
Keesokan harinya, Zenda datang lebih dulu karena ada kuliah jam dua belas nanti.
Jadi ia buru-buru takut telat datang ke Kampus.
Hingga jam di ponsel menunjukkan pukul sepuluh lebih, orang yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri sampai Zenda mendapat teguran dari pegawai Cafe karena Zenda belum memesan apa-apa.
Predator
Maaf. Aku tidak jadi datang
Predator
Sepupuku yang dari Surabaya tiba-tiba datang tanpa memberi kabar dulu,
Sayang, bagaimana kalau aku menjemputmu pulang kuliah nanti?
Predator
Sekalian kita jalan-jalan ..
Aku rindu kamu, Ze🥺
^^^Zenda^^^
^^^Kenapa tidak mengabariku dari awal?^^^
^^^Sengaja ya mau buat aku telat masuk kuliah!^^^
^^^Zenda^^^
^^^Dasar brengsek!^^^
Menurut Rajendra, banyak perubahan pada diri Zenda-nya yang dulu polos dan lugu, sekarang jadi lebih berani dan suka mengumpat.
Merasa bersalah?
Tentu.
Rajendra bukan lelaki bejat yang tega merusak Kekasihnya sendiri. Ia kesal pada sikap Jenanda malam itu dan nekat ingin menjalin hubungan lebih serius dengan wanita lain, yaitu Zeze.
Guna membalas kekesalan hatinya yang sesaat itu.
"Sekali bajingan tetap bajingan." umpat Zenda lalu berjalan keluar dari Cafe itu.
Mengabaikan bisikan samar dari mulut pegawai Cafe yang nyinyir sebab Zenda hanya menumpang duduk tanpa memesan apapun di tempat itu.
Salahkan saja Rajendra yang tiba-tiba membatalkan janji temu mereka.
...••••...
Jenanda kembali disibukkan dengan pesanan lukisan pembeli dari Jepang.
Namun informasi yang ia terima melalui email kemarin lusa, pihak pembeli ingin Jenanda yang mengantar langsung.
Karena lukisan itu dipesan sebagai hadiah untuk salah satu anggota keluarga Kaisar Jepang.
Mereka tidak ingin lukisan itu diantar melalui ekspedisi takut ada kerusakan meski ada asuransi yang menanggung jika sampai hal itu terjadi, mereka tetap ngotot menyuruh Jenanda yang mengantarnya sendiri.
Dengan fasilitas private jet yang telah disiapkan, Jenanda tak perlu terbang ke Jepang menggunakan pesawat komersil.
"Tolong handle semua urusan kantor selama aku pergi. Pastikan pameran akhir pekan nanti berjalan sesuai yang telah kita bahas di rapat kemarin ..."
Jenanda terlihat sangat sibuk sampai melewatkan jam makan siangnya.
"Baik, Bos. Ada satu email dari Mr. George dari Amerika yang ingin dilukis bersama dengan keluarga besarnya."
"Ya, ya. Atur saja jadwal pertemuanku dengan dia, Cel."
Ting!
Pintu lift kembali terbuka, bertepatan itu, Jenanda dan Celia melihat Zeze berjalan menuju dari lobby.
Kedatangan Zeze ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai soal semalam.
"Kak."
"Hai, Ze."
Jenanda memberi gestur pada Celia agar menunggunya di mobil.
"Ada apa?"
__ADS_1
Seperti diburu waktu, berkali-kali pria itu melirik jam di tangannya.
Ada pertemuan tertutup dengan Pak Walikota dan timing Zeze menemui Jenanda sangat tidak tepat siang ini.
"Aku membawa ini."
Zeze mengangkat lunch box berwarna merah jambu itu di depan Jenanda.
Sengaja memasak menu kesukaan Jenanda supaya bisa makan siang bersama dan mengobrol tentang hubungan Rajendra dan Zenda yang membuat Zeze penasaran.
Apa Zeze cemburu?
Entahlah!
Zeze perlu meyakinkan perasaannya sekali lagi.
Diantara Jenanda dan Rajendra, siapa yang lebih membuat wanita itu merasa nyaman.
Jenanda tersenyum kikuk.
Mengusak gemas pucuk rambut si wanita.
"Ish, Kakak."
"Lain kali saja ya? Aku sibuk, Ze ..."
Jenanda mengambil lunch box itu, "Ini untuk aku 'kan? Kalau begitu, aku bawa saja buat makan di jalan."
Wajah Zeze berubah cemberut ketika ponsel Jenanda berdering lalu berjalan keluar gedung setelah berpamitan dengannya sebentar.
"Apa sesibuk itu Kakak sekarang? Sampai meluangkan waktu lima menit mengobrol denganku tidak bisa."
Zeze berjalan dengan tatapan sendu.
Ia marah pada Rajendra juga dan tak mungkin menemui Rajendra di Cafe karena tidak memperkeruh suasana.
Apalagi Jenanda terlihat sangat menyayangi Adiknya dan membela Zenda secara terang-terangan semalam.
"Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya Zeze tapi coba kamu pikir ..."
Keduanya sama-sama terdiam.
"Semua terserah kamu, Ze. Tapi aku harap kamu tidak menjadi orang ketiga di hubungan Zenda dan lelaki ini."
Padahal Zeze juga sama terlukanya tapi kenapa tidak ada yang memikirkan perasaan Zeze.
Dan lebih banyak menaruh perhatian pada Zenda.
Zeze tidak bermaksud merebut pasangan orang lain tapi ucapan Jenanda semalam membuat Zeze seperti wanita jahat yang berusaha mengambil Rajendra dari Zenda, padahal itu tidak benar.
...••••...
Karena hanya ada dua kelas saja hari ini, Zenda bisa pulang lebih cepat dari biasanya.
"Ze, itu mobil Kak Rajen." Zeze mengikuti pandangan Yolanda yang melihat Rajendra duduk di dalam mobilnya.
Menurunkan kaca mobil itu dan melambai ke arah mereka.
"Biarkan! Aku sudah minta jemput sopir Papi."
"Kalian ... Soal kejadian itu, apa Kak Rajen keluar di dalam?"
"Jangan dibahas lagi." desis Zenda.
Tak suka jika diingatkan soal kejadian yang telah merenggut sesuatu yang berharga dalam dirinya.
"Zenda!" panggil Rajendra karena Kekasihnya tak juga menghampiri.
Ia mengalah, berjalan mendekat ke arah Zenda dan Yolanda.
"Eh, kalau begitu aku duluan ya, Ze." pamit Yolanda setelah melihat tatapan kode dari Rajendra yang menyuruhnya pergi meninggalkan mereka berdua.
Tangan Zenda dicekal oleh Rajendra saat ingin kabur.
"Jangan kurang ajar, Kak!" desisnya.
"Ikut Kakak."
"Kamu tidak berhak menyuruh lagi. Kita sudah putus."
__ADS_1
Zenda berhasil menepis tangan Rajendra namun keadaan berubah saat Rajendra mengangkat tubuh Kekasihnya dan menggendongnya di pundak, seperti membawa karung.
"YAK! LEPASKAN AKU, KAK!"
Bugh!
Bugh!
Zenda memukuli punggung Rajendra supaya ia diturunkan.
Ini masih di depan Kampus dan banyak Mahasiswa lain yang melihat kejadian memalukan itu.
Plak!
Tangan besar Rajendra menampar pantat berisi Kekasihnya itu.
"YAK! Jangan kurang ajar, Kak! Aku bisa laporkan kamu karena ini termasuk pelecehan."
"Ze, diam!"
Kepala Zenda yang terjungkir ke bawah terasa pusing dan akhirnya gadis itu menyerah dan terlihat pasrah saat Rajendra mendudukkan dirinya di kursi penumpang.
Memasang seatbelt untuk Zenda juga.
Chup!
"Bajingan!" umpat Zenda, mengusap bekas kecupan Rajendra barusan layaknya sebuah debu yang tak sengaja menempel.
Rajendra tidak tersinggung dan hanya terkekeh melihat Kekasihnya sudah merengut kesal.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau ikut kamu."
"Ze, Kakak sudah mengurus pernikahan kita. Gedung, baju, catering dan undangan semua sudah dipersiapkan ..."
Rajendra mengambil amplop coklat berisi hal-hal yang ia sebutkan tadi.
"Keluargamu sudah setuju soal ini."
"Kenapa kamu mengambil keputusan sepihak, hah? Aku tidak mau menikah dengan pria tukang selingkuh sep–"
Ckitt!
Mobil yang mereka kendarai tiba-tiba berhenti.
"Ze, Kakak sedang berusaha memperbaiki hubungan kita ..."
"Kakak tidak berniat selingkuh dari kamu tapi keadaan yang memaksa Kakak melakukan itu."
"Kamu tidak tahu rasanya menjalani back street itu seperti apa, Sayang."
"Kakak tidak suka menjalani sebuah hubungan yang di awali dengan kebohongan."
Zenda terdiam, mendengar semua keluhan Rajendra.
Selama ini lelaki itu tidak pernah menunjukkan sikap keberatan untuk menjalani hubungan mereka tanpa harus ketahuan oleh keluarga Zenda.
"Kakak minta maaf, Sayang. Kakak menyesal mengajakmu bercinta saat itu karena .."
"Kakak pikir, hanya itu cara satu-satunya yang bisa Kakak lakukan supaya kamu terikat dengan Kakak, Zenda."
"Lalu kenapa harus ada Kak Zeze diantara kita?"
"Soal itu ... Kakak juga minta maaf. Kakak memang suka sama Zeze tapi demi Tuhan! Cinta Kakak hanya untuk kamu, Zenda."
"Kak Rajen cinta sama aku tapi Kak Rajen punya niat melamar Kak Zeze, hebat sekali!"
"Maaf, Zenda."
"Apa dengan maaf semua akan baik-baik saja? Tidak, Kak! Pikirkan perasaan Kak Zeze juga."
Zenda hendak membuka pintu mobil di sampingnya tapi pintu itu dikunci otomatis.
"Zenda, Kakak mohon ... Beri Kakak kesempatan kalau Kakak serius sama kamu."
Zenda lagi-lagi hanya terdiam. Menatap ke arah lain dan enggan beradu pandang dengan mata Rajendra.
"Oke! Aku akan terima pinangan Kakak asal pertemukan aku dengan Kak Zeze. Kita harus bahas soal ini bertiga."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!
__ADS_1