Our Baby!

Our Baby!
KEBOHONGAN


__ADS_3

Malamnya Jenanda dan Zenda meminta izin pada kedua orangtua mereka untuk jalan-jalan.


Mumpung Jenanda tidak sibuk, alasan klasik.


Tapi keduanya diizinkan, mengingat Zenda pergi bersama Kakaknya.


Diperjalanan Zenda tak banyak bicara. Hanya menatap ke jendela kaca karena memikirkan reaksi Kekasihnya jika tahu Zenda datang bersama Jenanda.


"Eh? Dia siapa, Ze?"


Tak ada basa-basi, Jenanda mengulurkan sebelah tangannya untuk memperkenalkan diri pada lelaki itu.


Pikir Jenanda, dia hidup di jaman apa? Sampai tidak mengenali seniman muda nan tampan seperti dirinya?


"Jenanda, Kakaknya Zenda."


"Oh jadi ini Kak Jenan yang terkenal itu? Senang bisa bertemu dengan Kakak."


Zenda tersenyum canggung saat melihat respon Jenanda tak terlalu senang bertemu dengan Kekasihnya.


Mereka melanjutkan dengan obrolan kecil lain sampai pelayan datang, menyajikan beberapa hidangan yang telah dipesan oleh Rajendra sebelum mereka tiba.


Salah satunya menu favorit Jenanda, cumi saus asam manis.


"Semua makanan ini berbahan olahan seafood?" tanya Jenanda.


Menukar piring Adiknya dengan salad sayur yang ada di dekatnya.


"Zenda alergi seafood, kamu tidak tahu?" tanya Jenanda sekali lagi.


Rajendra menatap sekilas Zenda yang tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala.


"Maaf, Kak. Aku tidak tahu."


"Hal sekecil ini saja tidak kamu tanyakan. Sepele! Tapi kalau tadi saya tidak memaksa ikut, mungkin alergi Zenda bisa kambuh lagi."


"Kakak, sudah ya! Malu, ish! Jangan marah-marah ke Kak Rajen. Aku juga yang salah, maaf ya, Kak? Aku tidak sempat memberitahu Kakak soal ini sebelumnya."


Jenanda yang sudah tidak mood untuk melanjutkan makan, pamit ke toilet sebentar.


Selagi Jenanda pergi, Rajendra berniat bicara berdua dengan gadisnya.


"Sepertinya Kak Jenan tidak menyukaiku, Ze." gumam Rajendra, sambil memotong daging steak yang baru saja dipesan.


Lalu memberikan piring itu pada Zenda, "Untuk kamu."


"Jangan diambil hati ucapan Kak Jenan tadi. Kak Rajen tahu 'kan hubungan kita ini back street dan setelah Kak Jenan juga mengetahui ini, dia marah tapi bukan berarti Kak Jenan benci Kakak."


"Sampai kapan, Ze?"


Zenda menghentikan suapan di mulutnya, "Apanya, Kak?"


"Ya hubungan yang kita jalani ini, sampai kapan harus back street terus?"


"Aku tidak tahu." lirih Zenda.


Pisau dan garpu itu digenggam erat oleh Zenda. Ketakutan terbesarnya ketika Rajendra sudah menanyakan hal ini lagi, kedua kalinya.


Tangan besar Rajendra menggenggam jemari Zenda.


"Kakak capek Sayang kalau disuruh sembunyi terus."


"Maaf, tapi aku akan berusaha beritahu Papi dan Mami pelan-pelan, kasih aku waktu, Kak."

__ADS_1


Mata Zenda berkaca-kaca, berharap bisa meluluhkan hati Rajendra.


"Tolong sabar dulu, Kak. Aku tidak mau putus."


Melihat siluet Jenanda yang sedang berjalan menuju ke arah mereka, Zenda segera melepaskan tautan tangannya dengan Rajendra.


Hingga helaan napas kesal Rajendra terdengar.


"Sepertinya Kakak tidak bisa di sini terlalu lama. Ada urusan lain yang harus Kakak selesaikan, Ze."


"Ya sudah. Kak Jenan pulang dulu, biar Kak Rajen yang antar aku pulang." sahut Zenda tanpa melihat raut wajah Jenan yang berubah dingin.


Padahal selama ini, Jenan tidak pernah menunjukkan ekspresi kemarahan pada siapa saja yang ia temui namun entah mengapa, kali ini berbeda.


Jenanda tidak suka dengan kekasih Adiknya tersebut.


"Papi dan Mami mengizinkan kamu keluar karena Kakak yang mengajakmu, jadi kamu harus pulang bersama Kakak."


Tangan Jenan sudah menarik lengan ranting Adiknya.


"Tidak apa-apa, Ze. Kamu pulang sama Kak Jenan saja. Aku mau habiskan ini dulu, sayang sudah pesan banyak makanan tapi ditinggal begitu saja." sindir Rajendra.


Kesan pertama yang buruk jika Rajendra beranggapan bahwa Jenanda akan diam saat mendengar ucapannya itu.


Jenanda memanggil salah satu pelayan lalu memberikan kartu berwarna hitam itu untuk membayar seluruh bill makanan yang telah dipesan.


"Anggap saja itu traktiran dari saya. Kalau tidak habis, bisa kamu take away! Toh makanan itu belum disentuh sama sekali, permisi."


Tak ingin memperkeruh suasana, Zenda menurut saja saat Jenanda menyeretnya keluar restauran.


Menyempatkan untuk menoleh ke belakang dan membuat gestur; maaf— pada Kekasihnya yang dibalas dengan anggukan kepala.


Brak!


"Pakai seatbeltnya, Zenda."


Gadis itu tertegun beberapa saat ketika suara Jenanda kembali terdengar.


Kali ini intonasi agak tinggi.


"Kamu tidak mendengar ucapan, Kakak? Pakai seatbeltnya!" bentak Jenanda.


Yang membuat sekujur tubuh Zenda gemetaran.


Sesampainya di rumah, Jenanda meninggalkan Zenda yang berjalan sangat pelan di belakang sana.


Takut kejadian tadi diceritakan pada kedua orangtuanya.


"Sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Joanna.


Kebetulan Jean dan Joanna duduk di ruang keluarga sambil menonton acara televisi agar tidak bosan.


"Duduk!" perintah Jenanda.


"Ada apa ini? Jenan? Zenda?" tanya Jean.


Joanna sangat peka ketika melihat si bungsu menjatuhkan diri di pelukannya sambil menangis sesenggukan, "Ada apa, Sayang? Apa yang kamu lakukan pada Adikmu, Jenan?"


"Coba tanyakan itu ke anaknya langsung, Pi, Mi! Aku mau mandi dulu, panas!"


Jenanda bukan anak kurang ajar yang bersikap tidak sopan jika di hadapan orangtuanya, terlebih dengan raut wajah masam seperti tadi.


Itu bukan tabiat Jenanda.

__ADS_1


Saat marah, Jenanda lebih banyak diam dan bisa berjam-jam menghabiskan waktu di studio mininya untuk melukis sebagai pelampiasannya.


Bahkan pernah suatu kali, jemari Jenanda mati rasa karena terlalu lama memegang kuas lukis.


Tak heran jika sikap Jenanda malam ini mengundang tanya kedua orangtuanya.


"Kalian bertengkar?"


"Jangan menutupi apapun dari Papi dan Mami, Zenda." ucap Jean berusaha selembut mungkin namun bagi Zenda, itu terdengar seperti ancaman.


"Kakak marah saat aku ingin mencicipi seafood, Pi, Mi. Katanya takut alergiku kambuh karena tadi lupa tidak bawa obatnya."


Joanna berusaha membuat Zenda mendongak, sebab gadis itu enggan menatap padanya saat berbicara.


"Hanya karena itu Kakakmu marah?" tanya Jean memastikan.


Dan Zenda pun mengangguk, berharap orangtuanya percaya.


"Mami kenal betul seperti apa Kakakmu itu, Ze! Jangan bohong!" Joanna tidak yakin kemarahan Jenanda hanya karena sebuah makanan.


Selama ini mereka tidak pernah meributkan hal semacam itu, jika saling mengejek, Joanna akui mereka sering melakukannya tapi jika tentang makanan, rasanya Joanna sulit percaya.


"Aku tidak bohong, Mi. Kak Jenan marah karena aku terus memaksa memakan seafood."


Mata Zenda beralih menatap sang Ayah. Berharap ada pembelaan yang dilakukan oleh pria itu untuknya.


Sebab sejak dulu, Zenda merupakan anak gadis kesayangan Jean.


"Kemari, Sayang."


Baru saja dibicarakan, Jean sudah merentangkan kedua tangan untuk memberikan sebuah pelukan hangat pada permata kecilnya tersebut.


"Jangan membantah ucapan Kakakmu selama itu bukan sesuatu yang buruk, Zenda."


"Tapi aku hanya ingin makan sedikit, Pi."


Tidak seperti Joanna yang berusaha mencari celah kebohongan melalui ekspresi wajah Zenda.


"Mami tidak percaya sebelum Jenan sendiri yang mengatakannya."


"Mami lebih percaya Kakak daripada aku?"


"Kamu tahu bukan itu maksud Mami, Zenda."


Jean mencolek lengan Joanna agar tidak berdebat lagi dengan Putri mereka.


"Apa, Jean? Aku tidak asal bicara! Sebelum kita menikah, aku sudah lebih dulu mengasuh Jenan sejak bayi, jadi–"


"STOP!"


Jenan berdiri dengan rambut setengah basah, "Tidak usah bertengkar hanya karena aku dan Zenda bertengkar!"


"Mulai besok, Kakak yang akan mengantar dan menjemputmu kuliah setelah itu, Kakak mau kamu membantu Kakak di Elliptical Art sampai sore!"


Zenda yang tak setuju mendengar hal itu langsung memprotes.


"Tugas kuliahku sudah terlalu banyak lalu kenapa Kakak harus menambah beban pekerjaanku?"


Melihat keduanya yang tersulut emosi, Jean mengajak Jenan pergi sementara si bungsu bersama Joanna yang kini sibuk menenangkan tangis gadis itu.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2