
Aktifitas Joanna tidak berubah sejak Jenan mulai masuk sekolah dasar.
Seperti pagi sebelumnya, Joanna sibuk menyiapkan bekal untuk dua bayi besarnya.
"Mami, dimana kaos kaki hitam Kakak? Kok tidak ada di laci kecil?"
"Sweetheart, bisa bantu aku pasangkan dasi?"
Karena kamar mereka bersebelahan, Joanna memutuskan menghampiri Jenan dulu sebelum ia membantu Suaminya memasangkan dasi.
Lengan Jean sudah melingkar di pinggang si wanita. Memberikan sedikit remasan kecil hingga Joanna mendesis pelan.
"Kenapa kamu wangi sekali, Sayang?"
Joanna tidak menggubris ucapan Jean yang semakin gencar menggodanya.
Bahkan tangan besar itu sudah berpindah ke bawah pinggangnya.
"Jean ..."
"Apa, Sayang?"
Suara berat Jean membuat pandangan Joanna meremang.
Tubuh Joanna sangat sensitif terhadap sentuhan sekecil apapun yang dilakukan oleh Suaminya.
"Jean!"
Bukannya berhenti, Jean semakin bergerak liar di bawah sana. Membuat Joanna menggigit bibir bawahnya untuk menahan libidonya yang mulai naik.
"Keluarkan suara indahmu itu, Sweetheart. Aku ingin mendengarnya." bisik Jean seduktif.
Sebab tahu kelemahan Joanna terletak pada bagian telinga dan lehernya.
"S-sudah. Nanti Jenan me–"
CEKLEK!
Pintu kamar itu terbuka.
Menampilkan Jenan yang menatap bingung pada kedua orangtuanya seraya menenteng tas sekolah di tangan kanannya.
"Papi dan Mami sedang apa? Kenapa baju Mami berantakan?"
Mata Jenan berkedip lambat dengan tatapan polos khas anak-anak. Menunggu jawaban mereka.
Menggemaskan sekali.
Joanna tersenyum kaku mendengar pertanyaan itu lolos dari bibir si kecil.
Lalu segera membawa Jenan keluar kamar agar tidak ditanyai yang aneh-aneh lagi dan mengabaikan Jean yang kini mentertawai dirinya.
Wajah tersipu Joanna adalah hiburan tersendiri bagi Jean sebab Istrinya terlihat dua kali lipat lebih seksi saat menunjukkan ekspresi tersebut.
"Sepertinya aku dan Joanna harus pergi bulan madu supaya adik Jenan bisa cepat jadi."
Ngomong-ngomong, mereka tidak tinggal di Apartemen Joanna lagi. Satu tahun setelah pernikahan, Tuan David memberikan hadiah rumah untuk Jean dan Joanna.
__ADS_1
Rumah yang menjadi impian Jenan selama ini.
Apalagi kalau bukan rumah yang memiliki halaman belakang yang luas dan ditumbuhi beberapa pepohonan berbuah seperti apel dan anggur.
"Hari ini biar aku yang mengantar Jenan ya?"
Kening Jean mengerut, "Tumben?"
Menatap curiga pada Joanna yang hanya merotasikan malas kedua matanya karena Jean pasti akan bertanya macam-macam jika wanita itu berpergian sendiri tanpa dirinya.
Bahkan Joanna terpaksa menghandle Jo's Bakery dari rumah melalui laporan yang dikirim by email oleh salah satu orang kepercayaan mendiang Ibunya.
"Kalandra mau datang. Jadi aku harus menjemputnya di bandara, Jean."
"Yeay! Aunty Kala mau tinggal di sini bersama kita ya, Mi?"
"No, Kakak! Aunty Kala akan tinggal di Apartemen lama kita."
Jenan hanya menganggukkan kepala. Berlari menuju mobil dan memilih menunggu orangtuanya di sana.
"Kalandra mau menetap di Indonesia?" bisik Jean.
"Hm, dia sudah bercerai dengan Daren tiga bulan yang lalu."
"Bercerai? Kenapa?"
Hal ini mengejutkan mereka sebab pernikahan Kalandra dan Daren baru berjalan dua tahun.
Saat itu keduanya memutuskan menunda pernikahan mereka tiga tahun setelah Joanna dan Jean menikah.
Entah apa penyebabnya.
Joanna melirik Anaknya yang duduk tenang di dalam mobil.
"Ini juga menjadi peringatan untukmu, Je! Jangan sampai kamu bermain di belakangku atau ..."
Jean mengikuti arah pandangan Joanna yang tertuju pada sesuatu dibalik celananya.
Tersenyum tipis seraya kembali berbisik; "Aku akan memotong belalaimu menjadi empat bagian lalu menggorengnya sampai gosong dan memberikan itu pada anjing jalanan supaya mereka tahu, rasa belalai tukang selingkuh itu sepahit apa!" ancamnya.
Kemudian melenggang pergi menghampiri Jenan yang sudah merengut kesal karena terlalu lama menunggu.
Jean langsung reflek menutup area privasinya dengan kedua tangannya. Bergidik ngeri saat menatap ke arah Joanna yang tersenyum puas melihat Suaminya ketakutan.
"Demi Tuhan! Aku tidak mungkin menyukai wanita lain apalagi sampai berselingkuh darimu, Sayang."
Joanna berhenti sejenak ketika hendak membuka pintu mobil.
Membalikkan badan hanya untuk mengusap pipi Jean sebentar dan memberinya satu kecupan singkat.
"Anak pintar! Kamu memang tidak boleh berpaling dariku dan Jenan."
Membuat Jean tersenyum kecil mendapat perlakuan manis dari Istrinya tersebut.
...••••...
Setelah mengantar Anaknya ke sekolah dan menjemput Kalandra di bandara, mereka memutuskan pergi jalan-jalan ke Mall sebentar.
__ADS_1
Sekalian quality time karena lama tidak bertemu.
"Kalau tidak punya uang jangan datang ke Mall! Dasar pencuri! Ayo ikut saya ke pos keamanan!"
"Sebenarnya dia cantik tapi sayang, tubuhnya tidak terawat! Lihat saja! Sampai tulang pipinya terlihat menonjol."
"Pasti dia miskin sekali sampai-sampai harus mencuri satu set dalaman di toko ini."
Beberapa pengunjung yang berkumpul di depan toko Victoria Secret itu saling berbisik dan membuat Kalandra merasa penasaran ingin melihat apa yang terjadi di sana.
Kalandra menarik tangan Joanna yang hendak memasuki toko sebelah.
"Eh! Ada apa, Kal?"
"Kita ke sana dulu! Sepertinya ada pencurian di toko itu!"
Joanna tak sempat memprotes lagi karena Kalandra menggenggam kuat tangannya lalu menarik Joanna untuk membelah kerumunan itu.
"Permisi! Permisi! Tolong minggir sebentar. Beri kami jalan, permisi."
Joanna merasa tak enak pada orang-orang di sana dan segera meminta maaf berulang kali atas kelakuan Sahabatnya yang membuat mereka terganggu.
"Ayo ikut saya ke pos satpam! Kamu sudah mencuri lima set underware di toko ini." ujar petugas keamanan itu.
"Tidak! Aku bukan pencuri, lepas!"
Petugas tersebut membongkar tas anyaman lurik yang biasa dipakai ibu-ibu berbelanja di pasar dan menemukan lima set underware berbeda warna di dalamnya.
Hingga membuat orang-orang yang menyaksikan kejadian itu mulai geram pada wanita yang mencuri barang tersebut.
"Jangan tangkap aku! Aku tidak mencuri, sungguh!"
"Lalu apa ini? Tidak mungkin punyamu 'kan? Karena segel dan barcode toko masih menempel, lihat!"
"SUDAH KUBILANG, AKU TIDAK MENCURI ITU BERARTI AKU TIDAK MELAKUKANNYA!"
"APA? TIDAK USAH LIHAT-LIHAT! PERGI!" bentaknya sambil menitihkan airmata karena merasa dipermalukan.
Melihat hal tersebut, Joanna berjalan menghampiri keduanya. Menatap sebentar pada wanita tadi seraya mengeluarkan sesuatu dari balik tas Prada yang ada ditangan kirinya.
"Maaf, anda bisa catat semua kerugian yang ada di toko ini sekalian saya akan bayar lima underware itu dengan harga dua kali lipat dari harga aslinya tapi tolong lepaskan wanita itu, Pak."
Semua takjub akan kebaikan yang dilakukan oleh Joanna dan juga menganggumi paras cantiknya itu dengan penampilannya yang begitu elegan.
Kecuali Kalandra.
Menatap tak suka pada sosok wanita yang kini dengan seenaknya mengambil beberapa dalaman lain dengan model yang berbeda dari sebelumnya.
"Eh? Bukannya itu Bu Joanna? Istrinya Pak Arjean Soenser? Yang terkenal aktif sebagai salah satu penyumbang dana terbanyak di Yayasan amal anak-anak dan panti jompo!" seru salah satu dari mereka.
Menyadari jika sosok yang berdiri di hadapan mereka itu tidaklah asing. Karena sejak menikah, Joanna mulai berani menampakkan diri di depan media dan sering menemani Jean menghadiri acara penting dengan para koleganya.
Tak heran jika dirinya mulai dikenal banyak orang. Bukan hanya sekedar paras cantiknya yang menjadi topic perbincangan mereka, melainkan kebaikan hati Joanna yang dikenal suka membantu orang-orang yang tidak mampu.
"Cih! Dasar tukang pamer!"
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!