Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-Ekstra Part Two (Hamil)


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sejak menikah Alvaro membawa istrinya tinggal di rumah pribadi yang memang sudah dia siapkan untuk Aluna.


Rumah mewah hadiah pernikahan mereka. Namun lagi-lagi Aluna menolak menerima hadiah dari suaminya itu. Setelah dibujuk dan dirayu akhirnya Aluna menerima rumah itu dan mereka berdua memutuskan tinggal disana.


Dirumah mewah itu dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang juga mewah. Ada sekitar lima pekerja yang Alvaro pekerjakan dirumah mewahnya. Dia tak memberi celah Aluna mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kecuali masalah perut karena Alvaro sangat rewel jika berhubungan dengan makan. Dia hanya mau makan masakkan istrinya.


"Huweekkkkkkkkkk".


Alvaro terbangun saat mendengar suara orang muntah-muntah.


"Huweekkkkkkkkkk".


"Huwekkkkkkkkk".


Alvaro menyimak selimut nya dan bergegas turun dari ranjang. Dia menuju kamar mandi.


"Astaga sayang kamu kenapa?". Cecar Alvaro panik saat melihat Aluna sudah muntah-muntah didalam kamar mandi.


"Ishhh Kak apaan sih? Gak usah dekat-dekat Kakak itu bau, tahu?". Aluna mengibaskan tangannya mengusir suaminya.


"Sayang aku gak bau! Kamu kenapa?". Alvaro heran sendiri melihat istrinya.


"Huweekkkkkkkkkk".


"Huweekkkkkkkkkk".


Aluna terus muntah. Sementara saat Alvaro ingin memijit-mijit tengguknya wanita itu akan marah dan menatap suaminya dengan horor.


Alvaro yang bingung langsung keluar dari kamar dengan wajah paniknya. Dia mencari pelayan yang bisa membantunya.


"Ada apa Tuan?". Tanya Suri. Pembantu dirumah Alvaro.


"Istri saya muntah-muntah Bik. Tolong buatkan teh hangat untuk istri saya". Suruh Alvaro.


"Baik Tuan". Sahut Suri mengiyakan perintah Alvaro .


Alvaro kembali naik ke atas dan masuk kedalam kamarnya.


Tampak Aluna sudah terlihat lemas akibat muntah-muntah. Entah kenapa perutnya serasa dikocok-kocok.


"Sayang kamu pucat banget?". Alvaro menghampiri istrinya.


"Ihhh Kakak. Bau. Kakak kok gak mandi?". Aluna menutup hidungnya "Kak gak usah pegang-pegang". Ketus Aluna menyingkirkan tangan suaminya.


Alvaro tak peduli dia mengangkat tubuh Aluna dan membawanya keatas ranjang mereka. Meski Aluna memberontak namun tak mampu mengalahkan tubuh kekar suaminya itu.


"Permisi Tuan ini teh nya". Suri datang dengan membawa nampan "Astaga Non. Non kenapa? Kok pucat banget?". Suri juga panik.

__ADS_1


"Gak tahu Bik. Dari tadi istri saya mual-mual dan muntah. Trus dia bilang badan saya bau". Jawab Alvaro mewakili.


"Atau jangan-jangan Non hamil lagi Tuan?".


Alvaro menatap Suri? Hamil? Aluna hamil? Benarkah? Usia pernikahan mereka memang sudah memasuki bulan ketiga. Wajar saja jika Aluna hamil.


"Bik tolong telpon Leon dan bawa kesini". Tintah Alvaro.


"Baik Tuan".


Alvaro menatap Aluna dengan berkaca-kaca. Benarkah Aluna hamil? Dan jika memang benar artinya Alvaro sebentar lagi akan jadi seorang Ayah.


"Sayang". Alvaro memeluk Aluna dengan tangis bahagia. Meski belum tahu hasilnya tapi dia yakin jika istrinya hamil.


"Kakak. Apaan sih peluk-peluk". Aluna mendorong tubuh suaminya "Bau tahu". Ketus wanita itu menyuruh suaminya menjauh "Jangan dekat-dekat".


Alvaro tidak bisa terima. Tidak. Tidak. Kenapa Aluna jadi tidak suka pelukkannya padahal wanita itu begitu nyaman dalam dekapannya.


"Sayang aku ini suamimu. Aku emang belum mandi, tapi aku masih wangi kok". Alvaro mengendus-enduskan hidungnya mencium bau badannya.


"Kakak mandi sana. Cepetan Kak". Paksa Aluna. Sungguh tubuh suaminya bau sekali.


Alvaro mengalah dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Semoga saja Aluna tidak lagi menjauhi nya.


Setelah mandi Alvaro segera memakai bajunya. Tak lupa dia memakai parfum yang begitu banyak agar istrinya tidak mengatakan dia bau lagi.


Aluna masih menutup hidungnya "Kak pakai apa sihh? Kok bau banget. Kak jauh-jauh dehh huwekkkkkkkkk". Aluna segera bergegas ke kamar mandi.


Sementara Alvaro tercengang. Bau apanya? Badannya segar wangi dan juga tampan. Tapi kenapa Aluna mengatakan bahwa dia bau?


Alvaro menyusul istrinya. Dia memijit-mijit tengguk wanita itu. Tak peduli dengan Aluna yang marah dan protes serta menyuruhnya menjauh dia panik.


"Sayang kita kerumah sakit yuk".


Aluna menepis tangan suaminya "Kakak udah aku bilang gak usah dekat-dekat. Gak dengar amat sih". Ketus Aluna menghentak-hentakkan kakinya kesal.


Wanita itu menuju ranjang. Dia menatap horor Alvaro yang mengekornya dari belakang. Pokoknya dia tidak mau meliah wajah suaminya


"Kak aku rasanya ingin muntah liat wajah Kakak. Kenapa Kakak jelek banget sihh Kak?". Ujar Aluna.


Alvaro hampir tersendak ludahnya sendiri. Apa tadi kata Aluna? Jelek? Wajah setampan ini Aluna bilang jelek.


"Sayang kamu ngomong apa sihh? Aku ini ganteng kenapa kamu bilang jelek?". Protes Alvaro tak terima.


Tak lama kemudian Leon datang. Wajah pria itu tampak sedang berbahagia. Maklum pengantin baru. Beberapa Minggu yang lalu dia melangsungkan pernikahan bersama Ranny.


"Kenapa Al?".


Leon menatap heran kearah Alvaro. Wajah Alvaro tampak ditekuk kesal. Sementara Aluna bersandar santai sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Tuhhh". Alvaro menunjuk Aluna dengan bibirnya "Masa dia bilang tubuh aku bau? Trus aku jelek". Curhat Alvaro


Leon terkekeh pelan. Dia menggeleng gemes. Pria dingin seperti Alvaro saat merajuk bukan nya terlihat seram malah menggemaskan.


"Lun, Kakak periksa dulu yaaaa?". Aluna mengangguk dengan polosnya.


Leon memeriksa adiknya itu. Dia bukan dokter spesialis kandungan tapi dia cukup tahu masalah itu.


Leon tersenyum hangat. Dia menatap Alvaro dan Aluna dengan senyuman mengembang.


"Selamat ya Al. Selamat ya Lun". Senyum Leon


"Selamat?". Beo Aluna tak mengerti.


"Kamu hamil Lun. Tapi nanti untuk lebih jelasnya kamu cek aja ke dokter kandungan". Jelas Leon


"H-hamil?". Aluna tak percaya "Maksud Kak Leon Aluna hamil?".


Leon mengangguk. Sementara Alvaro berkaca-kaca. Ya Tuhan sebentar lagi dia akan jadi Ayah. Benarkah???


"Sayang".


"Stoppp". Aluna langsung menahan Alvaro dengan tangannya saat pria itu ingin memeluknya


"Kenapa sayang?". Bukan hanya Alvaro yang heran tapi juga Leon.


"Mulai sekarang Kakak jangan dekat-dekat aku lagi. Kakak itu bau, jelek lagi".


Leon ingin rasanya tertawa sambil guling-guling mendengar perkataan Aluna. Ahhh ini akan menjadi drama menyenangkan. Melihat Alvaro frustasi gara-gara istrinya, justru menjadi hal yang menghibur bagi Leon.


"Selamat berjuang Al. Semoga gak selama sembilan bulan".


"Maksunya?". Alvaro tak mengerti.


"Aluna mengalami ngidam. Memang biasa dirasakan oleh wanita hamil. Dia akan benci melihat wajah suaminya. Bahkan mungkin kamu akan tidur diluar". Leon terkekeh.


Sementara Alvaro langsung lemes. Ahhh rasanya tidak mau...


.


.


.


Hai hai balik lagi sama author ya guysss.


Kita cuma fokus bahas Alvaro dan Aluna aja ya.


Yuk kita simak siksaan Alvaro. Kita ketawa bareng liat dia menderita gara-gara si Aluna.. Wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2