
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa perusahaan dan butik Aluna sudah berjalan selama tiga bulan. Gadis itu bukan hanya pekerja keras tapi juga pemikir kuat. Dia tidak hanya cantik tapi cerdas dan memiliki banyak ide.
Aluna memiliki sistem komunikasi yang baik. Dia selalu bisa menarik para investor dengan gaya bicaranya yang terkesan blak-blakan dan suka membuat orang tertawa. Bahkan Aluna bisa mendapat suntikan dana dari perusahaan ternama hanya dengan omongannya saja. Tak perlu lama, perusahaan milik Aluna berkembang cukup pesat
Alvaro saja masih tak percaya. Dia tak percaya jika Aluna memiliki kemampuan sehebat itu. Bukan hanya mampu tapi juga memiliki niat dan tekad yang begitu kuat. Hingga membuat Perusahaan dan butik itu maju hanya dalam waktu tiga bulan.
Hari ini Alvaro dan Aluna bersiap-siap ke bandara menjemput Robert dan Maria.
Jika gadis pada umumnya akan gugup bertemu calon Kakek-nenek nya maka berbeda dengan Aluna. Gadis itu santai-santai saja. Tidak memiliki beban. Tidak perlu jadi orang lain agar disukai. Karena menurut Aluna. Orang yang menyukai kita tidak perlu tahu kelebihan kita. Orang yang tidak menyukai kita akan selalu menemukan dimana kekurangan kita.
"Grandfa. Grandma". Alvaro memeluk pasangan tua itu.
"Al". Keduanya membalas pelukan Alvaro.
"Grandfa dan Grandma apa kabar?". Tanya Alvaro.
"Seperti yang kamu lihat Son". Senyum Maria.
"Selamat datang di Indonesia. Calon Kakek-nenek". Sapa Aluna setengah menggoda.
Robert dan Maria menatap kearah Aluna yang sudah memasang senyum paling manis.
"Makasih". Ketus Maria.
"Terima kasih Lun". Balas Robert.
"Ayo Grandfa dan Grandma. Kita langsung ke Mansion". Ajak Alvaro.
"Gak mau. Kita mau langsung ke perusahaan dan butik Aluna". Sergah Maria dia menatap Aluna dengan tatapan meremehkan.
Aluna santai-santai saja dan tak peduli. Dia menganggap tatapan Maria tatapan kagum bukan tatapan meremehkan.
__ADS_1
Alvaro menghela nafas berat. Kedua orang ini tak juga berubah. Padahal Aluna sudah berjuang keras.
"Ayo Grandfa. Grandma". Senyum Aluna.
Mereka masuk kedalam mobil. Di mobil Aluna terus saja bicara. Hingga membuat Robert dan Maria heran, sebenarnya berapa banyak kosa kata yang dimiliki gadi itu hingga membuatnya bicara terus.
Sampai digedung perusahaan Aluna mereka turun. Tampak para karyawan sudah berbaris. rapih.
"Selamat datang Tuan Besar dan Nyonya Besar". Sapa mereka.
"Iya". Ketus Maria.
Aluna sudah memerintahkan kepada para karyawan nya agar mempersiapkan segala sesuatunya. Dipastikan bahwa kedua orang itu akan banyak bertanya yang aneh-aneh nantinya.
Mereka masuk kedalam. Robert dan Maria menatap interior kantor Aluna. Mereka cukup terkejut. Karena saat kantor ini pertama kali dibangun interior nya berbeda dan sejak kapan Aluna mengubahnya.
Kantor itu tampak rapih dan bersih. Masing-masing divisi memiliki ciri khas, baik dari seragam yang mereka pakai serta ruangan tempat mereka berkerja.
Aluna membawa mereka masuk kedalam ruangannya. Lagi-lagi, Robert dan Maria merasa begitu kagum dengan tatanan ruangan Aluna. Buku-buku bertengger rapih dibeberapa lemari. Berkas-berkas penting disusun berdasarkan urutannya.
"Saya mau lihat laporan keuangan tiga bulan ini". Robert dan Maria duduk disoffa ruangan Aluna.
Ruangan Aluna sangat nyaman dan bersih. Dekorasi langka itu terlihat pas dengan warna cat ruangan tersebut
"Ini Grandfa".
Aluna menyerahkan map berwarna merah pada Robert.
Robert membukanya dan dilihat oleh Maria yang juga begitu penasaran.
Alvaro tersenyum bangga. Dia yakin kedua orang itu akan dikejutkan dengan hasil kerja keras Aluna. Siap-siap saja perusahaan mereka akan tergeser oleh perusahaan besar Aluna.
Mata Robert dan Maria membulat sempurna saat melihat laporan keuangan itu. Mereka saling melihat tak percaya. Bagaimana bisa perusahaan yang baru berjalan tiga bulan ini memiliki pendapatan milyaran.
__ADS_1
Robert melihat kearah Aluna yang bersandar dilengan kekar Alvaro. Siapa yang akan menyangka jika gadis itu memiliki kemampuan luar biasa.
Maria juga beberapa kali menelan salivanya. Bisa dikatakan Aluna pemecah rekor. Jangan sampai Aluna mengeser posisinya nanti.
"Ohh ya Grandfa, ini satu". Aluna menyerahkan satu map.
Kali ini Maria yang membuka map itu. Lagi-lagi dia dibuat tercengang oleh laporan yang dia baca didalam map itu.
"Itu hasil penjualan tiga aplikasi yang aku ciptakan. Diterima baik dipasaran dan mereka akan menjadikan aplikasi itu sebagai salah satu aplikasi terbaik tahun ini". Jelas Aluna "Ini omset perusahaan ini. Perusahaan ini berhasil menjalin kerjasama bersama beberapa perusahaan ternama dunia".
Robert dan Maria lagi-lagi tercengang dan saling melihat tak percaya. Bagaimana bisa?
Setelah dari perusahaan. Aluna mengajak kedua orang itu pergi ke buktinya. Butik yang sekarang menjadi salah satu butik incaran para artis ternama dan model-model papan atas serta istri pengusaha, dengan kualitas pakaian yang bermutu membuat banyak reseller yang menjadi member dibutik Aluna.
Perjalanan Aluna tidak mudah. Selama tiga bulan ini dia benar-benar bekerja sangat keras. Siang dan malam dia lakukan untuk mendesain gaun-gaun mahal. Setelah diproduksi gaun itu tidak sampai dua hari sudah dilelang oleh beberapa artis bahkan meminta Aluna untuk membuat desain-desain yang lain. Kadang Aluna kewalahan saat menerima begitu banyak pesanan. Belum lagi dai harus mengurus perusahaan. Tak jarang gadis itu mengerutu kesal, jika bukan karena cinta untuk apa berjuang sekeras ini? Apalagi Alvaro selalu berada disampingnya dan memberi semangat pada gadis itu.
"Silahkan masuk Grandma".
Maria menatap desain-desain gaun Aluna yang terpanjang dibeberapa manekin. Gaun-gaun indah yang mungkin harganya mencapai puluhan juta rupiah. Selain desain yang indah gaun itu juga dilengkapi dengan beberapa mutiara mahal.
"Ini salah satu gaun termewah di butik ini dan harganya juga mencapai ratusan juta. Tapi gaun ini gak dijual dan khusus Aluna buat untuk Grandma". Ucap Aluna. Dia tersenyum penuh kemenangan saat melihat kebingungan diwajah Maria.
Lalu Aluna memanggil salah satu pengawai nya untuk melepaskan gaun itu dari manekin yang terpasang.
"Silahkan dicoba Grandma. Aluna mendesain gaun ini butuh waktu dua jam. Jadi Aluna rasa hasilnya gak akan buat kecewa". Aluna menyerahkan gaun itu ke tangan Maria.
Maria mengambil nya dengan gugup. Gaun ini begitu indah. Dia saja belum tentu bisa mendesain nya.
Aluna tersenyum bangga dengan hasil pencapaian nya. Meski jungkirbalik selama tiga bulan ini, tapi semua tak sia-sia. Perjuangan Aluna masih tiga bulan lagi. Targetnya adalah masuk sepuluh besar perusahaan terbaik di Asia. Seperti kata Robert.
Alvaro juga bangga dengan Aluna. Dia merasa bersyukur diberikan satu kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari hidup Aluna.
Bersambung.....
__ADS_1