Our Baby!

Our Baby!
SELINGKUH(?)


__ADS_3

Satu bulan kemudian ...


Sikap Joanna semakin menyebalkan hingga Jean terpaksa mengabaikan panggilan dan pesan Joanna setiap pukul sembilan pagi ke atas.


"Pak Jean, maaf mengganggu. Soal rapat dengan Mr. Ajino dari Jepang apa bisa dimulai sekarang?"


"Rapat dengan Mr. Ajino?"


Aku lupa!


"Ya, Pak. Salah satu investor yang ingin membahas perkembangan proyek kita di Malang."


Jean mengurut pangkal hidungnya sebentar. Melepas kacamata baca yang bertengger di sana karena tidak ingat dengan jadwal pertemuan itu saking banyaknya yang harus diurus.


"Pak Jean?"


"Lima belas menit kita temui dia."


Tidak perlu mengulang ucapannya lagi, Sean cukup mengerti masalah yang dihadapi Bos Besarnya akhir-akhir ini.


Apalagi kalau bukan tentang Joanna dan Jenan.


Iya. Selain kehamilan anak kedua mereka, kini Jenan juga disibukkan mengikuti lomba melukis tingkat kota.


Yang mana acara itu diadakan di salah satu gedung yang ada di kota Bogor, bertepatan itu— Jean sibuk. Satu minggu sekali harus bolak-balik ke Malang untuk memantau langsung pembangunan hotel di sana yang sempat tertunda.


Lalu Tuan David?


Pria itu memutuskan tinggal di Connecticut karena Hazel memberitahu jika ada masalah lagi yang terjadi di sana hingga Tuan David harus turun tangan langsung membereskan masalah itu.


Dan membiarkan Jean tetap mengurus perusahaan mereka di Indonesia, apalagi saat ini Joanna sedang hamil muda.


Jean tidak mungkin meninggalkan wanita itu sendirian.


Ting!


Suara ponsel Jean mengalihkan atensi.


...Peachie🦑...


^^^Peachie🦑^^^


^^^Bagus! Baru aktif nomornya!^^^


^^^Peachie🦑^^^


^^^Kamu pasti sedang selingkuh dengan sekretaris barumu itu 'kan? Ngaku!^^^


^^^Peachie🦑^^^


^^^Jean, balas pesanku!^^^


^^^Kenapa hanya dibaca saja, ish!^^^


^^^Okay! Lanjutkan!^^^


^^^Tapi jangan kaget kalau nanti aku juga melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan, lihat saja!^^^


^^^read!^^^


Jean benar-benar hanya membaca pesan itu tanpa mau membalas. Tak habis pikir dengan tingkah Istrinya tersebut.


Karena bukan hanya sekali ini Joanna mengirimkan banyak pesan aneh padanya.


Padahal mereka baru berpisah satu jam yang lalu dan pesan yang dikirim Joanna sungguh tidak penting menurutnya.


Seperti pesan sebelum itu, Joanna bertanya dirinya sedang apa dan kapan pulang?


Bukankah tanpa Jean memberitahu, Joanna sudah tahu jawabannya?


Cklek!


Pintu ruangan kembali terbuka.


"Pak, sudah waktunya."


"Siapkan berkasnya. Kita berangkat sekarang!"


"Baik, Pak."


...••••...


Mereka berada di Restauran yang tak jauh dari kantor Jean.


"Kalau bisa, gunakan material dengan kualitas bagus. Tambahkan beberapa ornamen yang bisa me—"


Ucapan Mr. Ajino terhenti saat ponsel Jean berdering.

__ADS_1


Sial! Aku lupa silent!


"Maaf, boleh saya menjawab telepon sebentar?"


"Sure. Silahkan, Mr. Soenser."


Beruntung Jean memiliki investor yang sangat mengerti tentang keadaannya sekarang.


"Aku cuma mau bilang kalau hari ini Jenan kudaftarkan les piano. Mungkin kami juga akan mampir ke Swalayan untuk belanja mingguan."


"Hm, apa sudah selesai?"


"Jean, kamu keterlaluan sekali!"


Nada suara Joanna berubah serak.


Jean tebak, pasti Joanna menahan tangisnya, lagi.


"Sayangku, cintaku, Joanna ... Tolong mengerti ya? Aku sedang rapat dengan Mr. Ajino, jadi–"


Pip!


Panggilan dimatikan sepihak oleh Joanna.


Hembusan napas Jean terdengar.


Pria itu kembali bergabung lalu melanjutkan pembicaraan yang tertunda.


Soal Joanna biar diurus nanti.


...••••...


"ABCDEFG ... HIJKL— Mami!"


Jenan memekik senang saat Joanna membawakan pudding strawberry dan brownies kukus kesukaannya.


"Je sedang apa?"


"Latihan vokal, Mi! Kan mulai besok Je akan les piano dengan Mrs. Katarina, sekalian gitu, hihihi."


"Bagus! Lalu tugas menggambar Je bertema satwa sudah jadi belum?"


Jenan menepuk jidatnya pelan. Meletakkan kembali potongan brownies yang sudah digigit sedikit di atas piring lalu berlari menuju kamar.


"Anak itu astaga."


"Sini, sini. Mami bantu."


Joanna memeriksa hasil lukisan si kecil dengan tatapan bangga.


"Wah! Ada peningkatan! Je memang anak Mami yang terbaik." ucap Joanna seraya mengacungkan dua jempolnya.


Dan Jenan membalas dengan sebuah pelukan hangat.


"Mi, kapan adik bayinya keluar? Je sudah tidak sabar."


"Tunggu delapan bulan lagi, Sayang."


"Yaaah, kenapa lama sekali?" Jenan mengerucutkan bibirnya.


Tangan kecil itu mengusap lembut perut Joanna yang masih rata.


"Adik bayi, doakan Kakak ya supaya bisa menang lomba dan bawa banyak piala ..."


"Kakak tidak sabar menunggu kamu keluar, cepat besar ya! Jangan nakal di dalam perut Mami, hihihi."


Joanna mengusap kepala Jenan dengan tatapan penuh kasih sayang.


Meskipun akhir-akhir ini suasana hatinya up and down, namun Joanna tak menepis bahwa dirinya begitu bahagia atas karunia yang diberikan oleh Tuhan pada keluarga kecilnya.


Mengingat dulu saat Joanna hamil si sulung, Jean tak berada di sampingnya, membuat Joanna meringis, mengusap perutnya sendiri.


"Mami kenapa?"


Jenan memperhatikan Ibunya yang sedang melamun.


"Mami sedih ya? Papi kok belum pulang? Apa Je–"


Mereka menoleh ke arah pintu yang terbuka, menampilkan Jean yang tersenyum manis seraya merentangkan kedua tangannya menyambut si kecil.


"PAPI!"


"Halo, Jagoan! Bagaimana hari ini, hm?"


"Semua baik, Pi. Ayo! Mami sedang sedih, Pi. Kasihan!"


Ya ampun, Joanna! Hampir saja lupa.

__ADS_1


"Sayang .."


Joanna melenggang pergi setelah mengambil kantong yang dibawa Jean menuju dapur.


"Mamimu kenapa, Jenan?"


"Tidak tahu! Tadi Je dan Mami bercerita soal adik bayi tapi tiba-tiba Mami sedih, Pi."


Jean mengusap pelan pipi Anaknya.


"Je lanjut belajar sendiri dulu ya? Papi mau ngomong sebentar sama Mami, boleh?"


Karena Jenan anak penurut, jadi ia mengangguk patuh.


Melanjutkan tes vokal lagi sebab besok hari pertamanya terjun ke dunia musik.


Maksudnya selain seni melukis, Jenan juga ingin mengasah kemampuannya yang lain dibidang musik supaya kemampuan Jenan tidak monoton dan lebih berkembang lagi.


"Sayang ..."


Hening.


Joanna pura-pura tidak mendengar.


Sebuah lengan kekar melingkari perutnya yang masih rata. Memberi usapan lembut hingga Joanna menghentikan pergerakannya.


"Lusa jam tujuh, aku dan Jenan ke Bogor untuk datang ke lomba melukis itu."


Lusa berarti hari Jum'at dan bertepatan itu, Jean akan pergi ke Malang bersama Sean.


"Kenapa diam? Tidak bisa ikut?"


"Bisa. Siapa bilang aku tidak bisa menemani kalian, hm?"


Dengan sekali sentak, Jean membalik tubuh Istrinya.


Joanna tidak menolak meski hatinya masih kesal atas sikap acuh Jean padanya.


Jempol dan telunjuk Jean mengapit dagu si cantik lalu pandangan mereka bertemu.


"Maaf untuk yang tadi pagi."


Chup!


"Aku tidak pernah bermaksud mengabaikan semua pesanmu."


Chup!


"Tapi kamu juga harus mengerti, aku di kantor sedang bekerja bukan selingkuh seperti yang kamu tuduhkan padaku ..."


Jean hendak mencium bibir Joanna lagi namun Joanna menahan bibir Suaminya dengan telapak tangan.


"Bawaan bayi! Kamu tidak suka melihatku mengidam, huh?"


Demi Tuhan!


Alasan klise itu selalu dijadikan Joanna sebagai senjata untuk memperdaya Jean hingga pria itu mulai berpikir, apa semua wanita hamil bersikap seperti Istrinya?


Menyebalkan, manja dan aneh!


"Tidak ada yang bilang begitu, Sayangku."


"Secara tidak langsung, kamu iya, Arjean!"


Jean tidak mau perdebatan mereka semakin serius dan menimbulkan pertengkaran diantara mereka.


Jadi pria itu kembali mengalah.


Demi Joannanya.


"Ya sudah. Semua salahku, maaf ya?"


Joanna tak menggubris lagi. Tangannya sibuk memasukkan sayur dan buah pada kotak pendingin.


Dibantu Jean tentunya agar wanita itu tidak merasa kelelahan.


"PAPI, MAMI! APA MASIH LAMA BICARANYA?"


Jean menggaruk tengkuknya ketika mendengar teriakan si kecil yang sepertinya juga minta ditemani oleh dirinya.


Berharap bisa memiliki kesabaran lebih, menikmati perannya sebagai Suami sekaligus Ayah yang baik untuk keluarga kecilnya.


"Sebentar Je, Papi jalan ke situ."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2