Our Baby!

Our Baby!
SALAH PAHAM


__ADS_3

Semenjak pulang dari Jepang, Jenanda terus mengurung diri di kamarnya.


Sampai makan malam tiba, Jenanda tak mau turun, meski hanya sekedar menyapa keluarga yang sudah menunggunya di ruang makan, Jenanda tidak mau.


Jemarinya sibuk menggeser slide foto yang menampilkan wajah cantik Zeze yang dipotret secara diam-diam saat wanita itu makan malam bersama dengannya di Restauran Seafood malam itu.


"Aku merindukanmu, Sayang."


Jenanda menjadikan foto Zeze sebagai wallpaper layar depan.


Hubungan yang baru dijalani masih seumur jagung namun harus berakhir karena kesalah pahaman kemarin.


Saat di Jepang ...


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Setelah pulang dari rumah Tanaka, mereka melanjutkan perjalanan menuju gedung seni dan kebudayaan yang ada di kota tersebut.


Mereka berbincang sejenak dengan pengelola gedung.


Fokus Jenanda teralihkan karena ponselnya terus berdering di saku blezernya dan sepertinya, si penelepon tidak menyerah untuk menghubungi Jenanda.


"Angkat dulu, Je. Siapa tahu penting." kata Mr. Akeno.


"Maaf, saya permisi dulu."


Setelah mendapat izin, Jenanda langsung menggeser tombol hijau dan mulai berbicara dengan si penelepon.


"Apa? Aku sedang sibuk, Sayang. Nanti lagi ya teleponnya. Tidak enak kalau ditinggal terlalu lama."


"Kakak kapan pulang? Katanya mau pulang kemarin sore."


Dari nada suaranya, Zeze sedang merajuk.


Hal itu membuat cemburu gadis lain yang melihat Jenanda tampak tersenyum, merespon ucapan si penelepon di seberang sana.


"Iya, hari ini pulang. Aku jan–"


Brak!


"Aduh, sakit!" pekik Sakura tiba-tiba.


Ia sengaja jatuh menabrakkan diri di dekat Jenanda.


Reflek Jenanda memegangi tubuh Sakura dengan satu tangan sementara tangan yang lain masih menggenggam ponsel yang masih tersambung panggilannya dengan Zeze di seberang sana.


"Hey, Sakura. Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"


"Kakiku sakit, Kak ... Sepertinya terkilir, sshh!"


Posisi mereka agak jauh dari Mr. Akeno hingga pria itu tidak tahu jika ada insiden tersebut.


"Ya sudah. Ayo kubantu."


Sakura menggeleng pelan. Melirik ke arah ponsel Jenanda yang masih menampilkan nama Zeze di sana.


"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja berdirinya." kata Jenanda, memeluk pinggang Sakura dan menempatkan lengan Sakura di lehernya.


"Ahk! Sakit, Kak. Bagaimana kalau Kak Jenan gendong aku saja?" cicit Sakura, menggigit bibir bawah. Berharap Zeze mendengar percakapan mereka saat ini.


"Halo, Kak Je? Kalian sedang apa? Halo! Kak–"


Suara Zeze terdengar samar di ponsel itu. Jenanda sudah membuka mulut untuk kembali berbicara tapi Sakura tiba-tiba berdiri seraya meraih tangan Jenanda yang menggenggam ponsel namun kembali terjatuh dan beralasan pergelangan kakinya sakit.

__ADS_1


Brugh!


"Eh? Maaf, Kak. Aku tidak sengaja."


Jenanda yang saat itu tidak berpikir demikian, hanya mengangguk dan dengan cepat mengambil benda pipih itu.


Memasukkan ponselnya ke dalam saku tanpa memikirkan Zeze, karena fokusnya hanya ingin menolong Sakura dulu.


"Ya Tuhan! Apa yang terjadi pada Sakura, Jenan?" tanya Mr. Akeno, panik melihat Sakura digendong bridal oleh Jenan menuju mobil.


"Kakiku terkilir, Pa. Ayo, Kak! Kita ke rumah sakit sekarang."


"Maaf, Mr. Akeno. Saya izin membawa Sakura ke rumah sakit dulu .."


"Anda mau ikut atau–"


"Sudah, ayo cepat, Kak! Biarkan Papa di sini dulu. Iya 'kan?" ujar Sakura, menatap Ayahnya dengan anggukkan samar.


Mr. Akeno yang paham hanya bisa menurut dan menyuruh Jenanda agar segera pergi.


Takut terjadi hal buruk juga meskipun bisa saja, Sakura hanya berpura-pura sakit untuk mencari perhatian Jenanda.


"Kak Je ..."


Jenanda mengabaikan panggilan Zenda. Gadis itu hanya melongokkan kepala melalui pintu yang ia buka sedikit.


"Masuk, Ze."


Terdengar helaan napas Zenda yang berjalan menghampiri Kakaknya. Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Jenanda— Zenda pun melihat Kakaknya sedang memandangi foto Zeze.


"Kalian putus ya?"


Jenanda mengangguk sendu.


"Jadi benar ya? Kenapa, Kak? Saat kutanya ke Kak Zeze, dia tidak mau menjawab malah pergi begitu saja waktu aku datang ke kantor Papi."


"Dia salah paham, Ze. Dia mengira Kakak selingkuh dengan wanita lain selama di Jepang, bukan mengurus pekerjaan seperti ucapan Kakak padanya."


Kemudian Jenanda menceritakan insiden saat Sakura terjatuh dan Jenanda hanya reflek menolong gadis itu.


Tanpa berpikir jika Kekasihnya akan salah paham.


"Ah jadi seperti itu ceritanya."


"Iya. Kakak harus bagaimana, Zenda? Dia memblokir nomor Kakak dan tidak memberi Kakak kesempatan untuk bicara."


Zenda tidak tega, akhirnya mau membantu Jenanda, melalui sang Ayah.


Ingatkan mereka jika sekarang, Zeze merupakan Sekretaris Jean di kantornya.


"Lebih baik Kakak turun dan ikut bergabung makan malam bersama kita ..."


"Jangan sedih-sedih terus, ish! Malu sama umur, hahaha." ledek Zenda.


"Kamu juga pernah sedih gara-gara Rajendra, Zenda. Malah meledek Kakak, ck!"


...••••...


Sesuai janji sang Adik, pagi ini mereka bisa bertemu dengan Zeze atas bantuan Jean sebagai atasan Zeze.


Jenanda diizinkan masuk ke dalam ruangan Zeze, itu pun atas permintaan Jean.

__ADS_1


"Aku hanya punya waktu lima menit. Cepat bicaralah!" ketus Zeze, enggan menatap ke arah Jenanda saat berbicara.


"Kamu salah paham, Sayang. Itu–"


"Halah! Alasan klasik! Bilang saja kalau Sakura, Sakura itu selingkuhan Kak Jenan yang berkedok rekan bisnis."


Zeze mulai tersulut emosi melihat Jenanda yang menghela napas frustasi.


Setidak percaya itu Zeze pada Jenanda sampai ia memiliki bukti catatan rekaman suara yang diambil saat mereka berbicara ditelepon kemarin.


"Ahk! Sakit, Kak. Bagaimana kalau Kak Jenan gendong aku saja?"


"Suara itu cukup menjelaskan semanja apa Sakura pada Kak Jenan!" Zeze tetap kekeh menuduh Jenanda berselingkuh.


"Demi Tuhan! Kaki Sakura benar-benar terkilir dan harus di perban karena bengkak, Sayang .."


"Ya sebagai orang yang ada di dekatnya, aku hanya menolong atas dasar rasa kemanusiaan bukan rasa suka seperti tuduhanmu itu, Ze."


"Kalau kamu tidak percaya, kita bisa ke Jepang sekarang dan kamu bisa cek kondisi Sakura langsung. Bagaimana?"


Zeze terdiam.


Tidak ada gurat bercanda di wajah Jenanda. Seolah apa yang dituduhkan memang tidak benar adanya.


Pria itu hanya membantu dan mungkin sebaliknya, Sakura-lah yang berusaha menggoda Jenanda.


"Ze, percaya sama aku! Aku dan dia hanya sebatas berhubungan soal pekerjaan, tidak lebih."


"Seharusnya Kak Jenan menghubungiku lagi setelah mengantarnya ke rumah sakit." Kedua mata Zeze mulai berkaca-kaca.


Jenanda yang tak bisa melihat wanita menangis, beranjak dari sofa dan memeluk tubuh Kekasihnya.


Menggumamkan kata maaf seraya mencium pucuk kepala si wanita dengan perasaan tulus.


"Bagaimana aku bisa meneleponmu lagi kalau nomorku saja sudah kamu blokir, Sayangku."


Oh soal itu!


Zeze lupa.


Wajar jika Zeze marah dan tanpa berpikir panjang, Zeze langsung memblokir nomor Jenanda.


Sengaja mematikan ponselnya juga supaya pria itu tidak bisa mengganggunya lagi.


"Salah Kak Je sendiri, ish! Aku kan kesal, cemburu, marah ... Pokoknya overthinking!"


"Takut kalian melakukan sesuatu di belakangku." cicitnya lagi.


"Tidak akan. Hanya kamu satu-satunya wanita yang kucintai, Sayang."


"Ck! Pembual!"


Zeze menonjok pelan perut berotot Jenanda hingga pria itu pura-pura meringis kesakitan.


"Aku serius. Kalau aku bohong, aku tidak akan mau repot-repot meminta bantuan Zenda dan Papi, Sayang."


Dan pagi itu, Jenanda berhasil menjelaskan kesalah pahaman diantara mereka.


Zeze pun bisa menerima alasan Jenanda dan hubungan mereka kembali seperti semula. Berharap tidak ada orang ketiga yang mengganggu lagi.


...••••...

__ADS_1


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2