Our Baby!

Our Baby!
FELLA


__ADS_3

"Om, maafkan aku. Aku ... Tidak sungguhan mengatakan itu pada Kak Zeze." sesal Sakura.


Namun dalam hati Zeze, permintaan maaf Sakura tidak tulus. Gadis itu terlalu pandai bersandiwara di depan kedua orangtua Jenanda.


"Akibat perbuatanmu, saya malu, Sakura. Video kalian yang sedang bertengkar menjadi viral dimana-dimana. Ini bukan Jepang, jadi siapapun bebas mengambil video tanpa izin."


"Iya, Tante. Aku minta maaf. Tolong jangan marah lagi ya? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." ucapannya memelan di akhir kalimat.


Jean menarik napas dalam sebelum akhirnya menemukan titik terang dari masalah tersebut.


"Sekarang giliranmu, Jenan. Apa kamu memaafkan Sakura dan tetap melanjutkan kerjasamamu dengan Mr. Akeno?" tanya Jean.


Jenanda melirik ke arah Zeze yang menatapnya penuh harap. Seakan ingin Kekasihnya memiliki jawaban yang sama dengan dirinya.


"Iya, Pi. Soal pekerjaan, aku harus tetap profesional. Itu salah satu mimpiku juga."


"Mami tidak akan melarang selama itu baik. Tapi, Mami juga mau ambil bagian, Jenan." kata Joanna, seraya menggenggam tangan Zeze.


Menyadari kekhawatiran Zeze yang terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Maksudnya, Mi?"


"Mami ikut mempersiapkan pameranmu di Jepang. Dan Mami juga ingin bertemu dengan Mr. Akeno. Bagaimana, Nona Sakura? Apa kamu bisa mengatur jadwal pertemuan itu?"


Zeze tersenyum tipis. Menganggumi kepekaan Joanna akan perasaannya yang takut jika Sakura mencuri kesempatan untuk menggoda Jenanda lagi selama mereka di Jepang nanti.


Mendengar perkataan Joanna, Sakura mengangguk pasrah. Sementara Jean dan Jenanda tak bisa mendebat keputusan mutlak yang diambil Joanna.


Sama saja memancing singa betina untuk bangun.


"Oke! Semua masalah sudah clear. Tidak ada yang merasa dirugikan dan kalian harus bersalaman sebagai tanda damai." ujar Jean, mulai berdiri dari sofa.


Ia terpaksa tidak masuk kerja hari ini. Menyerahkan tugas kantor pada si Asisten, Dirla.


"Ayo, kalian harus saling berjabat tangan dan bilang maaf." seru Joanna, menarik tangan Zeze dan Sakura agar mau bersentuhan.


"Tidak perlu sampai seperti, Mami." protes Jenanda.


"Tidak perlu apanya, hm? Di sini yang paling salah itu kamu, Jenan."


"Joanna, hentikan! Masalah ini sudah kuanggap selesai, Sayang."


"Iya. Maaf. Aku tidak bermaksud menyudutkan Putra kita, Jean." Joanna membela diri.


Sementara Sakura dan Zeze sudah kembali melepaskan jabatan tangan mereka. Lebih cepat sebelum Joanna yang memintanya.


"Jam berapa Ayahmu sampai di Bandara, Sakura?" tanya Joanna.


"Harusnya sepuluh menit lagi, Tante."


"Baik. Kalau begitu kita siap-siap dulu. Je, kamu ikut juga ya? Biar mereka bertiga satu mobil."


Jean setuju.


Mereka bergegas menuju Bandara sebelum Mr. Akeno menunggu terlalu lama.


...••••...


"Ze, kamu dicari sama Suamimu. Dia menunggumu di Taman Selatan." ucap salah satu teman sekelas Zeze.


"Hm, terimakasih."


Yolanda menahan Zeze agar tetap tinggal, "Tidak biasanya Kak Rajen datang ke Kampus tapi tidak menghubungimu dulu?"


"Mungkin dia lupa. Sudah, ish! Aku mau menemui Suamiku, Yo. Soalnya dia janji ingin menemui si anak Maba katanya."


"Heh! Serius kamu? Kak Rajen mau melabrak si Fella?" tanya Yolanda, masih menahan lengan Zenda.

__ADS_1


"Iya, Yolanda. Lepas! Aku buru-buru ini."


"Yakin tidak mau aku temani? Takutnya–"


"Kamu pikir aku bocah, kemana-mana harus ditemani?"


"Ya tidak, Ze. Biar aman saja."


Zenda mengendikkan bahu dan berjalan keluar menuju tempat yang disebutkan tadi.


"Kok sepi?"


Matanya berpendar ke sekitar. Tidak menemukan Rajendra sejauh matanya memandang.


Kemudian Zenda hendak mendial nomor Suaminya itu namun dari belakang, seseorang merebut ponselnya dengan kasar.


"YAK! Kembalikan. Kamu— Fella? Sedang apa kamu di sini?"


Gadis bernama Fella itu menyunggingkan smirk.


Membanting ponsel Zenda sampai retak kemudian berjalan maju dan mendorong bahu Zenda sampai terjatuh.


"Apa-apaan kamu, hah?" bentak Zenda, yang langsung berdiri lagi sebab takut Fella akan menendangnya.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan Rajendra, Ze!"


Tangannya terulur mengelus pucuk kepala Zenda namun segera ditepis kasar oleh Zenda.


"Dasar tidak jelas! Siapa kamu sampai berani mengancamku?"


"Kenapa tidak kamu tanyakan saja langsung pada Rajendra? Dia lebih tahu siapa aku dihidupnya."


Kemudian tak lama, Fella melihat siluet Rajendra bersama teman Zenda yang kemarin ada di Kantin.


"Kamu beruntung! Mungkin lain kali, aku bisa melakukan lebih dari yang tadi."


"Zenda!" panggil Yolanda.


Zenda pun menoleh dan mendapati Yolanda datang bersama Suaminya.


"Untunglah kamu baik-baik saja." Yolanda terlihat ketakutan saat mengetahui sosok gadis yang baru saja pergi.


"Kak Rajen? Yolanda? Kenapa kalian bisa datang bersama?" tanya Zenda, bingung.


"Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di sini? Lalu kenapa pesanku tidak dibalas? Aku khawatir, Sayang."


Zenda mengambil ponselnya yang tergeletak di tanah, bahkan layarnya juga sudah retak.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Rajendra.


"Orang gila! Kak, lebih baik kita bicara di Cafe Kakak saja ya?"


Tak ingin melanjutkan pembicaraan itu lagi, Rajendra mengiyakan ajakan Zenda.


"Kamu juga ikut ya, Yo."


"Siap! Dimana ada makanan, di situ pasti ada aku."


Gelak tawa keduanya terdengar bersahutan lalu segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


...••••...


Setelah menunggu hampir satu jam, Zenda dan Yolanda akhirnya bisa mengobrol bersama Rajendra yang tampak kewalahan melayani para pengunjung.


Kebetulan Cafe Rajendra hanya memiliki 2 pegawai, John dan Belle.


"Kak, aku kerja part time di sini boleh tidak? Ya, hitung-hitung untuk bantu Kak Rajen, anggap aku sebagai karyawan cadangan, bagaimana?" Yolanda menawarkan diri, setelah melihat betapa ramainya Cafe miliki Suami Zenda tersebut.

__ADS_1


Jika diperhatikan, pekerjaan menjadi pengantar minuman tidaklah sulit.


"Aku juga, Kak Rajen! Kakak bilang, aku boleh bantu menjadi Kasir bersama si Jhon?" Zenda tak mau kalah juga.


"Kamu yakin?"


"Kenapa?" tanya Zenda balik pada Yolanda.


"Ya kamu 'kan anaknya Pak Arjean Soenser dan Bu Joanna Percy, Zenda. Apa boleh kamu bekerja di tempat seperti ini?"


Zenda melirik Suaminya sebentar sebelum kembali menatap tajam pada Yolanda.


Plak!


"Ish! Sakit, Zenda!" protes Yolanda ketika Zenda memukul lengannya, guna menyadarkan gadis itu akan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.


Zenda takut, Rajendra tersinggung dan berpikir keluarganya itu matrealistis, memandang orang lain hanya sebatas status sosialnya.


Padahal kenyataannya, Jean dan Joanna sama sekali tidak seperti itu orangnya.


"Apa?" Yolanda kembali bertanya dan belum menyadari arti tatapan Zenda pada dirinya.


Tiba-tiba Rajendra tertawa kecil, menjawil hidung Istrinya yang terlihat lucu saat sedang panik.


"Aku tidak akan sakit hati jika itu yang kamu pikirkan, Sayangku." jawab Rajendra sesantai mungkin supaya ketiganya tidak tegang.


"Maaf ya, Kak. Yolanda kalau bicara kadang suka asal. Yo, minta maaf ke Rajen."


"Eh? Kenapa? Apa aku salah bicara?" Yolanda menujuk wajahnya sendiri.


"Menurutmu?"


"Sudah, tidak usah berdebat lagi. Aku serius tidak apa-apa, Sayang." ucap Rajendra. Menarik gelasnya dan menyesap Americano dua shot buatannya sendiri.


"Katamu ingin menceritakan sesuatu?" tanya Rajendra, mengubah topic pembicaraan mereka.


"Aku sempat melihat Fella tadi. Dia ... Tidak mengganggumu 'kan, Ze?"


Karena Yolanda sempat melihat Zenda terduduk di atas tanah namun tidak yakin jika itu perbuatan Fella.


Belum ada bukti.


"Iya. Fella datang dan mendorongku."


Nah, terbukti sekarang!


Bahwa Yolanda tidak salah melihat.


Reaksi berbeda justru terlihat dari raut wajah Rajendra yang kemudian mengepalkan satu tangannya di bawah meja sana.


Jadi benar, Fella nekat mendaftarkan diri di Kampus yang sama dengan Zenda?


Mendapati Rajendra melamun, Zenda menyentuh lengan Suaminya pelan, "Kak, ada apa?"


"Eum? Tidak ada, Sayang. Aku lihat ke depan dulu ya? Takut ramai. Kasihan John dan Belle."


"Oh, oke! Semangat ya, Kak! Kalau perlu bantuan, panggil kita saja."


Rajendra hanya tersenyum sambil mencium kening Zenda.


"Ze, kamu menyadari sesuatu tidak?"


"Apa?"


"Jadi ..."


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2