Our Baby!

Our Baby!
MERAJUK


__ADS_3

Dua hari kemudian rombongan Jenanda pulang setelah mengadakan acara pameran di Jepang yang berjalan dengan lancar dan berhasil menarik perhatian para kolektor seni untuk menjadikan karya Jenanda sebagai salah satu dari koleksi yang mereka miliki.


Bahkan ada stasiun tv lokal yang ingin mewawancarai Jenanda secara langsung sebagai narasumber yang telah sukses di usia muda.


Terhitung sudah kesekian kalinya, Celia dan staff yang lain menerima banyak panggilan telepon masuk.


"Bos, aku ke Ruanganku dulu ya? Mr. Robert ingin melakukan zoom meeting denganku."


"Hm, kirimkan laporannya ke emailku saja, Cel. Aku harus ke kantor Papi hari ini .."


Jenanda mengulas senyum ketika membaca pesan singkat dari Zeze, "Untuk revisi laporan keuangan bulan lalu tolong segera dipercepat. Minta staff keuangan agar menyerahkan laporan itu dalam dua hari."


"Oh, oke, oke! Kamu terima beres saja, Bos!"


Mereka berpisah saat Jenanda harus memasuki lift menuju lantai 1.


Ada begitu banyak agenda yang harus diselesaikan, mengingat Jenanda dan Zeze berencana menikah dalam waktu dekat juga supaya saat Elliptical Art menggelar tur Eropa, Zeze bisa ikut serta membantu Jenanda mempersiapkan semuanya.


Ting!


Pintu lift kembali terbuka. Dan seperti biasa, menjelang akhir pekan, Elliptical Art tidak pernah sepi didatangi oleh pengunjung.


"Wah, itu Kak Jenan!"


"Kak, Kak! Foto yuk!"


"Ih! Aku duluan yang mau foto."


"Aku!"


"Aku, ish!"


Ke empat gadis berseragam sekolah di sana saling berebut. Meminta foto bersama sampai petugas keamanan yang berjaga menghampiri mereka.


Jenanda tersenyum kecil, menyuruh petugas tadi kembali ke depan biar Jenanda yang mengurus gadis-gadis itu.


"Satu-satu." kata Jenanda.


"Yeay! Sudah ganteng, ramah dan baik pula. Eum, Kak! Kapan-kapan aku juga mau dilukis."


Salah satu dari mereka menyahut, "Uang masih minta orangtua saja belagu! Berani bayar berapa kamu sampai menyuruh Kak Jenanda melukismu, huh?"


"Hey! It's okay! Aku menawarkan harga pelajar untuk murid SMA seperti kalian ..."


Selesai mengambil foto, Jenanda kembali menjelaskan, "Tidak usah khawatir. Harga yang kutawarkan tidak akan membuat uang saku kalian habis. Maaf! Tapi negosiasinya lain waktu lagi, oke? Aku harus pergi."


"Tunggu, Kak! Kalau kami ada pertanyaan, lalu—"


"Celia! Hubungi Asistenku itu. Sampai jumpa, anak-anak."


Mereka yang mendapat senyum ramah dari Jenanda pun merasa kegirangan. Dan segera mengunggah foto tadi di akun sosial media masing-masing.


Dasar anak-anak.


...••••...


Jenanda tiba di kantor Ayahnya satu jam lebih dari janjinya.


Padahal jarak DS. Group dan Elliptical Art hanya tiga puluh menit.


Salahkan penggemar Jenanda yang masih anak-anak tadi yang menghambat dirinya untuk menemui sang pujaan hati yang kini sedang merajuk.


"Aku minta maaf, Ze."


Zeze mengabaikan Jenanda yang duduk di hadapannya.


Mereka sedang berada di ruang kerja Zeze.


Melihat Jenanda merengek seperti itu, Jean ingat saat dirinya muda dulu.


Bagaimana susahnya membujuk Joanna yang tidak mau jujur tentang identitas Ayah biologis Jenanda.


"Memangnya dengan maaf, jam makan siang yang sudah berakhir itu bisa kembali mundur lagi?"

__ADS_1


"Kak, aku paling benci dengan orang yang tidak bisa menghargai waktu."


"Iya maaf, kita bisa ngomong sama Papi buat kasih kamu waktu lebih untuk istirahat makan siang, Sayang."


"Dan membuat staff lain iri karena aku menggunakan statusku sebagai calon menantu Om Jean supaya diperlakukan khusus di kantor ini, begitu?" tanya Zeze dengan pandangan yang masih fokus mengarah pada layar komputer.


Jenanda mendengus frustasi. Mengusak kasar rambutnya sebab lebih susah membujuk wanita yang sedang merajuk ketimbang memikirkan konsep untuk tema Elliptical Art.


Jean yang tak tega, akhirnya beranjak keluar, sebab ruangan Jean sekarang telah diubah menjadi ruangan kubik kaca yang bisa terlihat dari luar namun tetap kedap suara.


"Zeze." panggil Jean.


Keduanya menoleh.


Cukup mengejutkan karena Jean tiba-tiba sudah berdiri di pintu masuk.


Aduh! Apa Om Jean mendengar pembicaraan kita?


"Iya, Om? Butuh sesuatu?"


"Tidak. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu besok pagi .."


Jean memutar jam di tangannya, bersikap seolah ia buru-buru sebab tak ingin menahan senyum terlalu lama ketika melihat wajah Jenanda yang tampak memohon, supaya bisa mengajak Zeze pergi, "Hari ini kamu bisa pulang cepat, Ze. Kamu bisa temani Jenanda."


"Tapi Om, pekerjaanku masih ba–"


"Ze, mau dipotong gaji?"


Mata Zeze melotot, lalu ia menggeleng dengan cepat dan segera membereskan pekerjaannya.


"Tidak, tidak! Aku akan menemani Kak Jenan, Om."


Senyum itu!


Jenanda tahu jika Zeze hanya berpura-pura menurut di depan Ayahnya.


Tidak tahu nanti.


"I-iya, Om. Maaf."


Thank you, Papi.


...••••...


Zenda dan Rajendra dicecar banyak pertanyaan oleh Pak Baskara dan Bu Liana.


Keduanya tidak habis pikir dengan kelakuan anak-anak mereka.


"Ayah dapat foto itu darimana?" tanya Rajendra.


Sesekali mengeratkan genggaman tangannya pada Zenda di bawah meja sana.


Mereka baru saja selesai makan namun tidak ada yang boleh beranjak dari kursi masing-masing sebelum ada yang menjelaskan.


Tentang kiriman foto yang diambil oleh seseorang secara diam-diam.


"Kenapa kalian sembunyikan masalah sebesar ini dari kami?"


"Jika kami tahu kepindahan Fella ke Jakarta hanya membuat masalah, Ayah dan Ibu pasti akan mencegahnya dari sini." lanjut Pak Baskara.


Agak kesal dengan mereka yang tidak terbuka tentang hal tersebut.


"Maafkan kami, Yah. Kami hanya tidak ingin Ayah dan Ibu cemas." kata Zenda menjelaskan. Ia tak enak hati dengan Mertuanya.


Apalagi selama ini, mereka begitu baik dan tidak pernah semarah ini padanya.


"Kami hanya kecewa pada kalian. Nomor si pengirim sudah memblokir kami, itu sangat jelas kalau dia berusaha mengadu domba kita."


Bu Liana pun mengangguk setuju, "Lalu apa rencana kalian selanjutnya? Ibu tidak mau Fella menjadi duri dalam pernikahan kalian, Sayang."


"Kami akan membawa Fella berobat ke Inggris."


"Tapi Jen, biayanya pasti mahal sekali." ujar Bu Liana.

__ADS_1


Seakan melupakan fakta bahwa Rajendra menikahi si bungsu pewaris DS Group.


"Ibu tidak usah khawatir. Aku sudah siapkan semua dan sisanya, Kak Shelin yang mengurusnya, Bu."


Mereka bisa bernapas lega.


Mengingat biaya berobat ke luar negeri pasti tidak murah karena membutuhkan banyak persiapan, terlebih Inggris menjadi tujuan pengobatan mereka.


"Apa Fella tahu soal ini?" kini giliran Pak Baskara yang berbicara.


"Belum. Akan lebih baik lagi, Fella tidak mengetahuinya."


"Kenapa, Jen?"


"Tidak perlu kujelaskan, Ayah dan Ibu pasti sudah tahu alasannya."


Dan saat ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk membahas soal Fella serta rencana Rajendra yang ingin mengambil sisa waktu mereka untuk mengajak Zenda pergi ke kota Batu.


...••••...


Selama perjalanan, Zeze hanya sibuk bermain dengan ponselnya. Tak jarang, Zeze tersenyum ketika melihat sebuah gambar lucu.


"Sayang, jangan seperti ini ..."


"Aku minta maaf. Aku terlambat datang karena ada–"


"Sst! Berisik!" ketus Zeze, namun tersenyum lagi saat dirinya menatap ke layar ponsel.


Karena tidak suka diabaikan, Jenanda pun menepikan mobil dan mengambil benda ditangan Kekasihnya itu.


"Rara?"


Zeze hanya berotasi malas dan meminta Jenanda mengembalikan ponselnya lagi.


"Siapa Rara? Aku tidak pernah tahu kalau kamu punya teman bernama Rara, Ze. Jangan-jangan ..."


"Sakura Akeno! Puas!" mata Zeze mendelik.


Hingga mengundang Jenanda untuk tersenyum tipis.


Diraihnya tengkuk si wanita agar wajah mereka saling berhadapan.


Chup!


"Jangan marah lagi ya? Aku minta maaf."


"Hm."


"Sayang ..." rengek Jenanda.


"Kakak itu menyebalkan! Setidaknya kalau ada urusan mendadak, kabari aku. Jang— JENANDA!" pekik Zeze saat Jenanda dengan sengaja menggigit bibir bawahnya.


"Kamu kalau marah semakin lucu. Aku jadi gemas."


"Ish! Terserah! Lebih baik cepat jalankan mobilnya lagi. Aku sudah lapar."


"Cium dulu."


Jenanda menunjuk bibirnya sendiri.


"Tidak mau!" tolak Zeze, seraya memalingkan wajahnya.


Dalam hati, ia berusaha mati-matian menahan agar tidak tersenyum.


"Ya sudah. Tidak ada cium itu berarti mobil tidak akan jalan juga." ancam Jenanda, menaik turunkan kedua alisnya, menggoda.


"Menyebalkan sekali! Punya Tunangan yang kelewat mesum."


Ya setelah itu kalian pasti sudah tahu hal apa yang selanjutnya terjadi diantara mereka.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2