Our Baby!

Our Baby!
HIPNOTERAPI


__ADS_3

Rajendra dan Zenda kembali ke ruangan Fella setelah Shelin mengabari jika sang Adik sudah sadar.


"Dimana, Jendra?"


"Sebentar lagi dia ke sini."


Cklek!


Pintu ruangan itu terbuka dan sosok Rajendra yang pertama kali masuk.


Disusul oleh Zenda di belakangnya, dengan wajah tertekuk, kesal.


"Hai. Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Rajendra.


Shelin menyuruh Rajendra menggantikan posisinya, duduk di samping brankar Fella.


"Jen, peluk."


Mendengar permintaan tersebut, Rajendra melirik ke Zenda, yang langsung memalingkan wajah, melihat ke arah lain.


Guna menghalau airmata yang sebentar lagi menetes membasahi pipi.


Peluk?


Yang benar saja!


"Jen–"


"Eungh, maaf Fell, aku ..."


Rajendra terkejut saat Fella menarik tangannya dan reflek tubuh Rajendra tertarik ke depan, "Fell, apa-apaan kamu?" bentaknya.


Rajendra berusaha melepaskan diri setelah melihat Zenda pergi keluar.


"I miss you so bad."


Tetap pada posisi Rajendra dipeluk oleh Fella.


Shelin hanya bisa menghela napas, membiarkan Fella melakukan apa yang diinginkan. Jika tidak, Shelin takut, kepala Fella sakit lagi seperti sebelumnya.


Ia pun beranjak dari kursi.


Mengejar Zenda yang mungkin saja cemburu melihat Suaminya dipeluk wanita lain, di depan matanya.


"Maaf."


Shelin menyodorkan tisu pada gadis di sebelahnya.


"Untuk sekarang, tolong mengerti keadaan Fella ya, Ze." pinta Shelin.


"Aku mau merekomendasikan Fella berobat ke luar negeri ..."


"Untuk biaya dan lainnya, Kak Shelin tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus semuanya dan–"


"Tidak ada yang menjaga Fella kalau kita membawanya berobat ke luar negeri, Ze. Aku sibuk mengurus kantor Mama." sela Shelin.


"Kak, aku sudah bilang, akan mengurus semuanya. Jadi, soal itu pun, sudah kupikirkan matang-matang."


Kemudian Rajendra keluar dari ruangan Fella dengan raut wajah gusar.


"Bagaimana dia?" tanya Shelin.


"Kita harus segera melakukan hipnoterapi itu, Kak."

__ADS_1


"Apa ada masalah?"


Shelin melihat wajah frustasi Rajendra, itu berarti hal buruk baru saja terjadi.


"Masalah tidak akan berhenti datang kalau ingatan Fella belum juga kembali, Kak ..."


Rajendra menatap sendu pada Zenda yang memalingkan wajah, tidak mau bertatap muka dengan dirinya, "Imbasnya bisa ke rumahtanggaku dan Zenda." tegasnya lagi.


Tadi saja, Fella terus meracau tidak jelas dan mengatakan ingin segera menikah dengan Rajendra setelah keluar dari rumah sakit.


Fella ingin, konsep pernikahannya digelar dengan sangat mewah dan mengundang artis ibukota juga nantinya.


"Gila!" lirih Shelin.


"Kak Shelin yakin masih mau menunda keberangkatan Fella buat berobat ke luar negeri?" tanya Zenda, berharap Shelin segera mengambil keputusan sebelum dirinya menyerahkan masalah ini pada kedua orangtuanya.


Sebab Zenda sudah menyerah jika Shelin terus menolak bantuannya dan beralasan tidak ada yang menjaga Fella saat di luar negeri.


"Beri aku waktu."


"Besok pagi. Aku dan Rajendra tidak bisa tinggal di Surabaya lebih lama lagi, Kak."


"Ze–"


"Apa, Kak Rajen? Keberatan juga?" nada bicara Zenda terdengar jengkel.


Ia bahkan sudah lupa jika beberapa menit yang lalu sempat menangis karena melihat Rajendra berpelukan dengan Fella.


"Tidak. Kenapa harus buru-buru pulang ke Jakarta?"


Shelin yang menyadari jika keduanya ingin membicarakan masalah keluarga, mulai beranjak dari kursi, pergi.


"Aku masuk dulu." ujar Shelin.


"Ze, maafkan aku. Yang tadi–"


"Tidak usah dibahas. Saat ini, aku hanya ingin masalah Kak Rajen dan Fella selesai ..."


"Papi sama Mami kemarin sudah merayakan ulangtahun pernikahan mereka di Jepang bersama Kak Jenan dan Kak Zeze, aku tidak mau ya di sini terlalu lama dan tidak bisa mengucapkan selamat ke mereka."


Zenda juga menunjukkan room chat dirinya dengan Jenanda, "Semalam Kak Je dan Kak Zeze sudah resmi bertunangan. Sebaiknya kita tidak perlu menunda keberangkatan Fella ke Inggris."


"Inggris?" tanya Rajendra memastikan.


"Aku punya kenalan, seorang Psikiatri yang bisa melakukan hipnoterapi pada pasien khusus amnesia, seperti Fella .."


Zenda menarik napas dalam sebelum dirinya kembali menjelaskan tentang Dokter kenalannya itu, "Dan aku juga sudah konsultasikan masalah Fella padanya kemarin. Dia bilang, mau membantu Fella sampai sembuh, Kak. Kemungkinan besar, memori ingatan Fella bisa kembali jika ada pemicunya. Kita harus optimis dulu, Fella pasti akan mengingat semuanya, Kak."


"Jika kamu sudah berpikir sejauh itu, aku akan dukung keputusanmu, Sayang."


Zenda menggenggam tangan Suaminya. Ada perasaan tidak rela saat mengingat Rajendra dan Fella sempat berpelukan tadi.


"Kenapa, hm?"


"Sebaiknya kita pulang. Ibu pasti sudah menunggu. Kak Rajen harus mandi dan keramas sampai bersih." ujarnya.


Rajendra mengerutkan dahinya, bingung. Saat Zenda menyuruhnya keramas malam-malam.


Well, tadi pagi Rajendra baru saja keramas.


"Aku tidak suka disentuh, bekas wanita lain." jawab Zenda ketus. Memainkan ponselnya agar tidak bersitatap dengan Rajendra yang menyunggingkan senyum penuh arti.


"Disentuh?"

__ADS_1


Kedua alis Rajendra naik-turun, memberi tatapan menggoda pada Zenda yang sedang merajuk.


"Aku tahu kenapa Kak Rajen keberatan saat aku meminta cepat-cepat pulang."


"Kenapa memang?"


Mendadak, wajah Zenda tersipu malu ketika ingin membahas soal hubungan intim yang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang Istri.


Zenda menyadari bahwa selama ini, Rajendra menahan diri karena tak ingin Zenda merasa tak nyaman saat melakukan itu.


"Ish! Sudah! Tidak usah dibahas. Kak Rajen tidak perlu sok polos di depanku."


"Serius! Kamu itu ambigu sekali, Sayangku. Ngomong yang benar."


Rajendra semakin gencar menggoda Istrinya. Ia suka saat melihat reaksi Zenda yang dipicu oleh dirinya.


"Kak Rajen, ish! Aku marah ya kalau Kak Rajen seperti itu terus."


Rajendra tertawa keras mendapat cubitan dipinggang.


Kemarahan Zenda berangsur menghilang, digantikan canda tawa yang terdengar samar dari dalam ruangan Fella.


Seharusnya kalian tidak bermesraan di depan Fella.


...••••...


Makan malam hanya dihadiri keluarga saja.


Mr. Akeno dan Sakura cukup tahu diri untuk tidak mengganggu quality time keluarga Soenser.


"Kak, mau tambah udang lagi?"


Jenanda memberikan piring kosongnya pada Zeze.


"Hm, baru juga tunangan ... Mesranya sudah melebihi pengantin baru."


"Mami ..." rengek Jenanda, merasa malu sebab Joanna tidak berhenti menggoda dirinya.


"Akhirnya ya! Kamu akan menyusul Zenda juga. Setelah ini apa rencanamu, Je?" tanya Jean.


"Sepertinya aku mau ke Connecticut, Pi."


Jean dan Joanna beradu pandang.


Kota itu— memiliki banyak kenangan yang tak terlupakan bagi mereka, terutama Joanna. Yang harus berjuang sendiri saat hamil Jenanda.


"Untuk apa?"


"Aku ingin mengadakan pameran di beberapa negara Eropa ..."


"Dan Connecticut adalah kota pertama di Eropa yang akan dikunjungi oleh Elliptical Art."


Sedikit banyak Jenanda tahu, bahwa kota itu merupakan kota bersejarah bagi kedua orangtuanya.


"Sekalian menjenguk Aunty Kalandra dan Uncle Jordan juga." imbuhnya.


Ah! Soal Kalandra dan Jordan— keduanya termakan sumpah sendiri.


Iya. Mereka akhirnya memutuskan menikah, awalnya tidak ada cinta diantara mereka namun kecelakaan malam itu, membuat keduanya terpaksa harus menikah demi anak dalam kandungan Kalandra kala itu.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2