Pacarku Presdir

Pacarku Presdir
Pacarku Presdir-84


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Mereka semua menatap Aluna. Aluna tengah duduk dengan santai. Didepannya selembar kertas dan pensil. Gadis itu terdiam sejenak dia menatap kertas putih yang masih kosong itu.


"Ayo cepat kamu buat gambarnya". Desak Maria.


"Sabar Grandma. Orang sabar itu pasti kesal". Celetuk Aluna.


"Kamu benar-benar berani ya sama saya?".


Maria harus menambah stok sabarnya. Setelah ini dia harus segera ke dokter untuk mengacek tekanan darahnya.


"Diam Grandma. Tadi nyuruh gambar, ehh malah diajak ngobrol. Ketus Aluna.


Alvaro menggeleng gemes. Dia pikir Aluna akan terbawa perasaan dan menangis saat dihina oleh Kakek-nenek nya dan ternyata malah terbalik. Aluna tampak santai. Seolah tak ada beban dihati gadis itu.


Jadi lentik Aluna menari-nari diatas kertas itu. Gadis itu tampak tersenyum sumringah. Membayangkan gaun pengantin sambil jari-jari nya menuntun pensil ditangannya.


Rayyan menatap Aluna. Dia teringat dulu sering menjadi wali gadis itu saat Aluna bolos sekolah hanya karena tidak mau mengikuti pelajaran seni budaya. Tapi sebenarnya Aluna memiliki banyak keahlian yang jarang diketahui orang lain hanya saja gadis itu tidak menunjukkan nya.


Rayyan tersimpul gemes. Aluna benar-benar gadis unik dan langka. Dia selalu tenang tanpa beban. Padahal sedang diuji oleh calon Kakek dan Nenek nya.


Aluna mendesain dengan cepat. Entah apa yang digambar gadis itu. Jangan sampai Aluna menggambar yang aneh-aneh bisa gagal pernikahan mereka. Alvaro sudah panik. Karena setahu dia Aluna sama sekali tidak bisa mendesain dan bahkan membuat gambar saja gadis itu jarang.


Hanya butuh waktu dua puluh menit Aluna berhasil menyelesaikan tantangan dari calon nenek mertuanya.


"Ini Grandma udah selesai". Aluna menyerahkan kertas ditangannya.


"Kamu yakin?". Maria saja butuh waktu berjam-jam untuk membuat satu desain baju.


Aluna mengangguk dengan yakin. Entahlah, seperti apa hasil gambarnya.


Maria dan Robert menatap hasil desain Aluna. Lagi-lagi mereka bungkam ketika melihat desain gaun pengantin yang begitu indah dan memukau. Ini adalah desain terbaik yang pernah Maria lihat sejak dia terjun kedunia desainer.


Alvaro dan Alya ikut melihat gambar itu tak ketinggalan Rayyan juga ikut penasaran.


Mereka menatap Aluna yang makan cemilan dengan santai tanpa dosa. Gadis itu seperti anak kecil yang polos.


Alvaro tersenyum terkagum-kagum nya. Benar, seperti katany bahwa Aluna ini gadis langka dan unik yang harus dilestarikan agar tidak punah dan jangan sampai punah.

__ADS_1


"Sayang".


Alvaro memeluk Aluna dengan bangga. Dia jadi terharu dan bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bersama Aluna.


"Kamu hebat". Puji Alvaro.


Aluna tersenyum dengan wajah polosnya. Dia juga tidak tahu kenapa mereka bisa suka gambarnya. Perasaan Aluna menggambar biasa saja.


"Oke ujian ini kamu lulus".


Maria masih tampak belum puas. Dia harus menguji Aluna lagi. Tapi menguji apa lagi? Apa Maria uji saja Aluna bernyanyi. Dia yakin jika suara gadis ini pasti jelek dan membuat telinga ingin pecah.


.


.


.


.


Ujian berikut nya. Robert dan Aluna saling berhadapan ditengah-tengah mereka sebuah meja yang diatas nya terdiri papan catur.


"Maju".


Kedua orang itu tampak serius. Mereka saling mengatur strategi untuk saling mengalahkan.


Robert memang menyukai permainan catur. sejak kecil pria itu sering mengikuti lomba antar sekolah sampai antar Negara.


Mereka yang lain menjadi penonton. Maria menjadi suporter suaminya sambil berteriak menyemangati pria itu akan mengalahkan Aluna.


"Ayo Honey. Majukan pionnya. Rajanya disebelah". Seru Maria dengan semangat.


Alya tak tinggal diam dia menyemangati Aluna sambil bertepuk tangan meriah.


"Ayo Kakak ipar. Ayo Kakak ipar". Seru Alya.


Alvaro dan Rayyan hanya menggeleng kepala saja. Kedua pria itu menghela nafas panjang. Aneh. Heran. Tapi menggemaskan.


Aluna tampak serius. Robert benar-benar jago dan Aluna akui. Tanpa Aluna sadari sebenarnya, Robert juga kewalahan melawan Aluna.

__ADS_1


Aluna saja baru kali ini main catur. Dia mana pernah memegang benda ajaib itu. Waktu SMA dia hanya sering mengikuti lomba Matematika, Sains dan IT. Selebihnya Aluna sama sekali tidak tahu.


"Sekak". Aluna maju


"Yessss".


"Yeeee Kakak ipar menang".


Aluna dan Alya saling berpelukan senang. Setelah pertandingan cukup sengit antara Robert dan Aluna. Akhirnya dimenangkan oleh Aluna. Dengan skor jauh.


Robert tak menyangka jika Aluna bisa mengalahkannya. Padahal selama ini tidak ada yang bisa menyainginya dalam permainan catur. Dia selalu memang.


.


.


.


.


"Kenapa muka loe?". Dicky duduk disamping Leon.


Leon menggeleng lemes "Ternyata Tiara gak sebaik yang gue kira". Leon mendesah pelan.


"Kan dari awal gue udah bilang sama loe. Gak usah mikirin lagi tuh cewek". Ujar dingin


"Ya loe kan tahu dia cinta pertama gue. Susah banget lupain dia". Leon menyenderkan punggungnya.


Saat ini Leon sedang berada diruangan Dicky. Ya seperti biasa mereka akan makan siang bersama. Jika ada Alvaro biasanya mereka bertiga. Tapi karena Alvaro sedang pulang ke Inggris jadi hanya mereka berdua saja.


"Tapi darimana loe tahu tentang Tiara?". Tanya Dicky penasaran.


"Aluna". Jawab Leon.


"Aluna tahu dari mana?". Dicky semakin penasaran.


"Dia retas rekaman CCTV diapartement Tiara. Dari situ gue tahu semuanya". Sahut Leon.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2