
Selesai makan malam, Jordan melakukan tugasnya dengan baik, sesuai perintah Kalandra.
Sementara wanita itu menemani Jenan yang sedang melukis.
Bagi Jenan, tiada hari tanpa melukis.
Meski baru masuk sekolah dasar, hasil lukisan Jenan yang abstrak dan cukup estetik itu mengundang decak kagum Kalandra yang duduk memperhatikan di belakang bocah itu dari.
Well, hasilnya lumayan bagus untuk anak seusia Jenan.
Pluk!
Kuas yang dipegang oleh Jenan terlempar di lantai. Wajah kesal Jenan mengundang tanya Kalandra, "Ada apa, Sayang?"
"Je ingin ketemu Papi dan Mami." lirihnya.
Mulai menangis tiba-tiba dan membuat Jordan yang berada di dapur tergopoh menghampiri mereka tanpa melepas apron yang menggantung di lehernya.
"Hey, hey! Kenapa Jenan menangis? Jagoannya Uncle, kenapa menangis?"
Momen langka.
Saat Jordan memangku si kecil seraya menggumamkan kata-kata penenang dan ajaibnya, Jenan berhenti menangis. Mengucek sebelah matanya sampai memerah.
"Je rindu Papi dan Mami, Uncle. Je mau ketemu, Je ... Hks!"
"Jenan, dengarkan Uncle."
Sebelah tangan Jordan menghapus airmata Jenan dipipi. Tersenyum manis ketika atensi Jenan tertuju padanya.
"Je bilang ingin cepat punya adik bayi 'kan? Nah, maka dari itu Papi dan Mami Je pergi liburan biar adik bayinya cepat jadi, eum ... Pokoknya Uncle berani bertaruh kalau Adiknya Jenan sudah jadi."
Plak!
"Yak! Bisa tidak sekali saja, tidak usah pakai kekerasan!" protes Jordan saat mendapat pukulan kecil dilengannya.
Siapa lagi jika bukan Kalandra yang melakukan itu.
Dasar tidak jelas!
Kalandra mendelik lalu merebut Jenan dan membawanya ke kamar.
Mengabaikan Jordan yang mendengus sebal melihat kepergian mereka.
"Dasar beruang betina! Tidak jelas!" umpat Jordan ketika melihat tubuh Kalandra menghilang di balik pintu kamar Jenan yang ditutup agak keras.
Hingga membuat Jordan yang masih mengomel pun berjingkat kaget karena ulah Kalandra.
"Ya Tuhan! Semoga Jean dan Joanna berubah pikiran, segera pulang dalam waktu dekat."
...••••...
Desiran pasir yang tersapu ombak mengenai kaki telanjang Joanna yang sengaja berdiri di tepi pantai.
Menikmati suara gemuruh air laut yang bergerak serta hembusan angin yang menerpa wajah serta rambut sehitam jelaganya.
Joanna tidak ingat kapan terakhir kali dirinya menikmati suasana pantai yang indah dan menyejukkan seperti ini.
Sebuah lengan melingkari perutnya yang masih rata.
"Sayang ..." bisiknya lembut. Tepat ditelinga Joanna.
Jemari lentik itu membalas dengan usapan di punggung tangan prianya.
"Maaf."
Kening Jean mengkerut.
"Untuk apa?"
Keduanya masih betah menikmati posisi itu sebab vila yang disewa Jean termasuk private vila, yang hanya diisi oleh beberapa bangunan saja.
"Untuk dua hari bulan madu kita di sini, aku minta maaf! Kamu ... Pasti menahan diri untuk tidak menyentuhku sejak kemarin."
Merasa bosan, Joanna pun mengubah posisi. Berdiri saling berhadapan dengan Suami tampannya itu, "Nanti malam kita bisa melakukannya."
Joanna mengalungkan kedua tangannya di leher Jean. Sedikit berjinjit untuk bisa mencuri satu kecupan di bibir plum itu.
"No, Babe. Kata Dokter, kandunganmu lemah. Aku tidak mau ambil resiko."
"Dokter sebelumnya juga bilang begitu."
__ADS_1
"Siapa?"
"Waktu aku hamil Jenan dulu."
Jean menggangguk paham.
Jika dipikir lagi, pantas saja belakangan ini sikap Joanna berubah aneh.
Hormon ibu hamil kadang tidak menentu.
Apalagi Joanna tipikal wanita moodian.
Mudah marah, mudah tertawa dan menangis di beberapa kesempatan.
"Ayo kita bercinta nanti malam, Je." rengeknya.
"Tapi–"
"Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya aku mau bercinta, titik!"
Jean langsung membungkam mulut cerewet itu dengan sebuah ciuman lembut namun terkesan menuntut.
Mencecap rasa manis dari bibir yang selalu mengatakan banyak hal jika keduanya sedang melakukan pillow talk.
"Aku akan melakukannya dengan lembut." ucap Jean setelah mengakhiri ciuman mereka.
Menarik jemari lentik itu untuk digenggam.
Terlihat pas dan hangat.
Joanna menyukainya, sangat.
Mereka menyusuri sepanjang tepi pantai. Hanya ada mereka sebab Jean tidak ingin quality time-nya bersama Joanna ada yang menggangu.
Jadi sebisa mungkin, Sean mencarikan tempat yang cocok sesuai keinginan Bos Besarnya agar bisa menikmati bulan madu yang menyenangkan dengan Istri tercintanya.
Saat Jean fokus memperhatikan Joanna yang sedang bermain di dekat terumbu karang, ponsel pria itu berdering.
Jean lupa jika seharusnya benda persegi itu ditinggal saja di kamar.
"Apa kamu lupa dengan ucapanku sebelumnya, Sean?"
"Maaf, Pak Jean. Tapi ini mendesak."
"Kuharap ini penting!"
Dan Sean pun mulai menjelaskan masalah yang sedang dihadapi, namun saat Sean ingin menyampaikan bagian paling penting, suara teriakan Joanna terdengar begitu nyaring.
"AHK! JEAN! JEAN! TOLONG AKU, SAKIT— AHK!!"
Hingga Jean berniat mengakhiri panggilan itu.
"Apapun keputusan yang kamu ambil, itu yang akan menjadi keputusanku juga, Sean."
"Tapi Pak Jean, se—"
"Oh sial! Sean! Kututup dulu teleponnya! Istriku dalam bahaya."
Iya. Sean juga mendengar teriakan Joanna di seberang sana.
Entah apa yang sedang terjadi namun Sean berharap, itu bukan sesuatu yang buruk.
"Keputusankan adalah keputusan Pak Jean juga, fix!"
...••••...
Kedatangan Tuan Dery disambut baik oleh Kalandra.
Pria itu menyempatkan diri menemui Cucu kesayangannya setelah pulang kerja.
"Kakek, kenapa Uncle Li tidak ikut? Je 'kan rindu Uncle Li juga."
Wajah menggemaskan bocah itu selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Tuan Dery.
Jika saja dirinya tidak mudah kelelahan, mungkin Tuan Dery akan meminta Jenan dan Kalandra menginap di kediaman Percy selama Jean dan Joanna pergi.
Tidak peduli jika Joanna melarang, Tuan Dery tetap akan melakukannya.
Apalagi akhir-akhir ini, dadanya sering kambuh, terasa sesak.
"Besok Uncle Li akan Kakek suruh ke sini."
__ADS_1
"Yeay! Kakek yang terbaik ..."
Jenan melepaskan pelukannya dari Tuan Dery, "Je mau menunjukkan sesuatu. Apa Kakek mau lihat?"
"Pasti mau pamer hasil lukisan kemarin." sahut Kalandra dari arah belakang.
Wanita itu meletakkan secangkir teh hangat dan camilan untuk Tuan Dery, "Maaf lama, Om. Diminum dulu tehnya."
"Sini, Kek. Biar Je bantu."
Padahal Tuan Dery bisa mengambil sendiri namun Jenan justru mengambilkan cangkir itu lebih dulu.
Kernyitan pada dahi tuanya mengundang kecurigaan Kalandra yang semenjak tadi tidak mengalihkan atensinya dari Tuan Dery.
"Om, baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"
Bagi Kalandra, Tuan Dery sudah dianggap seperti Ayahnya sendiri saat Kalandra jauh dari keluarganya di Amerika, pria itu juga memperlakukan Kalandra sama baiknya dengan Joanna.
"Jangan berlebihan. Aku baik-baik saja, Kal."
Bohong.
Padahal hal seperti ini sering terjadi. Apalagi saat Tuan Dery sedang sibuk bekerja hingga melewatkan jam makan siangnya di kantor dan berakhir kelelahan.
Tuan Dery memiliki riwayat penyakit jantung jika kalian lupa.
"Kakek jangan sakit. Je sedih lihatnya."
Pelukan kedua lengan kecil itu menyentuh hati Tuan Dery dan Kalandra.
Begitu besarnya rasa sayang Jenan pada sang Kakek.
"Kakek tidak apa-apa, Nak. Kakek sehat, lihat! Kakek masih kuat menggendongmu."
Kalandra ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Mengingat kembali saat pertama kali keduanya bertemu.
Saat itu Jenan masih bayi, belum mengerti situasi yang terjadi kala itu bahwa Kakeknya sangat marah setelah tahu Joanna hamil diluar nikah.
Tapi semua telah berlalu.
Keluarga mereka sudah bahagia sekarang.
"Om Dery?"
Jordan terkejut melihat kedatangan Ayah Joanna di sini.
"Karena Jordan sudah datang, Om pamit pulang dulu."
Tak lupa, ia juga berpamitan pada Jenan yang tampak tidak rela melepasnya pergi.
"Temani Je di sini, Kek."
"Lusa Kakek akan menemui lagi ..."
Usapan lembut di pucuk kepala Jenan menjadi penutup perjumpaan mereka, "Dan menginap juga, bersama Uncle Lian, bagaimana?"
"Benarkah?" tanya Jenan sangat antusias.
Mengundang kekehan ringan dari Kalandra dan Jordan.
"Iya, Sayang. Kakek sudah janji padamu."
"Yeay! Berarti rumah Je akan ramai. Ada Uncle Jordan, Aunty Kala terus ... Kakek dan Uncle Li juga ada di sini, menemani Je, yeay!"
"Lucu sekali keponakan Uncle ini. Eum, maaf, Om ... Kenapa harus buru-buru pulang?"
"Aku masih ada urusan lain. Seharusnya Joanna tidak menolak orang suruhanku untuk menjaga Jenan dan Kalandra selama kamu tidak di sini."
"Jean sudah menempatkan anak buahnya untuk berjaga di luar selama dua puluh empat jam kok, Om."
"Ah begitu rupanya. Aku jadi tidak usah khawatir."
Melihat Tuan Dery bangkit dari sofa, Kalandra dan Jordan mulai berdiri juga.
"Biar Kala antar sampai depan."
Pria itu hanya mengangguk lalu mencium kening Jenan sekali lagi.
"Hati-hati di jalan ya, Kek. Je sayang Kak Dery."
"Kakek juga sayang padamu. Sampai jumpa Jenan, Jordan, aku pulang dulu."
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!