Our Baby!

Our Baby!
GENIT!


__ADS_3

Malam harinya, mereka berjalan-jalan sebentar untuk melihat suasana Bali ketika malam menjelang.


Sekalian mampir ke pusat oleh-oleh untuk membelikan pesanan orang rumah


"Je, itu bagus. Aku mau!"


"Anything for you, Babe."


Joanna berjingkrak senang layaknya bocah berusia lima. Mengecup pipi Jean sekilas lalu kembali menyusuri deretan rak yang mendisplay berbagai macam barang yang menarik perhatiannya.


Puas berjalan-jalan, mereka lanjutkan makan malam di Rumah Makan Padang atas permintaan Joanna.


"Besok kita ke perkebunan anggur Hatten Wines ya!"


Jean tak menjawab. Hanya menganggukkan kepala sebagai pertanda jika apapun yang ingin dilakukan Joanna akan ia turuti.


"Bukannya kamu suka makan kulit ayam?"


Jean heran melihat Joanna justru memberikan potongan kulit krispi itu padanya.


Makanan itu salah satu makanan kesukaan Joanna ngomong-ngomong.


"Terlalu berlemak. Aku tidak suka! Takut gendut!"


Bibir Joanna mengerucut ke depan. Karena biasanya, berat badan wanita hamil akan bertambah seiring pertumbuhan janin.


Jika dulu Joanna bersikap acuh soal berat tubuhnya saat hamil ataupun setelah melahirkan— kali ini berbeda!


Joanna ingin menjaga tubuhnya agar tetap ideal supaya Jean tidak mudah berpaling ke wanita lain.


What the— Joanna terlalu overthinking.


"Mau kamu gendut, kurus, pendek atau apapun keadaanmu ... Aku tidak peduli! Makan, Joanna! Selagi tidak berlebihan, kamu masih bisa menikmatinya."


Jean kembali meletakkan kulit tadi di piring Istrinya. Belum sampai satu detik, Joanna kembali bersikap aneh.


"Jadi kamu tidak mau memakan bekas dariku, Je?"


"Sayang–"


"Jahat! Padahal kita sudah sering bertukar saliva saat berciuman."


Sendok dan garpu itu diletakkan kembali di masing-masing sisi piring.


Joanna kembali merajuk dengan ekspresi paling menggemaskan hingga siapapun tidak menyangka jika wanita itu sudah akan memiliki dua anak.


"Kamu tahu bukan itu maksudku, Joanna."


Kedua mata Joanna mulai berkaca-kaca dengan hidung kembang-kempis, menahan luapan airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata.


Jean menghela napas, lagi.


Merasa bingung, apa dulu sikap Joanna saat hamil si sulung semenyebalkan ini?


Sampai rasanya selama tiga hari berlibur, Jean dibuat serba salah oleh wanita itu.


"Ya sudah, aku makan."


Jean hendak memindahkan kulit ayam itu ke piringnya, namun ditahan oleh Joanna.


"Sekalian habiskan nasi dipiringku juga. Tiba-tiba aku ingin makan es krim, Darling."


Mengikuti arah pandangan Istrinya— Jean hanya pasrah menuruti permintaan Joanna.


Kata orang, itu namanya fase mengidam.


Dimana para Suami harus menuruti keinginan Istrinya supaya anak mereka tidak ileran.


Dan selagi permintaan Joanna masih dibatas kewajaran, Jean tidak keberatan melakukan itu.


Meski terus membatin, tidak apa-apa. Anggap saja ini sebuah penebusan dosa atas kesalahan Jean di masalalu sebab tidak bisa menemani masa kehamilan si sulung dan membiarkan Joanna melewati semua itu sendirian.

__ADS_1


"Jean, mau yang rasa strawberry."


Sudah diminta agar tetap menunggu di kursi, Joanna yang keras kepala dan bebal justru menghampiri Suaminya dan berdiri di depan etalase yang dipenuhi oleh berbagai macam rasa es krim.


"Mau yang itu!"


"Eh, campur yang itu juga!"


"Tunggu! Tapi sepertinya yang itu juga enak."


Telunjuk Joanna masih mengarah pada etalase tersebut. Membuat si pegawai merengut kesal.


"Maaf ya, Kak. Istri Saya sedang hamil. Tolong dituruti saja. Takut anak saya ileran nanti."


"Istri? Saya pikir anda belum menikah, Kak— eh, Pak, maksudnya."


Tampaknya pegawai es krim tidak menyadari tatapan peringatan dari Joanna ketika wanita itu gencar menggoda Jean melalui senyuman genitnya.


Dan apa-apaan Jean itu?


Justru membalas senyuman pegawai itu tak kalah manis hingga memperlihatkan dua lesung pipinya.


"Kak, tolong matanya dijaga ya! Saya tidak mau bayar es krimnya kalau Kakak godain Suami saya terus."


Joanna agak mempertegas dua kata terakhir supaya Jean menyadari jika dirinya cemburu.


"M-maaf, Bu. Jadi mau es krim rasa vanila, coklat atau strawberry?"


Pegawai es krim itu terlihat gugup dan kesal di waktu bersamaan.


"Ibu, ibu! Panggil saya Kakak! Saya belum se–"


"Sst! Sayang, cepat sedikit! Di belakang masih ada yang mengantri."


Benar saja.


Mereka tampak menunggu Joanna sejak lima belas menit yang lalu.


"Mix tiga rasa bisa 'kan?"


Pegawai itu menggangguk. Membuatkan pesanan es krim sesuai keinginan Joanna.


"Totalnya jadi enam puluh ribu, Pak."


Jean mengeluarkan uang pecahan seratus ribu.


"Ambil kembaliannya."


"Terimakasih, Pak. Sudah baik, tampan— ekhem! Terimakasih, semoga menjadi langganan."


"Kamu beruntung karena banyak yang antri! Coba kalau tidak–"


Karena sudah terlalu malu dengan sikap bar-bar Joanna, Jean merangkul kedua bahu Istrinya agar menjauhi kedai tersebut.


"Lepas! Tadinya malam ini aku mau memberimu kejutan. Bermain sampai pagi tapi sepertinya itu tidak perlu."


"Sayang, kamu sudah janji padaku. Malam ini kita–"


"Tidak ada sentuh-sentuh! Aku malas dengan pria kegenitan dengan wanita lain, apalagi di depan Istrinya yang sedang hamil."


Masih dengan menjilat es krim, Joanna mempercepat langkahnya menuju vila.


Mengabaikan rengekan Jean di belakang sana yang terus menggumamkan kata maaf berulang kali.


Bahkan pegawai penjaga vila dibuat bingung dengan adegan yang terjadi pada pasangan itu.


"Joanna, sayang .."


"Kenapa kamu tega sekali? Kita sudah tiga hari di sini tapi bel–"


Joanna berbalik, menatap sengit Jean yang baru saja mengunci pintu kamar.

__ADS_1


Es krim tiga rasa tadi sudah tandas dimakan oleh Joanna.


"Sayang .."


Tatapan Jean tertuju pada sesuatu yang ada di sudut bibir Istrinya.


Memberanikan diri berjalan mendekati Joanna yang menatapnya awas.


"Mau apa kamu?"


"Jo, aku–"


Chup!


Awalnya hanya sebuah kecupan singkat yang dilakukan oleh Jean namun hasrat keduanya tak bisa dikendalikan lagi ketika Jean menyerang beberapa titik sensitif Istrinya hingga tidak ada pilihan bagi Joanna selain melenguh dan menerima segala sentuhan seduktif pria itu.


"Moan my name, Babe." bisiknya dengan suara berat itu.


"J-je, pelan-pelan, ahh!"


Sudahlah! Mari tinggalkan kegiatan mereka yang membuat siapa saja berkeringat dingin saat mendengar lenguhan Joanna tersebut.


...••••...


Tampaknya bocah itu melupakan kerinduannya sejenak pada kedua orangtuanya yang tak kunjung menghubunginya selama tiga hari ini.


"Tidak! Bukan seperti itu caranya, Uncle."


Jenan sedang melukis di ruang keluarga.


Ditemani Jordan dan Kalandra yang hanya memencet random remote televisi.


"Ah, bosan!"


Mulutnya menguap beberapa kali sembari melirik jam di dinding.


Pukul delapan malam.


Jika diperhatikan seksama, Jordan terlihat seperti figur sosok Ayah yang sangat perhatian pada Anaknya.


Selalu menjadi pendengar yang baik ketika bocah itu berceloteh banyak hal.


"Memangnya Zeze umur berapa, Je?"


"Lima, Uncle! Tahun depan Zeze mau masuk SD katanya."


"Oh ya? Bukannya kalau sekolah dasar itu harus berusia tujuh?"


Jenan menggeleng cepat, "Je masih berusia enam tapi kata Papi dan Mami, Je tidak apa-apa masuk SD lebih cepat. Karena Je anak pintar, haha."


"Je juga pernah memenangkan lomba menggambar tingkat sekolah ..."


"Juara berapa, hm?"


Bocah itu menunjukkan jari telunjuknya pada Jordan.


"Juara satu?"


Namun Jenan menggelengkan kepalanya, menambah satu jari telunjuk kirinya yang disandingkan dengan telunjuk kanannya.


"Astaga, keponakan Aunty lucu sekali!" gemas Kalandra ketika Jenan berusaha mengerjai Jordan.


"Hahaha ... Harusnya lakukan seperti ini, Jagoan." ucap Jordan seraya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.


Mereka terlihat seperti keluarga cemara yang bahagia dan sempurna.


Hingga terkadang, Kalandra berpikir ingin membuka hatinya lagi untuk seseorang yang benar-benar tulus dan setia padanya.


Mungkinkah orang itu— Jordan Mckenzie?


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2