
"Jo, kamu baik-baik saja?"
Saat ini mereka dalam perjalanan menjemput Jenan di sekolahnya.
Kalandra sengaja mengambil alih kursi kemudi karena semenjak bertemu dengan Nyonya Anne, sikap Joanna berubah aneh.
Lebih banyak diam dan melamun.
"Joanna? Halo!"
Kalandra melambaikan satu tangannya di depan wajah Joanna hingga wanita itu tersentak kaget.
Lalu menoleh ke samping dan mendapati Kalandra sedang meliriknya.
Joanna menghela napas berat.
Agak kesal jika mengingat sikap Nyonya Anne padanya tadi.
Wanita itu juga terus menyalahkan Joanna atas perceraian itu.
Seharusnya Nyonya Anne dan Rosa di penjara tapi Ayahnya tidak mau melakukan itu.
Joanna menghargai keputusan Ayahnya dan menganggap semua sudah impas sekarang.
"Hidup bebas atau di penjara tidak ada bedanya."
"Hm?"
Joanna menghela napas lagi, "Maksudku Tante Anne! Meskipun hidupnya susah, dia tetap jahat dan bersikap arogan padaku!"
"Aku jadi tidak yakin bagaimana dengan Rosa yang sekarang. Mungkin lebih parah." lanjut Joanna.
Dering ponsel milik Joanna menghentikan percakapan mereka sejenak.
"Joanna, dimana kamu? Dengan siapa?"
Ia melirik ke samping, "Bersama Kalandra, mau jemput Jenan. Kenapa?"
"Tidak usah! Ke kantorku saja. Jenan bersamaku sekarang. Cepat!"
Panggilan dimatikan sepihak oleh Jean.
Hingga Joanna berdecak lirih karena merasa Suaminya tidak jelas.
Nada bicaranya juga terdengar ketus padahal Joanna tidak merasa melakukan kesalahan pada Jean.
"Kita putar balik ke kantor Jean, Kal!"
"Siap, Bu Bos!"
...••••...
Setibanya di kantor Jean, para pegawai sudah menyambut kedatangan Joanna.
Sesekali wanita itu membalas sapaan mereka dengan tersenyum ramah.
Tidak peduli pria atau wanita, mereka saling bertegur sapa.
"Bapak ada, Sean?"
"Pak Jean sudah menunggu, silahkan masuk, Bu."
Benar saja.
Jean dan Jenan sedang duduk di sofa menikmati beberapa camilan yang sengaja disediakan oleh Jean di dalam ruangannya. Khusus untuk Istri dan Anaknya jika mereka berkunjung ke kantor.
"MAMI! AUNTY KALA!"
Tubuh mungil itu berhamburan memeluk Joanna dan Kalandra bergantian.
Rasa rindu si kecil Jenan pada Kalandra tak dapat dibendung lagi.
"Halo, Jagoan! Apa kabar?"
Kalandra mencubit gemas pipi gembil Jenan yang memperlihatkan dua lesung pipinya.
"Kala, bisa kamu ajak Jenan ke Kafetaria sebentar?"
"Ya?"
"Kutraktir! Bilang pada mereka kalau kamu temanku, lagipula mereka juga sudah mengenal siapa Jenan di kantor ini! Jadi, mereka pasti akan mengalihkan tagihan makanan kalian ke pengeluaran kantor. Keluar sana!"
Mendapat pengusiran dari Jean, Kalandra mengumpat dalam hati seraya menggandeng tangan Jenan keluar dari ruangan tersebut.
"Makanya, Jo! Kasih jatah yang benar! Itu lihat! Suamimu sepertinya sedang merajuk. Cih!"
"Aunty, kenapa? Papi galak ya?"
Kalandra terkikih, mengusak pucuk kepala Jenan, "Iya! Papimu galak! Kita keluar saja, Je." ledeknya.
"Ayay, Aunty! Let's go!"
"Aku mendengar itu, Kalandra." peringat Jean saat melihat Kalandra dan Jenan beradu kepalan tangan.
Setelah mereka pergi, pintu ruangan itu terkunci otomatis dari dalam.
__ADS_1
KLIK!
"Je, ada apa?"
SRET!
Tubuh Joanna terjatuh di atas pangkuan Suaminya.
Jean menunjukkan sebuah foto yang dikirim oleh anak buahnya tadi. Menampilkan beberapa slide foto Joanna dan Nyonya Anne sedang mengobrol di Restauran.
"Kamu mengawasiku?"
Jujur, Joanna tidak suka. Itu artinya Jean tidak percaya padanya sampai harus menyuruh orang mengawasi kegiatannya di luar rumah.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya ingin kamu tetap aman meskipun aku tidak bersamamu."
Joanna kesal ketika Jean bersikap seperti ini.
"Kamu berlebihan, Jean."
"Jika itu tentang kamu dan Jenan, tidak ada yang berlebihan, Sayangku."
"Buktinya aku baik-baik saja."
Jean tidak menyahut.
Mendekap erat tubuh ramping yang berada di pangkuannya itu. Menghirup dalam-dalam aroma vanila manis yang menguar dari tubuh Istrinya.
"Jangan diulangi lagi."
"Hm?"
Jean menghela napas, "Aku tidak suka kamu berhubungan dengan mereka lagi."
"Kami tidak sengaja bertemu."
"Dan kamu masih mau menolongnya?"
Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum Jean mempertemukan belahan basah yang menjadi candunya.
Menyesap lembut bibir cherry yang tampak menggoda untuk dikecup.
Sekeras apapun Jean melarang— Joanna tetap Joanna. Mudah kasihan pada orang lain.
Sekali pun orang itu sudah menyakiti dirinya.
"Hidup mereka sekarang sangat menyedihkan, Je."
"Aku tahu."
"Itu aku juga tahu."
Joanna memeluk leher Suaminya. Menggumamkan kalimat tidak jelas hingga Jean meremat pelan pinggang ramping itu agar kembali bertatap muka dengannya.
"Ngomong-ngomong, apa Lian masih sering menghubungimu?"
Joanna mengangguk singkat, "Aku menyuruh Lian menjaga Papa. Melaporkan semua kegiatan yang dilakukan Papa karena kamu tahu sendiri, Papa menolak tinggal bersama kita sementara di rumah sebesar itu, Papa hanya tinggal bersama Maid dan Pengawal. Tanpa keluarga terdekat yang menemaninya di sana."
Joanna mengubah posisi lagi. Menumpukan dagunya di atas bahu Jean.
"Papa banyak berubah sejak bercerai dengan wanita itu, Jean."
Jean merasakan bahu sebelah kanannya basah.
Sepertinya, Joanna menangis.
"Aku tidak keberatan kalau Papa mau menikah lagi. Setidaknya Papa tidak perlu merasa kesepian saat aku tidak ada."
Joanna mulai terisak hingga bahunya bergetar kecil. Membuat Jean reflek mengusap punggung Joanna agar wanita itu lebih tenang.
"Tidak apa-apa. Papa Dery tidak akan kesepian. Kita bisa mengunjunginya setiap akhir pekan atau dua hari sekali kita ajak Papa Dery dan Papa David makan bersama. Bagaimana?"
Pria itu mengapit dagu Joanna agar bertatap muka dengannya.
Perlahan, Jean mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Joanna dengan lembut. Berusaha menghilangkan kesedihan yang mendera hati.
Isak tangis itu digantikan dengan lenguhan-lenguhan kecil kala bibir Jean bergerak seduktif menyentuh titik sensitif Joanna dengan liar.
Siapapun, ingatkan Jean agar bisa mengendalikan hormon prianya karena mereka masih berada di kantor.
Sampai suara ketukan pintu menghentikan aktifitas mereka.
Sial. batin Jean.
Ia beranjak dari sofa berniat memarahi Sean yang tidak becus berjaga di luar sana.
Membiarkan Joanna membenarkan kembali penampilannya yang dibuat berantakan oleh Suaminya.
"Sean, apa ka— Jenan? Kalandra? Kenapa kalian kembali lebih cepat?"
Kalandra mengendikkan bahu. Berjalan santai masuk ke dalam.
Sementara Jenan langsung berlari menghampiri Joanna yang baru selesai memakai lipstik.
"Mami!"
__ADS_1
"Hai, Sayang. Sudah makan siangnya?"
Jenan menggeleng. Merengut kesal sebab tadi mereka tidak jadi makan.
Diam-diam Kalandra memperhatikan Jean dan Joanna bergantian.
"Apa?"
Jean merutuk dalam hati. Sedikit kesal pada Kalandra yang tidak bisa diandalkan.
Padahal Jean hampir merealisasikan fantasi liarnya selama ini.
Bercinta dengan Joanna di ruangannya, tsk!
"Aku curiga pada kalian berdua."
Joanna reflek menutup telinga Jenan dan mendelik tajam ke arah Kalandra yang tampak tidak bersalah mengatakan itu.
"Je mau makan es krim? Kebetulan di kulkas Papi ada banyak."
"Boleh, Pi?"
"Of course! Ambil apapun yang Je mau dan temui Uncle Sean di ruangannya."
"Yes! Thank you, Papi."
Jenan mengecup pipi Ayahnya sebelum pergi. Berlari mengambil makanan apa saja yang ada di dalam kulkas.
Selagi menunggu Jenan pergi, Joanna tersenyum penuh arti saat melihat ekspresi Suaminya sedang menahan sesuatu.
"Memangnya apa yang dilakukan pasangan Suami-Istri ketika mereka berduaan? Dasar jomblo! Makanya menikah lagi sana!" ujar Jean setelah memastikan Jenan sudah keluar dari ruangannya.
"Tahu tempat ya! Setidaknya, pesan hotel! Atau gunakan ruangan khusus kalau mau melakukan itu ..."
Kalandra mendecih saat Joanna tidak merespon ucapannya. Malah sibuk berdandan, "Aku dan Jenan tidak sengaja mendengar suara aneh dari ruanganmu, ck! Bisa-bisanya kalian bercinta di ruangan yang tidak kedap suara, gila, gila!"
Tanpa dijelaskan, mereka sudah mengerti suara aneh yang dimaksud oleh Kalandra.
Joanna terkikih, melihat ekspresi sebal Kalandra padanya.
"Iya, iya, maaf! Yang tadi kelepasan, Kal."
"Kelepasan dan keenakan itu beda tipis, Joanna. Kalian itu, benar-benar mesum!"
"Kalau begitu, biarkan kami pergi bulan madu." sela Jean cepat.
Joanna dan Kalandra terkejut.
Karena sebelumnya Jean tidak mengatakan apapun soal ini.
"Je?"
"Maaf, Sayang. Aku sudah memikirkan ini sejak kemarin. Kamu ingat 'kan permintaan Jenan soal adik baru?"
Ah! Topic itu lagi.
Entah mengapa, wajah Joanna berubah memerah, malu.
Sebab Kalandra kembali menatap tak percaya mendengar rencana Jean.
Bulan madu katanya?
"Ekhem! Kal, kamu suka Prada atau Dior?" tanya Jean.
Joanna ikut mengerutkan dahi seperti Kalandra.
"Prada."
"Okay! Pilih apapun yang kamu mau."
Mata Kalandra memicing, "Maksudnya?"
"Tsk! Jean berusaha menyogokmu, haha!" sahut Joanna seraya tertawa kecil setelah mengetahui maksud ucapan Suaminya.
Seakan lupa jika dirinya baru saja menangis beberapa menit yang lalu.
Jean ikut tersenyum melihat Istrinya bisa kembali tertawa dan melupakan kesedihannya.
"Kamu lemot sekali, Kal!"
"Kami tidak mungkin mengajak Jenan ikut bersama kami bulan madu, Kalandra." kata Jean.
"Ah! Jadi kalian ingin aku menjaga Jenan, begitu?"
Joanna dan Jean mengangguk bersamaan. Menatap Kalandra penuh arti.
"Tenang saja. Kamu tidak sendiri."
Kali ini, Kalandra semakin curiga pada pasangan itu.
"Jean benar! Jordan akan membantumu menjaga Jenan." lanjut Joanna, tersenyum menggoda.
Sebab mereka tahu hubungan Jordan dan Kalandra bak tom and jerry, tidak pernah akur ketika bertemu.
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!