
"Aduh, aduh! Pelan, Jean. Sakit, ssh!"
Dengan raut panik, Jean melepas capit kepiting yang menempel dijari Istrinya menggunakan tangan kosong karena Joanna melarangnya untuk memotong capit itu dengan pisau, kasihan.
Ujung jari Joanna mengeluarkan darah.
Tanpa rasa jijik, Jean menyesap darah itu sampai berhenti.
"Sudah, Je."
"Lain kali hati-hati. Untung lukanya tidak dalam. Kalau dalam lalu infeksi, bagaimana? Joanna, kamu ceroboh sekali."
"Iya, iya, ish cerewet!"
Mendengar hal itu, Joanna kembali dalam mode merajuk. Meninggalkan Jean yang hanya bisa menghela napas, mengikutinya dari belakang.
Sesekali Joanna meringis karena merasakan perih diujung jarinya.
"Mau soto ayam ..."
Jean masih diam mendengarkan.
"Mau es kelapa muda juga, tapi mau rujak mangga ..."
"Eh makan cumi bakar enak juga, haha."
Lihat?
Bagaimana perubahan suasana hati Joanna begitu cepat hingga Jean memutuskan menyuruh salah seorang pelayan vila menyiapkan apa yang diucapkan Joanna barusan.
"MAU PERMEN KAPAS!" teriak Joanna sendiri.
Sebab Jean benar-benar membiarkan Joanna mengekspresikan apapun yang dirasakannya saat ini.
Mengingat wanita itu sedang hamil dan ibu hamil tidak boleh stres karena bisa mempengaruhi janinnya.
Sebelumnya Jean tidak sempat menemani Joanna ketika melewati masa itu bersama si sulung Jenanda dan momen ini akan menjadi pengalaman pertama bagi Jean mengurus wanita hamil, yang sayangnya sangat menyebalkan menurut Jean, haha.
...(PENJAGA VILA)...
Arjean
Istriku mau permen kapas juga. Tolong siapkan.
^^^Pak Kun^^^
^^^Baik, Tuan.^^^
Arjean
Warna biru dan putih, jangan lupa!
^^^Pak Kun^^^
^^^Siap, laksanakan!^^^
Joanna menoleh ke belakang dan mendapati Suaminya sibuk dengan ponselnya.
"Orang zaman sekarang itu aneh ..."
"Katanya rindu, ingin berkumpul bersama, menghabiskan waktu bersama tapi giliran bertemu ... Eh sibuk dengan dunianya sendiri!"
"Ya maklumlah, aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bisnisnya yang berharga jutaan dollar itu, cih!"
Mulut Joanna tak berhenti menyindir Jean yang kini sudah mengantongi ponselnya lagi.
Berjalan semakin mendekat dengan langkah berbahaya namun Joanna yang merajuk tidak berpikir jika Suaminya sedang merencanakan sesuatu.
"Lepas! Aku mau jalan-jalan sendiri."
"Matahari sudah semakin tinggi. Kamu lupa memakai sunblok sebelum ke sini, ayo kembali ke Vila."
"Memangnya kenapa kalau tidak pakai sunblok? Kamu takut kulitku menghitam? Lalu kalau sudah menghitam, kamu tidak suka? Begitu?"
Sekali lagi, Jean tidak tersinggung apalagi marah mendengar nada jengkel dari mulut Istrinya tersebut.
Justru pria itu menautkan sebelah tangan mereka hingga membuat Joanna tertegun beberapa saat.
"Lepas, Jean! Kamu tidak dengar?"
"Sudah mengomelnya?"
"Tsk! Menyebalkan!"
__ADS_1
"Iya, i love you too, Babe."
Joanna semakin kesal.
"Aku bilang, kamu menyebalkan, Arjean! Kamu m-e-n-y-e-b-a-l-k-a-n!
Sengaja.
Joanna mengeja kalimat terakhir. Padahal Jean tidak melakukan apapun namun Joanna tiba-tiba merajuk tidak jelas.
Dasar ibu-ibu labil.
...••••...
"Jadi kapan aku bisa mulai bekerja di kantor ini?"
Sean terlalu malas menanggapi wanita yang berdiri di depan mejanya itu.
Setelah percakapan singkatnya dengan si Bos, Sean memikirkan ulang tentang posisi yang dibutuhkan di perusahaan ini.
Sebenarnya kantor cabang juga butuh tapi lebih urgent kantor pusat.
Karena mendadak, Luna memberikan surat pengunduran diri tepat saat jadwal interview di kantor berlangsung.
"Maaf, Nona. Anda bisa kembali datang lima hari lagi."
"Lima hari?"
"Ya. CEO kami sedang cuti dan baru bisa kembali setelah lima hari, maaf."
Tak kehabisan akal, wanita itu mencodongkan wajahnya hingga reflek Sean mundur ke belakang.
"Nona, an–"
"Lihat baik-baik wajahku, Tuan Sean!"
Kedua tangan wanita itu bertumpu di meja kerja Sean.
"Saya tahu. Untuk itu, saya mempertimbangkan lagi keputusan saya supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, maaf."
Tahan, tahan.
Wanita itu tersenyum remeh.
"Nona, tolong jangan mengganggu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini."
Brak!
Wanita itu mulai kehilangan kesabaran mendengar ucapan Sean yang sok itu.
"Kamu pikir aku tidak sibuk?"
"Bangun pagi-pagi, menyiapkan banyak hal, termasuk memakai make up supaya penampilanku terlihat sempurna saat interview di kantor ini, hah!"
"Nona, tolong kendalikan diri anda!"
"Halah! Mau kuvideokan mukamu itu supaya kamu viral karena sudah mempersulit orang yang sedang membutuhkan pekerjaan, begitu?"
Wanita itu mengambil ponselnya dan benar-benar melakukan sesuai dengan ucapannya barusan.
Cekrek!
Ia berhasil mengambil gambar Sean yang sedang menatap tajam ke arahnya.
Lalu mengubah mode kamera menjadi video, "Lihat pria ini!"
Sret!
Brak!
"KENAPA KAMU MEMBANTING PONSELKU, SIALAN?"
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda, silahkan keluar dari kantor ini sekarang."
"SETELAH MERUSAK PONSELKU, KAMU MENGUSIRKU? HAHA! LUCU SEKALI! PERUSAHAAN SEBESAR DS GROUP MEMILIKI PEGAWAI JAHAT SEPERTIMU."
"Urusan ponsel akan saya ganti. Tinggalkan alamat rumah anda lalu paket kiriman ponsel baru akan tiba sebelum sore ..."
Sean menekan tombol pada teleponnya.
"Minta dua security untuk naik ke lantai sepuluh. Bereskan keka–"
Brak!
__ADS_1
Srek!
Tiba-tiba saja wanita itu kembali berulah.
Merusak beberapa kancing kemejanya hingga memperlihatkan bra berwarna maroon yang ia kenakan dan membuat Sean langsung memalingkan wajahnya ke samping, malu dengan kelakuan wanita tersebut.
"Lihat saja! Siapa yang akan dirugikan setelah ini." ancamnya.
Kemudian mengacak surai brunettenya serta lipstik di bibirnya pun juga menjadi sasaran wanita itu.
"Tolong, hks! Tolong aku, Bapak-bapak."
Kedua security itu menelan ludah kasar saat melihat pemandangan yang menyegarkan terpampang di depan mata.
Wanita itu pura-pura menangis dan mengatakan jika Sean melecehkan dirinya ketika ingin pergi.
Memaksa dirinya untuk melayani pria itu.
"Sudah dramanya?"
"Pak Sean, maaf. Itu–"
Sean melemparkan jaket miliknya yang selalu disimpan di laci mejanya pada si wanita.
"Pakai itu untuk menutupi tubuhmu."
"K-kamu .."
"Bawa dia keluar!"
Tanpa bantahan lagi, dua petugas keamanan tersebut menyeret paksa wanita itu yang terus meronta, meminta dilepaskan.
Akting yang bagus! Hanya perlu menunggu waktu itu tiba
...••••...
Mata Joanna berbinar ketika memandang banyak makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Tidak sabar untuk segera menghabiskan semua itu meskipun Joanna tidak yakin, perutnya akan sanggup melahap habis makanan yang begitu menggunggah selera.
Huek!
Baru saja Joanna merasa senang karena makanan yang ia inginkan diantar oleh salah satu pelayan.
Huek!
Joanna menutup mulut dan menyuruh pelayan tadi membawa kembali mangkok berisi kuah soto.
"Maaf, tapi bisa kamu bawa pergi makanan itu. Aku— huek! Maaf!"
Joanna berlari menuju westafel yang tak jauh dari meja makannya.
Dengan sabar, Jean mengurut tengkuk Istrinya.
"Katamu ingin makan soto ayam."
"Iya, tapi aku tidak suka. Bau!"
Jean menghela napas pelan, "Mau makan apa sekarang?"
Mata Joanna bergulir, menatap beberapa makanan yang tidak berbau dan menimbulkan mual saat mencium aromanya.
"Itu. Aku mau makan itu saja, Jean."
"Kamu harus makan nasi dulu, Sayangku. Baru setelah itu kamu boleh makan rujak dan yang lainnya."
Tatapan Joanna berubah sendu.
Jean jadi tidak tega melihat Istrinya seperti ini.
"Boleh ya, Je?"
"Tidak akan kuhabiskan sendirian, kita makan bersama ya, janji?" Joanna masih bernegosiasi agar Jean mengizinkan dirinya memakan cumi bakar tanpa nasi.
"Hm, kali ini kubiarkan. Ayo kembali ke meja makan."
Senyum Joanna mengembang, kemudian mengapit lengan Jean dan bergelayut manja hingga Jean tidak tahan untuk mengusap sayang pucuk kepala Istrinya.
Joanna dan kehamilannya itu memang sesuatu.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1