
12 tahun kemudian ...
Joanna dipusingkan dengan ulah si bungsu yang terus berteriak, merengek minta ikut Kakaknya pergi ke Kanada.
"Zenda, Kakak ke sana bukan untuk jalan-jalan."
"Pokoknya Zeze mau ikut! Mami ..."
Mata si cantik Zenda mulai berkaca-kaca. Bibir yang menduplikat bibir sang Ibu itu melengkung, siap menumpahkan airmata yang ditahan semenjak tadi.
"Sayang."
Ketiganya menoleh saat Jean datang membawa sesuatu di tangannya.
Anak perempuan yang selalu dekat dengan Ayahnya itu segera berlarian minta dipeluk.
"Ze mau ikut Kakak, Papi. Tapi Kak Je tidak mengizinkan Ze ikut, huaaa!!"
Tangis Zenda pecah.
Rumah yang tadinya sepi kini berubah menjadi penuh kebisingan sebab jika Zenda sudah seperti ini maka seluruh orang mulai panik.
Pasalnya Zenda tidak akan berhenti merajuk sebelum keinginannya terwujud.
Salahkan Jean yang selalu memanjakan bocah itu. Menuruti apapun keinginan Zenda dan membuat Joanna angkat tangan soal kelakuan si bungsu.
Menyerahkan Zenda agar diurus oleh Suaminya saat Joanna tak sanggup menghadapi bocah itu lagi.
"Sst! Buka matanya dulu. Lihat! Papi bawa apa ini, hm?"
Tiga tiket pesawat ke Kanada sudah dipesan Jean untuk menyusul si sulung yang berencana menggelar pameran pertamanya di sana.
Hanya selisih satu hari setelah keberangkatan Jenan besok pagi, lusanya— Jean, Joanna dan Zenda akan menyusul.
"Papi, ini?"
"Yes, baby. Kita akan pergi ke sana. Papi sengaja memberimu kejutan kecil ini, suka?"
Bocah berusia tiga belas itu memeluk leher Ayahnya. Malu sebab tadi sempat menangis.
"Kenapa, hm? Bilang apa dulu ke Papi?"
"Ish, Papi!" rajuknya.
"Nah, sekarang Zenda tidak boleh menangis lagi. Biar Kakak siap-siap dulu." kata Joanna.
"Tidak usah, Mi. Aku bisa siapin barangku sendiri. Mami sama Papi di sini saja, temani Zenda. Nanti dia nangis lagi, seperti ini ... Huhuhu." ejek Jenan, seraya mencubit pipi gembil Adiknya.
"Mami, Papi, Kakak nakal ..." adu Zenda.
"Nakal begini, kalau ditinggal Kakak juga nangis 'kan?" goda Jenan.
Dibalas pukulan kecil di lengannya.
"Sudah-sudah. Lebih baik kamu siapkan barang yang perlu dibawa, Zenda, besok tidak perlu sekolah, Papi sudah izin ke wali kelasmu untuk cuti satu minggu."
"SERIUS, PI? ZE LIBUR SATU MINGGU?"
"Dua rius malah." ujar Jean sambil mengusap kepala Anaknya.
"YEAY! TERIMAKASIH PAPI GANTENG, PAPINYA ZENDA YANG TERBAIK, MUAH!"
Tingkah random Zenda hanya mendapat gelengan kepala dari Joanna.
Sejujurnya, sikap Jenan dan Zenda begitu kontras.
Jika saat kecil Jenan sangat penurut dan tidak suka banyak permintaan, berbeda dengan Zenda yang sedikit-sedikit suka merajuk dan menangis jika keinginannya tidak dituruti.
Mungkin karena perbedaan gender kedua anak itu hingga Joanna harus memaklumi kalau sifat mereka juga berbeda.
"Sayang ..." panggil Jean.
Saat melihat Istrinya berbaring sambil menonton film horor di ponselnya.
"Hm."
__ADS_1
"Sayang ..."
"Apa, Jean?"
"Ish! Lihat aku dulu."
Joanna menghela napas. Menekan tombol pause saat dirasa kegiatan menontonnya diganggu oleh si bayi besarnya.
"Apa, Sayangku? Mau apa?"
"Itu ..."
Mata Jean menunjuk ke arah tubuh Joanna.
"Ayo buatkan adik lagi. Kali ini untuk Zenda."
Joanna bergidik ngeri saat Jean menatapnya penuh gairah.
Seolah tidak sabar ingin bercinta dengannya.
"Tidak ada adik baru! Mengurus Zenda saja sudah membuatku sakit kepala, nyut-nyutan setiap hari apalagi ditambah bayi ..."
Joanna meraih ponselnya lagi, melanjutkan kegiatan sebelumnya dan mengabaikan Jean yang tampak kesal setelah mendapat penolakan.
Jika diminta untuk melayani seperti biasa, Joanna dengan senang hati meladeni Jean sampai pagi. Karena wanita itu sudah terbiasa dengan tenaga kuda Suaminya jika menyangkut urusan ranjang.
Namun permintaan Jean yang barusan tidak akan Joanna penuhi.
Dua anak sudah cukup, pikir Joanna.
"Tega sekali kamu, Sayang! Aku sedang ingin melakukan itu. Joanna, ayolah!"
Lagi.
Joanna menghela napas jengah ketika tangan Jean begitu nakal menyentuhnya.
"Aku juga mau. Tapi pakai pengaman! Aku tidak mau punya anak lagi, Jean ..."
Karena ikut kesal, Joanna akhirnya meletakkan ponselnya di nakas.
Jean terdiam.
Memandangi wajah Istrinya yang tak menua meski usianya hampir memasuki kepala empat.
"Iya, Joanna."
"Iya apa?"
"Bercinta tanpa memakai pengaman."
"Jean!"
"Maksudku, keluar di luar. Rasanya tidak enak kalau pakai pengaman. Ya, ya, please!"
Joanna berpikir sejenak sebelum menyetujui permintaan Jean yang bisa saja membuatnya kebobolan.
Terlebih, jika mereka sudah terbuai dengan permainan itu, maka Jean dan Joanna akan menjadi lupa diri.
Dan satu-satunya hal yang harus Joanna lakukan sebagai antisipasi adalah meminum pilnya.
Itu harus.
Joanna tidak percaya dengan Suaminya yang kelebihan hormon itu.
"Hm, aku mau mandi dulu. Panas, bau! Kamu juga."
"Siap, cantik!"
...•••• ...
Hari keberangkatan keluarga Jean ke Kanada pun tiba ...
Sebelum itu, Jenan sudah mengatakan bisa menjemput keluarganya di Bandara.
Jadi saat sampai di Kanada, Jean dan Joanna tidak perlu memesan taksi.
__ADS_1
"Tsk! Kakak kemana, Mi? Kok lama. Capek kaki Ze berdiri terus." protes Zenda ke sepuluh kalinya.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi Kak Je datang."
Sebenarnya mereka bisa saja menunggu Jenan di Kafetaria namun si bungsu tidak mau.
Karena takut kelepasan memesan makanan lagi dan membuat berat badannya naik.
Alasan yang agak aneh, tapi Jean dan Joanna tetap menurutinya.
Hingga lima belas menit berlalu, Jenan belum muncul juga.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil berwarna hitam mengalihkan atensi.
"Sampai jamuran tunggu Kakak baru datang!" keluh Zenda lagi.
"Maaf, macet. Sini, Pi. Biar Jenan bantu."
"Terimakasih, Je. Bawa yang kecil itu saja."
Mobil melaju membelah jalanan kota Kanada yang tampak lengah.
"Mana ada Kanada macet. Jakarta kali yang macet." cibir Zenda seraya tatapannya mengarah keluar jendela.
"Macetnya di gedung parkiran tempat acara pameran Kakak, Zenda."
"Alasan! Kakak pasti bohong .."
"Kalau bohong hidungnya mancung, seperti pinokio." lanjut Zenda, seraya menarik hidung Jenan.
"Terserah. Dikasih ta–"
"Eh, kenapa jadi bertengkar? Kakak? Zenda?" tanya Joanna menginterupsi.
Ia bisa melihat gurat kekesalan di wajah si sulung.
"Kakak yang mulai, Mi."
"Kamu Ze! Enak saja menyalahkan orang lain."
Jean yang peka pun akhirnya bersuara.
"Kenapa, Jenan?"
"Tidak apa-apa, Pi."
Joanna yang berada di kursi depan menoleh sebentar, "Ada yang kamu tutupin dari Papi dan Mami?"
Mendengar pertanyaan itu, Jenan terdiam. Melirik sekilas ke arah Ayahnya yang fokus menyetir.
"Jenan ..." panggil Jean.
"Maaf, Pi. Serius! Je baik-baik saja kok."
"I know you so well, Sayang. Katakan! Kenapa, hm?"
Helaan napas pelan terdengar.
Jenan bingung harus mengatakannya atau tidak.
Ia takut ketenangan keluarganya kembali terusik.
"Ish! Kakak kalau ditanya itu ya dijawab! Malah diam saja, ck!" pukul Zenda.
Menyadarkan Jenan dari lamunannya.
"Sebenarnya aku bertemu Aunty Rosa, Pi, Mi. Dia salah satu pengunjung yang datang ke pameranku."
Membuat Jean dan Joanna saling memandang sejenak sebelum Joanna mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
"Tidak apa-apa. Semua pasti akan berjalan dengan lancar."
...••••...
__ADS_1
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!