatnya yang semakin terisak. Diiringi dengan suara tombol password ditekan oleh seseorang.


Itu pasti Rajendra.

__ADS_1


"Zenda!"


Rajendra menangkap dua gadis sedang duduk di sofa. Dengan isak tangis Zenda yang terdengar pilu.


"Yolanda, terimakasih sudah menemani Zenda tapi bisa kamu pulang saja? Aku mau bicara berdua dengan Istriku." kata Rajendra, seraya memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada Yolanda untuk ongkos pulang.


"Tidak usah, Kak. Aku pulang dulu ya, Ze." pamit Yolanda, mengusap pelan bahu Zenda.


"Kalau begitu hati-hati. Maaf merepotkanmu."


"Iya. Kak, tolong tenangkan Zenda. Jangan sampai kalian bertengkar hanya karena seseorang yang datang dari masalalu."


Pesan Yolanda hanya dibalas dengan anggukan kepala.


Zenda sama sekali tidak mau berbicara pada Suaminya.


Sibuk menangis sampai hidung dan matanya memerah.


"Sayang .."


"Maaf."


"Aku–"


Plak!


"Jadi ini jawaban yang dimaksud Fella tempo hari?"


Zenda ingat.


Jika Fella pernah menyuruhnya untuk menanyakan hal ini ke Rajendra secara langsung.


Tentang siapa Fella bagi Rajendra.


"Kenapa Kak Rajen tidak pernah jujur tentang hal ini padaku? KENAPA AKU HARUS MENDENGAR INI DARI DIA, KAK? KENAPA?"


"KAKAK TAHU? FELLA HAMPIR MENCELAKAI AKU TADI SAAT DI KAMPUS DAN KATANYA, DIA BISA MELAKUKAN LEBIH DARI ITU PADAKU!"


Emosi Zenda meledak. Bukan lagi tentang hubungan Suaminya dengan Fella melainkan cocoklogi yang sempat disinggung oleh Yolanda tadi.


"Aku curiga jika yang menyebarkan berita hoaks di Kampus itu si Fella juga karena dia tidak terima kamu dan Kak Rajen menikah."


"Hks! Sekarang aku harus bagaimana, Yo? Aku takut! Takut dia menyakitiku dan menghancurkan rumahtangga kami, hks!"


"Aku juga bingung. Fella sepertinya masih belum menerima fakta jika mereka sudah putus."


Setiap orang mempunyai masalalunya sendiri. Namun yang disesalkan oleh Zenda adalah ketidak jujuran Suaminya tentang masalalunya yang pernah hampir menikah namun gagal begitu saja karena perselingkuhan yang dilakukan Fella kala itu.


"Seharusnya sejak awal, Kakak memberitahuku soal Fella. Aku takut, Kak. Aku takut dia akan merusak rumahtangga kita." suara Zenda semakin bergetar karena tangis yang tak kunjung mereda.


"Maaf. Aku minta maaf, Ze."


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan fakta ini tapi menurutku, masalalu itu hanya bagian dari hidupku yang tidak perlu dibahas lagi ..."


"Yang penting itu kamu, Sayang. Tidak peduli Fella dan siapa pun yang datang, aku tetap mencintaimu."


"Tapi dia amnesia! Dia masih menganggap Kak Rajen Tunangannya, bahkan dia juga diam-diam menguntit kita ... Apa semua yang dia lakukan tidak berpotensi bisa merusak hubungan kita?"


Rajendra mendadak bungkam.


Terlalu bingung dengan situasi yang menimpa pernikahannya sekarang.


"Aku akan memikirkan cara supaya Fella berhenti mengganggumu dan membuat dia di Drop Out dari Kampus."


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2