Our Baby!

Our Baby!
LUKISAN


__ADS_3

Hai!! Kalo ada part yg typo ato ada yg perlu diperbaiki, ditandai dlu aja ya, Guys! Ntar pasti sya revisi kok, tapi pelan2 ngerjainnya hehe ..


Soalnya sya juga ngehandle work sebelah, mampir aja kalo mau liat momen Joanna x Jean lagi!


Selamat membaca ..


...••••...


Satu hari sejak resmi menikah, perlahan Zenda harus membiasakan diri tinggal seatap dengan Rajendra.


Belajar menyiapkan seluruh kebutuhan Rajendra dan menjadi istri yang tidak galak lagi bagi pria itu.


"Eunghh\~ jam berapa sekarang?"


Melalui celah jendela kamar, Zenda melirik jam di atas nakas.


Pukul 7 pagi.


Mata Zenda terbelalak dan langsung melompat dari atas kasur saat melihat ke bagian sisinya, menyadari Suaminya sudah tidak ada.


Cklek!


"Sayang, kamu sudah bangun? Ini masih pagi."


Rajendra tampak segar setelah mandi. Rambutnya dibiarkan setengah basah hingga Zenda yang melihat itu mendengus pelan lalu menyuruh Rajendra agar duduk di bawah karpet sementara Zenda mengeringkan rambut Rajendra menggunakan handuk kecil sekalian membantu menyisirnya juga.


"Jangan dibiasakan rambut basah-basahan seperti ini, Kak Rajen. Nanti Kakak bisa sakit dan aku juga yang repot."


Ada perhatian kecil dibalik ucapan bernada kesal itu.


Rajendra mengukir senyum tanpa Zenda sadari. Rajendra tidak akan terlalu memaksa Zenda bisa menerima dirinya sebagai Suami tapi ia akan berusaha, untuk memahami sikap Zenda sampai Zenda bisa kembali bersikap manis seperti dulu.


"Maaf. Kamu mau sarapan apa, Sayang? Biar aku masakin sekalian."


"Kak Rajen mau aku diomeli sama Mami karena nyuruh Suami buat masak?"


"Oh berarti kamu mau masak buat aku ya?"


"Hm."


Tidak ada percakapan lagi.


Jemari Zenda bergerak lembut mengusap kepala Suaminya. Sesekali Zenda memberikan pijat ringan untuk Rajendra agar otot-ototnya menjadi lemas.


Ia juga tersenyum di belakang sana.


Tidak pernah membayangkan jika Zenda begitu cepat mengakhiri masa lajangnya hanya karena ketakutan orang-orang disekitar yang tidak terjadi.


Buktinya sampai hari ini, Zenda tidak hamil. Terhitung lima tespek yang dibeli dengan merk berbeda, namun semua hasilnya negatif.


Tidak semua wanita sekali bercinta langsung jadi. Ada kondisi tertentu yang membuat cairan itu tidak berhasil membuahi sel telur.


"Ze, hari ini aku pulang agak malam. Tapi sebisa mungkin, aku yang jemput kamu pulang kuliah ya?"


"Kamu tidak perlu minta tolong sopir Papi lagi buat antar-jemput kamu."


"Hm, terserah."


Mendengar jawaban Zenda yang malas-malasan, Rajendra berbalik. Mendongakkan wajah hingga membuat jarak mereka sangat dekat.


"Sekali lagi aku minta maaf soal masalah yang sempat kita lalui. Aku benar-benar menyesal dan aku berusaha untuk memahami kondisi kamu, Ze."


Rajendra menggenggam kedua tangan Zenda, menciumnya bergantian.


"Jangan lama-lama ya marahnya? Aku rindu Zenda-ku yang dulu. Yang suka bicara manis dan manja ke aku."

__ADS_1


Rajendra bangkit dari duduknya. Memakai setelan baju yang telah disiapkan oleh Zenda sebelumnya.


Entah mengapa, pemandangan itu membuat mata Zenda memanas.


Hatinya berdenyut sakit melihat Rajendra berusaha keras memperbaiki hubungan mereka namun sementara dirinya justru bersikap kekanakan dan ketus.


"Aku juga tidak akan memaksamu untuk melayani kebutuhan biologisku, aku bisa tunggu kamu sampai siap melakukannya ..." Rajendra mencium kening Zenda cukup lama, "Hari ini biar aku saja yang memasak untuk sarapan kita. Jangan marah ya? Kamu bisa bersih-bersih dulu. Aku tunggu di bawah."


Zenda tetap bungkam mendapat perlakuan semanis itu dari sosok pria yang dua pekan ini telah ia abaikan.


"Kak Rajen ..." panggilnya dengan suara serak, seperti menahan tangis.


Rajendra yang berdiri di ambang pintu terkejut ketika Zenda memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku, Kak."


"Aku sudah bersikap kurang ajar sama Suamiku sendiri, maaf."


Rajendra merasa punggungnya basah karena Zenda membenamkan wajahnya di sana sambil terisak lirih.


Kemudian membalik posisi agar mereka saling berhadapan.


"Dimaafkan." ujar Rajendra.


Merasa lega pada akhirnya hubungan mereka perlahan mulai membaik, seperti dulu.


"Tapi aku belum siap melakukan itu. Aku ... Aku masih takut." cicit Zenda.


"Kakak sudah bilang padamu, Kakak tunggu kamu sampai siap, Sayang."


"Iya. Maaf."


Zenda semakin mengeratkan kedua lengannya untuk memeluk tubuh jangkung Suaminya.


Ia bersyukur mendapatkan sosok lelaki yang begitu sabar dan penuh perhatian seperti Rajendra.


Kekesalan Rajendra juga karena tidak tahan menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi.


...••••...


Celia datang mengejutkan Jenanda yang sedang fokus memeriksa dokumen. Laporan bulan lalu yang perlu dikoreksi lagi.


"Gawat, Je! Gawat!"


Jenanda yang tidak tahu apa-apa hanya menatap datar pada Celia yang begitu serampangan menarik kursi di depannya.


"Itu ... Di depan ada, emm—"


"Siapa?"


"Sakura."


"APA? K-kamu serius, Cel?"


"Haha, aku bercanda, Bos! Haha! Ya seriuslah, astaga! Dia ada di ruang tunggu."


Oh tidak!


Kenapa Mr. Akeno tidak bilang jika penerbangan mereka dimajukan satu hari?


Padahal siang ini, Zeze mengajak Jenanda makan siang bersama di kantornya.


"Cepat temui klien kita. Jangan buat dia menunggu ..."


Celia justru membuat Jenanda semakin panik, "Soal Zeze, biar aku yang urus. Sana pergi!"

__ADS_1


"Oke, oke! Jangan beritahu apapun soal Sakura. Aku saja yang memberitahunya sendiri."


"Tenang, Boss. Aman!"


...••••...


Jenanda mengajak Sakura berkeliling sebentar karena gadis itu memaksanya ingin melihat koleksi lukisan yang ada di Elliptical Art.


"Wah, lukisan ini cantik sekali, Kak."


Lagi.


Hampir semua orang menganggumi sosok gadis kecil dengan rambut dikuncir ekor kuda, yang duduk di antara bunga-bunga cantik yang dikelilingi banyak kupu-kupu.


Sosok gadis kecil itu terlihat ingin menangkap salah satu kupu-kupu yang hinggap di atas bunga.


"Eh? Ada notenya juga ... 'Z'; 22 tahun yang lalu?"


Sakura menoleh untuk meminta penjelasan tentang lukisan tersebut.


"Beruntung sekali gadis berinisial Z ini ya, Kak? Dilukis oleh seniman hebat seperti Kak Jenan ..."


Dan gadis beruntung itu adalah Zeze.


Iya, kekasih hatinya Jenanda.


"Kapan-kapan aku juga mau dilukis dong. Seperti Rose, yang dilukis Jack saat di kapal Titanic."


Deg!


Kedua mata Jenanda melotot sebab seingatnya, adegan itu cukup fulgar karena si wanita harus full naked ketika Jack melukisnya.


Apa Sakura sedang menggoda Jenanda sekarang?"


"Haha. Bercanda!! Kak Jenan wajahnya tidak usah tegang seperti itu, santai, Kak."


"Ya aku pikir kamu serius, Ra."


"Tidak mungkinlah, Kak. Masa aku harus telanjang di depan Kak Je, kecuali–"


"Kecuali apa?"


Zeze.


Berdiri dengan raut yang tak terbaca. Seolah siap meledakkan bom waktu di atas kepala si wanita kecentilan itu.


Berjalan dengan langkah berbahaya dan menatap tajam pada sosok gadis yang berdiri di sebelah Jenanda.


"Aku Zeze, kekasih Kak Jenan sekaligus gadis kecil yang ada di lukisan itu."


Meski agak dongkol, Sakura tetap membalas jabatan tangan Zeze agar terlihat sopan.


"Sakura Akeno, rekan bisnis Kak Jenan."


"Sayang, kenapa tidak mengabari aku dulu?" Jenanda sudah ketar-ketir, takut Zeze mengamuk pada Sakura yang terus melempar senyum.


Entah hanya berpura-pura agar terlihat ramah di mata Jenanda atau memang Sakura tulus melakukan itu.


Hanya Sakura dan Tuhan yang tahu jawabannya.


"Tadinya aku mau membuat kejutan untuk Kakak, tapi justru aku yang malah terkejut." sindir Zeze, sembari melirik Sakura yang memasang wajah sok polos.


Tidak merasa bersalah setelah tadi sempat membahas hal yang macam-macam dengan Kekasihnya.


Beruntung Zeze segera datang hingga godaan gadis itu terjeda begitu saja.

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2