
Tatapan Zenda tak lepas dari gerak-gerik Sakura yang memang patut dicurigai.
Masalahnya tidak hanya sekali Sakura menunjukkan gestur ketertarikannya pada Jenanda.
Belajar dari masalah kemarin, Zeze percaya jika Jenanda itu orangnya setia. Tidak suka bermain api, sesuai dengan ucapan Jean, Ayahnya.
"Apa di Indonesia tidak ada sushimi? Aku mau makan salmon, Kak."
Mereka sedang jalan-jalan bertiga di pusat perbelanjaan sekalian mencari tempat untuk makan siang bersama.
"Ada. Kamu pikir negara kami negara kuno, sampai sushi yang kamu maksud itu tidak ada? Aneh!"
"Maaf ya, Kak Ze. Aku tidak bermaksud bilang begitu."
Jenanda kembali menghela napas, melihat mereka tidak akur sejak awal bertemu hingga masuk ke Mall ini.
"Jadi makan atau bertengkar, hm?"
"Makan!" jawab kedua wanita itu serempak.
"Ya sudah. Karena Sakura adalah tamu, jadi kita harus menjamu tamu kita dengan baik .."
Jenanda menggenggam tangan Zeze. Membuat wanita itu senang dan tersenyum mengejek ke arah Sakura yang tampak cemburu melihat skinship keduanya, "Kita ke sushi tea saja, bagaimana?"
"Kakak tahu aku tidak suka makanan mentah kan!" protes Zeze.
"Kamu bisa pesan menu lain, Sayang."
"Tsk! Kak Je, ayo!"
Posisi Jenanda berada di tengah-tengah. Supaya tidak ada adegan saling mencakar jika Zeze dan Sakura dibiarkan jalan berdampingan.
"Lepas! Kamu tidak perlu sampai pegang-pegang lengan Kak Jenan, Sakura." peringat Zeze, menepis tangan Sakura yang bergelayut manja di bisep Kekasihnya.
Berani sekali gadis Jepang itu mengibarkan bendera perang secara terang-terangan dengannya?
Apa Sakura tidak takut kalau Zeze bisa saja mendeportasi dirinya dari negara ini?
Mumpung Zeze memiliki cukup koneksi yang kuat melalui calon Ayah Mertuanya, Bapak Arjean Soenser.
"Ya Tuhan! Bisa tidak kalian berhenti bertengkar?"
"Sayang, tolong jangan seperti ini, ya! Sakura dan Ayahnya sangat baik padaku dan teman-teman yang lain ketika kami di Jepang kemarin ..."
"Mereka juga menyambutku dengan baik dan ramah. Begitu juga dengan kita. Kesampingkan dulu emosimu itu."
"Kakak bela dia daripada aku?" tunjuk Zeze, tak terima karena ditegur Jenanda di depan Sakura.
Gadis itu akan semakin besar kepala jika tahu Jenanda berpihak padanya daripada membela kekasihnya yang pencemburu itu.
"Bukan, bukan itu maksudku–"
"Sudahlah! Aku lapar. Mau makan saja daripada debat tidak jelas dengan kalian!"
Zeze berjalan mendahului Jenanda dan Sakura yang mengikutinya di belakang sana.
"Maaf, gara-gara aku, Kak Je dan Kak Zeze jadi bertengkar."
Jenanda tak enak hati melihat raut wajah Sakura berubah sedih.
Namun teriakan Zeze kembali membuatnya tersadar jika mereka sedang diperhatikan.
"JADI MAKAN TIDAK?"
"Iya, iya. Astaga, Sayang. Malu, ish!"
...•••• ...
"Zenda!"
"Ah, rindu!"
__ADS_1
Kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Tsk! Lebay!" sambil terkekeh, Zenda memberikan sebuah bingkisan untuk Yolanda.
"Apa?"
"Buka saja!"
Yolanda berbinar mendapat satu set skincare dengan ukuran jumbo.
Bisa untuk berbulan-bulan nantinya.
"Banyak kado, tidak tahu dari siapa saja. Saking banyaknya, aku sampai bingung harus membaginya ke siapa lagi."
"Ih, aku siap menampung, Ze."
"Ngomong-ngomong, berita pernikahanmu dijadikan headline berita kampus, Ze ..."
Pembicaraan mereka mulai terdengar serius, setelah Yolanda mengubah topic.
"Tapi anehnya, baru satu jam diunggah, postingan itu langsung hilang. Bahkan sampai ada razia ponsel karena beritanya menyebar ke fakultas seni juga."
"Mereka bilang, kamu hamil duluan makanya buru-buru menikah."
"Gila!" lirih Zenda.
Tak percaya dengan yang barusan didengar. Yolanda sempat menyimpan tangkapan layar soal berita itu, bermaksud menunjukkannya pada Zenda sebentar.
Dan akan menghapusnya langsung sebab takut ada yang menyalah gunakan saat Yolanda lengah.
"Kamu tahu siapa yang menyuruh pihak kampus menghapus berita itu?"
Sayangnya hingga hari ini, Yolanda tidak tahu.
"Jangan marah-marah ke Kak Rajen, Ze. Kasihan dia."
"Apa aku sejahat itu menurutmu?"
Yolanda mengangguk pelan.
"Syukurlah! Aku lega mendengar itu."
"Lihat! Siapa ini?"
"Arzenda Drianaka." lanjut gadis berambut keriting itu menyela percakapan Zenda dan Yolanda begitu saja.
Belum lagi, tatapan semua mahasiswa di kantin tertuju pada mereka.
"Kamu siapa?" tanya Zenda polos.
Sebab ia tidak mengenal sosok gadis itu. Sebelumnya, tidak ada mahasiswi dari fakultas yang sama dengannya, yang berpenampilan seperti ibu-ibu.
Dengan dandanan menor, lipstik tebal-eww!
"Bagaimana rasanya menikah sambil kuliah? Enak tidak? Pasti kamu capek setelah mal—"
Plak!
Zenda itu seperti titisan Joanna di masa mudanya.
Tidak suka mengusik hidup orang lain namun jika dirasa ia dalam bahaya, maka Zenda akan mengambil tindakan cukup tegas.
Meski harus melakukan kekerasan secara fisik.
"Brengsek!"
Plak!
Gadis itu balas menampar wajah Zenda tak kalah kerasnya.
Hingga adegan jambak-menjambak itu terekam oleh ponsel mahasiswa lainnya.
__ADS_1
"Hey! Matikan ponsel kalian!"
"Kalian tidak boleh mengambil video mereka, hey— brengsek!" maki Yolanda, merebut paksa ponsel pemuda di depannya.
"Minggir, Yo! Adegan seru harus diabadikan!"
"Iya! Jangan mengganggu kita. minggir, Yolanda."
Sementara Zenda dan gadis itu masih terlibat saling menjambak.
Sampai akhirnya, seseorang memanggil satu Dosen dan melerai mereka.
"Bubar! Jangan membuat keributan di sini." kata Dosen tersebut pada anak-anak lain.
"Saya anggap hal ini tidak pernah terjadi lagi, Nona Soenser. Dan kamu, Mahasiswi baru ..."
Telunjuk Dosen berkepala botak itu mengarah pada gadis di depan Zenda, "Hari pertama masuk sudah membuat kacau. Ikut saya!"
Iya. Zenda dihormati oleh semua Dosen karena Jean merupakan salah satu donatur di kampus tersebut.
Pernah suatu kali, Jean ingin membeli gedung kampus itu namun dilarang oleh Joanna karena menurut Joanna, cukup menjadi penyuntik dana untuk memberikan fasilitas belajar bagi murid di sana sudah lebih dari cukup.
Tak perlu sampai melakukan itu.
...••••...
"Ahk! Sakit, Kak! Pelan-pelan."
"Ssh, perih, ish!"
"Iya tahan, Sayangku. Sebentar lagi selesai kok."
"Perasan dari tadi Kak Rajen bilang sepert itu terus— ahk! Perih, Kak."
"Iya, iya, maaf. Ini sudah selesai."
Awalnya Rajendra terkejut ketika Yolanda menghubunginya dan memberitahu pria itu jika Zenda bertengkar dengan anak Maba.
Dan langsung bergegas menjemput Istrinya ke kampus. Padahal saat itu, masih ada satu kelas lagi tapi Rajendra memaksa Zenda agar TA saja ke Yolanda.
"Kalau Papi dan Mami tahu kamu babak belur, pasti dikira aku yang pukul kamu, Ze."
"Makanya kita menginap di Apart Kak Rajen dulu saja sampai lukaku sembuh."
"Kalau mereka tidak mengizinkan?"
"Kita sudah menikah. Tidak mungkin Papi dan Mami melarang kita menginap bersama di tempat lain, Kak." Zenda meringis ketika tangannya berusaha menyentuh luka di sudut bibirnya.
"Hm, tunggu Cafe tutup ya, Ze. Tanggung soalnya."
Zenda hanya mengangguk, melirik John yang sibuk melayani pembayaran di Kasir.
"Kak, aku boleh tidak bantu-bantu di sini jadi Kasir?"
"Serius kamu mau? Aku senang mendengarnya. Bisa betah kerja kalau ditemani istri di sini."
"Dasar pembual!" cibir Zenda.
"Kakak serius, Sayang. Kamu boleh belajar apapun soal Cafe. Mau jadi Barista atau Kasir, silahkan."
"Emm, Kak Rajen tidak ingin buka cabang lagi?"
Ngomong-ngomong soal itu, Rajendra sudah memikirkannya juga. Ia berencana mengajak Jenanda bekerja sama untuk membuka mini Cafe dekat dengan Elliptical Art.
Tempat galeri Jenanda cukup luas dan bisa dimanfaatkan untuk membuat Cafe Shop minimalis di sana. Supaya pengunjung bisa mampir untuk minum kopi setelah puas berkeliling.
"Aku masih memikirkan soal itu. Doakan ya, Ze."
"Hm, pasti dong. Kalau Kak Rajen buka cabang lagi, aku bisa bantu. Apa saja! Aku bisa, Kak."
"Iya, Sayang. Kita pikirkan itu pelan-pelan ya."
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!