
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Setiap hari wajah Alvaro terus ditekuk. Bagaimana tidak? Dengan tega-teganya Aluna menyuruh nya tidur disoffa. Dan setiap kali melihat wajahnya, istrinya itu pasti mual-mual dan muntah.
Sementara Aluna semakin aneh. Entah kenapa dia tidak suka melihat suaminya. Tidak suka mencium bau tubuh pria itu rasanya Aluna ingin muntah dan muntah terus.
"Sabar Son". Zein menepuk pundak putranya "Namanya juga Ibu hamil harus dimaklumi". Ujar Zein.
Sementara Jane dan Kanti menahan tawa melihat wajah frustrasi Alvaro. Sejak Aluna hamil kedua wanita paruh baya itu meminta untuk tinggal bersama Alvaro dan Aluna karena ingin merawat Aluna yang sedang berbadan dua itu.
"Ini menyiksa Dad". Keluh Alvaro "Aku gak bisa tidur tanpa Aluna. Tapi dia malah menyuruh ku tidur disoffa". Curhat Alvaro.
Zein menahan tawa sambil menutup mulutnya begitu jug dengan Santoso. Mereka semua memutuskan untuk tinggal bersama Aluna.
"Kak pakai ini". Aluna menyerahkan topeng Batman pada suaminya.
Kening Alvaro berkerut "Dipakai?". Ulangnya memastikan.
"Iya Kak. Aku gak mau liat wajah jelek Kakak. Ntar anakku kayak muka Kakak". Sahut Aluna dengan wajah polosnya.
"Prufffttttt". Zein, Santoso, Jane dan Kanti menutup mulut menahan tawa mereka.
"Sayang kok tega amat sihh suruh aku pakai topeng ini. Aku bukan anak kecil". Protes Alvaro
"Gak mau tahu. Kakak harus pakai. Atau Kakak gak usah aja dekat-dekat aku". Ancam Aluna.
"Sayang". Alvaro mendesah. Yang benar saja dia disuruh pakai topeng Batman itu. Hilang sudah wibawanya sebagai Presdir ternama.
"Pakai Kak". Aluna memaksa suaminya. Bahkan wanita hamil itu memasangkan topeng itu ke wajah suaminya.
Meski protes dan menggerutu Alvaro tetap mengikuti perintah istrinya. Apapun yang Aluna minta dan suruh meski berbeda dengan keinginan nya Alvaro tetap mengikuti perintah istrinya. Maklum Ibu hamil.
Zein, Santoso, Kanti dan Jane tertawa terbahak-bahak melihat Alvaro yang memakai topeng Batman itu. Persis seperti bocah berusia lima tahun.
"Pakai ini juga Kak".
Aluna memasangkan kain hitam dileher suaminya, kain memanjang. Hingga kan itu seperti sayap Batman yang hendak terbang.
"Nahhh kan ganteng kalau kayak gini".
Sementara para orangtua masih tertawa melihat wajah lucu Alvaro. Rasanya ingin guling-guling mentertawakan Alvaro yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
Sedangkan Aluna tersenyum tanpa dosa dan asyik memakan cemilan buatan Kanti dan Jane. Wanita hamil itu seperti anak kecil yang tingkahnya membuat orang gemes. Apalagi jika bertemu Leon, mereka berdua sangat suka berdebat.
__ADS_1
"Sayang". Renggek Alvaro "Jangan gini lah. Masa aku kayak anak kecil. Muka ganteng gini kok dibilang jelek sih sayang". Renggek Alvaro sambil protes tak terima
Aluna tak peduli dengan renggekkan suaminya. Seolah tak mendengar keluh kesah pria itu.
"Kak aku pengen mangga muda tapi harus Kakak yang manjat ya ya ya". Seru Aluna memegang lengan suaminya tak lupa jurus andalannya.
"Gak boleh sayang kamu sakit maag". Tegas Alvaro dengan menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Al biarin aja. Aluna itu lagi hamil. Ntar kalau gak dimakan bisa-bisa bayi kalian ileran lho". Sambung Jane "Aluna pengen banget ya makan mangga?". Tanya Jane lembut pada menantunya.
"Iya Mom. Tapi Aluna pengen Kak Al yang manjat dan metik langsung. Pasti enak dan segar". Rasanya air liur Aluna ingin keluar menyebut nama mangga muda dan membayangkan betapa segarnyar buah mangga itu.
"Al kamu dengar kan?".
Alvaro mendesah "Iya sayang sayang. Suamimu yang ganteng ini akan Carikan mangga untukmu". Senyum Alvaro padahal dalam hatinya sudah mengumpat kesal.
"Yeeess Kakak terbaik".
Aluna memeluk suaminya dengan manja. Tapi dia tidak mau menatap wajah suaminya. Untung Alvaro memakai topeng.
"Ayo Kak". Aluna berdiri menggandeng tangan suaminya.
"Lho kamu ikut? Gak usah ya sayang bahaya??". Rayu Alvaro "Kamu kan hamil gimana nanti kalau anak kita kecapean?". Ujar Alvaro lagi.
"Aku pengen ikut. Aku pengen liat Kakak manjat". Renggek Aluna "Ayo Kak". Seru Aluna dengan semangat.
Alvaro mendesah kesal. Padahal tadi dia akan meminta bantuan Sonny yang memanjat pohon mangga. Dia sama sekali tidak pernah memanjat pohon. Karena dia takut ketinggian.
"Iya. Tapi aku buka dulu topeng dan kain ini". Alvaro hendak membuka topengnya.
"Ehhh jangan. Kakak pakai itu aja. Aku gak mau liat wajah jelek Kakak". Cegah Aluna.
Alvaro tak bisa lagi membantah. Hanya bisa pasrah. Untung saja rumah mereka letaknya jauh dari permukiman penduduk lainnya. Mereka juga tidak punya tetangga. Coba saja jika dekat dengan rumah tetangga sudah pasti Alvaro akan merasakan malu luar biasa.
Sonny dan Emma menunduk menahan tawa mereka. Pasangan asisten setia itu rasanya ingin lompat-lompat melihat penderitaan Alvaro.
Aluna menggandeng tangan suaminya keluar. Untung ada pohon mangga yang memang sengaja ditanam dan mangga itu juga sedang berbuah banyak
Sonny dan Emma mengekor dari belakang saling colek mencolek satu sama lain menahan tawa mereka. Jika tawa mereka sampai terdengar oleh Alvaro pastilah keduanya akan di marahi oleh Alvaro.
Alvaro menarik nafas panjang. Dia berdiri didepan pohon mangga. Pohon mangga itu tidak tinggi. Tapi si Alvaro yang memang tidak tahu memanjat terasa begitu tinggi sampai ke langit.
"Ayo Kak semangat". Seru Aluna bertepuk tangan seperti anak kecil yang tengah memberi support pada temannya diajang lomba.
__ADS_1
Alvaro melihat kearah istrinya wajahnya cemberut kesal
"Ini pasti gara-gara kecebong sialan itu. Awas aja ntar kalau udah lahir, aku bakal ajak dia perang. Semoga bukan cowok". Batin Alvaro
Alvaro mengumpul keberanian nya untuk memanjat pohon mangga itu. Keringat nya panas tinggi menahan takut. Badannya bergetar saat melihat kebawah. Namun dia tetap manjat sampai ke atas.
"Ayo Kak. Cepat lembar mangga".
Aluna menengadahkan tangan nya seolah ingin menyambut mangga dari suaminya.
"Biar saya aja Bu. Takut Ibu dijatuhi mangga". Ujar Emma maju
"Gak usah Kak. Aku bisa kok". Aluna mana mau kalah. Dia harus selalu menang
Alvaro memetik beberapa mangga dari pohonnya. Cukup banyak pria itu mengambil mangga untuk istrinya. Siapa tahu bisa untuk persediaan sehingga dia tidak perlu memanjat lagi jika Aluna ingin makan mangga.
"Aaaaaaaaaaaaaaa bruk brakkkk". Alvaro terjatuh karena kakinya tergelincir.
"Awwwwwwww".
"Kak".
"Tuan".
Aluna menghampiri suaminya. Bukannya menolong suaminya dia malah sibuk menunggu mangga yang berjatuhan disisi suaminya.
Sonny dan Emma yang menghampiri Alvaro dan membantu pria itu berdiri.
"Sayang bukannya bantuin suami malah sibuk ngambil mangga". Protes Alvaro pada istrinya.
"Kan udah ada Kak Sonny dan Kak Emma yang bantu Kakak. Aku bantuin mangga nya takut ntar diambil orang". Ucap Aluna beralasan.
Alvaro memutar bola matanya malas. Jika saja bukan istrinya sudah pasti dia akan mengajak Aluna baku hantam.
Sonny dan Emma lagi-lagi menahan tawa. Pasangan itu selalu rusuh setiap hari. Ini hanya drama mangga. Belum lagi drama sebelum tidur karena Aluna tidak mau suaminya tidur diranjang dan harus tidur disoffa. Sementara Alvaro protes tak terima. Dia tidak bisa tidur tanpa istrinya namun dia tetap mengalah dan tidur disoffa meski berdebat tapi Alvaro tetap mengalah. Yang waras mengalah, pikirnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa bunganya buat author...
Makasih semua ...