Our Baby!

Our Baby!
TERKEJUT!


__ADS_3

Ketiganya kini duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu. Dengan tiga cangkir teh berada di atas meja yang baru saja diantar oleh Maid.


Shelin memperhatikan penampilan Zenda secara keseluruhan. Mengakui jika Zenda bukanlah gadis sembarangan.


Terlihat dari tas jinjing keluaran brand Prada yang ada di sisi kanannya.


"Fella membuat masalah. Dia menyebarkan berita tidak benar tentang hubungan kami, menyuap Jurnalis Kampus dan menghasut anak-anak dari fakultas lain untuk mempercayai berita itu, Kak." mulai Rajendra, ia tidak tahan berlama-lama di rumah Fella.


Bagaimana pun, Rajendra dulunya sering mengunjungi rumah Fella untuk apel.


Tak heran jika Rajendra agak kurang nyaman. Bukan karena terbawa perasaan tapi ya tidak enak saja.


"Punya bukti apa kamu sampai menuduh Fella melakukan itu, Jen?"


"Banyak! Tidak perlu kita jelaskan satu-persatu, Kakak pasti tahu kondisi mental Fella seperti apa!"


"Dia juga mengawasi kami di Cafe milik Suamiku." tegas Zenda sekali lagi.


Nadanya terdengar jengkel sebab Shelin benar-benar tak bisa diajak bicara baik-baik. Berucap ketus pada mereka padahal kesalahan itu disebabkan oleh Adiknya sendiri.


"Adikku tidak gila! Dia hanya amnesia!"


"Iya, tidak gila! Tapi dia terobsesi dengan Suamiku, Kak. Tolong jangan denial soal ini! Rumah tangga kami bisa hancur kalau Kakak tidak mau bertindak untuk mencegah Fella."


Rajendra menggenggam jemari Zenda guna menenangkan Istrinya, "Kenapa tidak coba metode hipnoterapi? Mungkin itu bisa membantu memulihkan ingatan Fella lagi, Kak."


Benar.


Selama ini Shelin dan Ibunya hanya menuruti ucapan Fella yang terus menolak untuk dibawa ke Dokter guna menjalani terapi seperti yang diusulkan Rajendra barusan.


Alasannya?


Karena Fella mengira dirinya baik-baik saja setelah kecelakaan itu.


Hanya terluka difisiknya saja dan tetap menganggap bahwa hubungannya dengan Rajendra tidak ada masalah.


"Dia tidak mau!"


"Dipaksa! Kalau Kak Shelin tidak mau melakukannya biar kami yang bantu." kata Zenda, meyakinkan Shelin agar memberi izin untuk membantu Fella sembuh dari amnesianya.


Supaya hubungan rumah tangga Zenda dan Rajendra kembali tentram tanpa gangguan dari masalalu Rajendra lagi.


"Aku diskusikan masalah ini dengan Mama dulu, Jen."


Zenda sedikit menarik napas, lega. Akhirnya, usaha mereka pergi ke Surabaya membuahkan hasil.


Setidaknya mereka masih memiliki harapan untuk menghentikan kegilaan Fella yang masih beranggapan Rajendra itu Tunangannya.


"Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian. Maaf, kesan pertama yang kurang baik." ucap Shelin, mengalihkan topic pembicaraan agar tidak merasa canggung.


Rajendra tersenyum begitu tulus pada sosok Kakak Fella yang dulu menjadi orang pertama yang memberitahu Rajendra soal perselingkuhan Fella dan Darriel.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Itu wajar. Kakak pasti shock karena kami tiba-tiba datang tanpa memberitahu dulu, maaf ya! Tapi ulah Fella sudah merugikan kami, terutama aku, Kak .."


"Mamiku marah karena dikira aku membuat masalah di Kampus." jelas Zenda lagi.


Shelin terkejut namun berhasil mengatur ekspresinya dengan baik.


Ia tidak tahu jika Fella memiliki tujuan lain soal kepindahannya ke Jakarta.


Setahu Shelin, Fella bilang ingin kuliah di Ibukota, seperti teman-temannya.


"Sekali kali lagi, atas nama Shelin, aku minta maaf ya? Terutama padamu— Zenda."


"Tidak apa-apa. Untuk sekarang, kapan Kak Shelin ada waktu? Aku dan Kak Rajen tidak bisa menetap lama di Surabaya."


Shelin mengeluarkan ponselnya.


Memeriksa schedule yang telah dicatat pada benda pipih itu. Berharap dirinya memiliki waktu longgar untuk mengurus Fella.


Sementara Fella jelas tidak akan mau disuruh pulang ke Surabaya dalam waktu dekat.


"Bulan depan aku harus raker ke Bali. Bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat ke Jakarta?" tawarnya.


Membuat Rajendra merengut, tidak rela.


Sebab Rajendra sudah memiliki agenda lain yaitu mengajak Zenda pergi ke Paralayang yang ada di kota tetangga, Malang.


Sekalian bulan madu dan membuat cucu yang diminta oleh Nyonya Liana.


"Harus sekarang ya, Kak?" Rajendra balik bertanya, berharap Shelin mengundur waktu keberangkatan mereka.


"Iya, Jen. Lebih cepat lebih baik bukan? Aku takut, Fella berbuat macam-macam. Apalagi dia tidak tahu kalau kalian ke sini."


"Siapa bilang aku tidak tahu kalian di sini, hm?"


Fella.


Semua orang terkejut mendapati Fella berdiri di ambang pintu sembari menenteng tas ransel di pundaknya.


...•••• ...


Jenanda dan Celia sudah berada sisi ranjang tempat Joanna berbaring.


Wajah Joanna tampak pucat.


"Mami tidak apa-apa, Sayang." ucap Joanna lirih.


Sedikit kernyitan di dahi tuanya yang mulai muncul tanda keriput.


"Tidak usah diet-diet! Mami harus makan! Aku tidak suka Mami terlalu memaksakan diri, mengikuti Ibu-ibu rempong arisan yang mengatai Mami gendut dan harus diet." omel Jenanda seraya menyodorkan bubur abalon itu pada sang Ibu.


Dokter bilang, asam lambung Joanna kambuh dan tekanan darahnya juga rendah. Apalagi Joanna baru saja melakukan perjalanan berjam-jam.

__ADS_1


Yang cukup melelahkan di usianya yang tak lagi muda tersebut.


"Tadi aku sudah menawari Tante Joan makan, tapi Tante menolak." Sakura ikut berkomentar.


Gadis itu berjalan ke arah Joanna, menarik kursi lain lalu mensejajarkan kursi kayu itu di samping Jenanda, "Biar aku yang suapi Tante Joan, Kak."


Karena tak ingin mengundang keributan kecil, Jenanda mengalah.


Memberikan mangkok itu pada Sakura.


Sementara Joanna tidak juga memprotes. Sebab perutnya masih agak sakit karena belum meminum obat yang telah diberikan oleh Dokter.


"Aku bisa bilang ke Papa untuk menunda persiapan pameran dan selagi menunggu, Tante Joan dan Kak Jenan menginap di rumahku saja ya? Untuk Kak Celia dan staff lain tetap di sini." kata Sakura.


"Terserah kamu, Ra."


"Oke. Nanti aku suruh orang untuk mengambil barang-barang kalian."


Jenanda tidak ingin berdebat di depan Ibunya yang sedang sakit.


Kesehatan wanita itu jauh lebih penting daripada dirinya harus mendengar Sakura merengek ini dan itu, yang membuat kepala Jenanda semakin pusing saja.


...••••...


19.00 malam.


Joanna, Jenanda dan Sakura tiba di kediaman Akeno.


Mereka disambut oleh para Maid yang telah menunggu.


Dan Mr. Akeno juga berdiri diantara barisan itu. Menyambut kedatangan tamu pentingnya.


"Saya sudah minta Dokter untuk berjaga di sini. Takut Bu Joanna ada keluhan lain."


Lagi?


Joanna dan Jenanda merasa diistimewakan oleh Mr. Akeno.


Belum lagi soal jamuan makan malam yang porsinya cukup untuk makan satu komplek, mungkin.


"Dulu Mamanya Sakura seperti anda. Suka mendengarkan apa kata teman-teman arisannya yang menyebutnya gendut .."


Mr. Akeno mengingat kembali masa itu. Masa dimana mendiang Ibunya Sakura masih hidup dan harus meninggalkan mereka karena penyakit asam lambung kronis serta penyakit liver, bawaan dari kecil.


"Iya. Saya ceroboh, tidak memikirkan kesehatan saya." gumam Joanna.


"Aku tidak mau Mami melakukan ini lagi. Kalau Papi tahu, Papi bisa marah ke Mami." ancam Jenanda.


Yang membuat Joanna terdiam, tak bisa membantah lagi.


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2