
1 bulan kemudian ...
Huek! Huek!
Suara itu terdengar dari balik kamar mandi.
Rajendra yang sedang sibuk mengancingkan pakaian langsung tergopoh menggulung lengan kemeja sebatas siku. Berlari membuka pintu dengan kasar sebab takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Sayang, ada apa? Ya Tuhan! Wajahmu pucat sekali. Kita ke Rumah Sakit ya?" tawarnya, menyeka buliran keringat yang keluar dengan tisu yang ada di atas westafel.
Zenda menggeleng pelan, merasakan pusing yang menjalar di kepalanya dengan keringat membasahi pelipis. Bibir yang biasa terpoles liptint merah jambu, tampak pucat dengan kernyitan samar di dahi.
"Kata Mami, kalau mual seperti ini disuruh minum teh mint, Kak .."
Rajendra memegangi kedua bahu Istrinya, menuntunnya keluar lalu merebahkan tubuh Zenda di atas kasur.
"Tehnya ada di laci, Kak." ujar Zenda, meletakkan sebelah tangannya di atas kening, guna menghalau mual yang dirasakan pada perutnya.
Rajendra menatap bingung sebab tidak biasanya Zenda menyimpan kantung teh di dalam laci apalagi di kamar.
Sebuah amplop putih bertuliskan nama salah satu rumah sakit serta dua benda kecil panjang tersimpan rapi di sana.
Well, Rajendra tidak bodoh untuk mengetahui semua benda itu.
"Zenda?"
Tanpa Rajendra sadari, Zenda tersenyum dibalik kelopak matanya yang terpejam.
"I'm pregnant."
"Ya Tuhan, Sayang!"
Pelukan hangat serta ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Zenda dapatkan.
"Ish! Pelan-pelan. Nanti adik bayinya tertekan, Kak."
"Maaf. Sejak kapan?"
"Baca saja hasilnya sendiri"
Iya. Zenda hamil. Usianya masih terlalu muda dan sangat rentan terhadap tekanan sekecil apapun. Jadi pada kehamilan pertamanya, Zenda begitu hati-hati dalam menjaga calon anak mereka.
"Ze, kenapa tidak bilang padaku, hm? Tahu begitu, aku antar kamu periksa."
"Belakangan ini aku sering mual dan hidungku juga jadi senstif sekali mencium bau-bauan, Kak. Lalu pas Mami datang ke Apart kita minggu lalu, aku ceritakan semuanya dan ya, Mami menyuruh Pak Ajun membelikan benda itu." Zenda menunjuk tespek yang berada di tangan Suaminya.
"Pak Ajun sopir Mami?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kenapa apanya, Ze? Pak Ajun 'kan laki-laki? Kenapa tidak menelepon aku saja?" nada bicara Rajendra berubah kesal, sangat kentara jika pria itu sedang merajuk.
"Pak Ajun sudah tua. Kak Rajen cemburu?"
Wajah polos Zenda mampu menghilangkan seluruh emosi Rajendra pada Istrinya.
Tidak tega untuk merajuk lagi saat melihat kondisi Zenda yang seperti ini.
"Bukan begitu, Sayangku. Sudah! Lupakan soal itu. Lain kali bilang saja kalau butuh apa-apa, mengerti?"
"Iya. Kak Rajen cemburu ya?"
Tadinya Rajendra sudah tidak marah namun Zenda terus meledek pria itu hingga ia kembali kesal.
"Dia Anakku dan aku Papanya, Zenda. Jadi seharusnya, momen penting seperti ini, aku yang membelikanmu alat itu bukan laki-laki lain." Rajendra begitu jengkel, hal kecil seperti ini saja perlu dijelaskan rinci.
"No, no! Ralat! Our Baby, Kak Rajen! Dia bukan hanya anak Kak Rajen saja. Dia juga Anakku, kita membuatnya bersama-sama, ingat!"
Wajah masam itu berubah menjadi seulas senyum yang menghiasi masing-masing sudut bibir Rajendra.
Ia mengusak gemas rambut Zenda sebab tidak menyangka, dalam waktu kurang dari sembilan bulan lagi, mereka akan menjadi orangtua.
"Ya, dia anak kita. Kamu juga punya peran penting, membawa dia di sini ..." Rajendra mengusap perut rata Zenda, hingga si empunya terkekeh geli, "Aku akan menjaga kalian. Aku janji, Sayang."
Terakhir— kecupan sayang dikening menjadi penutup pembicaraan mereka.
"Usap-usap lagi, Kak. Adik bayinya suka, hehehe."
...••••...
Satu bulan menjalani hipnoterapi serta perawatan intensif lainnya yang di Inggris, kondisi Fella berangsur membaik.
"Kak."
"Hm, apa?"
"Aku ingin bertemu Jendra dan–"
"Cukup, Fella! Fokus dengan pengobatanmu saja di sini! Kakak lelah, setiap hari harus menghandle perusahaan dan memantau kamu secara bersamaan." sela Shelin dengan cepat. Ia tidak ingin mendengar keluhan apapun dari Adiknya itu soal Rajendra.
Ngomong-ngomong, awal keberangkatan Fella ke Inggris diselingi dengan drama kabur-kaburan setelah Fella tidak sengaja membaca pesan singkat yang dikirim Zenda pada Shelin.
Hingga menyebabkan Fella kabur malam itu juga, padahal besok paginya, Fella dan Shelin ada penerbangan pagi.
Beruntung kala itu, Zenda telah menugaskan setengah lusin anak buah kiriman Ayahnya dan beralasan jika Zenda butuh untuk membantu Ayah Mertuanya di Kebun.
Alasan yang tak masuk akal tapi karena Zenda adalah si bungsu pewaris DS Group, maka apapun akan dituruti oleh Jean, kecuali jika Zenda meminta separuh dari wilayah yang ada di bumi, maaf! Jean tidak bisa membelikan itu.
"Aku belum selesai bicara, Kak." tatapan Fella begitu sendu. Kesedihannya juga melukai hati Shelin yang sangat memahami perasaan sang Adik pada Rajendra.
__ADS_1
Bagaimana pun, mereka pernah bersama sebagai pasangan Kekasih yang hampir menikah.
"Apa hipnoterapi yang dilakukan Dokter Hellen tidak membuat saraf di otakmu sadar juga kalau Rajendra sudah menikah, hah?"
"Kakak lelah, Fella! Tolong kerjasamanya. Kamu di sini juga harus berjuang sembuh supaya bisa mengingat semua ingatanmu yang hilang itu."
"AKU SUDAH INGAT SEMUANYA! BAHKAN PERSELINGKUHAN ITU ... AKU INGAT, KAK SHELIN! TIDAK BISAKAH KAKAK MEMBERIKU KESEMPATAN UNTUK BICARA SEBENTAR?"
Napas Fella mulai tersengal. Gadis itu berteriak histeris dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri dan membuat Shelin panik lalu menekan tombol emergency yang ada di depannya.
"Fella, Fella! Maafkan Kakak, Sayang. Tolong kendalikan emosimu."
"Argh! Sakit! Sakit, Kak!"
Tak lama, Dokter Hellen dan Suster datang. Menyuntikkan cairan bius itu pada selang intravena yang menancap di punggung tangan Fella.
"Tidak apa-apa. Pasien sudah tenang sekarang." kata Dokter Hellen, meminta agar Suster membenarkan letak selimut Fella yang sempat ditendang ke bawah brankarnya.
"Dok, apa Fella bisa sembuh total? Maksud saya, Fella bilang, dia sudah ingat tapi kenapa dia kembali mengamuk lagi, Dok?"
"Mrs. Shelin tenang dulu. Pasien akan baik-baik saja, asal jangan memancing dia secara emosional terlalu berlebih. Perasaannya masih sangat sensitif. Kita perlu memberinya waktu untuk pemulihan."
"I-iya. Maaf! Tadi kami sempat berdebat kecil, maaf."
Mata Shelin berkaca-kaca melihat wajah tirus Fella yang tampak begitu pucat dengan lingkaran di bawah mata yang terlihat mengejek.
Seakan gadis itu mengalami mimpi buruk hingga setiap malam, Fella jarang tidur karena terus memikirkan Rajendra.
"Maafkan Kakak, Fell."
...•••• ...
Menjelang hari pernikahan, Jenanda dan Zeze disibukkan dengan beberapa persiapan.
Meskipun pesta yang digelar cukup sederhana namun tetap membutuh persiapan yang matang agar tidak terjadi miss com.
"Sayang, kamu sedang apa?"
Jenanda melihat calon Istrinya sedang serius menatap layar laptopnya.
"Sayang .."
"Memilih gaun yang dikirim designer langganan Mami, Kak."
"Aku malas kalau fitting harus mencoba beberapa gaun jadi kuminta mereka mengirim samplenya saja." lanjut Zeze.
Jenanda yang tertarik, ikut duduk di sebelah Zeze, memberikan saran untuk gaun yang akan dikenakan pada hari bahagia mereka.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!