Our Baby!

Our Baby!
MABUK


__ADS_3

Jean merasa kondisinya sudah lebih baik.


Migrainnya sudah tak separah kemarin dan tidak perlu mendapat perawatan intensif di rumah sakit karena Jean benci bau obat.


Tidak peduli jika Rosa marah.


Jean tetap memaksa pulang sebab kondisinya tidak seburuk yang dipikirkan orang-orang.


Sabtu malam.


Seperti biasa, Jean akan mengajak Rosa makan malam diluar lalu pulang setelah selesai.


Tidak ada lovey dovey seperti kebanyakan pasangan lainnya, mereka hanya makan tanpa jalan-jalan dulu menikmati keindahan ibukota saat malam hari, catat.


Lama Jean menunggu hingga bibirnya menguap berkali-kali sambil melirik jam di tangan.


Berharap Jean bisa bertemu dengan Jenan dan— Joanna, anggap saja bonus.


BRAK!


"Tolong hati-hati! Iya, seperti itu bawanya! Pelan-pelan saja turunnya."


Suara dari arah tangga membuat Jean penasaran dan ingin memastikan jika pemilik suara itu adalah seseorang yang begitu ingin Jean temui malam ini.


Empat orang pria dan satu wanita di belakang mereka terlihat menuruni anak tangga dengan langkah hati-hati.


Sebab dua dari empat pria itu sedang membawa kardus besar berisi peralatan make up dan stok skincare milik Joanna.


"Siapa yang pindahan, Bi?"


Jantung Jean berdebar ketika matanya tak sengaja bersitatap dengan sepasang mata coklat Joanna yang hanya meliriknya sekilas kemudian kembali fokus mengarahkan orang-orang tadi agar berhati-hati meletakkan barang kesayangannya.


"Oh itu Nona–"


"Joanna yang pindah! Kenapa?"


Rosa.


Berdiri tak jauh dari sofa dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik seperti biasa namun bagi Jean, hanya Joanna, wanita tercantik kedua setelah mendiang Ibunya.


"Kita pergi sekarang, ayo!"


Tangan Jean menarik kasar lengan Rosa hingga membuat wanita itu mendesis kesakitan namun tidak berani memprotes setelah mendengar suara bantingan pintu mobil yang sengaja ditutup kencang oleh Jean.


Tidak menyangka bahwa Joanna akan melakukan hal sejauh ini untuk menghindari dirinya.


Berusaha menjauhkan Jean dari Putranya sendiri itu sangat keterlaluan sekali menurutnya.


"Turun!"


Baru setengah perjalanan, Jean sudah kembali berulah.


"Kesekian kalinya ..."


Napas Rosa memburu. Dengan wajah memerah menahan tangis di sudut matanya, "Aku sudah tahu hubungan kalian di masalalu dan kamu sangat marah melihat Joanna tiba-tiba memutuskan pindah tapi bisa tidak, kamu jangan bersikap sebajingan ini, Jean? Menurunkan Tunanganmu di tengah jalan sepi itu keterlaluan namanya!"

__ADS_1


"Aku tidak peduli! Sekarang turun! Kamu bisa pulang naik taksi online!"


"Dasar brengsek!"


Kejadian di rumah sakit ...


Tuan Dery sudah pergi satu jam yang lalu setelah Lian mengabari ada masalah internal dengan salah satu model ambasador mereka. Sementara itu, Rosa sedang menerima telepon dari Ibunya yang menanyakan kondisi Jean sebab wanita itu sedang pulang ke desa, mengunjungi Neneknya Rosa.


Saat ini hanya ada Joanna dan Jean di ruangan itu. Sebab Perawat Yo membawa Jenan jalan-jalan ke taman yang ada di samping rumah sakit.


"Jenan mirip sekali denganku!"


"Mata, bibir dan lesung pipinya ... Benar-benar menduplikat wajahku. Ah! Jangan lupa, tanda lahir di tulang selangkanya, aku juga memiliki itu, Joanna." jelasnya lagi yang masih diabaikan oleh Joanna.


Wanita itu pura-pura memainkan ponselnya dan duduk agak jauh di sofa karena tidak ingin membuat kesalah pahaman antara dirinya dan Rosa lagi.


"Secepatnya, aku akan melakukan tes DNA! Mengambil kuku, rambut atau apapun yang bisa dicocokkan dengan sample darahku supaya semua orang mengetahui kebenarannya bahwa aku memang Ayah Jenan secara biologis!"


"Dan menaruh bom di atas kepala Papaku sampai hubungan kami kembali merenggang seperti dulu, itu yang kamu mau?" balas Joanna tak kalah sinis.


Ia pun hendak berjalan keluar, namun langkahnya harus terhenti saat Jean kembali bersuara.


"See? Akhirnya kamu mengakui itu sekarang! Joanna! Sekeras apapun kamu menyembunyikan fakta itu, aku tetap Ayah kandung Jenan. Berhenti bersikap sok kuat karena aku yakin ... Kamu juga membutuhkan seseorang yang bisa melindungimu dan Jenan setiap saat. Aku siap menghadapi apapun hukuman yang diberikan Om Dery dan Papa jika hal itu yang kamu khawatirkan! Paling tidak, aku akan mendapat makian dan beberapa pukulan dari mereka. Soal Rosa? Kamu tidak usah pikirkan itu! Aku akan memutuskan hubungan kami secepatnya."


Wajah Joanna sedikit menoleh ke samping. Meremat knop pintu hingga buku-buku jarinya memutih lalu tersenyum remeh, "Satu hal yang membuat kamu dan Ethan memiliki kesamaan ... Kalian sama brengseknya! Meninggalkan wanita yang mencintai kalian tanpa memikirkan perasaannya!"


Sampai pintu ruangan dibuka dari luar, menampilkan Rosa yang sudah berlinangan airmata karena mendengar semua percakapan mereka barusan.


"Kalian berdua sama-sama pengkhianat!"


...••••...


Alkohol, rokok dan dentuman musik saling bersahutan. Menyatu dengan udara malam yang terasa panas.


"Hentikan! Kamu sudah terlalu mabuk, Jean!"


Jean tak menyahut.


Kepalanya menunduk dengan kedua siku bertumpu di atas meja Bar.


Entah berapa gelas bir yang diteguk oleh Jean. Yang jelas, ia tidak bisa pulang dalam kondisi mabuk.


"Padahal dia sudah mengakuinya tapi dia pergi, dia pergi, Jordan!"


Lagi.


Sudah kelima kalinya— Jean mengulang kalimat yang sama malam ini. Jordan tidak bodoh untuk memahami maksud ucapan Sahabatnya itu.


"Ya, ya! Sekarang biar kuantar kamu ke Apartemen, okay! Aku tidak mungkin membawamu pulang dalam kondisi mabuk. Bisa mati dipukul tongkat basbol Om David kalau sampai kita ketahuan datang ke tempat ini!"


"Tidak mau! Aku ... Aku maunya Joanna, haha! Kamu ... Kenapa cantik sekali, eum!?" racaunya tidak jelas sambil mengusap pipi Jordan sensual.


Hingga si empunya bergidik ngeri seraya menepis tangan Jean karena geli.


"Ish! Merepotkan sekali bocah ini!"

__ADS_1


Meski tubuh Jordan lebih tinggi dari Jean, namun keduanya sama-sama memiliki tubuh atletis karena rajin berolahraga setiap harinya.


Jadi, Jordan agak kesulitan menopang berat tubuh Jean sendirian. Tidak mungkin Jordan meminta bantuan Bartender karena Kelab sedang ramai.


"Je, kamu be— AHK! Berhenti meraba tubuhku— JEAN! Hentikan, bodoh!"


Jean benar-benar berhalusinasi dan mengira jika yang bersamanya saat ini adalah Joanna. Berulang kali tangan besar Jean meraba area sensitif Jordan hingga Jordan harus menahan diri agar tidak mendorong tubuh Jean yang telah disandarkan pada kursi penumpang.


"Kuharap malam ini menjadi awal yang baik untukmu, brengsek!"


...••••...


Joanna baru saja keluar dari kamar Jenan dan memastikan bocah itu sudah terlelap nyaman di tempat tidurnya.


Mereka tinggal di Apartemen tidak hanya berdua, melainkan bersama Perawat Yo yang selalu setia menemani Joanna kemana pun wanita itu pergi.


Dan semenjak tinggal di sini, Joanna tidak merasa khawatir jika meninggalkan mereka sendirian.


Karena Rosa dan Nyonya Anne tidak akan berani datang apalagi sampai masuk ke Unitnya sebab Joanna sudah berpesan pada resepsionis dan petugas keamanan yang berjaga agar tidak mengizinkan kedua wanita itu memasuki area gedung Apartemennya.


Tentunya dengan iming-iming diberi imbalan banyak maka siapa pun pasti akan tergiur dan siap menjalankan semua perintah Joanna.


Selagi belum mengantuk, Joanna mulai menyalakan televisi namun bunyi bel pintu mengalihkan atensinya.


Hingga Joanna merasa tidak enak dengan tetangga. Takut mengganggu sebab seseorang itu menekan belnya lumayan brutal.


"Yak! Orang gila mana yang–"


Mata Joanna menatap tajam pada sosok dua pria dengan aroma alkohol yang tercium, menyengat di hidung.


"Apa mau kalian datang menggangguku malam-malam begini?"


"Maaf, sebelumnya biarkan aku membawa dia masuk. Jean berat!"


"Tidak! Pergi kalian! Aku tidak menerima tamu saat dini hari dan— YAK! Jangan kurang ajar kamu, heh!"


Jordan menerobos masuk dan mengabaikan teriakan Joanna yang berusaha meraih jaketnya dari belakang.


Menidurkan Jean di atas sofa karena sepertinya pria itu terlalu banyak minum hingga tidak sadarkan diri.


Wajah dan telinganya bahkan sudah memerah. Kontras dengan kulit putihnya tersebut.


"Maaf lagi, titip temanku yang bodoh ini padamu. Tolong urus dia dan jangan laporkan soal ini ke Om David ..."


Sebenarnya Jordan ingin meminta segelas air minum. Ia haus setelah membopong tubuh Jean sampai di lantai tujuh meski mereka menaiki lift tetap saja membuat Jordan kelelahan tapi niat Jordan urung saat melihat raut marah Joanna padanya, "Aku Jordan, sahabat si brengsek ini, ngomong-ngomong." Tangan Jordan terulur ke depan. Bermaksud memperkenalkan diri sebab ini merupakan pertemuan pertama mereka.


Namun Jordan sudah bersikap tidak sopan pada wanita itu, haha.


Dan satu hal yang saat ini membuat Jordan tersenyum penuh pesona.


'Joanna memang cantik! Pantas Jean bisa tergila-gila padanya!'


...••••...


TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!

__ADS_1


__ADS_2