
Joanna marah besar pada masalah yang disebabkan oleh Putranya. Ia tidak berhenti menghubungi Jean yang masih dalam perjalanan pulang.
Ini terlalu siang untuk Jean pulang secepat itu. Namun karena darurat, Jean terpaksa menunda pekerjaannya dulu demi bisa menenangkan Joanna.
Dan mendadak, ponsel Zeze juga tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan Zenda dan Rajendra.
Sepertinya mereka berempat kompak membuat tensi darah Joanna menjadi naik berkali-kali lipat dari angka normalnya.
Kepala Joanna berdenyut nyeri dan mencoba menetralkan rasa sakitnya dengan duduk bersandar di sofa.
"Sayang, Joanna! Aku pulang!"
Suara itu menggema di seluruh ruang utama. Jean tergopoh ketika melihat Joanna terus memegangi pelipisnya.
Brak!
Joanna melempar ponselnya. Menunjukkan berita dari postingan akun gosip yang sempat ia capture tadi.
"Bukannya menambah prestasi, Jenanda justru membuatku malu, Jean. Lihat! Kelakuan Putramu!"
"Sabar. Apa kamu sudah konfirmasi soal ini ke si pembuat berita? Kulihat, postingan itu sudah dihapus."
"Iya. Aku sudah membayar mahal akun gosip itu supaya menghapus postingannya tapi orang-orang sudah terlanjur menyimpan itu di ponsel mereka ..."
"Kemarin Zenda bermasalah dengan pihak kampus dan aku juga yang harus menyelesaikannya. Lalu sekarang Jenanda! Ya Tuhan! Kepalaku mau meledak rasanya." keluh Joanna di akhir kalimat.
Kalau kalian mengira Jean yang telah menyuap pihak kampus soal Zenda, itu salah!
Meskipun Joanna sekarang hanya seorang ibu rumahtangga biasa, tapi Joanna tipikal wanita aktif yang menggunakan sosial media. Untuk mencari informasi penting bukan hanya membaca berita update'an dari akun-akun gosip saja.
"Nomor mereka tidak aktif."
"Coba hubungi Sekretarismu itu! Aku sudah coba berkali-kali tapi ponselnya juga mati."
Jean mendudukkan diri di sebelah Istrinya. Memijat bahu Joanna supaya otot-otot Istrinya tidak terlalu tegang.
"Mau kuantar ke rumah sakit? Wajahmu pucat sekali, Jo." khawatir Jean melihat Joanna yang tampak tidak baik-baik saja.
"Penyakit orangtua ya begini! Kelakuan anak-anakmu membuatku sakit kepala, Jean." keluh Joanna lagi.
"Iya, sabar. Jangan marah-marah terus nanti kepalamu semakin pusing ..."
Jean beranjak dari duduknya, mengambil obat yang disimpan di dalam laci, "Sudah makan 'kan? Ayo minum obatnya dulu."
Joanna mengangguk sebentar sebelum memasukkan butiran obat itu ke dalam mulut.
Pahitnya rasa obat tidak sepahit masalah yang sedang ia hadapi.
Bagaimana bisa, Jenanda, Putra yang selama ini dibanggakan, terlibat perkelahian kekanakan seperti itu?
Di tempat umum bersama dua orang wanita yang memperebutkan dirinya pula.
Tidak masalah jika mereka baku hantam asal di rumah, bukan malah menjadi tontonan orang-orang dan membuat reputasi Jenanda dan keluarganya menjadi jelek.
Seperti Tuan Dery dulu, Joanna sangat menjaga reputasi nama baik keluarganya sampai hal sekecil apapun itu, benar-benar harus ia perhatikan dengan benar.
"Urus masalah Jenan, Darling. Aku tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus memarahi anak itu habis-habisan."
"Iya, iya. Jangan marah-marah lagi, Sayang. Kamu baru saja minum obat. Sebaiknya kamu istirahat di kamar. Masalah Jenan biar aku saja yang mengurusnya."
"Hm, begitu bangun, aku mau masalah ini sudah selesai, Je."
__ADS_1
Jean tersenyum. Merasa gemas dengan sikap Joanna. Meskipun sudah berumur namun sikap tegas dan protektif wanita itu tidak pernah hilang.
Tetap seperti Joanna-nya dulu saat ia masih muda.
"Ya sudah. Sekalian kita bahas soal Zeze juga nanti."
"Iya, Darling."
...••••...
"Hai, Ra. Bagaimana keadaanmu?"
Sakura terbaring di Brankar dengan infus menancap di punggung tangannya.
Kata Dokter, kondisi Sakura baik-baik saja. Tidak perlu sampai menginap juga.
"Jauh lebih baik. Terimakasih, Kak."
"Syukurlah. Emm, besok Mr. Akeno datang, apa kamu–"
"Tenang saja. Papa tidak akan kuberitahu soal kejadian ini." Sakura tersenyum, memahami kekhawatiran Jenanda terhadap kondisinya yang disebabkan Kekasih pria itu sendiri.
"Terimakasih ya, Ra. Tadinya aku sempat takut kalau kamu akan memberitahu Mr. Akeno soal ini, maaf."
"Aku tidak sejahat itu menghancurkan kerjasama baik yang terjalin antara Kak Je dan Papa."
"Iya, terimakasih. Kamu memang gadis yang baik."
Sakura hanya tersenyum. Sebuah senyum yang bermakna lain, yang hanya ia sendiri yang mengerti itu.
...••••...
Zeze termenung memandangi aktifitas orang-orang di luar sana melalui jendela kaca Apartemen Rajendra.
Memikirkan setiap ucapan Sakura yang dengan lantang akan merebut Jenanda darinya.
Cklek!
"Kak, makan dulu, yuk!"
Zeze tidak menoleh. Ia tahu Zenda mengkhawatirkan dirinya.
"Jangan seperti ini, Kak."
"Keluar, Ze. Aku mau sendiri dulu." lirih Zeze.
Hari sudah gelap, tapi makanan sore tadi sama sekali tidak disentuh oleh Zeze.
Ponsel wanita itu juga dibiarkan tergeletak di atas meja dalam kondisi mati.
"Ya sudah. Kalau butuh sesuatu, panggil aku atau Kak Rajen ya? Aku keluar dulu."
Rajendra yang menguping dari luar, ikut menghela napas. Merasa kasihan dengan Zeze, wanita yang pernah ia sukai, dulu.
"Ada 30 panggilan dan banyak pesan dari Papi dan Mami. Sayang."
"Aku belum menyalakan ponsel. Kak, aku juga takut! Mereka pasti marah mendengar berita itu."
"Apalagi tadi sempat kulihat, video pertengkaran mereka di posting di akun gosip. Ya Tuhan! Aku tidak bisa bayangkan, semarah apa Mami ke Kak Jenan!" lanjut Zenda.
Rajendra merangkul pundak Istrinya dan mengajaknya turun ke bawah. Tidak baik kalau sampai Zeze mendengar masalah ini juga.
__ADS_1
Hanya menambah beban pikirannya.
"Masih kelihatan tidak? Aku pakai concelear saja ya? Buat menutupi lebam di sudut bibirku."
"Apa tidak perih? Lukamu lumayan, Ze."
"Perih sih tapi ya mau bagaimana lagi? Kita harus menemui Papi dan Mami. Menjelaskan semuanya."
"Biar aku saja yang pergi. Kamu di rumah bersama Zeze." usul Rajendra.
Dan Zenda tentu tidak setuju sebab ini masalah internal keluarga. Maksudnya, ini masalah Jenanda, tidak ada sangkut-pautnya dengan Rajendra yang hanya seorang menantu di keluarga Soenser.
Kecuali ...
Masalah Zenda di Kampus.
"Aku tetap akan ikut. Kita hubungi Kak Je dulu dan minta dia buat menjemput Kak Zeze di Apart."
"Oke, oke! Kakak ambil ponsel Kakak dulu."
"Hm, cepat, Kak."
Zenda juga tidak berani menyalakan ponselnya dulu. Ia masih takut kena omelan Ibunya.
...••••...
Jenanda sedang mencari pinjaman charger ke staff rumah sakit.
Ia tidak sengaja mematikan ponselnya begitu saja.
Itu murni daya ponselnya yang habis. Jenanda bukan pria yang suka lari dari tanggung jawab dan mangkir karena telah berbuat kesalahan, tidak! Jenanda itu penuh tanggung jawab dan secepatnya akan menyelesaikan kesalah paham ini.
"Terimakasih, Suster. Saya ada di kamar flamboyan nomor 7. Saya pinjam dulu ya chargernya."
"Iya, Pak. Bawa saja dulu. Nanti kalau visit, saya ambil."
"Baik, terimakasih."
...••••...
Sesampainya Jenanda di ruangan perawatan Sakura, Jenanda melihat gadis itu sedang menelepon seseorang.
Dan langsung buru-buru mematikan sambungannya setelah Jenanda masuk.
"Telepon siapa, Ra?"
"Oh, ini ... Papa bilang kalau besok jam 7 minta dijemput, Kak."
Jenanda terkejut dalam diam.
"Kak Je bisa temani aku jemput Papa?"
"Eh? Itu–"
"Tidak bisa ya?"
"Bisa kok, Ra. Malam ini kamu di sini dulu. Besoknya baru pulang dan langsung jemput Papamu di Bandara." ujar Jenanda, mulai gelisah juga sebab sedang memikirkan Kekasihnya yang belum bisa dihubungi hingga sekarang.
"Tapi aku mau Kak Jenan temani aku menginap di sini. Aku takut, di rumah sakit sendirian bersama orang asing."
Ya Tuhan! Apalagi sekarang? Kenapa permintaan Sakura semakin banyak saja, tsk!
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!