
Lima tahun kemudian ...
Setelah bersabar melalui banyak masalah berat dalam hidup mereka, kini keluarga kecil Jean bisa merasakan buah dari kesabaran itu.
Pelaku utama dari kasus penculikan Jenanda Soenser telah ditangkap dan pengadilan memutuskan pelaku dijerat hukuman seumur hidup penjara.
Seperti itu berita yang tersebar di media saat penangkapan Ethan berlangsung.
Sebab kasus itu melibatkan cucu keluarga konglomerat yang terkenal di kota tersebut.
Joanna masih tidak menyangka dengan kejahatan yang dilakukan oleh Ethan pada Putranya.
Meski Jenan sempat mengaku bahwa para penculik itu memperlakukan Jenan dengan baik, didukung keterangan dari Perawat Yo yang membenarkan ucapan Jenan namun semua itu tidak menyurutkan keinginan Joanna dan Jean yang tetap mengambil jalur hukum agar memberi efek jera pada para pelaku, terutama Ethan.
Dan enam bulan yang lalu, Perawat Yo memutuskan resign karena ingin pulang kampung merawat orangtuanya yang sudah tua.
BUGH!
Joanna melempar koran tadi di atas meja. Bibir yang terpoles lipstik merah itu berdecak kesal.
Ia sengaja menyimpan koran tersebut supaya menjadi pengingat jika sebuah kejahatan bukan hanya berasal dari orang-orang yang tidak dikenal melainkan dari seseorang yang pernah dekat dengan kita.
Menyesal?
Ada, hanya sedikit. Karena Joanna tidak suka larut dalam sebuah penyesalan dan membuatnya menyimpan dendam yang tak berujung.
"Mami!"
"Sweetheart!"
Joanna menoleh ke arah sumber suara yang terdengar begitu nyaring saling bersahutan hingga sebuah pelukan hangat Joanna dapatkan dari dua lelaki hebat yang berdiri di belakangnya.
"Gambar Jenan dapat nilai sempurna, Mi! Hadiahnya?"
Sebelah tangan Jenan yang kosong terulur ke depan seolah meminta hadiah yang telah dijanjikan oleh Ibunya jika Jenan dapat nilai sempurna di mata pelajaran tersebut.
"Eits! Cium Mami dulu, Baby."
"Ish! Mami! Jangan panggil Je seperti itu lagi. Je sudah besar!"
Bocah itu merengut kesal seraya kedua tangannya terlipat di depan dada. Bertingkah sangat lucu tanpa disadari hingga membuat kedua orangtuanya gemas.
Belakangan ini Jenan menolak dipanggil dengan sebutan itu.
Jean yang berada di Counter Dapur terkekeh mendengar nada merajuk dari si kecil.
"Kenapa Je tidak mau dipanggil begitu, hm?"
"Karena Je mau dipanggil Kakak, seperti yang dilakukan Zeze. Memanggil Bruce dengan sebutan Kakak, Papi."
"Zeze?"
"Adik perempuannya Bruce. Dia cantik dan lucu, hihi."
Joanna mengerutkan dahi.
Menatap bingung pada perubahan ekspresi Jenan ketika menyebut nama Zeze.
__ADS_1
"Jenan mau punya adik bayi?"
Jenan mengangguk penuh semangat. Banyak mendengar cerita dari teman-temannya di sekolah jika memiliki adik itu sangat menyenangkan dan tidak akan membuat dirinya bosan karena mereka bisa bermain bersama di rumah.
Entah apa yang sedang dipikirkan Jean hingga sudut bibir pria itu menyeringai ketika Joanna justru menatap malas padanya.
Sebab Joanna tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Suaminya.
Dasar mesum!
Jean mengusap pipi gembil Putranya, "Jadi ... Je mau adik laki-laki atau perempuan?"
"Jean!"
"Ya, Sweetheart?"
"Baby, kamu masuk ke kamar dan ganti baju dulu, okay? Setelah itu kita makan siang bersama."
"Mami! Je bukan bayi! Jangan panggil Je seperti itu." protes Jenan lagi.
Karena tidak ingin menimbulkan keributan maka Joanna menuruti ucapan Anaknya tersebut.
"Ya sudah. Kakak ganti baju dulu ya? Papi dan Mami tunggu di meja ma— heh! Jangan lari! Astaga, anak itu!"
Sekedar informasi, dulu Jean dan Joanna berencana melakukan program hamil tapi tidak jadi sebab Joanna masih belum siap, membagi perhatiannya pada selain Jenan.
Bukannya egois dan berlebihan tapi menurut Joanna, jarak ideal antara usia anak pertama dan kedua adalah empat tahun.
Jadi jika topic pembicaraan mereka sudah mengarah pada soal adik baru— Joanna tidak bisa menolak.
"Pokoknya Kakak mau punya adik bayi. Yang lucu! Yang pipinya bisa di toel-toel begini, Pi." ucapnya seraya menjawil pipi gembilnya sendiri, gemas.
"Yeay! Terimakasih, Papi."
Joanna mengumpat dalam hati sementara Jean tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah Joanna yang tampak pasrah.
"Sama-sama, Sayang."
...••••...
"Sapu yang benar! Itu! Sebelah sana! Masih ada debunya."
"Aku tidak bisa tidur jika kamarku kotor."
"Astaga! Kenapa piringnya belum dicuci? Lalu aku makan pakai apa?"
"Persediaan makanan di kulkas habis, coba ke warung depan! Siapa tahu pemiliknya masih berbaik hati membiarkan kita berhutang beras dan mie karena aku takut bisulan makan telur setiap hari!"
"Ma!"
"Mama!"
"Ma, Cepat ke sini! Ya Tuhan! Ini rumah atau kebun binatang? Kenapa banyak sekali hewan menjijikkan yang berkeliaran di sini, eww!"
Teriakan demi teriakan sudah menjadi makanan sehari-hari pasangan Ibu dan Anak itu.
Bagaimana tidak?
__ADS_1
Sejak namanya ikut terseret dalam kasus penculikan yang menimpa Ethan kala itu, kehidupan Rosa dan Nyonya Anne berubah seratus sembilan puluh sembilan derajat.
Dari menjadi Istri pengusaha kaya pemilik Jopy Corporation lalu diceraikan hingga beralih profesi menjadi tukang cuci panggilan, yang kerjanya setiap hari mengambil tumpukan kantong merah berisi baju kotor milik orang lain.
Yang seumur hidupnya tidak pernah dilakukan.
Bahkan pernah suatu kali— Nyonya Anne tidak sengaja menemukan sepasang underware milik salah satu pelanggan dan itu benar-benar membuatnya menangis semalaman.
Dulu mereka terbiasa hidup serba berkecukupan hingga tidak sanggup berada di situasi yang sulit seperti sekarang.
Apalagi Rosa tidak mau membantunya melakukan pekerjaan rumah. Jangankan membantu, menengok pun tidak.
Rosa hanya bisa memerintah, makan dan rebahan saja.
Bersikap Bossy tanpa memikirkan betapa lelahnya Nyonya Anne menjalani kehidupan selama lima tahun terakhir bersama dengannya.
Rosa juga tidak berusaha mencari pekerjaan dan beralasan perusahaan tempat ia melamar memberikan gaji tidak sesuai. Padahal Rosa seorang lulusan Sarjana Bisnis.
Tapi semua orang juga tahu, Rosa hanya mengandalkan wajah cantiknya sementara otaknya, maaf— nol besar!
"Kenapa di meja tidak ada makanan? Aku lapar!"
BYUR!
"KENAPA MAMA MENYIRAMKU? LIHAT! AKU BARU KERAMAS TADI PAGI, MAMA!"
BYUR!
Guyuran air bekas cucian kotor membasahi sekujur tubuh Rosa hingga bau tidak sedap itu mulai tercium. Membuat Rosa harus menahan napas dan gatal di kulitnya.
"Mama yakin kamu tidak buta, Ros! Cari kerja sana! Supaya kamu tahu, susahnya mencari uang di tengah himpitan perekonomian yang sulit seperti sekarang! Jangan hanya menyuruh Mama melakukan ini dan itu tanpa mau membantu!" bentak Nyonya Anne.
Kemudian Setelah puas mengomel, Nyonya Anne kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena Rosa selalu berulah saat dirinya sedang sibuk menyelesaikan cucian milik tetangga yang harus cepat diantar.
Mata Rosa sudah berkaca-kaca lalu memilih pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya yang semenjak tadi tidak berhenti berbunyi.
Menggoreng telur yang tersisa satu dengan wajan usang serta memanaskan minyak bekas empat hari yang lalu.
"Seumur hidup aku tidak pernah pegang alat masak! Bahkan saat mendiang Papa Louis yang penyakitan itu masih hidup ... Aku juga tidak pernah memasak!" keluhnya.
Tangannya juga terlihat kaku saat ingin membalik telur itu, "Jangan meletus, sialan! Awas saja ya! Setelah ini aku akan memakanmu." umpatnya pada telur yang sengaja ia goreng setengah matang.
Kemudian mengambil nasi tiga centong besar dan menuangkan saos pedas yang tersisa sedikit di atas telurnya.
Lagi.
Hal itu kembali menyulut emosi Rosa sebab tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang bergerak di bawah kakinya, terasa menusuk kulit.
"Eh? Apa ini— ARGH! MAMA TOLONG! ADA KECOA! TOLONG AKU!" teriaknya ketika kecoa tersebut merambat ke area betisnya.
Bukan pertama kali Rosa meneriakkan nama hewan itu semenjak tinggal di sana.
Hampir setiap hari, di dapur mereka ada hewan berwarna merah dengan bau yang tidak sedap menurut semua orang
Membuat Nyonya Anne reflek membanting pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Berpura-pura tidak mendengar karena sudah terlalu jengah melihat tingkah Rosa yang semakin hari semakin bar-bar saja sejak mereka hidup susah pasca diceraikan oleh Tuan Dery dan tak diberi harta gono-gini.
__ADS_1
...••••...
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!