
**TOLONG BACA NOTE INI YA!*
Hai! Apa kabar? Ada yg masih nunggu cerita inikah? Kalo iya, maaf bru sempet update krn kesibukan di RL slma dua minggu ini ..
FYI! Kalo cerita ini udah sya revisi ulang keseluruhannya dari chapt awal smpe akhir. Buat pmbca lama, ga perlu bca ulang dri awal lg kok, alur ttep sama cuma ada bbrpa part yg sya ganti/hapus dan itu SAMA SEKALI ga brpengaruh dgn yg kalian bca di cerita versi lama, intinya sama deh wkwk, mungkin di chapt 31-33 sya revisi total isinya, kalo mau bca ulang gpp, kalo lngsung baca di chapt ini, jg gpp. Sekali lg revisinya ga berpengaruh sma alur cerita ini cuma diksinya aja yg sya prbaiki krn kurang sreg, hehe ...
Mulai besok bakal rajin UP lg ya cerita ini, ditunggu aja.
Selamat membaca!
•
...••••...
Rosa meletakkan barang belanjaannya dengan hati-hati.
Jangan sampai ada yang lecet apalagi botol-botol SK-II berisi cairan ajaib itu pecah.
Bisa nangis tujuh hari tujuh malam Rosa nanti.
"Hai! Apa kabar? Lama tidak bertemu?"
Teringat akan pertemuannya dengan seseorang yang pernah ditemuinya dulu.
Tak banyak yang berubah dari penampilannya.
Hanya rambut wanita itu saja yang dipotong pendek di atas bahu dan dicat warna hitam pekat.
"Hm, seperti yang kamu lihat! Aku baik-baik saja!"
"Kupikir, kamu sudah lupa. Waktu itu, kita belum sempat berkenalan ..."
Dia mengulurkan sebelah tangannya, "Namaku Alena George."
Rosa membalas dengan anggukan kepala tanpa menyebutkan namanya lagi.
"Jadi mau makan siang bersama? Kebetulan di dekat sini ada Cafe yang baru buka."
Alena tersenyum kecil, "Tenang! Aku yang traktir, ayo!"
Tidak perlu berpikir lama. Jika dibayari, siapapun tidak akan menolak, apalagi menyangkut urusan perut.
...••••...
Keesokan harinya, rumah Joanna tidak terasa sepi lagi sejak kedatangan Jordan dan Kalandra.
Yang langsung datang setelah mendapat kabar jika si kecil sakit.
"MAMI!"
Semua mata mengarah pada sosok Jenan yang tersenyum lebar dengan mengenakan pajama bergambar sapi serta rambut acak-acakan khas orang bangun tidur.
"Sayang— heh! Jangan lari, astaga! Pelan-pelan."
Joanna merentangkan kedua tangan untuk menyambut Jenan yang duduk di pangkuannya.
"Kenapa sudah bangun? Ini masih jam sepuluh, Sayang."
"Je sudah sembuh. Lihat!"
Bocah itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang lepas satu pada bagian depannya, "Perut Je tidak sakit lagi, Mami. Je juga sudah tidak demam, ayo pegang!"
Jemari kecilnya menarik tangan Joanna agar menyentuh keningnya.
Benar.
Jenan sudah tidak demam lagi. Suhu tubuhnya kembali normal.
Padahal semalam, Jenan mengeluh kedinginan hingga membuat orangtuanya khawatir dan berniat membawa Jenan ke rumah sakit meski sebelumnya, pagi sampai siang Jenan terlihat baik-baik saja kemarin.
Hanya bermasalah pada perutnya saja.
"Iya, Je tidak demam lagi."
"Yeay! Berarti hari ini kita jadi pergi ke taman ya? Je ingin melukis angsa yang ada di kolam taman, Mi." Tatapan matanya penuh harap.
"Sekalian Je mau piknik. Mumpung ada Uncle Jordan dan Aunty Kala." lanjutnya.
"Kemari, Jagoan! Biar Uncle periksa dulu."
Jenan tersenyum melihat Jordan mendekapnya kemudian melakukan hal yang tadi dilakukan Joanna padanya.
"Wah, benar! Jenan sudah sembuh ..."
Mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya, "Ini untuk Jenan."
__ADS_1
Coklat.
Kalandra yang duduk di samping Jordan, meninju lengan pria itu pelan.
"Jenan baru sembuh dari sakit perutnya dan kamu malah memberi dia coklat? Dasar sin— tidak jadi! Joanna! Lihat kelakuan si Titan ini!"
"Kenapa Aunty? Je tidak boleh makan coklat lagi?"
Wajah sedih Jenan membuat Kalandra justru tersenyum gemas saat bibir yang menduplikat milik Jean itu mengerecut ke depan.
Kalandra mengambil alih tubuh si kecil. Memangku Jenan sembari membuka bungkus coklat lalu mengambil sedikit pada bagian ujung.
"Boleh. Tapi sedikit saja ya? Je 'kan baru sembuh."
"Lain kali bawakan makanan atau buah-buahan yang lebih menyehatkan untuk Keponakanku, dasar Titan!"
"Kalandra benar, Jor. Aku takut Jenan diare lagi tapi terimakasih untuk coklatnya."
Jordan menjulurkan lidah ke arah Kalandra yang tampak tidak senang mendengar kalimat terakhir Joanna barusan.
"Sama-sama. Memang kalau yang bicara bidadari itu berbeda. Lembut dan—"
"Dan apa, Jordan?"
Sial.
Suara berat itu?
Jordan nyengir kuda. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melihat Jean menatap tajam padanya.
"Hehe, bukan apa-apa. Sini, biar kubantu!" ujar Jordan mengambil satu kantong yang dibawa oleh Jean.
Pria itu menenteng dua kantong besar di masing-masing tangannya.
"PAPI!"
Jenan yang melihat kedatangan Ayahnya langsung berlarian menghampiri.
"Hey, hey! Jangan lari, Nak!"
Jenan tersenyum kelewat manis.
Kemudian membongkar isi dari kantong belanja yang dibawa Jean.
Senyumnya mengembang setelah menemukan benda yang dicari.
Jean ikut tersenyum melihat Anaknya yang kembali ceria lagi seperti sebelumnya.
Itu berarti, acara bulan madunya dan Joanna bisa terlaksana besok.
"Kok Papi tahu kalau cat punya Je habis?"
"Mami yang beritahu Papi, Sayangku."
Joanna menghampiri mereka, mengambil satu kantong besar berisi bahan makanan untuk mengisi ruang kosong di kulkasnya.
Meninggalkan Jordan dan Kalandra yang mulai meributkan sesuatu di sofa sana.
Pokoknya Jean dan Joanna berusaha memenuhi kebutuhan dapur supaya Jenan dan dua makhluk tak tahu diri itu merasa nyaman selama mereka tidak ada.
Membeli camilan ekstra karena rencananya Kalandra akan menginap di sini selama satu minggu, mengubah rencana awal yang ingin mengajak Jenan tinggal di Apartemennya.
Serta Joanna juga sengaja memperkerjakan Maid dari pagi hingga sore di hari senin sampai jum'at saja. Sebab tidak ingin family time mereka diganggu saat akhir pekan.
Mereka bisa berbagi tugas untuk membereskan rumah.
"Jordan! Hentikan! Itu menjijikkan, bodoh!"
"Cih! Berlebihan! Apanya yang menjijikkan? Kamu tidak pernah berciuman, huh?"
"Oh ya? Lupa! Kamu 'kan jomblo, haha!" ejek Jordan lagi.
Bagaimana Kalandra tidak mengernyit jijik melihat kelakuan pria Titan itu.
Jordan mengecup dan menjilati seluruh bagian mulut botol dengan gerakan melingkar.
"JORDAN!"
"Ya Tuhan! Lindungi telingaku dari suara cemprengnya!" ucap Jordan sembari mengelus dada dan telinganya.
Berlebihan, memang.
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Pukulan demi pukulan dilayangkan Kalandra pada Jordan yang berlarian, berusaha menghindari amukan wanita itu.
Sementara Jean sudah mengajak Jenan ke kamar untuk bersiap-siap sebelum pergi.
Siang ini mereka ingin jalan-jalan ke Taman dekat komplek, sekalian menemani Jenan melukis.
Lalu Joanna?
Sibuk menata ulang kulkasnya dan mengisi bagian yang kosong.
Sesekali ia menggigit bibirnya saat melihat adegan kekerasan yang dilakukan kedua Sahabatnya di sofa.
"Ahk! Sakit, sakit! Ampun, Kal! Iya, aku janji tidak jorok lagi, ahk!"
Kebetulan, jarak dapur dan ruang keluarga cukup dekat, hanya di sekat oleh meja panjang dan kursi tinggi untuk duduk di depan counter.
Bugh!
Bugh!
"Rasakan! Makanya jangan jorok— JORDAN!"
Pemandangan ambigu itu tak luput dari tatapan Joanna yang terkejut ketika Jordan mengungkung tubuh Kalandra si atas sofa.
Mengunci pergerakan kedua tangan Kalandra di atas kepala wanita itu.
"Kena kau!" Jordan menyeringai licik.
Dugh!
"Kena juga kau, wlee!" balas Kalandra ketika berhasil meloloskan diri dari kungkungan pria itu.
Jordan mengusap-usap keningnya yang sengaja diadu dengan kening Kalandra.
"Joanna .." mulainya merengek.
Setelah puas bertengkar dengan Jordan, kini Kalandra mengganggu Joanna yang tampak sibuk membuka segel minuman kemasan dan beberapa kotak susu untuk Jenan.
"Apa? Sudah sana! Temani Jordan."
"Tidak mau."
Mendadak pipi Kalandra memanas saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Saat tubuh jangkung itu menindihnya.
"Ish! Amit-amit! Jangan sampai, Kalandra."
Melihat bibir Kalandra komat-kamit tidak jelas, Joanna tertawa kecil.
"Dulu aku dan Jean juga seperti itu ..."
Meski bibirnya bersuara namun tangan dan mata Joanna tetap fokus menata kulkas.
Sesekali ia berdecak kesal ketika Kalandra justru diam membatu sambil membuka satu snack kentang hingga remahan kecilnya berjatuhan mengotori lantai.
"Suka bertengkar tidak jelas meskipun sebenarnya hanya aku yang bersikap ketus pada Jean tapi akhirnya, Jean bisa membuatku jatuh cinta padanya."
"Tidak! Kalian itu berbeda. Tidak seperti kita."
Lihat?
Wajah Kalandra bersemu merah lagi. Menyebut dirinya dan Jordan sebagai kita. Padahal itu hanya sebuah kata ganti orang pertama jamak namun berhasil membuat kedua pipinya memanas.
Joanna terkekeh.
Memunguti sampah plastik bekas kemasan makanan yang sudah selesai dimasukkan ke dalam kulkas.
"Jean dan Jordan itu sejenis. Bahkan mereka bersahabat sejak lama, sama seperti kita. Pasti sifat dan sikapnya juga tidak jauh berbeda, Kal. Kecuali soal urusan wanita, aku akui ... Jean agak payah." bisik Joanna di akhir kalimat. Takut seseorang yang dimaksud tiba-tiba muncul.
Sementara di kamar Jenan ..
Berulang kali bocah itu memperhatikan ekspresi Ayahnya yang mengernyitkan dahi, seolah menahan sesuatu.
"Papi, kenapa?"
"Tidak tahu, Sayang ..."
Mata Jean juga berkedut beberapa kali, "Lidah Papi tergigit terus padahal Papi tidak mengunyah apapun."
Jenan mengendikkan bahu. Memakai pakaiannya dengan cepat agar bisa segera pergi jalan-jalan.
Biasanya kalau tiba-tiba lidah tergigit, itu sebuah pertanda jika ada yang sedang membicarakanmu secara diam-diam.
Tapi siapa? Tidak mungkin mereka membicarakan aku 'kan?
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!