Our Baby!

Our Baby!
LAMARAN


__ADS_3

Seseorang itu berjalan santai memasuki aula pameran.


Mengundang perhatian para pengunjung yang hadir di sana dan tidak berhenti menatap kagum pada sosok wanita berparas manis tersebut.



Zeze terlihat anggun dengan dress selutut berwarna hitam.


Warna yang sama dengan terusan hitam yang dikenakan oleh Sakura malam ini.



Namun entah mengapa, semua orang lebih menyukai penampilan Zeze yang tampak lebih anggun dari Sakura yang memilih dress panjang dengan belahan sampai ke paha tersebut.


"Zeze ikut juga, Pi?"


"Surprise! Memang kamu saja yang bisa membuat pesta kejutan untuk kami?" tanya Jean.


Menggandeng jemari lentik Zeze lalu disandingkan dengan Jenanda yang masih terkejut dengan kehadiran Kekasihnya di sini.


"Papi dan Mami sudah membuat keputusan ..."


"Selain Anniv kami, Papi juga ingin melamarkan Zeze untuk kamu, Nak." kata Jean, lagi.


"Papi serius?"


Ucapan Jean membuat seluruh orang terdiam. Menyaksikan acara lamaran dadakan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya oleh Jenanda.


"Kak Jenan tidak mau menikah denganku?"


"Bukan begitu, Sayangku."


Zeze mengerucutkan bibir. Berpura-pura merajuk dan justru ekspresi itu terlihat menggemaskan di mata Jenanda.


"Mami tidak mau sampai kalian kebobolan. Lebih baik cepat diresmikan. Eum, tunangan dulu. Orangtua Zeze sudah Mami telepon dan mereka setuju. Menyerahkan semuanya pada Mami dan Papi, Je."


Sakura merasakan kedua matanya memanas. Bahkan pandangannya mulai mengabur mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir kedua orangtua pria yang disuka.


Sentuhan lembut terasa di bahu sempit itu, "Lepaskan dia. Kamu dan Jenanda ditakdirkan untuk menjadi teman, bukan pasangan seperti yang kamu harapkan, Sakura."


Dada gadis itu terasa sesak. Penuturan Mr. Akeno menyadarkan bahwa Jenanda memang tidak digariskan untuk menjadi jodohnya.


"Aku mencintai Kak Jenan, Pa." lirihnya.


"Papa tahu. Merelakan bukan berarti kamu tidak bisa menemukan cinta yang lain, Ra. Suatu hari nanti, Papa yakin, kamu pasti akan bertemu dengan seseorang itu."


Sakura mengangguk. Mengusap perlahan airmata yang berada di sudut matanya. Memaksa tersenyum meski hatinya terluka. Menahan rasa kecewa dan sakit itu.


"Kak ..."


Mereka lupa bahwa ini acara pameran namun mendadak berubah menjadi acara keluarga yang begitu mengharukan.


"Selamat atas pertunangan kalian."


Sakura mengulurkan sebelah tangan untuk memberi ucapan selamat secara langsung pada keduanya.


Ucapan yang terdengar tulus.


Zeze bisa melihat itu pada sepasang mata Sakura yang tampak sendu.


Bukannya membalas dengan jabatan tangan juga, Zeze menarik Sakura ke dalam sebuah pelukan hangat, layaknya pelukan yang diberikan seorang Kakak pada Adik perempuannya.


"Aku tahu, sebenarnya kamu gadis yang baik, Ra. Perasaanmu pada Kak Jenan hanya perasaan sesaat yang akan berangsur hilang kalau kamu bisa menerima kenyataan itu."

__ADS_1


Zeze mengusap punggung Sakura yang mulai bergetar, menahan isak tangis yang lolos begitu saja dari bibirnya yang semenjak tadi ia gegat.


"Maafkan aku, Kak. Aku sempat berpikir ingin menghancurkan hubungan kalian."


"Tidak apa-apa. Aku memaklumi itu."


Jean dan Joanna tersenyum tipis lalu menghampiri Mr. Akeno yang berdiri tak jauh dari mereka dan membiarkan anak-anak menyelesaikan urusannya.


"Mr. Akeno, we need to talk. About your daughter and my son." kata Joanna, menginterupsi.


"Ya, mari pindah ke sebelah sana."


Mereka pun meninggalkan aula yang mulai dipenuhi oleh para pengunjung yang baru saja datang.


Sekedar berfoto atau melihat-lihat dan tak jarang, ada yang menawar lukisan karya Jenanda dengan harga tinggi jika dia seorang kolektor.


"Maaf. Kalau semuanya jadi seperti ini."


"Tidak perlu merasa tak enak hati, Bu Joanna ..."


"Sebelumnya, Pak Jean dan Jenan sudah meminta izin untuk menyelipkan acara anniv kalian di acara pameran ini. Jadi, saya tidak apa-apa dengan tambahan acara lainnya juga. Lagipula, ini gedung serba guna. Tidak hanya untuk kesenian dan budaya saja. Kaisar membangun gedung ini dibuat untuk acara-acara formal lainnya kalau itu yang anda khawatirkan, Bu."


Joanna tersenyum, "Bukan itu saja, Mr. Akeno. Soal Sakura–"


"Sakura bisa menerima kekalahannya. Tidak apa-apa."


"Maaf, terlalu berlebihan jika itu dianggap sebuah kekalahan." sahut Jean.


"Oh, begitu ya? Haha, jadi sebutan apa yang cocok untuk Putriku? Eum, cinta bertepuk sebelah tangan?"


Kekehan ringan dari pria tua itu berhasil mencairkan suasana ketegangan yang sempat dikhawatirkan oleh Joanna.


Takutnya, hal itu akan mempengaruhi kerjasama Jenanda dan Mr. Akeno di masa yang akan datang.


Takut Mr. Akeno terbawa perasaan sebab tidak ada orangtua di dunia ini yang tega melihat Anaknya patah hati.


...••••...


Selang intravena sudah terpasang di punggung tangan Fella.


Dua jam berlalu, namun Fella masih betah menutup kedua matanya.


"Apa menurutmu Fella bisa melalui semua ini?"


"Dia kuat. Aku yakin, Fella pasti bisa melaluinya, Kak."


Zenda sengaja pergi meninggalkan Rajendra dan Shelin agar mereka bisa membicarakan masalah Fella dan tentang hipnoterapi yang akan dijalani gadis itu.


Ingatan Zenda berputar pada kejadian di mobil. Saat Rajendra memeluk tubuh Fella yang tak sadarkan diri.


Saat itu, posisi Fella diapit oleh Rajendra dan Zenda di kursi belakang, sementara Shelin ada di kursi depan bersama sang Sopir.


"Kalau aku yang sakit, apa Kak Rajen akan sepanik itu?"


Mie Ayam yang tadi dipesan kini tidak lagi berbentuk. Karena makanan itu sudah dingin dan mengembang.


Nyaris seperti bubur.


Ting!


Satu notifikasi pesan dari Jenanda membuyarkan lamunan Zenda.


Segera membaca pesan tersebut.

__ADS_1


Takutnya ada sesuatu yang penting.


My Bro!



Ze, coba tebak?


Hanya itu clue yang diberikan pada pesan bergambar yang dikirim oleh Jenanda.


Zenda mengerutkan kedua alisnya. Tanpa babibu, Zenda menekan ikon kamera untuk melakukan panggilan video call dengan sang Kakak.


"ZENDA!"


Di seberang sana, Zeze duduk di sebelah Jenanda yang tampak sibuk menikmati makan malamnya.


Pria itu hanya menyapa melalui lambaian tangan sebab mulutnya sudah terisi penuh oleh makanan.


"Kak Ze ikut ke Jepang?"


"Coba tebak?"


Zeze menunjukkan kelima jarinya, sebuah cincin berbatu putih tersemat di jari manis itu. Senyum bahagia terus mengembang di wajah Zeze yang tampak cantik dengan riasan wajah yang begitu natural.


"Kalian–"


"Aku dan Zeze resmi bertunangan malam ini, Zenda." sahut Jenanda, yang kini menyuapkan potongan steak untuk Zeze di sebelahnya.


"Kamu sudah mengucapkan selamat untuk anniv Papi dan Mami hari ini?"


Ya Tuhan! Zenda lupa!


Ia terlalu sibuk mengurus masalahnya di sini hingga tak ingat jika hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan kedua orangtuanya.


Zenda menggeleng ragu.


"Belum? Kamu pasti terlalu asyik liburan bersama Rajendra sampai hal penting seperti ini saja lupa." sindir Jenanda.


Yang langsung mendapat cubitan di lengan dari Zeze. Sebab jika diperhatikan, raut wajah Zenda tampak murung semenjak tadi.


Sebagai sesama wanita, Zeze cukup peka jika calon Adik Iparnya itu sedang memiliki masalah.


"Tidak apa-apa, Zenda. Om Jean dan Tante Joanna pasti tahu kalau kamu sedang sibuk di Surabaya."


"Tolong sampaikan permintaan maafku ke Papi dan Mami ya, Kak ..."


Zenda melihat siluet Rajendra yang baru saja masuk ke Kantin, "Hari ini juga aku akan belikan kado pernikahan untuk mereka. Eum, kapan kalian pulang?"


"Mungkin setelah pameran selesai. Kamu tidak mau menyusul saja, Ze? Ajak sekalian Suamimu." kata Jenanda, mengusulkan ide yang bagus namun sepertinya, Rajendra tidak akan bisa.


Mengingat tujuan mereka ke Surabaya bukan untuk berlibur.


"Bapak dan Ibu ingin bahas soal cabang baru Cafe kita. Sepertinya kita akan sibuk, Kak. Maaf. Tidak bisa menyusul." bohongnya.


"Oh selamat! Semoga Cafe baru Rajendra segera bisa terealisasikan ya? Kalau butuh sesuatu, bilang ke Kakak, Sayang."


Zenda hanya tersenyum tipis. Di hadapannya, Rajendra juga ikut mengulum senyum sebab mendengar suara Jenanda dan Zeze.


"Hm, aku tutup dulu teleponnya, Kak."


"Iya, Sayang. Take your time! Nanti kami kabari kalau mau pulang ke Indo."


"Iya, Kak Je. Bye!"

__ADS_1


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!


__ADS_2