Our Baby!

Our Baby!
PULANG


__ADS_3

Makasih bgt buat yg masih stay di work ini! Sayang kalian bnyak bnyak pokoknya ..


Selamat membaca!


...••••...


Hari itu juga, Rajendra memesan tiket pesawat menuju Surabaya. Membeli penerbangan paling cepat guna meluruskan kekacauan yang sedang terjadi, yang disebabkan oleh Fella.


"Kenapa kalian harus mendadak pergi ke Surabaya?" tanya Joanna.


Zenda dan Rajendra bertukar pandang. Sepakat untuk tidak menceritakan masalah yang sebenarnya pada orangtua Zenda, takut menimbulkan kekhawatiran.


"Ish, Mami! Aku sama Kak Rajen mau pulang kampung. Sekalian menjenguk Ayah dan Ibunya Kak Rajen juga. Apa tidak boleh?"


"Maksud Mami, kenapa harus buru-buru sekali berangkatnya, Zenda? Tidak menunggu Papi kalian pulang dari Kantor?"


Kali ini Rajendra yang angkat bicara, "Kita akan mampir ke Kantor Papi. Sekalian berpamitan juga, Mi."


Satu jam yang lalu, Joanna baru sampai di rumah dan melihat Zenda serta Rajendra sudah bersiap-siap pergi dengan membawa satu koper berukuran sedang dan saat ditanya, keduanya kompak menjawab ingin pergi berlibur.


Sekalian mengunjungi keluarga Rajendra sebab ia berasal dari kota Pahlawan.


"Kami berangkat ya, Mi." ujar Zenda, diikuti oleh Rajendra yang juga mencium punggung tangan Joanna.


"Hati-hati, Sayang. Setelah sampai di Surabaya, kalian harus kabari Mami, oke?"


"Iya, iya, ish! Sudah! Nanti kami ketinggalan pesawat, Mami." protes Zenda saat Joanna menahan lengannya.


"Ya sudah. Kalian boleh pergi. Hati-hati ya!"


"Iya, Mamiku Sayang."


"Iya, Mi." Rajendra menimpali.


••••


Sementara di Cafetaria, mereka masih saling bersitegang.


Karena sudah kalah telak, Sakura harus menerima tawaran tersebut dengan perasaan tidak rela.


Drtt! Drtt!


Ponsel Sakura bergetar.


"Halo, Pa! Apa? Sudah selesai? Oh, oke, oke! Aku segera ke sana. Iya! Sama Kak Zeze. Iya, Papa! Hm, kututup teleponnya."


Setelah memutuskan sambungan telepon dengan Ayahnya, Sakura segera beranjak dari kursi.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Zeze.


Ia juga telah membayar semua tagihan makanan tersebut.


"Apa sih, Kak!"


Zeze menyentak lengan Sakura cukup kasar hingga tubuh gadis itu terhuyung ke belakang, "Kamu belum menyetujui kesepakatan kita, Sakura ..."


"Jangan mengulur waktu! Kapan saja aku bisa mengirimkan video itu ke Om Jean dan Kak Jenan."


"Iya, aku mau! Sudah 'kan? Cuma itu 'kan yang mau kamu dengar? Lepaskan! Sakit, Kak!"


Cekalan Zeze mengendur lalu perlahan, Sakura menepisnya.


Tak ada yang kembali berbicara selama perjalanan menuju Elliptical Art berlangsung.


Mereka sama-sama membuang muka, menatap ke arah jalanan Ibukota yang lumayan dipadati pengendara bermotor.


Setibanya di sana, kedatangan kedua gadis itu sudah disambut oleh Jenan dan Mr. Akeno di lobby.


"Kami sudah putuskan jika pameran Jenan akan digelar dua minggu lagi. Untuk itu, lusa Jenan dan Bu Joanna akan ke Jepang bersama tim yang lain ..."


"Karena penerbangan mereka masih besok lusa, kamu mau tetap di sini atau ikut pulang hari ini juga bersama Papa, Ra?" tanya Mr. Akeno.

__ADS_1


Karena urusannya di Indonesia sudah selesai, maka tidak ada alasan lagi bagi pria itu untuk tinggal berlama-lama.


Masih banyak persiapan yang harus dilakukan. Termasuk berkoordinasi dengan timnya di Jepang.


"Aku berangkat bersama Kak Je dan Tante Joanna saja." cicit Sakura.


Sambil mencuri pandang ke Zeze yang menatapnya sengit. Seolah gadis itu belum jera dan tidak takut dengan ancaman Zeze beberapa menit yang lalu


"Bagaimana menurutmu, Jenan?" tanya Mr. Akeno. Merasa tak enak hati sebab ada Zeze juga di sini.


"Saya tidak ada masalah dengan hal itu. Terserah Sakura saja, Mr. Akeno."


"Yeay! Thank you, Kak!"


"Kalau begitu, ikut antarkan Papa ke Bandara ya."


Sakura terkejut, "Harus sekarang sekali Papa pulangnya? Kenapa tidak menunggu besok pagi, Pa? Papa 'kan baru sampai." nada bicara Sakura terdengar tak rela jika Ayahnya harus pulang secepat itu.


"Papa lupa kalau masih ada urusan lain."


"Iya, Ra. Lagi pula dua hari lagi kita juga akan menyusul ke Jepang."


Zeze masih diam saja. Tidak ingin menyela pembicaraan mereka, meski rasanya mulut Zeze sudah gatal, ingin menyuarakan protes pada Jenanda.


"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang."


••••


Tak butuh waktu dua puluh empat jam untuk sampai di kota Surabaya.


Zenda tampak begitu antusias saat dirinya menginjakkan kaki di Bandara Juanda Surabaya pertama kalinya.


"Wah, ternyata vibe Surabaya tidak kalah dengan Jakarta ya, Kak!"


Rajendra hanya mengusak pucuk kepala Istrinya, gemas. Melihat gadis itu mengangguk-angukkan kepala, mengangumi setiap jalanan kota dengan deretan kulinernya yang tampak menggiurkan.


"Besok aku mau jalan-jalan dulu. Boleh?"


Zenda mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya. Apapun untukmu." Rajendra mengalah. Tak ingin membuat mood Zenda menjadi buruk.


Urusan dengan Fella, akan ia pikirkan nanti.


Asal Zenda-nya senang maka Rajendra rela melakukan apapun supaya Zenda nyaman.


Sekalian bulan madu ke Malang enak sepertinya, pikir Rajendra.


Iya. Meski telah resmi menjadi pasangan Suami dan Istri tapi mereka belum melakukan itu, lagi.


Rajendra sudah berjanji tidak akan menyentuh Zenda dulu sebelum Zenda sendiri yang memintanya.


"Ya Tuhan, Menantu Ibu, akhirnya kalian datang juga, Nak."


Sambutan orangtua Rajendra tak kalah ramahnya.


"Ayah dimana, Bu?"


Rajendra merupakan anak tunggal dan di rumah itu, hanya ada kedua orangtua Rajendra dan Sepupunya yang diminta menemani orangtua Rajendra di sini.


"Kamu masih bertanya juga! Ayah ada di kebun. Ayo masuk dulu. Zenda sudah makan?"


"Belum, Bu. Kak Rajen tidak mau kuajak mampir." bohong Zenda.


Membuat Nyonya Liana mencubit lengan Rajendra, "Kalau Bu Joanna tahu Putrinya dibiarkan kelaparan, bisa digantung kamu, Jen."


"Apa sih, Bu! Zenda bohong!"


"Ish, tidak! Aku tidak bohong. Kakak yang bohong!"


"Sudah, sudah! Malah bertengkar. Ibu masak banyak, khusus untuk Menantu tercantik Ibu ini."

__ADS_1


Zenda memeluk sayang Nyonya Liana, seperti Ibunya sendiri.


Meski keluarga Rajendra begitu sederhana, namun hal itu justru membuat Zenda yang terbiasa mendapatkan segala fasilitas dari kedua orangtuanya merasa bersyukur.


Ada kehangatan yang terselip diantara keluarga mereka.


Zenda menjadi lebih bersemangat untuk menyelesaikan pendidikannya dan ingin segera membuka usaha Cafe impiannya, seperti Bakery milik sang Ibu dan mendiang Neneknya, Nyonya Jasmine.


"Kak, apa Ibu tahu tujuan kita datang?"


Zenda bertanya sangat pelan, selagi Nyonya Liana berada di Dapur, mengambil beberapa ikan lain untuk disajikan.


"Tidak. Lebih baik jangan sampai ada yang tahu soal ini, Ze."


"Oh, oke, oke! Aku mengerti— eh! Ada Ibu, Kak." bisik Zenda.


"Pengantin baru membicarakan apa, hm? Serius sekali!"


"Kata Zenda, masakan Ibu enak. Dia suka."


Zenda membenarkan, "Iya. Enak. Aku sampai ingin makan lagi, hehe."


"Ya sudah. Habiskan. Ibu malah senang."


"Ngomong-ngomong, kapan kalian akan memberi Ayah dan Ibu cucu, Rajendra, Zenda?"


Uhuk, uhuk, uhuk!


Saat itu juga Zenda yang sedang mengunyah makanannya dibuat tersedak oleh pertanyaan Ibu Mertuanya tersebut.


Cucu?


Jangankan cucu, bercinta saja belum pernah mereka lakukan lagi setelah insiden itu.


...••••...


"Ingat pesan, Papa!"


"Iya, Pa. Aku tidak akan merepotkan Kak Je dan keluarganya."


"Bagus. Papa percaya Putri Papa bisa membawa dirinya dengan baik di sini."


Mr. Akeno memeluk Sakura sekali lagi. Mereka belum berbicara hal lain yang mengganjal dipikiran Mr. Akeno sejak kedatangannya hingga kembali pulang.


Belum ada kesempatan.


"Hati-hati, Mr. Akeno. Semoga penerbangan anda menyenangkan dan sampai ditujuan dengan selamat." kata Jenanda.


"Iya, selamat jalan, Mr. Akeno. Jika urusan Kak Je sudah selesai, saya pasti akan menjadikan anda sebagai orang pertama yang akan mendapat undangan pernikahan kami." Zenda dan Jenanda tertawa bersamaan.


Sementara Sakura mendecih tak suka, dalam hatinya.


"Haha, iya. Saya tunggu kabar itu— Zeze. Titip Sakura ya? Jewer saja kalau dia nakal."


"Papa."


Mr. Akeno memeluk Sakura lagi, kali ini dengan perasaan iba, "Papa bercanda. Jangan lama-lama di sini, Papa bisa kesepian kalau kamu tidak ada di rumah, Ra."


"Dua hari tidak lama kok." kata Zenda.


Semakin menyadarkan Sakura agar dirinya segera pergi, kembali ke negara asalnya dan tidak mengganggu Jenanda lagi.


"Ya sudah. Saya harus pergi sekarang."


"Hati-hati, Pa."


"Hati-hati, Mr. Akeno."


"Ya, terimakasih."


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2